
“Masa dia bisa ngejar Level—Tier aku, sih?! Ini aneh!”
Nanang sangat tidak terima dengan informasi dan kenyataan yang baru saja dia dengar.
Padahal Nanang sebelumnya mengira kalau Anak Emas itu sedang menjalani Quest Khusus dari para Eksekutif Korporat untuk mencari Elf. Keturunan ke-11 Tuhan Gim Serikat Dunia. Musuh Utama mereka.
Nanang tahu jika memang tidak mudah untuk Level Up saat player tersebut sudah menginjak ranah Tier.3, apalagi ditambah masalah sumber daya serta tempat grinding dan leveling di Daratan Surga Permukaan sudah mulai terbatas.
Tempat grinding monster maupun aliens pasti akan selalu diperebutkan oleh para player itu sendiri. Sebab setelah Insiden Terbesar Gim Serikat Dunia terjadi, menyebarnya Virus-IR, mereka harus saling berebut wilayah, sumber daya serta tempat grinding di berbagai wilayah penjuru Daratan Surga mana pun sesegera mungkin.
Dari kelompok sekecil party, skuadron, tim raid sampai sebuah Pasukan Batalion Negara Adidaya pun sedang bertarung memperebutkan wilayah dan sumber daya yang mereka sangat butuhkan untuk berkembang dan tumbuh menjadi lebih kuat.
Mereka harus segera menjadi lebih kuat seraya mengukuhkan kedaulatan dan kekuasaan di wilayah grinding dan leveling mereka masing-masing. Sebelum. Para NPC. Para Pribumi Daratan Surga World Guild Game yang mereka mainkan. Para Penderita Virus-IR itu. Ikut dalam persaingan perebutan Wilayah Daratan Surga dan mencoba untuk berkembang dan tumbuh menjadi lebih kuat juga.
“Tapi itu benar, Tuan Muda,” tegas pria paruh baya berpakaian bulter, “Saya juga dengar kalau Anak Emas itu baru saja keluar dari Daratan Dunia Lain di dalam Dimensi Game World Guild ini!”
Nanang benar-benar terkejut dengan informasi baru yang dia dapat dari Kepala Pelayan Keluarga Besar-nya tersebut.
“Apa katamu?!”
“Ya! Sekarang kita semua tahu kalau bukan hanya ada satu Daratan Surga di Dimensi Game ini!!”
Kedua mata silver Nanang membelalak, tercengang; Namun dia pun sekaligus mengerti dan paham dengan jelas apa yang dikatakan pelayannya tersebut.
Jikalau apa yang dikatakan pelayannya itu benar, berarti pasti ada satu metode dan cara untuk bisa World Out dari Dunia Dimensi Gim yang mereka mainkan. Ia pasti akan bisa mereka temukan di Daratan Surga Lain itu—beserta misteri Game World Guild yang belum mereka ungkap lainnya.
Sial. Tapi kenapa Anak Emas itu beruntung banget bisa terdampar ke sana, demikian pikirnya.
Nanang masuk ke mansionnya. “Aku akan istirahat sejenak, beritahu anak-anak di daftar yang kususun ini untuk bersiap—kita akan langsung meng-grinding kelompok monster Class A.”
“Siap, Tuan Muda!” jawab pelayannya itu.
Beberapa anak muda kelas atas Keluarga Soro Dojo berkumpul di halaman luas mansion kediaman Nanang. Mereka menjadi kesatuan party kecil klasik yang terlihat memang sangat lengkap dan kuat.
“Jadi kita akan langsung berangkat, Tuan Muda?”
Salah satu assassin dalam party rekrutan Nanang, maju ke hadapannya dan berujar seperti itu. Meskipun masih berada di ranah Tier.2, assassin tersebut tampak kuat dan sangat percaya diri akan kemampuannya.
“Ya ... Kamu langsung aja pimpin regu pengintai,” perintah Nanang padanya, “Dan setelah mengirimkan informasi keadaan sekitar Gate Dungeon di Puncak Gunung [12] padaku, segera kembali ke formasi party kita.”
“Oke,” jawab assassin yang diperintahnya, mengakifkan panel biru di jam quantum, dan meng-invite beberapa anggota party di sekitarnya, “Kami pergi, Tuan Muda Soro.”
Nanang hanya mengangguk kecil sebab dia masih sedang mempersiapkan formasi seraya membagikan Item serta berbagai jenis Syringe ke setiap anggota party-nya.
“... Itu saja,” tutup Nanang setelah dia mematikan jam quantum di pergelangan tangan kirinya, “Apa ada yang mau bertanya?”
Kendatipun party kecil yang dibentuk Nanang hanya memiliki level rata-rata dan juga masing-masing dari mereka hanya mencapai ranah Tier.2, namun dengan skill kepimpinan party yang baik, Nanang bisa memaksimalkan kemampuan setiap anggota party kecil-nya itu.
““Tidak ada, Tuan Muda!””
Mereka menjawab serempak, dan Nanang mengangguk puas.
Party kecil itu berjalan beriringan menuju portal teleportasi masih dalam Wilayah Khusus Keluarga Besar Nanang. Ia berupa Aula Besar dengan rune sihir terukir di setiap sisi dindingnya.
Nanang dan anggota party-nya memasuki aula tersebut, dan mereka semua hanya melihat terdapat satu Globe Silver Raksasa nan transparan di tengah-tengah ruangan persegi Aula Teleportasi, yang permukaan Globe Silver tersebut memetakan seluruh Wilayah Daratan Surga Permukaan. Peta Dunia Gim Serikat Dunia.
“Aku pikir ini cukup,” gumam Nanang, namun tiba-tiba dia mengerutkan keningnya, “Classic Party untuk raid aliens, tapi ...”
Pria Berseker Kapak Merah itu mulai merasakan firasat buruk. Namun, dia tetap mengaktifkan sebuah panel biru pada Globe Silver di hadapannya, dan kemudian memilih tempat di mana dia serta party kecil-nya akan tuju.
Tapi kenapa rasanya masih ada yang kurang?!
Walaupun dia memang akan meng-grinding Roswell Aliens. Enemy Class A. Nanang sudah sangat sangat yakin hanya butuh party kecil-nya saja.
Itulah salah satu pentingnya memiliki seorang pemimpin yang baik dalam kelompok grinding dan leveling.
Yangmana ia memang bisa meminimalisir penggunaan sumber daya, item, energi dan bahkan jumlah pekerja itu sendiri; Pun seraya dengan itu, pemimpin hebat nan baik masih tetap bisa memaksimalkan kemampuan para pekerjanya itu sendiri, kendati ia memang sangat terbatas.
Cahaya biru transparan tiba-tiba menyelimuti seluruh tubuh setiap anggota party kecil Nanang, lalu kemudian ia mengirim Nanang serta anggota party kecil-nya itu langsung ke Kaki Gunung [12]. Field Dungeon.
"Ah .. lupakan saja—Ayo kita leveling!"
""Ya!""
Namun, baru saja mereka semua menginjakkan kaki di Puncak Gunung [12], Nanang menerima sebuah pesan dari regu pengintai yang sebelumnya telah dia kirim terlebih dulu. Pesan tersebut berupa ujaran singkat untuk segera mundur sebab ada bahaya serius.
““Oke!!””
Kedua anggota party di sekitar-nya menjawab dengan serentak; Seraya tiga Healer di barisan paling belakang Nanang pun mulai memberi Buff Kekuatan serta buff-buff lain kepadanya dan satu rekan vanguard tepat di sampingnya.
“Tuan Muda! Satu niat membunuh mulai bisa terdeteksi, radius 100 meter, tepat di depan kita!”
“Ya! Tapi kita gak tahu posisi musuh tepatnya di mana!!”
“Tim pengintai sudah dibangkitkan lagi di Katedral Negara Adidaya [3] dan—memberi kita pesan—kalau mereka semua mati dibunuh assassin pihak musuh, Tuan Muda!”
Archer dan Sniper yang sedang berdiri mengintai di atas pohon, menyadari kehadiran sebuah niat membunuh tajam.
“Assassin?! Tapi 100 meter? Itu terlalu dekat! Dia pasti Assassin Player Kelas Atas, Tuan Muda! Kita harus segera—“
Berdiri di atas dahan pohon besar nan kokoh. Archer dan Sniper. Dua anggota party Nanang. Bahkan sebelum mereka semua menyadari posisi assassin tersebut, kepala Archer dan Sniper tersebut sudah lepas dari tubuh utamanya.
“Sialan ...!!!” umpat Nanang, yang langsung melompat tinggi ke arah posisi tubuh dua rekannya itu—yangmana ia masih berdiri tegap walau tanpa kepala, “Kamu. Mati ...!!”
Dia mengayunkan Kapak Merah Besar-nya dengan sangat kuat, tepat ke arah niat membunuh yang dia rasakan.
Hantaman Kapak Merah Besar-nya malah langsung menghancurkan pohon rimbun nan hijau, pijakan kedua rekannya yang telah mati.
“Aku meleset?!” geramnya, tiba-tiba dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres, dan menoleh ke belakang, berniat memperingati anggota party-nya yang lain, “Kalian cepat—!!?”
Nanang berbalik sembari menguatkan satu kakinya, lalu kemudian langsung meloncat ke arah anggota party-nya, sambil menggenggam erat Kapak Merah Besar dengan kedua tangannya seraya ancang-ancang memasang posisi untuk serangan tebasan memutar.
Dia berniat untuk segera melindungi sekaligus menyelamatkan anggota party kecil lainnya, namun tiba-tiba, yang dia lihat hanyalah darah segar menyembur keluar dari tubuh masing-masing dari mereka.
Mereka bahkan mungkin tidak tahu bagaimana mereka mati; Sedangkan Nanang masih melesat menuju formasi mereka.
Namun, setelah sampai, tepat di tengah-tengah posisi formasi klasik sederhana para anggota party kecil-nya yang telah mati, serangan tebasan memutar Kapak Merah Besar Nanang hanya menebas udara—membentuk sebuah tornado merah darah kecil.
“Sialan .. Whirlwind Slash-ku gagal ...?” umpat Nanang, melihat sekitarnya dengan waswas. “Tapi di mana dia?!”
Nanang semakin merasa ada yang tidak beres.
Pun dia hanya melihat siluet lintasan bekas sayatan belati berwarna hitam-abu, yang ia mulai tersapu oleh efek hembusan angin dari serangan Tebasan Kapak Merah Besar Memutar-nya.
Basic Skill Berseker Tier.2 Whirlwind Slash.
“DD-Di-Diaa ...” kata Nanang, tergagap, dan kedua mata silvernya membelalak, “cuma sendiri?!”
Nanang mengerutkan kening; Memasang posisi waspada penuh.
Dengan kedua tangannya menggenggam erat Kapak Merah Besar-nya, Nanang sudah siap untuk menyerang balik jika diserang dari arah mana pun.
Entah kenapa ... Kayaknya aku pernah lihat teknik tebasan itu, pikirnya, melirik tubuh avatar anggota party-nya yang mulai terpecah menjadi poligon dengan berbagai warna, Tapi di mana?!
Dia merasa sangat tak asing dengan siluet hitam-abu warna dari lintasan sayatan serangan assassin lawannya.
Nanang memiliki banyak informasi yang dia ketahui, karena bagaimanapun, Nanang merupakan salah satu Pemain Kelas Atas Gim Serikat Dunia—sekaligus Umat Manusia yang masuk ke dalam jajaran Calon Pahlawan Nasional di Dunia Nyata.
Dan tiba-tiba, dia merasakan hawa dingin yang sangat menusuk di tengkuknya; Tanpa berpikir sama sekali Nanang mengikuti refleks tubuhnya yang langsung membalikkan badannya, seraya langsung menebaskan Kapak Merah Besar-nya dengan kekuatan penuh dari atas ke bawah.
“MATI ...!!”
Kapak Merah Besar Nanang mengenai sebuah logam kecil yang tiba-tiba muncul dari dalam kehampaan, dan langsung terdengar suara dentingan tajam berupa dua logam bertabrakan.
Kedua lengan Nanang, yang tangannya menggenggam erat Kapak Merah Besar, sampai-sampai sedikit bergetar; Seraya dengan itu, tepat di hadapan Nanang, tubuh musuhnya mulai bisa terlihat walau masih tak kasat mata.
Assassin yang bentrok dengan Nanang. Seorang Berseker. Sama sekali tidak mundur. Assassin tersebut malah terlihat setara dalam segi kekuatan dengannya.
Dia tersenyum tajam nan menyeramkan tepat di hadapan wajah Nanang.
Mereka berdua saling memandang sejenak, sebelum akhirnya assassin itu mulai menekankan titik berat pada tubuhnya sendiri ke posisi bertahan Nanang, lalu kemudian menggunakan bahu Nanang sebagai pijakan, dia melompat mundur.
“Hahaha.”
Assassin tersebut tertawa memekik nan tajam layaknya suara rentetan bilah anak panah yang melesat sangat cepat.
“Seperti yang sudah aku duga ... Keluarga Konglomerat Soro Dojo .. sama sekali tidak bisa aku remehkan, huh, sialan.”
“Ah? Tunggu?! Ternyata kamu!”***