
Aku lumayan frustrasi.
Ya. Rencana kami gagal karena ketidakbecusanku dalam memimpin.
Aku sangat menyadari itu.
Ya. Membanding-bandingkan Skill Kepemimpinan-ku dengan si Mamat memang bukan hal yang bagus. Namun, pria tampan itu memang terlalu hebat dalam hal memimpin.
Dalam pengintaian yang kulakukan sebelumnya pun, kupikir, informasi yang aku kumpulkan sudah cukup. Aku mengintai Wilayah Katedral Pusat beberapa kali, selama lebih dari 10 tahun secara berkala dan konsisten.
Pun rencana yang kami susun, itu sangat sederhana: Di mana Skill Curse si Mo akan melemahkan orang-orang di dalam Katedral Pusat, lalu aku serta si Ro menyerang Target Utama dengan serangan terkuat kami.
Selama Pendekar Pedang Aneh itu. Dry. Berada di sekitarku, Faksi Umat Beragama, Faksi Non Player maupun Penjaga Anggota Korporat setempat tidak akan bisa melakukan apa-apa.
Dan juga targetku Healer Heroes—bagaimanapun—wanita itu hanyalah seorang Healer.
Namun pada akhirnya aku gagal—kami semua gagal.
Aku tidak pernah menyangka Pahlawan Nasional Utama. Mamat. Akan berada di Wilayah Katedral Pusat juga.
Tidak ada pilihan lain, untuk sekarang, aku harus melenyapkan Saber Heroes terlebih dulu, demikian pikirku.
Itulah tujuan kami sekarang, namun aku tahu hasil pertarungan pasti akan selalu tidak akan pernah bisa kita tebak.
Aku sedang memimpin anggota party-ku menuju ke tempat di mana Pahlawan Pedang berada.
“Kita sampai, Pope ... Sepertinya mereka sedang terpojok.”
“Untuk sekarang kita perhatikan mereka dulu, Ro,” ujarku, mencari persembunyian yang cocok untuk kami. “Ikuti aku. Kali ini jangan sampai gagal, atau nanti akan sulit bagi kita.”
“Hahahaha! Oke! Semuanya, semangat!”
Aku mengangguk diam, tetapi menatap dingin pria aneh itu.
Bangunan Metal Hitam bercorak biru sangat tinggi di hadapan kami Tower Energi. Mulai terlihat jelas oleh kami semua. Namun, aku sama sekali tidak mendekatinya. Aku menuntun anggota party-ku ke tepi Tower, menuju tempat di mana orang-orang yang sedang bertarung.
Mereka semua sama sekali tidak akan menyadari kedatangan kami.
Di kehidupanku sebelumnya, aku menginjakkan kaki di sini pada saat umurku 100 tahun.
Aku sudah tahu seluk-beluk Wilayah Tower Energi ini seperti halaman belakang rumahku sendiri.
Tower Energi adalah tempat di mana semua Anggota Faksi Daratan Surga menentang Ujian Kesengsaraan untuk menerobos batas kekuatan. Tier mereka.
Ya. Dulu aku menentang Tower Energi ini saat umurku masih terbilang muda.
Memasuki tahap [Tier.3] High Human di rentang umur 80 s.d. 100 tahun merupakan pencapaian besar untuk Faksi Non Player [NP].
Ya. Dulu aku sendiri, namun sekarang, aku ke sini bersama rekan-rekan party-ku meskipun masih sebagai [Tier.1].
Kami semua di sini bukan untuk menerobos batas kekuatan kami dan bertambah kuat, tetapi kami semua hanya bertujuan untuk melenyapkan target berikutnya: Pahlawan Pedang.
Namun ...
Harusnya aku benar telah menyerah terlebih dulu menargetkan Pahlawan Penyembuh. Informasi tentangnya sudah pasti lenyap setelah kerusuhan yang kubuat di Katedral Pusat.
Tetapi ...
Entah mengapa Pahlawan Penyembuh. Queti. Healer Heroes. Berada di sini bersama Pahlawan Nasional lainnya.
Mereka semua sedang bertarung dengan intens, dan kulihat mereka mulai terpojok.
“Ini keberuntungan kita, Pope,” papar Mo, membetulkan kacamatanya.
“Hahaha! Ya, Mo! Kau benar! Aku akan melawan tiga dari mereka!!” teriak Dry, menghunus Pedang Hitam Tajam-nya.
Aku mengerutkan kening. Lebih baik Pendekar Pedang Aneh ini tidak teriak-teriak. Kita sedang bersembunyi, kau tahu?
“Bagaimana menurutmu, Ro?”
“Kita bisa menang, Pope. Kalau trik yang kamu beritahu itu memang benar.”
“Ya. Dan tidak akan ada kesempatan kedua untuk kita di sini.”
“Hahaha! Ya! Jangan lupa, kawan! Kita cuma punya masing-masing satu Syringe Point Five! Hahahaha!”
Para Pahlawan Nasional sedang bertarung cukup jauh dari posisi kami bersembunyi.
Kecuali Assassin Heroes yang entah di mana. Aku tidak melihatnya. Mungkin dia sedang bersembunyi?
Seperti yang sudah kubilang, di sini, kepemimpinan si Mamat pasti akan lebih unggul dan lebih hebat dariku. Pun terlihat sangat jelas, dia bisa memimpin anggota party-nya dengan sangat baik.
Walaupun kalah jumlah, para Pahlawan Nasional sama sekali tidak terdorong mundur oleh gempuran para Anggota Sekte Sesat.
Namun terlepas dari itu, aku cukup yakin dengan kartu truf yang sudah kami siapkan.
Lebih tepatnya, ini adalah trik bagaimana mengombinasikan Energi Inti kami.
Memang, terlepas dari itu juga, untuk sekarang, sebelum memulai pertarungan, aku harus mengonsumsi Kristal Energi.
Mewah memang.
Ia sangat berbeda dengan Box Hitam Energi yang biasa kupakai di kehidupanku sebelumnya.
Sepertinya para Pahlawan Nasional tidak menyadari kedatangan kami.
“Bersiap,” perintahku, berdiri.
"“Oke,”" jawab mereka, serentak mengatur posisi masing-masing.
Ia kunamakan: "Formasi Belah Ketupat”.
Di mana aku sebagai Vanguard yang menjadi ujung tombak paling depan, Mo sebagai Crusemancer berada paling belakang sejajar denganku, dan dua orang lainnya di sisi kiri-kanan kami berdua.
Kami akan terus menerjang seraya menyudutkan formasi ke kiri, sebab Ro merupakan seorang Ranger Tier.1 yang notabene-nya memang cukup lemah dalam pertarungan jarak dekat.
Dalam formasi ini, aku dan si Dry bertugas melindungi Mo dan Ro.
Aku melihat wajah Anak Diberkati Tuhan—yang merupakan para pahlawan di hadapanku ini mulai berubah suram. Mereka sedikit lengah saat diserang Pemimpin Grup Sekte Sesat.
Aku tahu pria itu. Dia adalah Anggota Terhormat Sekte Sesat:
Rotzell
Aku pun tahu dia akan menjadi Pemimpin Besar Kaum Sesat di masa depan nanti.
“Kita mulai, Mo ... Lemahkan mereka.”
“Oke.”
Pria berkacamata di belakangku langsung melafalkan Mantra Kutukan-nya.
“Hahaha! Mereka menyadari kita! Mereka mulai datang, mereka mulai datang ...” Dry tertawa, namun tetap memasang kuda-kuda kuat seraya terus bergerak, “Hahaha!”
Tidak ada yang aneh saat pertempuran baru pecah seperti ini.
“Apa!? Kenapa kau ada di sini, Pope!!” teriak geram Mamat padaku. “Toru! Habisi NPC Pendekar Pedang itu!!!”
Pahlawan Pedang mengerti, langsung memisahkan diri, menerjang si Dry, dengan ekspresi yang sangat geram.
“Lenyaplah! NPC sialan!!”
“Hahaha! Kita lihat siapa yang akan lenyap, Pria Pedang!!”
Dentingan kedua pedang berbenturan terdengar sangat indah tak jauh di sampingku.
Dry mulai terdesak oleh Pahlawan Pedang serta Pahlawan Penyerang Jarak Jauh yang terus menargetkannya.
Sekalipun Ro membantu bertahan dengan anak-anak panahnya, pria aneh itu tetap terdorong mundur.
Satu Pahlawan Nasional Garis Depan memang tidak akan bisa menghentikan formasi kami.
Dari pengintaian singkat kami sebelum menyerang mereka, kami semua menyadari saat ini mereka sangat kekurangan seorang Crelic yang menjanjikan.
Hampir berhadapan dengan Pahlawan Mamat, aku berkata, “Sekarang. Kau. Boleh mulai menggila, Dry.”
Tenka Mousou.
“Oke!"
Teknik Pedang Tertinggi Dry.
"Hahahaha!”
Pria aneh itu menggunakan Teknik Pedang tersebut untuk menahan tebasan Saber Heroes serta serangan para Penyerang Jarak Jauh lainnya.
Sisi kiri party-ku sama sekali tidak terdorong mundur; namun tidak juga bisa mendorong maju.
Pertarungan ketiga sisi ini stagnan, terus diam di tempat.
“Kita bisa menang,” ucap Mo, mengangkat tongkat hitamnya, “Pakai sekarang.”
"“Oke,”" jawab kami bertiga, serempak.
Aku melesat dengan sangat cepat; mengabaikan Vanguard Heroes yang mulai menerjang ke arahku.
"Maaf. Aku tidak punya waktu berurusan denganmu," bisikku, saat menghindari Skill Provoke Vanguard Heroes.
Aku terus mencoba menghindari bentrokkan dengannya; bersama Anak – Anak Panah Emas yang ditembakkan si Ro yang terus melindungiku.
“Apa yang mau kau—“
Pahlawan Pelindung menolehkan tubuhnya dan mencoba meraihku; namun aku berhasil lolos dari Skill Provoke-nya.
Karena pertarungan ini stagnan, bagaimanapun caranya, aku harus melenyapkan Healer Heroes terlebih dulu. Semua orang di sini sudah dilemahkan si Mo. Sebab Skill Kutukan-nya itu memang sangat kuat sekarang.
Aku mengambil sebuah jarum suntik, lalu menyuntikkannya bersamaan dengan memakan Kristal Energi Biru.
Kami menyebut trik ini: “Kombinasi Syringe.5”
Semua anggota party-ku melakukan hal yang sama. Dan dalam sekejap, alur pertempuran pun langsung dikuasai oleh party kami.
Seluruh tubuh kami dibalut Energi Biru yang sangat halus nan tipis.
Vanguard Heroes mulai tertinggal cukup jauh di belakangku—aku—sama sekali tidak menoleh kepadanya.
Dan dalam jarak yang kukira sudah cukup, aku menguatkan kedua kaki-ku lalu kemudian melompat ke depan.
Layaknya kedua kaki-ku memakai pegas, aku melesat super-cepat dan tiba-tiba berada di hadapan Healer Heroes; dan aku langsung menggenggam leher wanita itu.
"A—!?"
“Quet—!!?”
Tidak sampai para Pahlawan Nasional di belakangku selesai berteriak, kepala wanita di hadapanku terlepas dari tubuh utamanya.
Aku melemparkan gumpalan daging dan tulang leher di genggamanku ke samping, lalu menerjang pahlawan lain.***