
Ya. Party kecil Angelica. Kami. Pada akhirnya memang bisa mengalahkan Kelompok Monster Class A.
Namun, itu hanya terbatas pada monster-monster di Mini Dungeon atau di Gate Dungeon saja.
Ya. Jelas kami awalnya tidak berani untuk menantang Monster Class A di Field Dungeon.
Kesampingkan tingkat kesulitannya yang pasti akan lebih tinggi, monster-monster kecil seperti goblin, serigala kecil dan bahkan slime di sekitarnya pasti akan sangat mengganggu. Mereka akan terus bermunculan seraya kami harus membunuh Monster Class A tersebut.
Berbanding terbalik jika itu di Mini Dungeon atau Gate Dungeon, yang pasti hanya terdapat satu Bos Monster Class A, tanpa ada gangguan apa pun.
Kami hanya harus melenyapkan satu monster berukuran besar seperti monster yang kami hadapi pada saat ini.
Aku, Angelica, Mo dan juga si Ro sedang berada di Gate Dungeon, melawan Monster Serigala Berkepala Dua.
Untaian bulu silver metal serigala tersebut tampak kokoh melindungi bagian kulit dan dagingnya—ia seperti untaian benang logam berbentuk pakaian yang sangat kokoh.
Namun, sekokoh-kokohnya bulu silver Bos Monster di hadapan kami, sihir kutukan si Mo tetap bisa menembusnya dan langsung mengurangi kekuatannya.
“Hahaahha! Bagus Mo!” puji Angelica, cukup jauh di belakangku. “Ayo mulai bombardir anjing ini pake skill terkuat kalian!”
Ya. Sudah pasti aku akan langsung berbalik dan berlari ke arah mereka, tepat pada saat Angelica berteriak dengan penuh semangat seperti itu.
Rentetan serangan anak panah yang ditembakkan Ro serta sihir emas Angelica, langsung membombardir Monster Serigala Berkepala Dua di belakangku.
Ya. Aku berlari ke arah mereka bertiga sembari menundukkan kepalaku—takut ada satu serangan tak sengaja menyasar ke arahku. Namun, nampaknya akurasi tembakan mereka bertiga sangat tinggi.
Serigala Berkepala Dua itu tumbang setelah rentetan serangan Angelica dan Ro—tepat pada saat anak panah milik pria jangkung itu habis.
Poligon-poligon kecil berwarna silver dari pecahnya tubuh serigala yang kami kalahkan, menandakan akhir grinding monster di Gate Dungeon ini.
“Hahahaha ...”
Bukan aku, Ro atau si Mo yang tertawa.
“Ini seru banget, sumpah—punya NPC berpotensi tinggi,” gumam Angelica, berekspresi melankolis setelah dia tertawa bahagia sebelumnya.
Dulu, saat hanya aku dan dia saja yang meng-grinding monster atau bahkan aliens, Angelica tak pernah satu kali pun terlihat sebahagia ini.
“Hahahaha!”
Setelah puas tertawa sembari bertolak pinggang dan mendongak kuat, Angelica berlari memasuki kumpulan poligon-poligon berwarna silver yang belum lenyap di udara.
“Urrkhh,” keluhnya, yang aku tidak tahu mengapa dia mengeluh, “Apa aku harus nyari sappoter buat ngambilin drop item, ya?”
Ya. Aku lupa jika Loot. Drop Item. Peralatan. Yang dijatuhkan oleh Bos Monster kadang tersebar ke segala arah. Beberapa dari mereka bahkan terlempar ke hadapanku, yang sedang berada di barisan paling belakang formasi party.
Angelica nge-loot peralatan-peralatan serta item-item yang tersebar di sekitar kami seorang diri.
Ya. Sudah jelas. NPC Kelas Rendah. Pribumi Daratan Surga. Yang tak memiliki potensi sepertiku, jelas sama sekali tidak bisa mengambil Drop Item.
Item kelas tertinggi yang bisa kusentuh hanya Lobak Satu Giga, huh.
Namun berbeda dengan si Mo dan Ro, mereka hanya butuh waktu untuk kelak nanti bisa menyentuh peralatan dan item kelas atas.
Di sini, pada saat ini, aku benar-benar merasa sangat tidak berguna. Ditambah Angelica mulai terasa mengabaikanku dan lebih perhatian ke Mo dan Ro. Apalagi si Mo, yang memang dia sangat berpotensi jadi seorang Mage.
Setelah selesai mengambil item serta peralatan—entah apa yang dipikirkannya—namun Angelica menyarankan sesuatu yang tak biasanya.
Kami semua keluar Gate Dungeon saat terik matahari masih memancar terang.
Waktu ini? Mungkin ia disebut siang menjelang sore hari. Entahlah?
Yang pasti, pada saat ini, aku masih ingat jelas, kami semua akhirnya mencoba melawan Monster Class A terlemah di Field Dungeon.
Kaisar Naga
Kendati disebut kaisar, monster naga tersebut hanya terlihat seperti kadal bersayap, berwarna cokelat, dan dengan ukuran tubuhnya hanya seukuran Gubuk Kecil-ku. Ia sedang berbaring di atas sebuah altar besar berwarna metal.
Karena Angelica pemimpin party kecil ini, aku, Mo dan si Ro tidak bisa apa-apa. Sebagai umpan daging-nya, aku hanya bisa mengerti apa yang harus dilakukan pada saat-saat seperti ini, yakni, memancing Monster Class A tersebut sampai ke jangkauan serangan Angelica.
Seperti yang aku bilang sebelumnya, di Field Dungeon ini, saat aku memasuki wilayah Bos Monster Class A, gate-gate kecil mulai bermunculan di sekitar Kaisar Naga itu. Dan seraya dengan munculnya gerbang-gerbang kecil tersebut, Monster Class A itu bangkit dan meraung layaknya naga pada umumnya.
Aku hanya pernah mendengar raungan naga dari jarak yang sangat jauh. Pun pada saat itu aku dan Angelica bersembunyi dari satu squadron yang sedang mengepungnya.
Party kecil Angelica yang beranggotakan aku dan dia serta Ro dan Mo pada akhirnya mencoba melawan Monster Class A di Filed Dungeon.
“Ro!” perintah Angelica, “Kamu urus monster dan aliens kecil yang nyerang kita—juga kamu, Mo! Cepet lemahin kadal besar itu!”
Jadi seperti itu rencananya, pikirku, menarik aggro kadal tersebut selagi rentetan anak panah menghujani monster dan aliens kecil yang menerjang ke arah kami. “Ya. Ini cukup sederhana.”
Saat monster serta aliens kecil bisa teratasi dengan baik oleh si Ro—dan Mo yang berada di samping Angelica—yangmana dia langsung melemahkan Kaisar Naga.
Aku menerjang ke depan sembari menghindari aggro monster-monster kecil yang sedang mencoba menangkapku.
Sesampainya di hadapan naga bersisik cokelat dengan sayap kecil di punggungnya itu, aku mencoba menarik perhatiannya dengan cara melemparkan sebuah batu ke arah mata hijau-nya.
Seraya dengan Bos Monster Class A itu menatapku, dari garis paling belakang formasi party, Angelica menembakkan sihir emasnya.
Namun, “Naga-nya bisa terbang?!!” aku langsung berlari kembali saat Angelica berteriak seperti itu, mengejar Bos Monster Class A, yang entah bagaimana ia bisa terbang dengan sayap kecil-nya itu.
Tetapi tepat sebelum ia terbang lebih tinggi, aku melompat dan meraih buntut pendek-nya, mencoba menarik-nya kembali ke belakang—menjauhi Angelica.
Aku mengerahkan seluruh kekuatanku untuk melempar-nya ke belakang—ke posisi semula-nya—dan kembali menarik aggro-nya hanya padaku.
Namun, setelah terlempar kembali ke posisi semula-nya, Kaisar Naga itu langsung mengumpulkan energi berwarna ungu di mulut menganga-nya.
“Dragon Breath!?” jerit Angelica, “Semuanya! Hati-hati!”
Potensi apa pun bagi Pribumi Daratan Surga setelah Insiden Terbesar memang sangat penting. Ia seperti vaksin, yang menjadikan NPC lansia tidak akan bertingkah aneh. Namun bukan hanya itu, potensi untuk kami juga memberikan kekuatan dan kemampuan lebih untuk menghadapi situasi seperti sekarang ini.
Aku menjelaskan itu karena, pada saat ini, aku lalai menghadang Bos Monster Class A. Dan aku ingat jelas setelah grinding Bos Monster ini, aku juga pada akhirnya akan terluka parah sampai-sampai tidak bisa meng-grinding dan menjadi umpan daging Angelica untuk beberapa waktu.
Ya. Pun untuk saat ini, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menerima sedikit buff kekuatan dan sihir pertahanan singkat dari Angelica. Yangmana lintasan serangan nafas naga melesat sangat cepat ke arahku.
“Pope ...!!” pekik Angelica, yang pada akhirnya memanggil namaku, setelah dia melafalkan sihir pertahanan terkuatnya.
Ya. Aku masih bisa mendengar suara pekikkan khawatirnya, walaupun aku sedang terlempar setelah terkena ledakan energi dari serangan nafas naga.
Namun, seperti yang pernah aku bilang, kan, kalau aku? Mungkin memang tidak punya potensi sama sekali.
Ya. Pada saat ini ... Aku lupa ... Entah untuk ke-berapa kalinya ... Aku sekarat lagi.***