RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [2] – [31] Masa Kecilku《1/3》



“Kamu hanya perlu melakukan itu.”


“Ya, Ayah.”


“Jaga kakekmu dengan baik, Pope—aku pergi."


Aku tidak sepenuhnya mengerti dengan apa yang telah dijelaskan Ayahku. Namun, ya, sepertinya, yang harus kulakukan saat ini hanyalah diam—memperhatikan kekekku dan mengantarkannya pulang setelah beliau kelelahan.


Kakekku bersama kakek-kakek lainnya pergi ke ladang di tengah desa. Mereka sedang membuat tanah menjadi subur untuk ditanami sebuah Bibit Energi.


Aku tidak tahu untuk apa mereka semua menanam itu.


Tanpa mengatakan satu patah kata pun, kakekku mengakhiri kegiatan tersebut dengan menyandangkan cangkul di bahu kanannya.


“Ambil ini, Pope,” ujarnya, memberiku sesuatu seraya langsung melewatiku, “Jangan beritahu Jhone, oke?”


Setiap kali akan pulang, kakekku selalu memberiku satu buah hasil panennya di Ladang.0.


Benda ini sangat aneh, demikian pikirku.


Kakek selalu memberiku satu buah kacang bercahaya—yang ini-itu entah untuk apa.


Ya. Aku hanya menyimpannya ke dalam kantong berwarna hitam. Bahkan, kantong hitamku ini jadi memancarkan cahaya putih dari kacang-kacang yang telah kukumpulkan selama ini.


Beliau masuk ke sebuah Gubuk Kecil dengan dinding kayu dan beratap jerami; Pun aku mengikutinya.


Ya. Gubuk Kecil. Tempat tinggal kami. Rumah kami. Memang terlihat seperti gubuk pada umumnya. Suara decitan anak tangga kayu yang aku tapaki membuat tikus-tikus di bawah gubuk berlarian keluar.


Waktu berlalu sangat cepat. Ia sangat tidak terasa telah berganti begitu saja, sebab yang kulakukan setiap hari sama sekali tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya.


Aku melihat anak-anak baru di ladang.


Hanya ada dua anak laki-laki.


Aku dan kedua anak laki-laki tersebut memandang kakek kami di tengah ladang, menatap kosong mereka yang terus mencangkul tanah gersang di tengah-tengah pedesaan ini.


Namun, ada yang aneh untuk beberapa hari terakhir setelah aku melihat kedua anak tersebut. Mereka berdua selalu pergi entah ke mana setelah memperhatikan kakek mereka sejenak.


Aku tidak terlalu memedulikan hal itu juga. Ada tiadanya mereka, aku tetap melakukan hal yang sama setiap hari.


“Apa kamu tahu untuk apa para kakek menanam itu semua, Ro?” tanya anak berambut hitam panjang sebahu.


Sejak awal kami bertemu, aku cukup memperhatikannya. Dia memang anak yang selalu mempertanyakan segala hal—dan terlalu banyak bicara.


Anak laki-laki bernama Ro yang ditanyanya tidak menjawab apa-apa. Dia hanya terdiam sepertiku, terus menatap para kakek di tengah ladang yang terus mencangkul tanah gersang.


Namun keesokan harinya, hanya anak bernama Mo yang datang ke Ladang.0.


Aku tidak terlalu peduli tentang kedua anak itu, namun suatu hari Ro akhirnya terlihat lagi di ladang.


“Aku menemukan sesuatu,” ungkap Ro pada Mo, “Ayo kita pergi, Mo.”


Aku tidak tahu apa yang dia temukan. Dan mengapa aku seperti ingin tahu apa yang ditemukan anak itu?


Ro dan Mo selalu pergi setelah memperhatikan kakek mereka sejenak, dan mereka kembali lagi sebelum para kakek di ladang bersiap untuk pulang.


Meskipun hari-hari berikutnya aku dan kedua anak itu tetap melakukan hal yang sama, saat aku sendirian, aku mulai sedikit memikirkan mereka.


Apa yang mereka berdua lakukan? Ke mana mereka pergi? Dan yang lebih aneh lagi. Kenapa aku memikirkan ini?


Suatu hari, Ro dan Mo menoleh padaku saat mereka akan pergi.


“Hei, mau ikut?” ajak Ro.


Anak berambut hitam pendek itu mengajakku dengan santai namun anak di sampingnya. Mo. Tiba-tiba menautkan alisnya—terlihat sangat tidak setuju.


“Tidak apa, Mo ... Anak ini. Ya. Selama ini kuperhatikan, tidak terlalu berbahaya,” ujar Ro, menatap Mo yang masih terlihat ragu.


Anak berambut hitam sebahu itu menatap tajam ke arahku.


Ya. Aku cukup ragu saat mendengar ajakan mereka berdua. Aku melihat kakekku sedang mencangkul tanah gersang, lalu kembali menatap mereka berdua.


“Jadi, apa yang selama ini kalian lakukan?”


“Ya. Nanti kamu juga akan tahu.”


Dan mulai dari sinilah aku jadi mulai sering mengabaikan kakekku.


Kami bertiga pergi ke Perbatasan Village.0 dan City.F0.


Kendatipun ini perbatasan antar distrik, hanya sedikit orang yang berlalu-lalang. Dan hanya ada satu penjaga gerbang, yang merupakan Anggota Korporat. Penjaga tersebut akan berganti sif dalam waktu tertentu.


Aku tidak mengerti mengapa Ro dan Mo menyuruhku tetap diam. Kami seolah sedang menunggu sesuatu. Kami bersembunyi di balik pohon, tak jauh dari gerbang dan penjaga tersebut.


Waktu berlalu dengan cepat, Penjaga Gerbang terakhir akhirnya muncul. Pria paruh baya memakai pakaian serba hitam dengan helm kura-kura. Dari sini kami biasa merasakan Senjata Mekanik hitam dipegangnya memancarkan energi yang seolah menusuk-nusuk kulit kami.


Aku. Yang hanya seorang anak kecil. Seolah tak bisa mendekatinya. Namun, “Ayo,” ajakan Ro langsung menghilangkan rasa sakit di kulitku.


Kami bertiga menghampiri Pria Penjaga Gerbang Perbatasan tersebut. Aku melihat Ro dan Mo mengeluarkan kacang bercahaya dari kantong bajunya; Aku mengikuti mereka berdua memberikannya ke Penjaga Gerbang di hadapan kami.


“Ambil ini,” kata Penjaga Gerbang, memberi kami masing-masing satu buah bulatan kecil berwarna cyan, “Makan dan cepat pergi.”


Ekspresi dan tindakan Penjaga Gerbang ini persis seperti kakekku, saat beliau pertama kali memberiku kacang bercahaya.


Makan? Aku melihat ke arahnya, lalu kemudian ke Mo dan Ro yang memasukkan benda berwarna cyan di tangan mereka ke dalam mulut.


Aku meniru mereka dan—pandanganku tiba-tiba cerah setelah memasukkan bulatan kecil cyan ke dalam mulutku.


Apa katanya tadi? Aku masih merasakan sensasi aneh di dalam mulut dan tenggorokanku. “Makan?”


Aku menggumamkan kata itu, yang terdengar oleh Mo dan Ro saat kami berjalan kembali ke ladang.


“Ya. Itu rasanya sangat hebat, kan? Makan, maksudku.”


“Ya. Jangan beri tahu siapa-siapa tentang ini. Kamu tahu? Ro memberitahuku, Anak Diberkati Tuhan, menyebut hal yang kita lakukan tadi sebagai transaksi jual-beli.”


Aku memandang kedua anak kecil di hadapanku, yang menatap balik diriku dengan tatapan tajam.


“Ya." jawabku, datar, "Tentu,”


Aku berhenti berjalan dan melihat kantung hitam berisi kacang bercahayaku. Apa aku bisa merasakan hal yang sama kalau makan ini?


“Jangan lakukan itu,” tukas Mo, memotong lamunanku, “Kamu bisa pingsan kalau makan kacang itu.”


Mungkin saat ini aku tidak akan pernah menyadari, kalau aku mengerutkan kening. “Pingsan?”


“Mo benar,” timpal Ro, “Sebab itulah aku beberapa hari sebelumnya tidak pergi ke ladang.”


Aku hanya mengangguk, mempercayai apa yang dikatakan mereka.


Hari-hari yang kami lakukan jadi berubah. Aku, Ro dan Mo menjual Nut.0 kami ke Penjaga Gerbang Perbatasan Distrik. Sensasi apa yang disebut makan ini memang tak pernah bisa kulupakan.


Selama beberapa hari selanjutnya kami bertiga selalu kembali ke ladang tepat pada saat kakek kami baru saja selesai di ladang.


 “Aku pikir kita akan terlambat kalau berjalan terlalu santai seperti ini—ayo kita lari,” ujar Mo, langsung berlari. “Tadi kita menunggu Tuan Penjaga Gerbang terlalu lama.”


“Ya. Ayo cepat kembali,” timpal Ro, mengikutinya.


Aku mengikuti mereka, melangkahkan kedua kakiku lebih cepat. Namun, mereka berdua mungkin tak memperhatikannya, tetapi aku melihat tak jauh dari Gerbang Perbatasan—di pojok gang yang diapit gedung toko, ada sebuah cahaya emas menyilaukan.


Apa itu? Aku melihat cahaya tersebut seolah memanggilku, lalu kemudian kembali melihat punggung Ro dan Mo yang semakin menjauh.


Aku memutuskan untuk berlari menghampiri cahaya tersebut, dan mengintipnya dari luar gang.


Entah apa yang aku pikirkan saat ini. Bukannya cepat-cepat kembali ke Ladang.0, aku malah melihat seseorang yang sedang berjongkok—memeluk lututnya sendiri di pojokan gang.


Ya. Aku tahu orang itu adalah Anak Diberkati Tuhan yang pernah dijelaskan Mo. Dia seperti pria paruh baya Penjaga Gerbang Perbatasan. Namun, sangat jarang melihat Anak Diberkati Tuhan Perempuan di Village.0 ini.


Tetapi, saat ini aku merasakan suasana aneh di sekitarnya, jadi aku pun langsung meninggalkannya begitu saja.


Ya. Entah mengapa, aku merasa akan bertemu lagi dengan perempuan itu?


Terlepas dari itu, sekarang ini aku harus segera kembali ke ladang. Sebab itulah mulai dari sini aku selalu berlari saat kembali ke ladang.


Ya. Aku harus cepat-cepat kembali.***