
Beberapa hari setelah aku meng-grinding alien bersama Angelica, aku melihat dia murung kembali. Kami berada di pojokkan gang yang diapit oleh dua bangunan toko—tempat di mana dulu kami pertama kali bertemu.
Ya. Sudah pasti Angelica akan murung. Dia baru saja gagal mencapai tujuannya, dan bahkan quest—hal yang wajib dia selesaikan—pada akhirnya tidak selesai.
“Aku kalah melawan sepupuku—dan gak bisa jadi Pahlawan Nasional lagi,” desah Angelica, menenggelamkan kepalanya di antara dua pahanya. “Padahal kita udah dapet MX-Z0212 di loot Roswell terakhir.”
Ya. Item tersebut adalah harapan terakhir untuknya mendapatkan Slot Calon Pahlawan Nasional. Tapi dia tetap gagal, ya?
“Seandainya aja aku lebih kuat, aku bisa nge-kill alien yang cepet-cepet itu,” desahnya lagi, menenggelamkan kepalanya lebih dalam, “lalu ngebantu kamu dan kita bisa langsung mundur ...”
“Aku minta maaf,” ujarku, datar.
Entah mengapa aku meminta maaf padanya? Aku tidak merasakan apa-apa, tetapi aku merasa, sepertinya itu memang hal yang perlu aku katakan kepadanya pada saat-saat seperti ini.
“Kenapa kamu minta maaf ke aku, Pope? Aku yang mimpin party kecil kita—aku juga yang bayar kamu ... jadi ... semua tanggung jawab ada di aku.”
Ya. Entahlah? Aku hanya mengingat tidak bergunanya aku pada setiap saat kami berdua meng-grinding monster maupun alien.
Aku sama sekali tidak menjawabnya. Hanya berkedip saat melihatnya masih berjongkok, dan menatapku dengan tatapan heran.
Ya. Yang pasti, karena aku terlalu lemah, kita jadi kalah, kan?
Aku tahu kalau aku memang sama sekali tidak bisa melindunginya. Kami hanya bisa mengalahkan 38 Roswell, sedangkan Angelica diharuskan untuk mengalahkan 100 Roswell—jika melihat lagi syarat quest-nya—kami membutuhkan lebih dari itu.
Ya. Hanya mengorbankan tubuhku saja tidak akan menjamin keselamatan Angelica saat kita grinding. Aku harus bisa membunuh lawan kami agar bisa berguna.
Aku tidak terlalu mengerti apa yang diinginkan Anak Diberkati Tuhan, apalagi jika mereka telah mengalami kegagalan seperti yang dialami Angelica saat ini.
Angelica terlihat lebih murung dari hari ke hari. Tidak ada yang bisa aku lakukan, atau lebih tepatnya, tidak ada yang aku pikirkan dan rasakan sama sekali. Ini seperti saat kami berdua pertama kali bertemu. Namun kali ini, aku tidak bisa hanya memberinya kacang bercahayaku—Nut.0—untuk membuatnya ceria kembali.
Meskipun aku dan Angelica setiap hari bertemu, kami tidak mengatakan apa-apa.
Aku hanya menunduk, melihatnya menenggelamkan kepalanya di antara kedua pahanya dari hari ke hari.
Memang selalu seperti ini beberapa hari terakhir, namun, entah mengapa aku tidak ingin meninggalkannya sendiri.
Aku merasa ingin berada di sampingnya pada saat-saat dia seperti ini.
Untuk beberapa hari terakhir setelah melakukan grinding alien, aku tidak menjual Nut.0 ke Angelica atau ke siapa pun. Ayahku pun mulai tidak terluka saat jadi umpan daging. Dan juga seperti biasa, jikalau Anak Diberkati Tuhan Wanita di sampingku ini sedang murung, pada akhirnya kami berdua selalu bisa jalan-jalan.
Angelica bahkan tidak menyelesaikan apa yang dia disebut quest hariannya. Dan kami berdua hanya berjalan-jalan menyusuri Village.0.
Aku mengumpulkan Nut.0 dari kakekku dan Angelica, lalu membeli Syringe.K2—Serum Kekuatan di toko.
Ini akan kuberikan untuk Angelica, demikian pikirku.
Aku keluar dari toko, memasuki sebuah gang tepat di sebelahnya.
“Aku sudah menggunakan semuanya saat grinding alien terakhir,” gumamku, menatap beberapa serum berwarna merah terang ditanganku.
Aku seperti biasa berjalan memasuki gang, yang mungkin tidak disadari Angelica. Dia masih murung, dan aku tak sengaja aku mendengar dia bergumam sendiri.
Aku mendengar keinginannya itu, dan entah bagaimana, ia akan kuingat selamanya. Sederhana memang. Namun itulah apa yang diinginkan Angelica dan aku suatu saat nanti. Dan kami berdua mungkin tak akan pernah menyadari, kalau keadaan kami di masa depan nanti, sama sekali tak akan pernah mengizinkan itu terjadi.
“Angelica ...”
“Ng? Apa?”
Dia masih berjongkok, mendongak, menatapku.
“Ini,” kataku, memberinya serum bercahaya merah, “Syringe Point K2 untukmu.”
“Uh? Bukannya kita udah kehabisan stok kemarin?" tanyanya, menunjuk wajahnya sendiri, "Dan—apa? Untukku?”
Aku mengangguk, masih menyodorkan Syringe.K2 padanya.
“Ini memberi apa yang kamu sebut Buff kekuatan. Mungkin. Ia bisa membantu menguatkan dirimu menghadapi masa-masa murungmu, Angelica ...?”
Anak Diberkati Tuhan Wanita di hadapanku ini tiba-tiba terpaku, dan berekspresi aneh saat aku memberinya serum tersebut.
“Ng ...” Dia tampak kebingungan sejenak, menatap jarum suntik bercahaya merah di tangannya, “Makasih?”
Aku jadi sering memberinya sesuatu karena penasaran, ekspresi apa lagi yang akan dibuatnya. Namun, yang sering aku perhatikan, dia hanya selalu menaikkan dua sisi sudut bibirnya sambil memeluk barang pemberianku dengan kedua telapak tangannya. Pun aura yang dipancarkannya agak menakutkan untukku.
Angelica batuk kering seraya melirikku dengan canggung.
“Apa kamu nggak inget? Perasaan aku udah ngejelasin, kan ....? Ini disebut: Bahagia—Emosi Bahagia!” lalu melangkah mendekatiku.
Aku langsung melangkah mundur saat dia tiba-tiba mendekat seraya memamerkan gigi putihnya tepat di hadapan wajahku.
Angelica terkekeh, “Hihihi ... Jangan lupa, ih ... ini-itu namanya senyum!”
Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan Anak Diberkati Tuhan Wanita ini. Namun, apa emosi bahagia memang seperti itu?
Ya. Aku memang tidak terlalu mengerti dengan apa yang dia maksud dengan emosi. Sedari awal, aku hanya menatap kosong Angelica yang mulai mengoceh.
“Sekarang kamu paham apa itu ‘emosi’?” tanyanya padaku, lalu memukul dadanya sendiri, “Kalo masih nggak—tenang, Pope! Kakak cantik ini akan ngajarin kamu semua hal tentang emosi manusia!!”
Ya. Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang dia katakan; Aku hanya mengangguk kecil saja.
Hari demi hari kami lewati bersama. Entah mengapa dia selalu memancarkan kebahagiaan saat berada di dekatku, meskipun sekarang aku tidak memberinya apa-apa. Angelica menunjukkan dan menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan emosi manusia. Apa yang dijelaskannya memang sangat menarik untukku walau aku tak bisa merasakan apa yang dia telah jelaskan.
Ya. Dan aku masih ingat dengan jelas emosi yang terakhir dia ajarkan padaku, yakni emosi bernama: cinta.
Sesuatu yang, entahlah? Ia sangat rumit. Bahkan aku yang di masa depan pun pasti tidak akan mengerti apa itu.
Senyum menawan dengan pipi kemerahan Anak Diberkati Wanita di hadapanku ini, adalah salah satu hal yang tak akan pernah bisa kulupakan seumur hidupku. Ia akan menjadi sumber kekuatanku untuk terus hidup di Dimensi Dunia yang biasa disebut kaumnya Game World Guild ini.
Ya. Mulai dari sekarang ini, Angelica memang akan selalu terlihat seperti itu. Ceria, riang, dan selalu terlihat seolah dia sedang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka, di balik senyum menawan dan manisnya, dia ternyata seorang: shotacon.***