RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [3] – [57] Benci? (1/2)



Esoknya, di gang sempit antara dua bangunan toko, pada waktu hampir menunjukkan senja akan tiba, aku dan dia bertemu kembali seperti biasa.


Ya. Memang kami berdua selalu bertemu di tempat dan waktu yang sama, lalu kemudian melakukan kegiatan yang sama.


Aku. Entah. Mengapa. Jika berada di dekatnya seperti biasa, selalu tidak merasakan apa-apa.


Ya. Bahkan pada saat dia tertawa terbahak-bahak setelah menembakkan skill sihir emasnya ke arah kumpulan monster yang telah aku pancing, aku sama sekali tidak merasakan apa-apa.


Bosan? Itulah jenis perasaan yang dulu pernah dia jelaskan padaku—namun—aku? Tentu. Aku tidak merasakan itu. Mungkin. Tetapi. Aku. Tiba-tiba. Bertanya-tanya, apa dia merasa bosan dengan situasi ini?


Apa dia pernah merasa bosan denganku?


Ya. Namun terlepas dari itu, tenang dan biasa merupakan perasaan terindah dalam hidupku yang aku kenal. Seperti pada memori singkat masa dewasaku ini.


Tapi ... Bagaimana caranya mengetahui perasaan orang lain, ya?


Aku menatap wanita berambut dan mata emas sedang berlari ke arahku.


“Urkh ... Udah aku duga,” desahnya, berjongkok di hadapanku, dan menggelengkan kepalanya, terlihat sangat kecewa, “Monster dan aliens di daerah sini udah jadi terlalu mudah untuk kita ... Item dan Energi yang dijatuhinnya juga udah gak sebanding dengan pengeluaran kita, Pope.”


Dia. Ya. Angelica. Sedang mengambil drop item dari monster-monster dan aliens yang telah kami kalahkan.


“Pengeluaran, huh,” gumam Angelica, yang tiba-tiba menatapku dengan tatapan menakutkan—tidak biasanya, “Kita kayak pasangan yang udah nikah aja, hehehe ...”


Kami. Ya. Berdua sedang meng-grinding monster seperti biasa; Leveling Anak Diberkati Tuhan Wanita yang masih terkekeh menakutkan di hadapanku.


Aku hanya diam, tanpa berkedip, terus menatapnya pada saat ini.


Dan. Ya. Pun entah mengapa, aku merasa memang sama sekali tidak perlu untuk mengetahui apa itu arti kata ‘nikah’. Ditambah dia terkekeh menakutkan seperti itu, yang membuatku tanpa sadar melangkah mundur—menjauh darinya.


“Kenapa kamu ngejauh kayak gitu, ihh ...!?”


“Kamu. Menakutkan. Lagi.”


“Apa?! Kenapa ...? Aku pikir aku cantik-cantik aja.”


Dia berujar dengan nada memekik seperti itu sambil mengeluarkan sebuah cermin dari inventory-nya.


Pengeluaran untukku .. yang dia maksud itu .. huh ... Apa mungkin karena aku terlalu banyak pakai Syringe?


Aku tahu tubuhku ini terlalu lemah bahkan untuk menahan kelompok monster Class C. Jikalau Angelica tidak selalu mem-back-up tubuh lemah ini dengan buff, dan menahan beberapa serangan dengan skill sihir perisai emasnya, aku mungkin akan langsung mati.


“Aku ternyata selemah ini, ya ....”


Aku menggumam seperti itu; Dia masih bercermin.


“Aku cantik-cantik aja, ah, kayak biasanya—kamu yang aneh, Pope.”


‘Mungkin?’


Batinku ingin membuat aku lanjut membalasnya dengan kata tersebut, namun aku memilih untuk menjawabnya seperti biasa.


“Ya.”


Aku kira dugaanku benar, aku memang terlalu lemah saat ini.


Jadi pengeluaran untuk party kecil kami memang terlalu besar. Sebab untuk sekali meng-grinding monster maupun aliens, Angelica perlu membeli Mana Stone, Mana Syringe, Energi Syringe serta beberapa koin pun digunakan untuk membeli berbagai batu lainnya—bahkan sebuah Batu Teleportasi untuk kami berdua segera melarikan diri dari bahaya di Field Dungeon.


Ya. Kami tidak bisa lagi meng-grinding. Leveling Angelica. Di Field Dungeon dekat Wilayah Negara Adidaya [3]. Village.0. Tempat di mana aku tinggal. Karena beberapa wilayah di sana baru saja dikuasai oleh para Red Name.


Sengketa Dungeon.


Ya. Perang antara kelompok Red Name dengan Eksekutif Korporat. Penguasa Negara Adidaya [3]. Akan terus berlangsung pada masa dewasaku ini.


Aku masih ingat jelas kendati memang masih ada tiga Negara Adidaya yang masih tersisa di Daratan Surga, beberapa dari mereka akan sangat kesulitan untuk bisa bertahan.


Kelompok kecil maupun kelompok gabungan NPC dengan Player yang menyebut diri mereka sendiri sebagai “Red Name” itu, telah lama bergerak melawan pemegang hegemoni ketiga Negara Adidaya tersebut—sebelum ketiga Negara Besar itu benar-benar berhasil mengukuhkan kekuasaan serta kedaulatan mutlaknya.


Pun aku memang benar-benar tidak tahu apa sebenarnya yang ada di pikiran Anak Diberkati Tuhan Kelas Atas seperti para Eksekutif Korporat. Namun yang pasti, aku dan Angelica tidak ingin ikut campur dengan sengketa tersebut.


Wilayah Khusus Keluarga Konglomerat Soro Dojo


Di sinilah kami meng-grinding dan leveling Angelica—selama masa dewasaku ini. Meskipun. Sering berteleportasi ke sini juga memang masuk ke apa yang Angelica sebut sebagai pengeluaran?


Pun pasti akan ada biaya beberapa Koin Emas untuk kami berdua bisa masuk ke setiap wilayah kekuasaan Keluarga Besar Anak Diberkati Tuhan mana pun.


Biaya masuk tersebut berbeda-beda untuk setiap Wilayah Keluarga Konglomerat Besar, serta tergantung pula dari koneksi Anak Diberkati Tuhan yang ingin memasukinya.


Dengan jaminan keamanan Keluarga Konglomerat Soro Dojo, aku dan Angelica bisa dengan sangat leluasa untuk memilih tempat meng-grinding monster maupun aliens di penjuru Field Dungeon mana pun. Ditambah. Angelica memang jelas memiliki koneksi ke Keluarga Konglomerat Soro Dojo.


Kalau aku tidak salah ... dia pernah mengatakan kalau ibunya memang berasal dari keluarga penguasa wilayah ini?


Aku berpikir seperti itu, tetapi, tiba-tiba terbersit di kepalaku, sesuatu yang membuat aku bingung. Mengapa. Angelica memanggil ibu dan ayahnya dengan sebutan ‘mama' juga 'papa’?


Namun terlepas dari rasa heranku akan hal aneh itu, pada akhirnya kami berdua memang bisa meng-grinding dengan tenang di Field Dungeon maupun Gate Dungeon di sini. Pun level Angelica terlihat telah naik beberapa kali seperti biasa.


“Ibu ...” gumamku, menunduk dan memperlambat langkah kakiku; pun seraya tanpa sadar pada saat ini aku mendesah, “huh ....”


“Ng?” tanya Angelica, menoleh padaku, “Kamu kenapa, Pope?”


Aku menggeleng, sama sekali tak menjawabnya.


“Ng ... Ya, Pope, tapi ngomong-ngomong .. Aku pikir ini saatnya kita rekrut anggota party baru,” ujar Angelica, memperlambat langkah kakinya, berjalan berdampingan denganku. “Aku kayaknya udah stuck di sini—ayo cari Field Dungeon lain! Nanti kalo party kita udah jadi! Kita semua harus nyari kelompok monster atau aliens yang lebih kuat lagi!”


Aku hanya mengangguk.


Memasuki Wilayah Khusus Bagian Dalam Keluarga Konglomerat Soro Dojo, Angelica memimpin jalan ke tempat yang memang jarang kami datangi.


Ya. Kami berdua malah memasuki sebuah plaza cukup mewah nan ramai didatangi oleh Anak Diberkati Tuhan maupun Pribumi Daratan Surga.


Memang bukan ide yang buruk mencari anggota party baru di tempat ini, huh, demikian pikirku.


Mereka semua terlihat seakan memang sedang sibuk berlalu-lalang, keluar masuk plaza serta beberapa dari pribumi sepertiku pun sedang mendirikan kios dan lapak kecil dagangan mereka di sekitar gerbang masuk plaza.


Angelica membayar beberapa koin untuk kami berdua bisa memasuki plaza.


Aku hanya melihat lapak dagangan serta beberapa kios para Anak Diberkati Tuhan saja yang sampai ke dalam plaza. Namun entah itu para NPC. Pribumi Daratan surga, ataupun para Player. Anak Diberkati Tuhan. Penjajah. Kami. Memang terlihat seperti sudah biasa saling berdagang satu sama lain di tempat ini.


“Masuk ke sini .. kita miskin lagi, Pope,” desah Angelica, menggelengkan kepalanya, “Aku mau jual loot dulu ke tempat biasa—kalo ada barang yang kamu pingin nanti bilang ke aku, oke?”


Angelica meninggalkanku di tengah-tengah keramaian hiruk-pikuk plaza begitu saja.


Ya. Aku sudah bilang mereka semua sedang “berdagang”, bukan? Ia merupakan istilah yang sama dengan “jual-beli” yang dulu sekali aku jelaskan pada memori masa kecil aku?


“Masa-masa sebelum aku menjadi umpan dagingnya, huh,” gumamku, menatap langit senja di atasku.


Ya. Seperti yang kalian sudah tebak, aku sampai pada masa memori dewasaku ini pun telah menyepakati untuk tidak dibayar dengan Koin Emas—sebagai umpan dagingnya—entah mengapa aku bisa setuju dan sepakat dengan usulan Angelica seperti itu?


“Ng ...? Kamu gumamin apa lagi, Pope? Apa ada barang ato item yang kamu mau?!” ujarnya, setelah berlari kecil menghampiriku.


Namun terlepas dari kesepakatan tersebut, aku masih ingat dengan jelas, pada masa dewasaku ini, jikalau aku menginginkan apapun, Anak Diberkati Tuhan Wanita di hadapanku saat ini, pasti akan langsung membelikannya untukku.


Aku menggeleng. “Tidak. Tidak ada.”


“Kalo gitu ayo kita cari rekan party baru!” ajaknya, mulai semangat kembali. “Kita jadi lumayan kaya lagi sekarang, hehehe.”


Kami berdua menuju ke Tempat Pedagang Budak.


Aku melihat para Pribumi Daratan Surga sepertiku berada di dalam sebuah kandang jeruji besi hitam berbentuk kotak, dengan rantai baja metal hitam terikat di leher dan kaki mereka masing-masing.


Namun anehnya, beberapa dari mereka ada juga yang tidak dirantai.


Entah mengapa seperti itu?


Tetapi, pun kami berdua melihat beberapa Anak Diberkati Tuhan berwajah menakutkan di dalam sana.***