
“Lihat itu!! Seseorang World In lagi!!!”
Seseorang berseru seperti itu pada saat sebuah Portal Dimensi tiba-tiba muncul di Village.0, Negara Adidaya [3]. Untuk beberapa hari terakhir, sangat jarang player yang memasuki Dimensi Game di Negara Adidaya [3]. Mereka pun tidak lagi terlalu mengharapkan kemunculan Portal Dimensi tersebut.
Semua orang jadi mulai menjauh pada saat ada portal silver-hitam pipih muncul. Sebab semua orang tahu jika melewatinya, mereka akan langsung mati secara instan.
Angelica pada akhirnya memilih untuk World In seperti biasa. Dia melewati Portal Dimensi sembari memasang ekspresi murung.
Tepat saat melangkah masuk ke dalam gim, wanita cantik mengenakan zirah putih itu sedikit menyadari jika ada yang tidak beres. Player-player di sekitar Portal Dimensi Silver-Hitam buatannya, menatap dirinya dengan tatapan aneh.
Ada apa ini?! Kenapa mereka liatin aku kayak gitu, sih, demikian pikir Angelica, merinding.
Wanita cantik itu mempercepat langkah kakinya. Dia berpikir kalau para player di sekitarnya adalah PK (Player Killer).
Di luar Dimensi Gim Serikat Dunia sebelumnya, Angelica selalu berkonsultasi ke kakeknya secara berkala. Beberapa tahun terakhir, pada akhirnya, ayah, ibu dan bahkan kakeknya memberi Angelica kesempatan untuknya mengejar mimpinya menjadi Pahlawan Nasional.
Dia sudah mengorbankan banyak waktu dan sumber daya untuk meraih mimpinya itu. Padahal ia cukup sederhana, karena tes menjadi Pahlawan Nasional hanya meliputi:
1. Melindungi Anak Perusahaan.
2. Meningkatkan Produksi Anak Perusahaan.
3. Memperluas Cakup Anak Perusahaan.
Namun wanita cantik itu gagal melakukan ketiga hal itu.
Angelica gagal bukan karena tingkat kesulitan tes tersebut, tetapi karena dia tidak ingin menambah anggota party.
Idealisme dan pemikiran jika dengan satu NPC pria sebagai umpan daging saja sudah cukup baginya, pasti akan menghambat keberhasilannya.
Angelica bahkan tidak mendapatkan Slot Kualifikasi Calon Pahlawan Nasional. Di mana satu quest yang mengharuskannya melawan Roswell Aliens, bukan lagi seekor Monster.
'Seperti peraturan Keluarga Besar kita yang tertulis, Lisa. Kendati tidak tertera di quest yang aku berikan, kamu harusnya tetap dihukum ...’
Itulah apa yang ada di benak Angelica selagi berjalan menuju ke Taman Kumuh. Saat kakeknya. Fu Tang No. Beberapa waktu sebelum Angelica World In Game telah menjelaskan segala hal ke padanya.
’... Tapi kamu mendapatkan Item Komponen utama—yang memang syarat mutlak untuk jadi pahlawan. Sebelumnya selamat untukmu karena sudah menjadi seorang pahlawan, Lisa. Namun kamu harus tahu, menjadi seorang Pahlawan Nasional itu berbeda ... setidaknya ... mereka harus bisa menangani seluruh Enemy Class A. Tidak aneh tes menjadi Pahlawan Nasional harus dilakukan bertahun-tahun lamanya. Angelica, kamu gagal menjadi Pahlawan Nasional. Seperti yang kami duga, hanya tinggal Xiao’er yang bisa kami harapkan.’
Karena Angelica mendapatkan item utama quest tersebut, Fu Tang No menjelaskan berbagai cara untuk bisa menjadi Calon Pahlawan Nasional. Evaluasi dan syarat-syarat untuk jadi Calon Pahlawan Nasional yang memang berlangsung bertahun-tahun.
'Dan di generasimu sekarang, Lisa, entah kenapa para Eksekutif Korporat menekankan pengambilan sumber daya di gim yang kalian mainkan itu. Padahal, tidak ada bedanya dengan mengeruk sumber daya di Dimensi Semesta lain. Akan tetap sulit untuk memindahkan Energi dan Komponen dari Dimensi Gim ke Dunia Nyata kita ... Kamu harus tahu itu.’
Namun, penjelasan tambahan kakeknya sama sekali tidak dia dengar sebab Angelica sudah benar-benar gagal walau dia memang telah berusaha keras. Dia memang mendapatkan item quest-nya. MX-Z0212. Tetapi Angelica masih kekurangan Energi Inti Roswell. Dia hanya bisa mengalahkan 38 Roswell Aliens—dan tidak dari mereka semua menurunkan Energi Inti tersebut.
Tes, evaluasi serta syarat-syarat untuk jadi Calon Pahlawan Nasional telah berlangsung bertahun-tahun.
Angelica masih mengingat beberapa penjelasan terakhir dari kakeknya.
“Pahlawan, huh,” desahnya, dengan pasrah menggeleng. “Percuma kalo aku nggak bisa sejajar dengan Mamat—untuk apaan gelar pahlawan! Aku nggak butuh itu ....”
Angelica tidak memedulikan tatapan aneh player-player serta para NPC di sekitarnya. Wanita itu hanya berjalan ke tempat biasanya.
Awalnya aku nggak mau nyerah tapi, demikian pikir Angelica. Dia mendesah pasrah, lalu menggelengkan kepalanya kembali.
Angelica melihat sihir cahaya biru teleportasi besar yang menjunjung tinggi menembus langit di arah Aula Teleportasi. Orang-orang yang menggunakan sihir tersebut langsung tergesa-gesa keluar.
Hanya ada satu party kecil, yang dipimpin oleh seorang pria. Mereka bergegas sampai-sampai tak memperhatikan siapa pun.
Pakaian, zirah, aksesoris serta senjata yang mereka pakai memancarkan sinar cemerlang yang membutakan mata. Siapa pun yang melihatnya pasti akan langsung tahu jika ia semua merupakan peralatan kelas atas.
NPC pria mengenakan pakaian serba hitam, yang warna rambutnya selaras dengan warna pakaiannya itu terkalihkan oleh cahaya biru di Aula Teleportasi yang tak kunjung menghilang.
“Ack!”
Seorang perempuan cantik mengenakan pakaian besi putih susu, menabrak NPC pria itu, dan mereka berdua jatuh bersamaan ke tanah.
“Hei!?” umpatnya, langsung berdiri, menautkan alis dan menatap tajam NPC tersebut. “Ngapain kamu bengong di tengah jalan?!”
NPC pria di hadapan perempuan itu pun berdiri seraya menepuk pakaiannya sendiri. Dia mengabaikan umpatan perempuan di hadapannya. Pandangannya hanya tertuju kepada Angelica yang berada tak jauh darinya.
Dia ingin menghampiri Angelica, namun NPC Pria itu langsung dihardik oleh harem Mamat lain.
“Hei, kau, NPC bau! Berhenti di situ!!”
“Berani-beraninya pribumi kayak kamu mengabaikan kami?!”
“Apa kamu mau mati, ha?”
Namun, kendati dia dirundung perempuan serta wanita Mamat, NPC pria berambut hitam keriting itu hanya terdiam—bahkan sama sekali tidak melirik mereka.
Tak jauh dari mereka, Angelica berpapasan dengan Mamat yang sepertinya memang tak menggubris pem-bully-an para haremnya.
“Mamat!” seru Angelica dengan sedikit amarah, “Apa kamu nggak bisa ngurus wanita-wanitamu itu ...?!”
Untuk pertama kalinya Angelica marah ke Mamat.
“Aku gak ada waktu untuk mereka,” ujar Mamat, berjalan pergi tanpa menoleh.
“Kamu ...!!” geram Angelica. “Hei, kalian! Pergi dari Pope aku!”
Mamat berhenti berjalan saat dia mendengar kata pup keluar dari mulut seorang wanita seperti Angelica. Dia menoleh ke Angelica serta para haremnya.
“Ayo cepat ... Kita harus segera melapor,” ajak Mamat, langsung berbalik pergi begitu saja.
Satu kalimat Anak Emas itu langsung membuat beberapa dari mereka langsung berlari kecil mengikutinya.
“Cih,” decak kesal salah satu harem Mamat yang menabrak Pope. “Kalo Tuan Muda nggak biarin NPC bau ini, aku udah bunuh dia dari tadi.”
“Kalo kamu berani nyentuh dia,” ancam balik Angelica, menatap tajam perempuan di hadapannya, “aku nggak akan biarin kalian gitu aja!”
“Heh? Wanita buangan Tuan Muda Sukarno sepertimu bisa apa, ha?” cibirnya, langsung membuang muka dan berbalik pergi.
Mungkin Angelica tidak menyadarinya, namun NPC pria di sampingnya mulai mengerutkan kening dan memancarkan ekspresi gelap saat harem Anak Emas itu mencibirnya.
“Kamu ...!!”
Angelica hanya bisa mengepalkan kedua tangannya, menatap tajam harem Mamat itu pergi.
“Ah!?” Angelica tersadar kembali. “Kamu nggak apa-apa, kan, Pope?”
Seraya dengan itu, ekspresi pada wajah tegas Pope kembali dingin dan datar tepat saat Angelica menoleh padanya dan bertanya seperti itu.
“Ya. Aku baik-baik saja,” jawabnya, menggeleng. “Apa kamu tidak apa membiarkan Anak Emas itu pergi? Kamu tidak akan mengikuti mereka?”
Pope dan Angelica melihat Mamat telah pergi begitu saja, beserta haremnya yang tak lupa mendengus dan mencibir mereka berdua.
“Urkh ... Lupakan aja mereka, Pope,” ujar Angelica, menariknya pergi, "Ayo kita masuk Mini Dungeon aja!”***