
Assassin ini membantai party-ku cuma sendirian?! Hei, Anggota Party-ku semuanya Anak Kelas Atas dari Keluarga Besar Soro Dojo aku!! Mereka juga udah hampir jadi Tier 3 sepertiku .. Tidak mungkin ranah Tier 2 Puncak layaknya mereka bisa mati sekali tebas—apalagi hanya oleh seorang assassin! Aku tidak percaya ini! Tapi, demikian pikir Nanang, sebelum menyadari bahwa, “Ini benar kamu, kan?” lawannya memang merupakan player sekaligus sosok yang dia kenal.
Sudah menjadi pengetahuan umum jikalau Job Berseker memang akan selalu lebih kuat dalam hal kekuatan. Strenght. STR. Daripada Player yang memiliki Job Assassin.
Assassin tersebut telah kembali menghilang dan masuk ke dalam kehampaan setelah bentrok serta adu kekuatan sejenak dengan Nanang.
“Kau tahu siapa saya?” balas seorang pria, dengan suara serak nan menakutkannya masih dari dalam kehampaan.
Nanang mengangguk. “Tentu! Kamu: Sol, kan? Dari Keluarga Khusus Pelayan Korporat Point Zero .. Keluarga Besar Solitian.”
“Seperti yang diharapkan dari Anak Kelas Atas Konglomerat Soro Nojo. Kau. Anak Jenius. Yang namanya Nanang itu, benar?” balasnya, lagi.
Nanang bisa mendengar perkataannya itu namun dia masih tidak tahu betul di mana posisi si assassin sebenarnya. Dia. Bahkan tidak bisa merasakan suara assassin tersebut benar-benar ada.
Sol. Calon Assassin Heroes itu. Pada akhirnya mulai perlahan menampakkan dirinya tepat di hadapan Nanang.
Assassin tersebut tampak hanya berjarak dua meter dari Nanang. Dia berdiri tegap di hadapannya dengan sangat tenang nan santai seolah sedang berdiri di halaman belakang rumahnya sendiri.
Padahal, assassin itu jelas telah membantai rekan-rekan party kecil Nanang sebelumnya.
“Tunggu!? Kamu bener Solitian?! Kenapa orang penting seperti kamu ada di sini?” sahut Nanang, menyandangkan Kapak Merah Besar-nya di punggung secara diagonal. “Kamu udah jadi Budak Korporat, kan—itu prestasi menakjubkan! Kenapa kamu malah meng-grinding sendirian di Field Dungeon kecil ini?”
“Hohoho ~” Sol malah terkekeh menakutkan, dan juga tampak sama sekali tak ingin menjawab pertanyaannya, “Lupakan saja semua omong kosong itu ...”
Sol pun menyarungkan belati hitam-abu miliknya ke sarung pisau di pinggang belakangnya seraya berjalan santai ke hadapan Nanang.
“... Kau lebih baik dari umpan daging pribumi—atau bahkan player-player bego sialan yang pernah saya temui,” papar Sol, mengulurkan tangan kanannya. “Hai, Tuan Muda Soro Dojo .. Jujur .. saya sedang butuh kekuatan ... Apa kau mau bergabung?”
Nanang menjabat tangan Calon Assassin Heroes di hadapannya.
“Kekuatan aku?” tanya balik Nanang, dan kemudian setelah berjabat tangan, dia menyilangkan lengannya, “Katakan .. Apa maumu?”
“Ayo kita bunuh si Mamat!” ajak Sol, singkat.
Dia menyeringai tajam dan menyeramkan padanya.
“Apa?! Kamu serius?”
“Ya .. Tentu ...”
“Tapi dia sudah berada di ranah Tier.4, Sol, kamu tahu .. kita—“
“Hahaha .. Bodoh ...” ungkap Sol menampilkan sebuah panel biru karakter dari jam quantum di pergelangan tangan kanannya, “Kau pikir?”
Nanang membelalak dan terpaku di tempat, saking terkejutnya melihat Calon Assassin Heroes di hadapannya.
Dia melihat salah satu bagian panel karakter tersebut, menunjukkan bahwa Sol sudah menapaki ranah kekuatan cukup jauh di depannya.
“Ap—“
Nanang sampai tidak bisa berkata-kata. Pada akhirnya dia harus rela menerima kalau dia telah tertinggal cukup jauh oleh satu orang lagi, sebab Assassin di hadapannya pun telah menapaki ranah Tier.4.
“—Kamu ....”
Calon Assassin Heroes di hadapannya hanya menyempitkan mata seraya menajamkan senyumnya.
“Kamu .. Juga, huh ... Tapi, Sol, untuk apa kita harus nge-bunuhnya? Quest dari para Eksekutif Korporat, aku masih yakin bisa menyelesaikannya sendiri.”
“Itu sudah tidak berguna, bodoh! Kau kira untuk apa aku ada di sini?! Meng-grinding monster dan aliens bodoh itu! Aku budak Korporat Point Zero itu sendiri ... Apa kau lupa?!”
“Ya .. Budak Korporat memang merupakan posisi tertinggi sekaligus spesial yang bisa didapatkan Umat Manusia Biasa. Seperti. Kita. Di Dunia Nyata tapi ...”
Nanang menyentuh dagunya sendiri, berpikir kembali tentang hal itu.
“Ada Quest National Heroes di dalam Dimensi Dunia Gim ini,” ungkap Sol, merentangkan kedua lengannya, “Bagaimana jika aku mengatakan itu? Kau langsung paham, kan, maksudku?"
Kedua mata silver Nanang perlahan membelalak seraya seluruh tubuhnya sedikit bergetar.
“Kamu. Bohong?”
“Untuk. Apa?”
Sol masih menganga setelah membalas patahan kata pertanyaan Nanang. Lalu kemudian dia menghela napas seraya menggelengkan kepala, dan menggeser panel biru karakternya ke bagian quest.
Nanang tampak lebih terkejut lagi, “II-itu ...” setelah membaca panel quest tersebut.
Dia langsung menggenggam gagang Kapak Merah Besar-nya saat dia melihat quest langka dimiliki Sol. Sudah menjadi rahasia umum jika sebuah quest di Game World Guild memang bisa direbut oleh player lain. Mereka yang ingin merebut quest player lain hanya perlu satu item khusus bernama: Death Lock Stones.
Nanang mulai ragu—padahal—dia sebelumnya sudah berniat untuk langsung menebas assassin di hadapannya.
“Ya .. Pilihan yang bagus, Tuan Muda Soro ...” Sol mengangguk puas saat melihat Nanang melepaskan genggamannya dari gagang senjatanya, “Pun sayangnya ... setiap Legendary Quest National Heroes seperti ini memang hanya bisa diselesaikan sesuai dengan Job Player-nya itu sendiri.”
Nanang benar-benar mundur dari niatnya untuk bertarung. Dia tidak ingin jadi gelap mata hanya karena untuk merebut sebuah quest.
“Kamu harusnya bilang dari awal ...!! Sial ....”
Nanang menggerutu seperti itu, namun pada akhirnya dia bisa menghela napas.
“Hahaha! Aku cuma mau lihat bagaimana ekspresi bodoh Anak Jenius sepertimu, Nang ... Apa aku harus minta maaf?”
“Tidak usah ... Tapi apa kamu serius kita bisa membunuh si Mamat?”
“Ya. Tentu. Dan aku cuma mau membunuhnya sekali saja ... setelah itu ... Kau bisa ambil Quest Pahlawan Nasional atau quest apa pun yang dimilikinya.”
Kedua mata silver Nanang mulai bersinar.
“Oke! Aku ikut!”
“Bagus .. Hahaha ... Sepakat! Besok kita pasti memenggal kepala Anak Emas itu!”
Assassin di hadapan Nanang tiba-tiba melihat jam quantum-nya yang berbunyi, lalu kembali menatap Nanang.
“Ya. Itu saja. Aku akan segera mengintainya terlebih dulu ... Kita akan bertemu lagi besok di sini—dan juga jangan lupa datang sendiri saja.”
“Sendiri?! Tapi party-ku tidak selemah itu, Sol, juga kita bahkan bisa buat suqad—“
“Dengarkan aku: Kau datang sendiri saja ... Oke?”
Suara tajam nan tegasnya terasa oleh Nanang, yang entah bagaimana seolah berasal dari dalam kehampaan; Sebab seraya dengan itu, tubuh Sol pun memang perlahan menghilang dari hadapan Nanang.
“Aku tidak butuh orang-orang lemah kau itu, Tuan Muda Soro Dojo.”
Setelah perginya Calon Assasin Heroes itu, Nanang pun langsung kembali ke kediamannya.
Dia tiba-tiba muncul di tengah Aula Teleportasi.
“Tuan Muda?! Anda baik-baik saja?”
“Hei, bagaimana Anda tidak mati!?”
“Ya!? Assassin itu sangat kuat, loh!”
Saat Nanang bahkan belum menginjakkan kaki di luar bangunan Aula Teleportasi, anggota party kecil-nya yang telah respawn berlari menghampirinya seraya menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.
“Maaf, Tuan Muda,” ujar pemimpin regu assassin dalam regu pengintainya, “Kami telat memberitahukan Anda tentang informasi—“
“Lupakan itu .. Aku punya quest baru untuk kalian ... Cepat cari informasi ini! Segera kumpulkan dan langsung kirimkan padaku selengkap mungkin!”
Assassin tersebut melihat panel biru pada jam quantum-nya.
“Apa ini sa—semua regu pengintai! Kita tidak punya banyak waktu—segera cari informasi itu sebanyak dan selengkap mungkin!”
“Siap, Kak!"
Nanang baru saja memberi perintah regu assassin khususnya tersebut untuk mencari informasi tentang para pemegang Quest Legendary National Heroes seperti yang telah ditunjukkan Sol.
“Dan untuk kalian .. Setelah kita istirahat, aku akan memimpin grinding untuk mengembalikan level kalian, oke?"
“”Siap, Tuan Muda!””
Tak memakan waktu beberapa jam, saat Nanang akan bersiap menuju tempat grinding dan leveling yang sama, akhirnya dia mengetahui siapa saja Calon Pahlawan Nasional di Game World Guild selain Sol.
Queti? Xiao Tang?! Sial .. Sudah pasti anak-anak ini akan jadi Pahlawan Nasional, huh, demikian pikir Nanang, masih melihat laporan pada panel biru yang dikirimkan langsung oleh regu pengintainya.
“Ya, Tuan Muda ... Dan juga .. menurut dugaan kuat kami, Quest Legendary berisi Title Pahlawan Nasional Utama sudah didapatkan oleh Anak Emas itu. Mamat!”
Pelayan keluarga besarnya berjalan menghampirinya seraya memberi spekulasi tersebut.
“Apa kita benar-benar akan merebutnya?”
“Tidak ... Terlalu mencolok jika membuat party.” Nanang menggelengkan kepalanya. “Aku .. yang akan bergerak sendiri!”***