
Kediaman Mewah Keluarga Konglomerat Afiliasi Eksekutif Korporat [1]
“Hei, Rin,” tegur seorang pria kecil berambut oranye, “Kita udah sampai—bisa lepasin rangkulan tanganmu?”
Gadis kecil berambut merah di samping pria itu, tak mau lepas darinya. Dia menggeleng kuat dan mengeratkan rangkulan tangannya.
“Kamu tahu, agak memalukan kalau kayak gini terus,” jelas Sol, mengusap kepala belakangnya sendiri, “Anak Emas dari salah satu Keluarga Konglomerat yang berafiliasi dengan Korporat.1 sebentar lagi akan datang—sudah pasti dia akan datang, huh, sial .. Gak mungkin dia gak datang ke acara besar kayak gini ...”
“Ya.” Gadis kecil di sampingnya mengangguk, tetapi dia kemudian menggeleng. “Tapi Tuan Muda Sol juga nggak kalah hebat darinya!”
“Ahahaha. Ya ...” desah Sol kecil, merasa skeptis terhadap dirinya sendiri. “Semoga aja apa yang kamu katakan itu benar.”
Dia sangat mengerti apa itu artinya jika Eksekutif Korporat sampai menyukai dan berharap penuh terhadap perkembangan satu anak dari salah satu Keluarga Konglomerat. Anak tersebut pasti genius dan paling unggul di generasinya—tidak ada yang bisa menghentikan perkembangannya.
Mamat Nojo Sukarno
Dia merupakan anak bungsu dari salah satu Keluarga Konglomerat Kelas Atas, yang beberapa waktu ini telah dianak-emaskan oleh para Eksekutif Korporat [1]. Kedatangannya pasti akan selalu dikelilingi oleh haremnya. Gadis-gadis di belakangnya terus mengikutinya, namun tak ada satu pun dari mereka yang berani terlalu dekat.
Sol seperti matahari, dengan rambut oranyenya bersinar terang. Dia terlihat sangat membara, dan siapa pun yang melihatnya akan merasakan semangat aneh. Sedangkan pria muda berambut silver yang tersenyum dan berjalan menghampirinya seperti cahaya bintang nun jauh di angkasa, yang ia bisa berkembang sangat cepat atau meledak kapan saja.
Kedua anak itu layaknya bibit matahari serta bintang lain, yang dapat bertabrakan kapan saja.
Sebuah Energi Inti, dalam tata surya galaksi pada umumnya.
Mamat menghampiri Sol dan Rina kecil, seraya terus mempertahankan senyum di wajahnya.
Seorang pria kecil mendekati mereka berdua, yang anehnya dia memiliki wibawa pria dewasa.
Sol mengerutkan kening seraya menatap tajam tepat ke arah pria tersebut. Dia sama sekali tidak menghiraukan gadis-gadis yang mengikuti Mamat.
Anak itu semakin kuat aja, geramnya dalam hati, menajamkan tatapannya. “Sial."
Gadis kecil di sampingnya pun mengikuti pandangannya.
“Tuan Muda Sol?”
“Ya. Itu dia ... Anak Emas yang aku maksud."
Gadis manis berambut merah. Rina. Terus menempel ke seorang pelayan muda—dan ia terlihat sangat aneh memang—dia memanggil pelayan berpakaian bulter itu dengan sebutan ‘Tuan Muda’, sedangkan gadis itu sendiri berpakaian layaknya seorang bangsawan.
Rina sangat menghormati Sol, karena ayah pelayan kecil itu merupakan Kepala Pelayan Korporat.3, yang notabenenya memiliki kasta lebih tinggi dari Keluarga Konglomerat Rina. Pun Keluarga Solitian merupakan Keluarga Pelayan Menengah, yang dipercaya oleh berbagai Organisasi Korporat di seluruh penjuru Negara Adidaya.
Kendatipun hanya anak dari seorang Kepala Pelayan Korporat, ayah Sol, sebagai kepala pelayan, sangat berpengaruh dalam Sistem Kenegaraan sampai-sampai disegani oleh para Eksekutif Korporat.
“Mau jadi member party-ku,” ajak Mamat kecil, mengulurkan tangannya, “Mmm ... Rina?”
Mamat datang dengan baik dan mengajak Rina untuk bergabung dengan party-nya, namun Rina malah langsung bersembunyi di belakang Sol.
Gadis manis itu menggenggam ujung pakaian bulter Sol, seolah takut dengan pria muda berambut silver di hadapannya.
“Tidak apa, Tuan Muda Nojo,” tolaknya, menggeleng, “Saya di sini aja ...”
“Ceh ... Aku udah bilang kamu bebas kalau mau ke mana aja, Rin,” tukas Sol kecil, mengerucutkan bibir, “Gadis sepertimu itu bukan tipeku!”
Gadis itu tetap menggeleng dan menempelkan wajahnya di punggung kecil Sol.
“Saya mengerti, Tuan Muda.”
“Ceh ... gak ... kamu sama sekali gak ngerti.”
Sol kecil membuang muka, lalu langsung kembali menatap tajam Mamat di hadapannya.
“Dan aku juga tidak mengerti kenapa kau menginginkan gadis merepotkan ini,” papar Sol.
Mamat terkekeh. “Saya hanya tidak mau melepaskan bibit brilian begitu saja ... Bukan begitu, Tuan Muda Sol?”
“Dari dulu aku sema sekali gak suka sikap kau itu, Mat,” ungkap Sol, membuang muka.
Mamat tersenyum tipis, kembali menatap Rina. “Yah ... untunglah keluarga kita tidak berhubungan baik, benar?”
Sol dan Rina kecil melihat ke arah yang sama. Mereka melihat sebuah mobil terbang yang terlihat akan mendarat di halaman luas kediaman.
“Gak mungkin lah. Apa kamu bodoh? Gim itu terlalu berbahaya ...” bantah Sol, melihat ke Rina, lalu kembali menatap tajam Mamat, “Dan jangan lupa ... kita musuh sekalipun itu di Dunia Dimensi sana!”
Para gadis yang mengikuti Mamat kecil, tiba-tiba mengerutkan kening, marah. Mereka semua menatap tajam pria kecil berpakaian pelayan itu.
Saat situasi semakin menegang sekaligus mencekam, sebuah mobil terbang berwarna hitam berhenti tak jauh dari posisi mereka. Pintu mobil tersebut terbuka, dan berjalan keluar seorang perempuan cantik berambut emas.
Sol seketika terpaku di tempat saat melihat ke arahnya. Jantungnya mulai berdegup kencang saat melihat perempuan itu berjalan ke arahnya.
Perempuan yang warna matanya sama terangnya dengan warna rambutnya itu melambaikan tangan, menyapa seseorang dengan riang. Dia berlari dengan tak sabar ke arah Sol dan Mamat.
Aku hanya pernah denger rumor tantangnya—tapi aku gak nyangka dia secantik ini, demikian pikir Sol, kedua mata oranyenya membelalak, terpesona.
Saat perempuan cantik itu tak jauh darinya, Sol langsung menunduk hormat layaknya postur hormat seorang pelayan pada umumnya.
Perempuan cantik itu tersenyum bahagia—namun dia sama sekali tidak melirik Sol; Dia melewatinya begitu saja—berlari dengan ekspresi sangat bahagia mendekati Mamat.
“Hei, hei, hei—kamu ... Ng .. Mamat?!” sapanya dengan sangat riang. “Ah, ini beneran kamu!”
Suara riang perempuan itu sangat menawan sampai-sampai memecah ketegangan.
“Kamu,” balas Mamat, acuh tak acuh menatapnya, “Angelica ...”
“Gimana kabarmu, Mat?” perempuan cantik itu dengan riang bertanya, “Kamu masih main Game World Guild?”
Mamat kecil terlihat sama sekali tak tertarik dengan Angelica. Berbeda dengan Sol, yang sedari tadi tak bisa melepaskan pandangannya dari perempuan cantik nan menawan itu.
“Ya. Begitulah. Bersama rekan-rekanku seperti biasa ...”
“Hei? Kalian semua main sebagai party?! Itu pasti menyenangkan—apa aku boleh ikut juga—”
“Tidak, Lisa ... Kamu masih terlalu lemah.”
Tubuh Angelica langsung bergetar sedikit, lalu terdiam kaku. Dia mematung di tempat setelah mendengar Mamat menolaknya dengan tegas seperti itu.
“Ahahaha—ya—ya ... y-ya .. A-aku juga masih harus banyak latihan, sih,” dia tertawa canggung, lalu mengalihkan pandangannya, “Game itu emang susah banget, sih.”
Sudah menjadi rahasia umum keluarga mereka semua yang ada di sana memang tak memiliki hubungan baik. Sebab itulah Mamat dengan tegas menyatakan ketidak-sukaannya terhadap Angelica.
Mamat mengabaikannya dan hanya tersenyum menatap Rina kecil di belakang Sol.
“Kalau begitu aku undur diri dulu, Rina ... Tuan Muda Sol.”
Dia berbalik dan pergi bersama haremnya begitu saja. Sedangkan Angelica hanya bisa menatap mereka, dan dengan murung menurunkan bahunya sembari mendesah pasrah.
Namun, perempuan itu masih mempertahankan senyum di wajahnya saat menatap kakinya sendiri.
Di sisi lain, Sol yang sedari tadi memperhatikan mereka hanya bisa marah—sangat marah—saat melihat senyum riang perempuan di sampingnya tiba-tiba menghilang. Dia tahu perempuan tersebut sedang merasakan rasa sakit akan penolakan. Dia sangat marah melihat Mamat kecil menolak Angelica, dan dengan ekspresi acuh tak acuh pergi begitu saja.
Kendati ini memang bukan kejadian aneh, sebab Sol pun tahu keluarga mereka memang tidak memiliki hubungan baik. Bahkan mereka sering bertikai satu sama lain—bahkan berperang.
“Bagaimana kalau,” ajak Sol, sedikit gugup, “bergabung dengan party saya saja, Nona?”
“Nggak. Makasih. Aku gak apa-apa, kok,” tolaknya, berusaha keras untuk terus mempertahankan senyumnya, ”Sumpah! Aku beneran nggak apa-apa.”
Angelica masih menunduk, lalu menarik napas dalam-dalam, menatap pelayan kecil di sampingnya.
“Ya udah kalo gitu—mmm ... Tuan ... Muda S-Sol? Saya permisi.”
Perempuan cantik itu berjalan melewatinya, pergi begitu saja.
“Kenapa Kakak Cantik itu harus nolak Tuan Muda gitu, sih,” gerutu Rina kecil, “Nyebelin banget.”
Sol mengepalkan rahangnya, mencoba mengejar Mamat.
“Ah,” desah kecil gadis di sampingnya, jatuh tersandung ke samping saat rangkulan tangannya terlepas. “Tuan—“
Angelica masih berjalan seraya menundukkan kepalanya, memutuskan untuk kembali ke rumahnya, mengabaikan pertemuan. Dia pulang untuk bermain gim. Sendirian.***