RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [3] – [51] No More Missions



Ya. Dan di sinilah aku.


Terjebak. Di. Dimensi. Era. Dan. Waktu. Yangmana dia masih saja menghilang, entah ke di Dunia Dimensi dan Waktu mana.


Ya. Aku masih tidak bisa menemui orang yang sangat ingin kutemui, bahkan di Dunia Dimensi Waktu ini—pun juga aku jelas tidak tahu Anak Diberkati Tuhan Wanita yang telah mencapai ranah Dewa/Dewi itu entah berada di mana sekarang ini.


Aku heran. Mengapa. Tuhan itu tidak mengirimkan aku ke Waktu, Dimensi, dan Tempat di mana Angelica berada saja?


Ya. Dan juga aku telah berpisah dengan Musuh Utama-ku. Assassin Heroes.


Yang ternyata dia masih belum lenyap?!! Be-brengsek! Aku tanpa sadar menguatkan rahangku, seraya mengepalkan tangan kananku dengan sangat erat di atas sebuah meja kayu.


Jika aku tak menahan amarah dalam diriku ini, aku mungkin akan langsung menggebraknya.


Aku telah mati—tepat di pelukannya, demikian pikirku, menunduk, melihat sebuah meja kayu kuno, “Aku ingin bertemu dengannya lagi ....”


Duduk di sampingku, seorang pria berambut hitam panjang sebahu, mengenakan pakaian penyihir hitam.


Sepertinya dia mendengar aku menggumam?


“Kamu kenapa, Pope?”


Sudah pasti dia akan bertanya, kan?


Aku berusaha menenangkan ‘perasaan’ku yang bernama amarah ini, dan juga memasang ekspresi datarku kembali.


“Tidak. Aku tak apa,” dalihku, tanpa menengok padanya.


Ya. Penyihir Hitam yang duduk sebangku dengan aku di kelas ini merupakan salah satu rekan party-ku: Mo.


Aku melihat sosok wanita berkacamata persegi panjang dan mengenakan pakaian formal—atasan putih dengan bawahan rok hitam pendek—yang memang dia sangat tak lagi asing untukku di Dimensi Waktu ini.


Ya. Aku pada saat ini sedang menghadiri kelas.


Belasan Pribumi Daratan Surga. NPC. Sedang duduk di bangku mereka masing-masing, dengan meja dan kursi kayu yang tertata sangat rapih.


Ya. Juga tak lupa. Ro. Duduk tepat di belakangku. Tanpa perlu menoleh, aku tahu itu.


Aku seperti biasa memasang ekspresi dingin dan datarku layaknya semua siswa. NPC. Yang ada di kelas.


“.... Segitu saja teori untuk mengalahkan formasi party Anak Diberkati Tuhan,” tutup mentor kami, masih berdiri menghadap siswanya dan membelakangi sebuah papan tulis kapur. “Kalian semua kumpul di Aula Besar setelah istirahat. Sekian. Saya undur diri.”


Padahal, mentor wanita itu sepertinya telah menjelaskan hal-hal yang sangat penting, namun, kesadaran aku pada saat ini malah berpikir tentang hal lain.


Teknologi di Dimensi Dunia ini masih terlampau kuno, huh, pikirku, bangkit dari kursi layaknya siswa lain, Tapi ilmu dan teknik bertarung yang aku dapat dari tempat ini, nge-buat orang lemah seperti aku bisa dikatakan sejajar dengan Angelica.


Aku kembali ke masa di mana aku, Ro dan Mo masih belajar cara bertarung—belajar teknik beladiri di:


Perguruan U'Bad Art


Tempat dan waktu di mana Mo, Ro dan Dry ada.


Ya. Namun, sedari awal kami semua ke sini, aku tidak tahu Dry ada di kelas mana.


Mungkin karena Pria Pedang Kayu itu terlalu berisik? Jadi dia dipindahkan ke pengasingan.


Ya. Karena Tempat dan Wilayah di mana Sekolah Beladiri U’Bad Art ini memang yang sangat rahasia—sangat teramat rahasia. Bahkan untuk para pencari informasi. Assassin. Anak Diberkati Tuhan mana pun akan sangat kesulitan untuk menemukan tempat ini.


Aku masih ingat pada masa sekarang ini berarti hanya ada tiga Negara Adidaya tersisa:


Negara Adidaya [1], Negara Adidaya [2], dan Negara Adidaya [3]


Ketiga Negara Adidaya tersebut dipimpin oleh Eksekutif Korporat. Namun sekarang ini aku tidak berada di Dunia Dimensi Daratan Surga Permukaan, wilayah kekuasaan mutlak para Anggota Eksekutif Korporat itu.


Setelah istirahat sejenak. Di dalam Aula Besar.


Sosok Elf pria mengenakan pakaian raper—dengan yang aku tidak mengerti mengapa tertulis angka ‘89’ besar di tengah pakaiannya, dan kalung jam dinding besar di lehernya yang menggantung sampai perut.


Penampilan Elf pria itu memang sama sekali tidak terlihat selaras dengan isi pidato formal dan seriusnya.


Walaupun Elf di balik podium tersebut memang berpenampilan sangat timpang nan konyol, aku menatapnya dengan tatapan tajam dan dingin.


Ya. Aku ingin membunuhnya—jika ini bukan hanya sebuah memori—aku pasti akan melenyapkannya langsung.


Di sini. Sekarang juga.


Sudah jelas, bukan? Para Anak Diberkati Tuhan menargetkan Elf ini. Yang membuat Angelica dan aku tidak bisa menjalani hidup dengan tenang.


Ya. Aku tidak salah. Dia penyebab utama sekaligus cikal-bakal terjadinya situasi perang dan pertempuran berdarah antara Anak Diberkati Tuhan dan kaum kami.


Kalau aku menyerahkan jiwanya ke Pemimpin Hegemoni terbanyak para Anak Diberkati Tuhan—yang disebut Eksekutif Korporat itu, pikirku, masih menatap tajam Elf pria di atas panggung. “Mereka mungkin akan membiarkan aku dan Angelica bisa hidup dengan tenang, kan?”


Aku memang tidak bisa dan masih sangat jauh untuk bisa sebanding dengan Kepala Sekolah Beladiri. Elf. Di atas panggung itu.


Rasanya sangat sulit—dan bahkan hampir mustahil—aku—yang pernah berada di puncak kekuatanku: Tier 3 High Human, untuk membunuhnya, demikian pikirku.


Elf  yang terus mengoceh dan sama sekali tidak aku dengar pun mulai mengakhiri pidatonya.


“.... Itu saja dari Kami. Aku harap kalian bisa akrab dengan siwa baru yang Kami rekomendasikan,” demikian pidatonya, “Saya harap Anda sekalian bisa terus menjadi kuat, dan semakin kuat. Kami undur diri dan teruslah berlatih.”


Namun aku tahu, dia akan menghilang bersama beberapa mentor serta semua bawahannya. Hanya akan ada tiga mentor yang tersisa di Perguruan U’Bad Art ini.


Ya. Kendatipun aku tahu ia akan menghilang, untuk aku yang sekarang ini memang sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa padanya.


Setelah Kepala Sekolah Beladiri U’Bad Art itu menghilang, aku selama sepuluh tahun berikutnya akan terus mengintai dan mencari informasi tentang perkembangan munculnya para Pahlawan Nasional.


Elf itu turun dari panggung; namun naik seorang pria paruh baya. Asisten Elf tersebut, bertubuh kekar dan rambut hitam gimbal, maju ke hadapan podium, mengambil mikrofon.


“Klean cepet be strong aye—and keep latihan, oke, sampe we kembali—atau I sendiri yang judge klean, ngerti ...?”


Tidak. Aku sama sekali tidak mengerti! Aku ingin sekali menjawabnya seperti itu sambil menggelengkan kepalaku dengan kuat, tetapi aku pikir itu ide yang buruk?


Asisten Kepala Sekolah Elf itu memang seorang manusia, namun, mungkin ranah kekuatannya pada saat ini berada di atas High Human?


Aku bisa bilang seperti itu sebab ukuran tubuhnya tinggi besar tidak layaknya manusia pada umumnya, berkulit coklat, berwajah tegas, dan memakai kacamata hitam di atas rambut hitam gimbalnya. Dia melempar mikrofon yang dia pegang acuh tak acuh ke samping selagi berjalan menuruni panggung.


Tunggu. Tadi dia berbicara apa, sih?! Aku bertanya-tanya, hampir mengedutkan kelopak mata kiriku.


Namun, seperti yang sudah aku bilang, pada akhirnya mereka akan menghilang entah ke mana setelah hari berganti.


Dan karena mentor-mentor yang masih ada di U’Bad Art pun tidak memberiku misi, aku bisa leluasa untuk mengumpulkan informasi para Pahlawan Nasional.


Aku akan mengumpulkan informasi calon-calon musuhku dengan sangat konsisten dan cermat; Aku akan secara berkala terus pergi ke Katedral – Katedral serta Gereja - Gereja di setiap Negara Adidaya yang masih tersisa terlebih dulu.


Setelah para siswa mendengar pidato Kepala Sekolah Beladiri U’Bad Art. Di hamparan Lapangan Latihan. Semua siswa perguruan ini. Serentak berkumpul dan berbaris rapih untuk melaksanakan latihan dasar.


Ini adalah waktu latihan rutin yang kami semua lakukan setiap hari sampai senja tiba.


Tetapi tepat pada saat ini, sedikit riuh obrolan terjadi karena akan adanya anak baru yang memasuki Perguruan U’Bad Art. Aku bilang sedikit riuh sebab siswa di sini tak memasang ekspresi sama sekali—dingin dan datar seperti biasa.


Ada siswa baru? Yang direkomendasikan Elf tadi? Itu bukan hal aneh, kan, pikirku, merasa biasa saja sebab seingatku, Ya. Aku, Ro, Mo dan si Dry pun masih terbilang baru memasuki Perguruan U’Bad Art ini.


Namun tiba-tiba, aku sangat terkejut dan sama sekali tak bisa menahan kedua mata hitamku membelalak, setelah melihat siapa anak baru tersebut.


“Halo ... saya memiliki job berseker dan, nama saya,” sapanya dengan sangat sopan, berdiri sedikit membungkuk di atas arena latihan, “Nanang.”


Ya. Ini memanglah ingatan yang sangat buruk—sebab—aku tidak pernah menyangka jika Anak Diberkati Tuhan Pria Kapak Merah berambut silver itu juga terdampar di Dunia Dimensi Tersembunyi ini.


Pun aku tidak akan pernah tahu ingatan buruk apa lagi yang akan kuingat selanjutnya, namun yang pasti, dia kelak akan menjadi salah satu musuh merepotkanku.


Ya. Dan mulai dari sini, aku harus menyelesaikan sekaligus membuat misi-misiku sendiri.***