RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [2] – [25] After War (1/2)



Pun pada tahap permainan ini, kematian, untuk para pemain gim, sama juga berarti kematian yang sebenarnya bagi mereka.


Jiwa dan kesadaran para player akan lenyap dari avatar mereka.


Meskipun mereka baru terkunci di Dunia Dimensi Gim selama beberapa bulan, mereka harus dihadapkan dengan situasi Perang Besar.


Situasi. Dimana. Kematian. Adalah. Hal. Biasa.


Dengan wajah suram dan alis saling bertautan, Pahlawan Nasional Utama Baru keluar dari sebuah bangunan katedral.


Kuil Dewa Perang di belakangnya itu merupakan bangunan umum di Wilayah Khusus Daratan Surga manapun.


Dia berjalan keluar dengan wajah gelap nan suram sebab Pemimpin Kuil tersebut memberitahunya, bahwa gagasannya memang tidak salah.


Dewa Perang, Dewa Penyembuh, serta Dewa Rohani sudah memberi perintah ke Umat Mereka untuk bersiap memerangi Kaum Iblis beserta Kaum – Kaum dan Sekte – Sekte pendukung.Nya.


Kendatipun Pria Kapak Merah—Pahlawan Nasional Utama Baru itu membuka panel karakternya dengan sedikit antisipasi, dia masih sangat khawatir dengan keluarnya titah para Dewa tersebut.


Bagaimanapun, perang pada tahap permainan ini bukanlah hal yang diharapkan player manapun. Dimana kematian avatar Pria Kapak Merah ini, menandakan kematian yang sebenarnya juga baginya:


Name: Nanang


Gender: Male


Faction: Light


Title: Rock Destroyer, Montain Destroyer, Blood Storm Attacker, Vanguard Heroes, Main National Heroes [...]


Level: 173—Tier.4 Grand Berseker


EXP: 2.866.885.543 / 5.000.000.000


Job: Swordman—Berseker


STR: 7.625


AGI: 4.326


VIT: 6.875


HP: 4.345.873


MN: 925.000


EN: N/A


Basic Skill Berseker [...] (New)


Unique Skill National Heroes [...] (New)


Sama sekali tidak menghiraukan miliaran exp. yang didapatnya, Nanang langsung menyentuh icon ‘[...]’ pada Basic Skill Berseker untuk membuka daftar Basic Skill—Kemampuan Dasar dari Job Avatar-nya.


“Semua level skill-ku max semua!!?” serunya, melebarkan mata.


Berbagai Skill Common Berseker muncul di hadapannya seperti: Charge, Punch, Dominate, Awakening, Whirlwind Slash dan kemampuan dasar umum lainnya tiba-tiba sudah berada di level maksimum.


Pun gelar unik didapatnya memberi Set Skill yang sangat menakjubkan seperti: Divine Provoke, Holy Guard, Blessing Weapon dan Blessing Armor.


Kendatipun ini hanya Kemampuan Peningkatan dan Pertahanan, ini terlalu bagus! Dia sangat tidak sabar ingin mencoba skill barunya itu. "Hebat!!"


Selain Kemampuan Pertahanan, Skill Berserk Weapon-Armor seperti itu sangat sulit didapatkan oleh Kelas Pendekar Pedang—apalagi untuk seorang Berseker, yang notabenenya Dealer Damage utama.


Meskipun dia tidak menyangka semua Skill Berseker Avatar-nya akan terbuka, sebagai Player Tier.4 Grand Berseker, Pria Kapak Merah itu masih sadar akan batas kemampuannya sendiri. Dia masih sangat takut akan terjadinya Perang Besar. Namun, dia juga tak bisa begitu saja mengabaikan titah Dewa Perang.


Sebagai Pahlawan Nasional Utama, Nanang tahu bahwa dia memang harus memimpin para Pahlawan Nasional Baru lainnya.


Kembali menuruni anak tangga dan menuju ke lapangan luas, dia menghadap seorang Pria Tombak yang masih melatih para NPC.


Tang Tang No meliriknya dengan acuh tak acuh, lalu kembali memandang ke para NPC.


“Kamu sudah menyelesaikan Legendary Quest-mu?”


Sebelum bahkan Nanang menyampaikan salamnya, Pria Tombak Silver bertanya padanya seperti itu.


“Salam, Tuan Muda Tang,” sapa Nanang, menggenggam tinjunya seraya sedikit membungkuk dengan penuh hormat, “Saya ke sini ingin membantu Tuan Muda untuk—“


“Membantu? Apa kamu cukup kuat?” tanya Tang Tang No, ekspresi wajahnya tetap dingin, menarik Tombak Silver-nya dengan penuh wibawa. “Ikuti aku ...”


Nanang hanya berniat membantu menyelesaikan Legendary Quest-nya, namun dia tak pernah menyangka akan mendapatkan respon sangat buruk seperti itu.


“BB-Bertarung ...!? Kenapa kita harus bertarung, Tuan Muda?! Kita tidak punya waktu untuk—“


Tang Tang No mengabaikan Pria Kapak Merah itu, dan acuh tak acuh menyandarkan Tombak Silver-nya di bahu dan terus berjalan menuju Aula Portal Teleportasi. Punggung berwibawa Tang Tang No seperti menolak gagasan apa pun selain bertarung. Dia mengayunkan Tombak Silver-nya ke samping saat mendongak, melihat layar panel biru di luar Bangunan Aula Teleportasi—yang kebetulan menampilkan berita pertarungan Pahlawan Nasional Utama sebelumnya di Daratan Surga Permukaan.


Kenapa kamu harus menggunakan kutukan sialan itu, Mat?


Pria Tombak itu menggelengkan kepala, dan lanjut berjalan.


Nanang sedikit heran saat melihat Tang Tang No bertindak seperti itu. Dia tidak menyangka bahwa Pria Tombak itu juga mengenali siapa sosok sebenarnya dari Noir Soldat di dalam berita tersebut.


Tang Tang No langsung memasuki Aula Teleportasi. Dia mengaktifkannya. Cahaya putih langsung membungkus tubuhnya serta pria di hadapannya.


“Karena Kuil Dewa Perang Daratan Surga Permukaan telah lenyap, Dewa Perang marah besar dan meminta kita untuk memerangi Kaum Iblis,” papar Nanang, mengerutkan keningnya, “Kita harus cepat-cepat menyatukan para Pahlawan Nasional ... kalau tidak ... kita semua akan lenyap seperti pahlawan sebelumnya. Atau lebih buruknya lagi ... terjadinya Perang Dunia! Tolong mengertilah, Tuan Muda.”


Jauh di atas cekungan kawah Wilayah Greatest Kingdom dan juga jauh dari Wilayah Khusus Kuil Dewa Perang, tiba-tiba muncul dua cahaya putih terang menjunjung tinggi sampai menembus angkasa.


“Mustahil Perang Dunia bisa terjadi,” bantah Tang Tang No, tetap tenang, “Dunia Dimensi di gim ini sangat sulit untuk ditembus. Kalau itu memang mudah, kita pasti sudah lama bisa keluar dari sini.”


Mereka akhirnya tiba di tengah-tengah Field Dungeon. Di sekitar mereka hanya terlihat hamparan tanah kosong dengan pohon-pohon berdahan hitam mati dengan berbagai ukuran.


Mereka berdua saling berhadapan dengan jarak yang cukup jauh.


Mereka akan bertarung di tengah-tengah monster serta ribuan roswell yang mulai menggeram dan menargetkan mereka.


Tang Tang No menatap tajam Nanang. Dia mulai menggenggam Tombak Silver menggunakan dua tangannya—menandakan pertarungan ini tak bisa dihindari lagi.


“Pasang posisimu, Nak,” tegur Pria Tombak Silver itu, dengan ekspresi semakin dingin.


Pertarungan antara Nanang dengan Tang Tang No tak bisa dihindari lagi. Nanang hanya bisa menggertakkan giginya seraya terus menatap tajam lawan sangat tangguh di hadapannya.


Merasa tidak punya pilihan lain, Nanang, dengan kedua tangan menghunus Kapak Merah Besar yang sedari tadi disandangkan di punggungnya. Sedangkan Tang Tang No memutar-mutar Tombak Silver-nya dengan sangat santai, namun kedua mata silvernya terus menatap tajam lawannya.


“Medan Perang Utama—Garis Depan—Di Daratan Surga Permukaan sana sudah sangat kacau. Tapi entah kenapa salah satu Great Satan Perempuan, yang telah melenyapkan beberapa Pahlawan Nasional, kembali ke Dunia Iblis begitu saja!” desak Nanang, “Kita hentikan ini—dan segera mengumpulkan—“


Tanpa membiarkan Nanang menyelesaikan perkataannya, Pria Tombak Silver itu langsung menerjangnya.


“—jika terlambat Keluarga Tuan Muda juga akan dalam bahaya!”


“Siapa peduli.”


Tanpa menghiraukan perbandingan level mereka, Tang Tang No menusukkan Tombak Silver-nya dengan sangat cepat.


“Dengarkan aku, Tuan Muda!” desak Nanang, menghindari serangan Tang Tang No dengan sangat mudah, “Kita harus menghentikan ini!!”


Mengetahui dirinya diremehkan, Tang Tang No mulai menyerang dengan combo serangan Tombak Silver-nya.***