
Berdiri jauh dari posisi Mamat kecil serta para haremnya yang sedang memasuki Kediaman Mewah Korporat.3, Nanang baru saja tiba.
Jadi ... dia Anak Emas yang dikatakan Sina, demikian pikirnya, mengepalkan tangan dengan penuh tekad.
Dia pun berpapasan dengan perempuan yang ditolak Mamat.
Perempuan cantik itu. Angelica. Hanya melewatinya begitu saja. Nanang sepintas melihat ekspresi perempuan tersebut sangat murung, terus menunduk seraya berjalan kembali ke arah salah satu mobil terbang.
Tidak seperti Sol dan Mamat, Nanang kecil nampaknya tidak terlalu tertarik terlibat dengan Angelica.
Nanang kecil tiba di tempat Pertemuan Besar tampak sehat kembali, padahal beberapa waktu lalu, dia telah dipukul habis-habisan oleh Kepala Pelayan di sampingnya itu. Sina.
Kapsul Regen
Merupakan sebuah kapsul regenerasi sel yang bisa menyembuhkan luka kecil hingga luka berat pada tubuh manusia—bahkan—untuk versi kapsul tertentu sampai dapat menyambungkan kembali bagian tubuh yang terputus.
Hanya Keluarga Konglomerat serta keluarga dengan kelas di atasnya saja yang bisa memiliki kapsul tersebut. Selain uang sangat besar, poin kontribusi pun dibutuhkan untuk mendapatkannya—hal yang memang sangat sulit untuk didapatkan oleh rakyat jelata maupun warga biasa.
“Hei, Sina,” tanya Nanang, "Anak Emas itu yang harus aku lampaui?”
Nanang kecil bertanya seperti itu ke Kepala Pelayan Keluarga-nya, namun tiba-tiba, perhatiannya terkalihkan oleh seorang anak laki-laki yang baru saja tiba di halaman tak jauh darinya.
Anak laki-laki itu bertubuh gumpal, membawa cukup banyak budak yang berjalan di belakangnya. Dari budak anak kecil sumuran dengannya hingga orang dewasa, mereka semua saling terhubung dari besi hitam persegi di tangan anak tersebut dengan rantai hitam pada belenggu besi di leher mereka masing-masing.
Bukan hal aneh untuk siapa pun melihat Keluarga Kelas Atas berjalan sembari membawa budak-budak mereka. Namun, jika siapa pun membawa budak ke acara besar seperti pertemuan yang diadakan para Eksekutif Korporat memang agak tidak etis.
Nanang memperhatikan anak gumpal tersebut cukup jauh dari posisinya. Anak itu terlihat sangat disegani serta ditakuti bahkan oleh pelayan-pelayan di sekitarnya.
“Ya. Dan. Tidak. Bukan hanya Anak Emas itu yang harus Anda perhatikan, Tuan Muda ... Anda juga harus mengingat dia,” ujar Sina, menunjuk ke anak gumpal yang sedari tadi diperhatikan Nanang. “Anak itu berasal dari Keluarga Konglomerat Jowi. Meski mereka sekarang hanya Keluarga Kelas Gelap Menengah, kekuasaannya di Dunia Bawah sangat diperhitungkan oleh para Eksekutif Korporat.”
Rotzell Jowi Pasco
Nama, bagi siapa pun pada era di mana Nanang hidup memanglah sangatlah penting. Ia menandakan kelas status keluarga orang itu:
1. Nama [3], Berafiliasi dengan Korporat (yang merupakan penyedia sumber daya dan poin kontribusi).
2. Nama [2], Keluarga Konglomerat Biasa, Menengah, atau bisa juga kelas Atas.
3. Nama [1], Rakyat Jelata atau Warga Biasa.
4. Tanpa Nama [0], Budak atau Keturunan Budak.
Pengklasifikasian nama tersebut terjadi karena hegemoni di Dunia Nyata telah lama berubah—pada awal era baru—di mana para manusia lebih mempercayai uang dan poin kontribusi daripada apa pun yang ada di semesta mereka.
Perbudakan adalah hal biasa, memang. Seorang budak dapat ditukar dengan poin kontribusi. Selama memiliki sertifikat pemegang budak, majikan mereka bebas melenggang ke mana pun membawanya.
Tahun 4.200 lalu, di mana para Dead Wood, NeeT, serta kaum sejenisnya telah merajalela di Muka Bumi, mengakibatkan Negara Adidaya dan Aliansi Korporat membuat peraturan mutlak tentang kontribusi. Dan hukuman paling berat ialah menjadi seorang budak. Kendati peraturan tersebut masih terbilang baru, legalitas perbudakan anehnya bisa tetap stabil selama dua puluh tahun terakhir.
Itulah alasannya mengapa Keluarga Besar Jowi, yang notabenenya keluarga besar para penjahat di Dunia Bawah, bisa sejajar dengan para Keluarga Konglomerat Kelas Atas di berbagai Negara Adidaya. Ditambah sokongan dari beberapa Korporat yang ingin menguasai Dunia Bawah, malah memunculkan hegemoni baru di Daratan Dunia Nyata selama beberapa puluh tahun terakhir. Salah satunya yakni:
Konglomerat Jowi Pasco
Padahal sedari awal terbentuknya Keluarga Jowi di Dunia Bawah, mereka tidak berani menampakan diri dan hanya mengawasi di dalam bayang-bayang semua orang.
“Ayo kita masuk, Tuan Muda.”
Nanang dan Sina memasuki auditorium sebesar lapangan sepak bola, dengan sebuah panggung besar di tengah-tengah auditorium tersebut.
Nanang duduk di kursi yang telah disiapkan. Dia berada tepat di tengah-tengah ketegangan para tokoh besar Korporat serta Keluarga Konglomerat Kelas Atas yang saling melirik satu sama lain.
Perbincangan antara para keluarga besar di ruangan tersebut langsung pecah menjadi keributan—namun itu memang bukan hal yang aneh jika mereka semua berkumpul. Mereka memang saling bersaing dan bermusuhan satu sama lain.
Pertemuan Akbar, yang diadakan oleh Eksekutif Korporat tersebut, hanya akan membahas satu hal:
...Ekspansi Game World Guild...
Beberapa waktu sebelumnya mereka saling menyindir, namun secara serentak mereka semua senyap.
Tidak ada yang menyangka, Korporat, yang biasanya hanya memfokuskan seluruh sumber dayanya di Dimensi Dunia Nyata, akan melebarkan pengaruhnya ke dalam sebuah Dimensi Dunia Gim.
Kendatipun itu terkesan sangat menarik karena gim yang mereka maksud berbasis Dunia Lain—Dimensi Dunia berbeda dengan Dunia Nyata, namun menurut semua orang, apa yang akan direncanakan oleh para Eksekutif Korporat itu hanya membuang-buang waktu dan sumber daya.
Yang membuat semua orang semakin tak setuju, para Eksekutif Korporat hanya memberi 2 pilihan egois dan otoriter untuk Kaum Kelas Atas serta perwakilan Negara Adidaya di auditorium, yakni:
Menentang, berarti perang besar akan terjadi di Dunia Nyata.
Atau membantu, mereka akan diberi kesempatan untuk membuat sendiri hegemoni baru di Dimensi Dunia Gim Serikat Dunia.
Menghancurkan dan melenyapkan semua serikat, termasuk Serikat Dunia-nya sendiri yang merupakan tokoh utama di dalam gim, adalah tujuan utama dari pertemuan akbar tersebut.
Era untuk para pemain petualang di dalam Game World Guild akan berakhir. Di sinilah manusia. Sebagai pemain gim. Akan berusaha untuk menguasai gim tersebut.
Panel Biru Besar yang menampilkan hologram satu per satu wajah para Eksekutif Korporat di tengah-tengah auditorium. Yangmana ini akan menandakan awal dari munculnya hegemoni baru.
Pertikaian, permusuhan, peperangan serta berbagai persaingan antar Keluarga Konglomerat bukanlah hal asing. Namun sekarang, mereka dipaksa untuk bersatu dan melakukan sesuatu yang tak masuk akal.
Hanya 3 Keluarga Konglomerat berafiliasi dengan Korporat.1 saja yang sudah pasti setuju dengan ekspansi tersebut: Keluarga Konglomerat Soro, Keluarga Konglomerat Tang, dan Keluarga Konglomerat Nojo.
Keluarga Konglomerat lain yang tak takut berperang, langsung undur diri dari pertemuan. Mereka pergi begitu saja karena menganggap rencana Eksekutif Korporat itu hanyalah omong kosong besar.
Bahkan Sect Religion ragu pada awalnya. Mereka sudah bersiap untuk ikut undur diri dari pertemuan, tetapi melihat ada 3 Keluarga Konglomerat dengan tegas menyatakan keikutsertaannya, mereka berdiskusi dan berdebat sengit kembali.
Selama diskusi, semua kelompok yang menguasai Dunia Bawah sangat skeptis dengan ide para Eksekutif Korporat itu. Mereka berdiri dan mundur dari pertemuan begitu saja—tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun. Termasuk kelompok keluarga Rotzell kecil. Keluarga Besar Jowi.
Tidak ada yang menentang atau menghalangi mereka yang mundur. Toh itu hanya gim. Mereka pasti berpikir apa untungnya membangun kekuasaan di sana?
Namun pada akhirnya, berbagai kelompok Sekte Agama memilih untuk membantu ekspansi ini. Tetapi dengan syarat, bisa bebas membuat Wilayah Khusus di dalam Dimensi Dunia Gim nanti.
Saat gim misterius itu pertama kali diluncurkan, tidak ada yang terlalu memperhatikannya. Ia dianggap sebagai gim biasa—hanya berbasis Dimensi Dunia Lain saja yang membuatnya lebih unggul dari gim lain. Namun, saat beberapa rahasia mulai terkuak, ekspansi terhadap wilayah dan sumber daya di dalam gim langsung dilakukan secara rahasia oleh beberapa Korporat dan Negara Adidaya.
Namun mereka mulai menyadari bahwa mereka tetap kekurangan ahli di dalam gim, dan ditambah masalah ekspansi sumber daya di Dunia Nyata yang tidak bisa mereka kesampingkan begitu saja. Sebab itulah mereka mulai serius untuk membuat hegemoni baru sebelum semua rahasia dalam gim tersebut diketahui semua orang.
Untuk saat ini, hanya Eksekutif Korporat serta beberapa Pemimpin Keluarga Kelas Atas saja yang mengetahui rahasia dalam gim tersebut.
Beberapa Negara Adidaya dan Keluarga Konglomerat Menengah serta mereka yang memiliki kelas di bawahnya memilih mundur, setelah memperhitungkan untung-rugi dari Perang Besar di Dunia Nyata. Mereka sangat yakin, jikalau benar perang akan terjadi, ia akan menjadi titik awal runtuhnya Kekuasaan Korporat. Runtuhnya Kekuasaan dan Kedaulatan Oligarki di Daratan Dunia Nyata mereka semua.
“Jadi, hanya segini yah ... yang ikut ekspansi ini?” desah Nanang, melihat sekitarnya. “Kalau gini, sih, ini akan jadi perang besar sangat panjang.”
Yang tadinya auditorium penuh dengan ratusan ribu Kelompok Manusia Kelas Atas, sekarang hanya tersisa beberapa ribu orang.
“Abaikan kelompok bodoh itu, Tuan Muda,” ujar Sina, menatap ke tengah-tengah panggung auditorium, “Lihat. Anak Emas itu ada di sana.”
Semua orang melihat seorang anak remaja berambut silver. Mamat. Yang akan dilantik menjadi Pemimpin Batalion Utama untuk misi Pemusnahan Serikat Dunia.
“Lihat aja nanti—aku—yang akan jadi Pahlawan Nasional Sesungguhnya!!” sumpah Nanang kecil, menatapnya, “Suatu saat nanti ... aku akan menemukan teman-temanku, dan berperang melawan para iblis sebagai Pahlawan Sejati!”***