
Ya. Aku dan Angelica memang sudah tidak bisa lagi mempercayai siapa pun di Dunia Dimensi-ku ini. Dimensi Daratan Surga yang biasa disebut kaum Angelica sebagai: Game World Guild.
Kami berdua hanya bisa saling mempercayai satu sama lain.
Aku memang tidak ingat mengapa aku dan juga Angelica tak boleh percaya ke siapa pun lagi. Mungkin ada sebuah kejadian yang mengakibatkan kami berdua tidak percaya ke party atau Kelompok Anak Diberkati Tuhan lain? Aku bertanya-tanya.
Ya. Kejadian yang aku lupakan pada saat Angelica masih gadis. Masa-masa. Yang entah bagaimana bisa aku lupakan di deretan memori singkat ini?
Aku benar-benar melupakan potongan memori yang aku rasa cukup penting dalam memori hidupku.
Ya. Ini aneh.
Apa. Mungkin, pikirku, yang entah mengapa mulai merasakan firasat buruk. “Kejadian yang aku lupakan itu ... sekarang ini akan terulang kembali?”
“Ng?!” Angelica menengok kepadaku. “Ada apa, Pope—ah—mereka kayaknya bukan party baik-baik!!? Ayo kita—“
Satu Party Anak Diberkati Tuhan yang sedari awal kami berdua perhatikan, tiba-tiba berbalik dan berlari ke arah kami.
“Mereka mau ngalihin aggro Manticore itu ke kita?!” Angelica membelalak, terkejut sekaligus marah. “Ihh ... kok, kalian jahat banget, sih!”
Aggro. Ya. Mungkin ini istilah yang lebih asing namun sangat mudah diingat. Sebab ia hanya berarti situasi di mana monster menargetkan dan mengunci lawannya. Angelica berkata bahwa para player yang melawan monster Manticore sebelumnya mulai mengalihkan aggro monster tersebut ke kami berdua—yang mana berarti Manticore tersebut akan menargetkan aku dan Angelica.
Aku melirik Anak Diberkati Tuhan Wanita di sampingku, hanya terdiam dengan ekspresi dingin dan datar seperti biasa—menunggu perintahnya; Sedangkan Angelica-nya sendiri seperti sangat terburu-buru, menunjuk-nunjuk udara kosong di hadapannya—seolah sedang mempersiapkan sesuatu. Namun tentu, pada waktu sekarang ini aku sudah tahu kalau dia sedang mempersiapkan sesuatu menggunakan Panel Biru dalam inventory-nya.
“Mereka pasti mau MPK kita, Pope!” ungkap Angelica, menoleh padaku dengan ekspresi wajahnya sangat serius.
Aku berkedip.
“Kita harus cepet-cepet bersiap lagi!”
“Ya.”
MPK (Monster Player Killer)
Ya. Sedangkan ia merupakan istilah yang lebih sering digunakan untuk menunjukkan Kelompok Anak Diberkati Tuhan tertentu—tak berbeda jauh dengan kelompok PK. Ia berarti situasi di mana para Anak Diberkati Tuhan mengalihkan target dari monster yang tak sanggup lagi mereka lawan ke orang lain.
Di mana pada saat ini ada Party Anak Diberkati Tuhan tak jauh dari kami, sedang mulai mengalihkan aggro Monster Enemy Class A. Manticore. Kepada aku dan Angelica.
Padahal ... aku baru saja mulai mengerti bahwa akan ada pola tertentu untuk melawan kelompok monster yang lebih kuat. Tapi tidak untuk Enemy Class A seperti Manticore itu, sial, demikian pikirku.
Tubuh Angelica tiba-tiba mengeluarkan sinar emas yang sangat menyilaukan, dengan sebuah sirip emas padat di punggungnya berbentuk seperti sirip ikan hiu.
“Bukankah kamu menggunakan Skill Berserk terlalu dini, Angelica?”
“Kita nggak bisa gegabah kalo lawan sesama player!”
Angelica menukas gagasanku begitu saja. Namun aku mengerti itu bukan hal yang aneh. Aku bahkan memang sedari awal tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud: Skill. Mungkin ia merujuk ke kemampuan atau sihirnya itu? Tapi aku pikir tidak sesederhana itu.
Apa aku bisa mendapatkannya juga. Skill. Aku penasaran, demikian pikirku, menatap langit di atasku.
“Mereka datang!” teriak Angelica.
Aku mengalihkan pandanganku kembali ke depan.
“Ha! Selamat, Nona ... Kami serahkan ke kalian gudang harta ini.”
“Aku kasihan dengan wanita sama umpan dengingnya itu, hehehe.”
“Ya! Apalagi NPC piaraannya itu udah pasti mati—aku akan alihin aggro Manticore ke mereka!! Kalian bersiap!”
“Kamu tahu ... negehidupin NPC yang sangat sulit—bahkan metodenya masih misteri kalo di gim ini.”
Party kecil para Anak Diberkati Tuhan yang menerjang kami berdua, dan mulai mengalihkan aggro Monster Manticore kepadaku.
“Kamu lari aja, Pope!!”
“Tapi—“
“Aku akan menahannya, cepet pergi!”
Angelica maju ke depanku, sambil mengerutkan keningnya. Dia memasang ekspresi serius saat menyuruhku pergi terlebih dulu.
“Kenapa mereka jahat banget, sih,” gumamnya.
Angelica menoleh padaku, yang masih berdiri terpaku di tempat.
“Aku bilang: cepet pergi, ihh ...!!” desaknya, menerjang ke arah Manticore.
Aku mencoba untuk membantahnya, “Tapi aku masih kuat. Dan masih banyak Syringe tersisa di tanganku.”
“Pergi aja! Repot kalo sampai kamu mati, Pope,” tegas Angelica, berlari seraya melafalkan sihir yang sangat asing bagiku.
Entah mengapa aku malah tetap diam, terpaku di tempat yang sama.
Aku tidak tahu dia punya sihir kuat seperti ini, demikian pikirku.
Entah mengapa aku malah tetap berdiri terpaku di tempat, menatap seluruh tubuh Angelica yang sudah ditutupi enam lingkaran sihir berwarna biru. Lingkaran sihir tersebut entah muncul dari mana, namun ia semua menjadi semakin besar sampai-sampai menutupi bagian atas, bawah, serta belakang dan semua sisi bagian tubuhnya.
Namun, aku memperhatikan ada yang aneh dengan lingkaran-lingkaran sihir yang dia bentuk.
“Apa ia tidak stabil?” gumamku, mengernyit.
"Tier 1 Skill: Angels Barrier ...!!!" teriak Angelica, lalu menoleh padaku, "Cepetan pergi dari sini, Pope ...!!"
Untuk pertama kalinya aku mendengar dia berteriak saat menyerang menggunakan Skill Magician-nya seperti itu.
“Tier 1? Apa itu?” kataku, tanpa sadar aku membelalak takjub dengan Skill Sihir yang Angelica gunakan.
Manticore di hadapannya tiba-tiba mengangkat cakar tajamnya, yang ia langsung menutupi seluruh lingkaran sihir Angelica.
Ah? Aku harus segera pergi, demikian pikirku, langsung berbalik dan lari pergi menjauh darinya.
Ya. Pada titik inilah, untuk pertama kalinya Angelica akan mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkanku.
Angelica menahan Monster Class A Manticore sendirian; Aku terus berlari menuju ke Negara Adidaya, Village.0.
Ya. Angelica mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkanku, dan akunya sendiri malah terus berlari pergi tanpa menoleh padanya sedikit pun.
Angelica mati; Aku sampai.
“Apa besok kita akan ketemu lagi di taman desa seperti biasa?” gumamku, tiba-tiba mengerutkan keningku. Ada apa denganku ini? Kenapa aku harus peduli bertemu dengannya lagi atau tidak?
Aku sampai di Hutan Mati wilayah luar Field Dungeon—tepat di atas Negara Adidaya, Village.0.
Tapi ... aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa juga kalau diam di sana, pikirku, mengepalkan kedua tanganku. “Aku malah hanya akan menghambatnya.”
Aku mulai biasa melihat desa-desa yang mengelilingi berbagai kota serta sektor Negara Adidaya [3] lainnya—tepat di bawahku.
Sampai di Gubuk Kecil-ku, tepat pada saat senja telah berakhir.
Kakekku sedang tidur di lantai; Ayahku mungkin di kamarnya.
Aku seperti biasa berbaring di samping kakek, mencoba menutup mataku namun rasanya entah bagaimana tidak bisa.
Kalau kuingat-ingat lagi, pada saat inilah aku menyadari keningku berkerut sepanjang waktu. Berbagai rasa aneh mulai bermunculan di dalam pusat tubuhku—bagian tubuh yang pernah Angelica sebut sebagai asal-muasal dari:
Perasaan
Aku tak bisa menghilangkan bayangan Angelica. Anak Diberkati Tuhan Wanita itu. Mengorbankan dirinya sendiri supaya aku bisa melarikan diri.
“Aku tidak bisa tidur,” gumamku, menatap plafon kayu di atasku. Ya. Ini untuk ke-2 kalinya aku tak bisa tidur.
Namun, pada saat ini bukan hanya satu perasaan saja yang aku rasakan. Rentetan apa yang disebut perasaan tersebut terus muncul di dalam pusat tubuhku—sampai ia menjadi menyesakkan.
Dari pusat tubuhku ia menjalar ke leherku, dan kemudian sampai ke kedua kelopak mataku.
Seraya dengan kedua kelopak mataku tiba-tiba berkedut dan seolah akan mengeluarkan sesuatu, aku menggenggam erat dadaku. Karena tiba-tiba nafasku menjadi terasa sesak dan berat.
“Ya. Aku tidak bisa bernapas? Apa ini?”
Aku tiba-tiba bangkit; Begitu pun kakek di sampingku.
“Kakek?”
Hari pun telah berganti begitu saja.
“Ya? Ayo kita ke ladang, Pope,” ujar kakekku, mengambil cangkulnya.
Aku mungkin tak terlalu memperhatikannya, namun sedikit senyum aneh muncul di wajah tuanya.
Ini aneh, pikirku. “Tapi itu tidak penting sekarang.”
Aku berlari ke Taman Kumuh layaknya orang gila yang tak memedulikan apa pun.
“Apa dia sudah—“
Melihat siluet Anak Diberkati Tuhan Wanita yang sangat tak asing bagiku, aku pada akhirnya bisa menghela napas. Satu per satu perasaan aneh di dalam pusat tubuhku menghilang seraya dengan setiap langkahku berjalan ke arahnya; Namun dia sepertinya sedang memperhatikan anak-anak kecil yang sedang bermain—dia sama sekali tak memperhatikanku.
“Hei,” sapaku, berdiri tepat di hadapannya, “Angelica.”
“Huh?” Angelica menoleh padaku, dengan kedua mata emasnya membelalak, namun perlahan berubah menjadi sayu, "Aku harus gimana, nih, Pope ...?! Kayaknya aku nggak bisa pulang. Aku bener-bener kejebak di dimensi ini ....”***