
Ya. Lagi-lagi aku sekarat. Namun, seperti yang sudah pernah kubilang, entah untuk ke-berapa kalinya, aku sekarat. Dan kelak aku akan tahu, bahwa situasi sekarat adalah hal yang biasa. Hal sangat biasa untuk kami. Umpan Daging. Hadapi setiap waktu.
Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa melarikan diri dengan luka yang tak ringan seperti itu.
Ya. Tetapi, sekalipun luka ketiga orang itu cukup berat, aku tetap diangkut pulang ke Gubuk Kecil-ku oleh mereka.
Apa Angelica terlihat khawatir? Entahlah.
Ya. Yang pasti, aku pada saat ini lagi-lagi sekarat namun entah mengapa, aku merasa ini bukan hal yang buruk untukku? Saat ini aku jelas merasakan tatapan hangat dari seorang Anak Diberkati Tuhan Wanita—yang ia hanya tertuju padaku.
Ro dan Mo menurunkanku di depan teras kayu Gubuk Kecil. Rumahku. Dan mereka berdua langsung terdiam, menunduk, sambil menatapku dengan tatapan dingin nan kosong seperti biasa.
Aku tahu sekarang si Mo dan Ro ini sedang menunggu instruksi dari Angelica.
Angelica yang berjongkok di antara dua umpan daging-nya itu tampak khawatir—aku bisa memastikannya meskipun pandanganku pada saat ini masih buram.
Bukannya dia sudah tidak mempedulikanku lagi? Aku bertanya-tanya, Tapi kenapa raut wajahnya terasa sangat khawatir?
Terakhir aku melihat raut wajahnya seperti itu, hanya pada saat Angelica mengkhawatirkan orang tuanya yang masih berada di Dunia Nyata-nya.
Tapi mungkin aku hanya tinggi hati saja, huh? Entahlah.
Yang pasti. Pada saat ini. Aku. Terlelap dalam pingsanku.
Namun, sebelum aku pingsan, aku melihat sekilas Angelica—dan juga si Mo menoleh ke belakang bahunya—mungkin mereka melihat dua orang yang baru saja kembali pulang.
Sepertinya ayahku acuh tak acuh dan berjalan masuk rumah begitu saja. Tetapi ini hanya hipotesisku saja, sebab se-tidak suka – tidak sukannya ayahku terhadap Anak Diberkati Tuhan—sebagai umpan daging pada umumnya—dia—bahkan aku pun—tidak mungkin berani melawan atau menunjukkan pemberontakan terhadap kaum mereka.
Kaum Angelica; Kaum Penjajah
Ya. Dugaanku kemarin memang benar, pikirku. “Mungkin kejadian Angelica mengantarku pulang itu kemarin?”
Hari pun berganti begitu saja; Malam pun tiba begitu saja.
Ayahku akhirnya pulang.
Senja tadi, aku tahu pasti dia yang menjemput kakek.
Aku tidak ingat berapa lama aku pingsan dan dalam keadaan sekarat. Yang pasti, aku ingat hanya kakekku yang menyuntikkan berbagai Syringe pemberian Angelica.
Perlahan tapi pasti, aku akhirnya menunjukkan pemulihan tubuhku. Luka bakar serta daging yang hilang di tubuhku perlahan pulih kembali.
Masih terbaring di lantai kayu, aku mengangkat tangan kiriku, melihat jelas daging-daging baru telah tumbuh di tanganku ini.
Apa ini perasaan menjijikkan? Tentu. Tidak.
Aku merasa ini tidak menjijikkan sama sekali, karena bekas luka seperti ini, seingatku, bisa hilang menggunakan Syringe dari bahan olahan Lobak.1—yang aku lupa Jarum Suntik Penyembuh point berapa.
Ayahku hanya acuh tak acuh sekarang—bahkan tak mengatakan satu patah kata pun padaku. Dia hanya berangkat menjadi umpan daging—bahkan tanpa melirikku yang berbaring di ruang tamu.
“Kakek pergi ke Ladang dulu, oke, Jhone?” pamit kakekku, bangkit dan berjalan keluar rumah sambil menyandangkan cangkul tua di bahu kanannya.
Selepas sembuh, pada waktu biasanya party kecil Angelica berkumpul di Taman Kumuh, aku pergi ke sana.
Namun, tidak ada siapa-siapa di Taman Kumuh meskipun ini waktu biasanya aku, Angelica, Mo dan Ro bertemu.
Apa aku akan ditinggalkan oleh mereka? Perasaan apa lagi ini, demikian pikirku, menyentuh pusat tubuhku dengan telapak tanganku.
Namun, seingatku, tidak.
Sebab saat berjalan pulang kembali ke Ladang.0, aku sekilas melihat cahaya emas di sudut gang antar dua toko.
Aku sepertinya pernah mengalami ini? Apa ini-itu yang dinamakan dejavu-dejavu itu, huh, demikian pikirku.
Tanpa berpikir panjang, aku berjalan mendekati cahaya tersebut—memasuki gang.
“Aku tau kamu pasti nemuin aku di sini,” seru Perempuan. Gadis. Wanita. Anak Diberkati Tuhan Wanita tersebut, tersenyum di antara kilauan cahaya peralatan yang dia kenakan, “Pope!”
Aku melihat Angelica tak jauh di hadapanku, yang entah mengapa dia terlihat sangat ceria; Anak Diberkati Tuhan Wanita di hadapanku ini tersenyum sembari menutup mata dan menaikkan alisnya.
“Ya.”
“Kamu akhirnya pulih juga, yaa ...”
“Ya.”
Kendati dia hanya bergumam, aku tetap membalasnya.
“Ng ...?”
Dia mengeluarkan suara dengungan dari mulut tertutupnya, sembari menatapku dengan tatapan heran.
“Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?” tanyanya, memiringkan kepala.
“Maksudnya?” balasku, dengan nada dan ekspresi biasanya.
Aku tidak tahu mengapa dia menanyakan itu, padahal aku merasa, pada saat ini, seperti biasa saja. Dingin, kosong dan datar seperti biasanya.
“Ayolah ... bilang aja ke aku .. kamu kenapa?” desak Angelica, yang aku bingung dia mendesak tentang hal apa, “Nggak apa-apa, kok, aku tau, sekarang perasaan kamu lagi nggak enak, kan ...?”
Sungguh. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa Angelica menanyakan itu.
Namun, aku ingat jelas juga, pada saat ini, mulutku seolah bergerak sendiri dan berkata, “Aku pikir kamu pergi meng-grinding bersama mereka berdua,” sambil menundukkan kepala, melihat kedua kaki indahnya, “dan meninggalkan aku.”
Sungguh. Kenapa aku mengatakan itu padanya? Aku bertanya-tanya.
Angelica tak langsung menjawab, malah berjalan mendekatiku, dan langsung dengan tiba-tiba mendekatkan wajahnya tepat ke hadapan wajahku—yang sampai-sampai hidung kami akan bersentuhan. Dan pasti, aku langsung refleks mundur satu langkah.
“Hei, hei, hei ... Apa kamu cemburu karena aku lebih perhatian ke mereka, Pope?!” tebak Angelica, tersenyum.
“Apa?” balasku, bingung.
“Yey, jelas kamu lagi cemburu! Itu namanya perasaan jealous!” jelas Angelica, yang rasanya dia pada saat ini sedang mengejekku, “Cemburu ...! Kamu cemburu, yey! Akhirnya kamu cemburu ke aku! Jhahaha ...."
Angelica mulai tertawa aneh setelah menuduh dan mengejekku dengan istilah baru bernama: “Cemburu” tersebut.
“Apa itu—“
“Ahaahaha ...”
Entah mengapa pada saat ini dia malah senang seolah tak bisa berhenti tertawa terbahak-bahak sambil bertolak pinggang seraya mendongak kuat seperti itu?
"Tapi itu bagus untukmu, Pope,” ujarnya, berhenti tertawa sembari mengusap sudut matanya dengan jari tangannya, “Dengan perasaan kamu itu, jadi jelas kamu bisa terus berkembang, lho! Kamu bisa jadi lebih kuat lagi! Ayo kejar kami meski harus berdarah-darah. Hahaaha!"
Aku ... Cemburu? Aku cemburu melihat Angelica semakin dekat dengan Mo dan Ro?
Ya. Pada saat ini, aku tanpa sadar mundur selangkah darinya lagi—tidak mau menerima kenyataan tersebut, tapi. Entahlah.
Seraya dengan tawa bahagia Angelica berhenti, dia berjalan melawatiku begitu saja.
“Daahhh ... sampai jumpa besok, Pope .. Mungkin besok kita grinding lagi,” katanya, saat berada di luar gang.
Aku menoleh padanya dan tidak bisa melakukan atau menjawab apa-apa.
Namun besoknya, aku ingat tak melihat Ro dan Mo—bahkan Angelica—di Taman Kumuh. Yang mana pada saat siang ini aku memang tak melihat satu orang pun dari mereka.
"Hey, Anak Muda!” panggil seorang wanita, yang jelas memanggilku—karena hanya ada aku di jalan Taman Kumuh hari ini.***