RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [3] – [54] Insiden Terbesar I (2/3)



Tentu. Tidak.


Sebab aku akan selalu ingat dengan sangat jelas, kapanpun aku melawan Tier.4 Anak Diberkati Tuhan—bahkan jika aku bersama party sempurna pun—ia sama sekali tak akan pernah mudah dikalahkan.


Setiap Anak Diberkati Tuhan yang memiliki Job Assassin pasti akan terus memburu mangsanya, bahkan jika ia harus mengejarnya sampai ke ujung Daratan Surga.


Mungkin pada masa dewasa ini, hanya keberuntungan kami berdua saja bisa lolos dari seorang assassin.


Syukurlah. Tidak. Ada. Yang. Mati. Lagi.


Namun jikalau satu nano-detik saja kami terlambat melarikan diri, aku dan Angelica pasti akan mati.


Pada saat ini aku ingat berkata kepada Angelica, “Aku hampir mati—lagi?”


“Kamu berani-beraninya loncat kayak gitu lagi ke aku!? Ihh ... apa kamu bodoh! Aku selalu bilang nggak apa-apa aku mati—tapi kalo kamu jangan ...!!”


Ya. Aku tidak mengerti mengapa dia marah padaku; Juga sudah kubilang kalau aku memang tidak pernah mengerti apa maksud ujarannya ‘tidak apa jika aku mati’ itu.


Jujur. Aku. Hanya. Tidak ingin melihat. Dia. Mati. Lagi.


Ya. Pun aku selalu melakukan sesuatu yang berbanding terbalik dengan nasehatnya tersebut. Aku bertanya-tanya mengapa? Tetapi aku sepertinya merasakan perasaan yang sama dengannya. Tidak apa-apa jika aku mati; Aku tidak mau melihat Angelica mati lagi.


Namun pada memori singkat masa dewasaku ini, untuk yang ke-2 kalinya, aku malah lengah dan hampir mati lagi.


Padahal kami berdua sebelumnya hanya memiliki rencana dan strategi pelarian darurat untuk melarikan diri dari berbagai monster dan aliens kuat, namun pada akhirnya, kami berdua malah diburu oleh kelompok kecil PK (Player Killer).


Sepertinya aku dan Angelica cukup berhasil menggunakan rencana dan strategi tersebut untuk kabur dari para PK Anak Diberkati Tuhan itu?


Syukurlah, pikirku, menatap Angelica, dia tidak terluka sama sekali.


Kami berdua berteleport ke dekat gerbang perbatasan antara Hutan Mati dan Field Dungeon, dan tangga untuk turun ke wilayah hutan rimbun menuju Village.0 berada tepat di hadapan kami.


Angelica langsung menyuntikkan berbagai jenis Syringe ke tubuhku seraya membopongku menuruni anak tangga.


Ya. Namun jelas pada saat ini, aku sudah bilang juga, kan, jika ini-itu akan sangat merepotkan?


“Ayo kita cepet—“


Ya. Sebab, ini ternyata masih belum berakhir. Kami berdua melihat para Anak Diberkati Tuhan PK itu mengendarai Box Metal Hitam, mengejar kami berdua dengan kecepatan hampir setara dengan kecepatan cahaya.


Gelombang Super Sonik yang dikeluarkan akibat gesekan antara box tersebut dengan udara sampai menghancurkan apa saja yang dilaluinya.


Aku dan Angelica masih terus dikejar; Situasi putus asa kami berdua masih berlanjut.


“Pope! Bertahanlah! Setidaknya di wilayah hutan dalam Village Point Zero kita bisa minta bantuan Penjaga Gerbang!”


Walaupun kami berdua memang hampir berada di Wilayah Dalam Negara Adidaya [3], Village.0, sudah pasti tetap tidak akan ada satu pun orang yang mau mengambil resiko untuk mengganggu Party Red Name. PK. Saat mereka sedang mengincar mangsanya.


Anggelica terus membopongku menuruni anak tangga, menuju hutan rimbun.


“Ah—Pope!!?”


Meskipun kami sudah mencapai gerbang desa, aku malah terkena serangan dari dalam Box Hitam; dan tubuh Angelica pun terlempar, ke arah yang berlawanan denganku.


“Lari, Angelica ...”


Dia memang sudah menyuntikkan berbagai jenis Syringe selama membopongku, namun aku masih tetap dikatakan sekarat sekaligus kehabisan tenaga pada saat-saat seperti ini.


Apa ini akhir dari hidup kami—maksudku—aku?


Ya. Namun. Seingatku. Tidak.


“Kalian kayak serangga aja,” cibir seorang pria, yang suara seraknya sangat menusuk seperti pisau tajam, “Kenapa kalian ini sulit sekali dilenyapkan, sih, PK Bau Sialan.”


Ya. Karena. Dia. Muncul; Ya. Orang. Itu. Muncul.


Di sini.


Ya. Di hadapan aku dan Angelica—aku masih ingat jelas—tiba-tiba muncul sosok hitam-abu; niat membunuh yang lebih menakutkan nan tajam dari Assassin PK di dalam Box Metal Hitam.


Assassin PK tersebut pun langsung turun dari kendaraan box hitam metal-nya seorang diri.


“SOLITIAN ...!!!”


Untuk pertama kalinya selama kami berdua diburu olehnya, aku dan Angelica mendengar suara teriakan penuh kebencian dari assassin tersebut.


Mata kami berdua serentak membelalak, terkejut, sampai-sampai tengkuk kami terasa sangat dingin sekaligus entah mengapa napas kami berdua jadi sangat berat. Kami berdua sulit untuk bernapas, dan berdiri terpaku di tempat.


Ya. Aku dan Angelica malah perlahan terus menunduk—terpaku di tempat—sama sekali tidak bisa menahan niat membunuh assassin tersebut.


Namun, tidak untuknya.


Ya. Calon Assassin Heroes di hadapan kami malah mendongak, menatap niat membunuh tajam Assassin PK yang mulai masuk ke dalam kehampaan.


“Heh? Assassin masih bau seperti kau bisa apa ...?”


Ya. Dia pun menghilang menjadi tak kasat mata, “Urkh!!? Sol—“ dan tiba-tiba muncul di langit seraya langsung menusukkan belati ke udara kosong di hadapannya.


Kemudian, dia menebaskan belati hitam-abunya secara horizontal.


Ini ... kah, pikirku, tepat pada saat ini aku membelalak menatapnya yang masih melayang di atas langit, kekuatan yang sebenarnya?


Dari dalam Box Metal Hitam yang masih melayang di atas kami, rentetan hujan peluru energi padat berwarna biru dan oranye langsung menembak tepat ke arah kami bertiga; Bersamaan dengan itu tubuh Assassin PK menghantam tanah dan perlahan terlihat kembali, seraya dengan kepala-nya yang tergeletak di hadapanku mulai berubah menjadi partikel poligon merah.


Assassin. Itu. Mati; Rekan. Nya. Membalas.


Bukan hal yang aneh. Memang. Ia situasi yang lazim terjadi.


Namun. Calon Assassin Heroes. Sol. Menyelamatkan aku dan Angelica. Itu. Sama sekali tak bisa aku pungkiri begitu saja.


Pada akhirnya, Calon Musuh Utama-ku itu yang menyelamatkan kami berdua.


Dia membunuh Assassin Tier.4 tanpa meneteskan satu tetes keringat pun. Begitu pun dua Anggota Party PK lainnya di dalam kendaraan box hitam tersebut. Mereka berdua dibantai olehnya seorang diri.


Mulai dari sini aku akan selalu tahu, sadar dan sangat mengerti.


Kita. Akan. Selalu. Berbeda; Kita. Akan. Selalu. Berlawanan.


“Kau siapa—NPC—kenapa Nona Muda Tang No mau saja bermain dengan pribumi seperti kau ini ...?” tanya Sol, yang tiba-tiba berada tak jauh di hadapanku.


Aku sudah tak bisa berdiri lagi, hanya terkulai lemah, berlutut tak jauh darinya.


Dia berjalan santai ke arahku seraya melempar sebuah kepala Anak Diberkati Tuhan Wanita yang telah ditebasnya ke hadapanku.


Ini kepala gunner wanita tadi, demikian pikirku.


Kedua mataku membelalak melihat sebuah kepala Anak Diberkati Tuhan Wanita tergeletak di bawahku yang mulai menjadi partikel poligon kuning.


Aku tahu ia akan segera menghilang layaknya kepala Assassin PK pria sebelumnya.


“Haa ...?” desaknya, mengacungkan belati hitam-abunya ke wajahku, “Cepat jawab, Pribumi Sialan. Atau—“


Aku masih ingat dengan sangat jelas, pada waktu inilah, aku mulai bisa merasakan: Rasa Takut Yang Sebenarnya.


Namun, Angelica berlari menghampiriku, dan langsung berjongkok tepat di sampingku seraya menjelaskan, “Ini rekan aku—tapi terimakasih, Tuan Muda Sol,” tetapi dia pun tak berani menatap lurus ke mata oranye tajam assassin di hadapan kami berdua.


Calon Assassin Heroes itu tetap saja menatap dingin diriku yang masih berlutut di tanah. Lalu kemudian dia mengalihkan pandangannya ke Angelica di sampingku.


“Ah?! A-Aku minta maaf atas ketidaksopanan aku waktu kecil dulu,” ujar Angelica, yang dia pun ketakutan, meremas lengan jaket hitamku, “Tapi makasih udah nyelametin kami berdua .. Tuan Muda Sol .. beneran ... makasih banyak.”


"Saya cuma kebetulan lewat aja—tapi untung, ‘umpan daging’mu berguna, bukan?” cibir Calon Assassin Heroes, menekankan kata "umpan daging", yang memang merupakan posisiku pada saat masa dewasa aku ini.


Entah mengapa aku akan selalu ingat cibirannya itu.


“Ng  ... aku—“


Angelica tampak tidak senang namun dia tetap menahannya.


“Saya permisi undur diri dulu, kalau gitu ... Nona Tang?”


“Ah?! Oke. Sekali lagi makasih, ya, Tuan Muda Sol ... udah bantuin—“


“Ya. Sampai nanti.”


Setelah percakapan singkat tersebut, dia menatap tajam, dingin nan menusuk hanya ke arahku.


“Huft ...” Angelica menghela napasnya setelah kepergian Calon Assassin Heroes itu. “Sejak menginjak masa dewasa, Sol jadi sangat kuat—uurkh—atau akunya aja yang terlalu lemah, ya?”


“Aku tidak tahu,” balasku, menatap Angelica yang masih berada di sampingku, lalu menunduk kembali.


Angelica menggaruk pipinya sendiri.


“Ng ... lupakan dia, oke? Kita beruntung bisa diselamatin olehnya ....”


“Ya.”


Namun, entah mengapa berbanding terbalik dengan apa yang disarankan oleh Angelica itu, sampai kapan pun, aku tidak akan pernah bisa melupakan kejadian tersebut.


Aku pun pulang setelah berjalan mengitari desa sejenak bersama Angelica. Lalu dia pamit pulang ke kediamannya sendiri tepat pada saat waktu senja berakhir.


Seperti biasa, aku menuju pusat desa terlebih dulu—ke ladang Village.0.


“Mole! Kita besok ketemu lagi oke? Hahaha!”


Ya. Salah satu NPC. Pribumi. Lansia di Ladang.0 sedang berbincang ria dengan kakekku.


“Oke, Dro,” sahut kakekku, “Aku juga mau pulang, hahaha!”


Ah? Aku terlambat, ya, demikian pikirku, berjalan menghampiri kakek.


Pun tepat saat aku sampai di pagar melayang berwarna biru, pembatas Ladang.0, aku melihat ayahku.


“Kamu jangan mengabaikan kewajibanmu untuk menjaga kakek, Pope.”


Ya. Pada saat ini tanpa sadar aku mengerutkan keningku, merasa tidak senang dengan perkataan dingin dan datarnya itu—kendati dia memang memasang ekspresi sama seperti biasanya.***