
Penjajahan atau juga bisa disebut Ekspansi Wilayah merupakan hal yang lazim dilakukan oleh para manusia di era mana pun.
Namun, hal itu hanya akan terjadi pada saat manusia tersebut telah memiliki sebuah keluarga, yang di kemudian hari, kumpulan keluarga kecil manusia itu akan mengklaim sebuah wilayah yang dinaungi oleh sebuah koloni manusia. Dan kemudian koloni manusia tersebut akan berkumpul juga dengan koloni manusia lainnya, membentuk sebuah perkumpulan koloni manusia yang disebut sebagai:
Masyarakat
Lalu para masyarakat tersebut akan terus menyatukan diri seraya mengukuhkan kedaulatan masing-masing, yang pada akhirnya, terbentuklah sebuah:
Negara Manusia
Kembali ke Era Kuno. Era Agraris. Sekitar tahun 1602 di mana Legenda Lembaga Korporat Johan van Oldenbarnevelt dan Staten Generaal bisa menguasai Negara – Negara Manusia menggunakan ideologi mereka.
Mereka mungkin hanya bisa menguasai beberapa wilayah negara biasa selama beberapa ratus tahun saja, namun, terlepas dari itu, para manusia pada era di mana aku hidup ini akhirnya bisa menyempurnakan kegagalan dan keruntuhan ideologi kedua legenda tersebut, dan sekaligus membentuk kekuasaan dan kedaulatannya sendiri. Kendati itu terjadi hanya di sebuah dimensi yang disebut dengan Dimensi Dunia Nyata?
Namun terlepas dari aku memang tidak mengerti apa itu dimensi, menggunakan dasar ideologi tersebut, para manusia bisa bertahan selama ribuan tahun meskipun cobaan berat yang mereka alami terus berdatangan seperti tiada habisnya.
Ya. Itulah yang aku tangkap dari salah satu cerita seorang perempuan cantik yang sering kutemui.
Entah kenapa aku jadi sering ke sini untuk menjual kacang bercahayaku, demikian pikirku, melihat seorang perempuan berambut dan mata emas di sampingku.
Kami berdua duduk di kursi taman yang cukup panjang berwarna metal berkarat.
Ya. Sesekali aku melihat beberapa orang yang berlalu-lalang melihat kami dengan tatapan aneh.
“... Gitulah,” jelasnya, mengakhiri cerita dan monolognya hari ini. “Menarik, kan?”
Dia mengakhiri rangkaian ceritanya dengan ekspresi aneh pada wajahnya, yang dia sebut sebagai: senyuman.
“Ya. Itu cukup menarik,” kataku, mengangguk, “Mungkin.”
Aku mengalihkan pandanganku dari senyumannya.
“Apa ...? Kenapa harus pake ‘mungkin’, sih?! Kalo menarik, ya, menarik aja! Jangan membohongi perasaanmu sendiri kayak gitu ih ...”
Aku berkedip.
“Perasaan?”
“Urkh ... Aku harus ngejelasin dari sana?! Ya ... Perasaan itu ....”
Dia mulai mengoceh kembali tentang hal-hal yang tidak semuanya aku bisa mengerti. Namun, beberapa dari mereka adalah informasi sangat berharga bagiku.
Seperti halnya bahwa aku ini disebut NPC Pribumi Daratan Surga oleh orang-orang yang disebut: Player.
Ya. Perempuan yang duduk di sampingku ini juga merupakan seorang player.
Anak Diberkati Tuhan Perempuan ini juga bisa disebut player, huh, demikian pikirku.
“Yah ... apapun yang kamu rasakan sekarang, di sini,” jelasnya, menunjuk ke arah pusat tubuhku, “itu namanya perasaan!”
Aku menunduk, melihat apa yang ditunjuknya.
“Ah? Dan ia juga bisa menyebabkan perubahan pada ekspresi wajahmu—kayak gini, gini atau juga gini ...”
Dia memainkan wajahnya sendiri sampai-sampai wajahnya menjadi terlihat aneh dan semakin aneh.
“Aku ...” gumamku, melihat ke arah yang telah ditunjuknya, “tidak merasakan apa-apa.”
Aku melihat kembali wajah berbentuk anehnya, yang tiba-tiba menjadi kaku.
“Tapi aku tau kamu itu beda, Pope. Nggak kayak NPC - NPC lain—tatapan dinginmu sama sekali nggak nyakitin aku ... Aneh, sih, emang ... t-tapi aku suka—maksudku—ngobrol kayak g-gini.”
“Aku ...”
Aku menatap kedua mata emasnya.
“Ng ...? ‘Aku’ apa?”
Aku entah mengapa tidak sedikit pun ragu untuk mengatakan apa pun padanya saat ini. Namun, pada akhirnya aku masih bisa sejenak menahan apa yang sangat ingin kuutarakan dengan kehendakku sendiri.
Kenapa aku jadi seperti sangat mempercayai Kakak Perempuan ini? Aku, pikirku seraya mengepalkan kedua tanganku. “Sebenarnya aku ingin makan Nut Point Zero—olahannya, maksudku, entah mengapa aku ingin memakannya lagi.”
“Ng ...” Kedua mata emasnya itu melebar, sepertinya dia sedikit terkejut, namun pada akhirnya kembali seperti semula. “Permen yang aku barter dengan kacangmu itu? Kamu mau makan itu lagi?”
“Ya.” Aku mengangguk. “Tapi sekarang aku jadi tidak bisa lepas darinya—aku—selalu membayangkannya dan ingin terus memakannya.”
“Kamu bisa sampai kecanduan?!” Dia sangat terkejut sekarang, sampai-sampai berdiri. “Itu cukup bahaya, ya, ternyata. Candy Energy. Kalo untuk kalian para NPC.”
“Ya.” Aku mengangguk lagi. “Dan mungkin bukan cuma aku.”
Dia menyentuh dagunya sendiri, seperti sedang berpikir. Lalu, dia menunduk, menatapku dengan tatapan sangat serius.
“Jangan bicarakan hal ini ke siapa-siapa, oke?”
“Kenapa?”
“Percaya aja ke Kakak Cantik ini ...” tegasnya, berkedip beberapa kali, “oke?”
Aku hanya mengangguk, kemudian mengalihkan pandanganku darinya.
“Aku harus pulang,” pamitku, bangkit dari kursi dan pergi begitu saja, “Sampai jumpa besok, Kak.”
“Ya!” jawabnya dengan teriakkan penuh semangat, “Besok kita akan lanjut ke tahap berikutnya!! Kita akan saling nyebut nama satu sama lain!!!”
Aku menoleh, melihat dia melambaikan tangannya sembari memasang ekspresi pada wajahnya seperti biasa—itu—senyuman?
Ya. Kendati aku tidak mengerti apa yang dikatakannya itu, sekarang aku tahu ekspresi pada wajahnya itu menunjukkan bahwa perasaannya sekarang sedang baik.
“Tunggu,” gamamku, berhenti berjalan. Kenapa tadi aku mengatakan itu padanya? Sampai jumpa besok? Apa aku benar-benar ingin bertemu dengannya lagi?
Ya. Aku berpikir demikian sebab kemarin-kemarin, aku memang sama sekali tidak berpikir untuk bertemu dengannya lagi. Namun, entah mengapa, sekarang aku memiliki alasan lain selain mendapatkan Golden Candy dari perempuan itu.
“Mereka juga baru sampai, ternyata.” Aku berpapasan dengan Mo dan Ro.
Sepertinya mereka ingin mengatakan sesuatu padaku. Namun, para kakek selesai di ladang, tepat saat Mo melangkah ke arahku. Dan pada akhirnya dia dan Ro berbalik pulang bersama kakek mereka.
“Ayo pulang, Pope,” ajak kakekku, menyandangkan cangkulnya di bahu, seperti biasa, tanpa melihatku.
Aku berjalan di samping beliau.
“Pope ...” ujarnya, masih tidak menoleh padaku, “Kakek minta kamu tidak usah bertemu perempuan berambut emas itu lagi.”
Berhenti berjalan, aku hanya melihat punggung dan cangkul yang mencuat ke belakang yang disandangkan olehnya.
Kenapa? Entah mengapa aku sangat ingin bertanya seperti itu, namun, kata tersebut tersangkut di tenggorokanku.
Aku kembali berjalan mengikuti beliau, tanpa mengangguk maupun mengiyakan sarannya.
Berkat itu, kami berdua bisa pulang dengan tenang dan hening seperti biasa. Pun aku dan kakekku tidur di ruang tengah gubuk kami seperti biasa.
Lalu pada keesokan harinya, ayahku tidak terlihat akan pergi. Biasanya, dia akan berangkat sebelum aku dan kakekku bangun.
Aku merasa ada yang tidak beres.
Bangkit dan berjalan melihat ke dalam kamarnya, aku melihat ayahku terluka lagi. Dia terbaring di lantai beralaskan kardus seperti sedang pingsan, dengan tubuh kekarnya penuh dengan lebam dan luka terbuka.
Lukanya semakin parah?
Terakhir kali aku memberinya Syringe.0, dia hanya langsung menggunakannya begitu saja tanpa menanyakan itu apa atau aku dapat dari mana. Namun, sepertinya kakekku terlihat tidak setuju dengan apa yang kulakukan.
Aku langsung menuju ke tempat yang sama seperti biasa. Tetapi kali ini, kami memutuskan untuk berjalan ke Taman Kumuh.
Untuk ke-2 kalinya, aku berniat menjual kacang bercahayaku untuk sebuah Jarum Suntik Penyembuh. Meskipun kakekku tidak akan setuju dengan apa yang kulakukan ini, entah mengapa aku masih ingin melakukannya.
“Oke. Nih!” ucapnya, seraya acuh tak acuh memberiku Syringe.0, “Ah, iya, ngomong-ngomong, kemarin aku ketemu sama Mamat lagi dan—“
“Aku harus segera pulang.”
“Apa—Hei, Pope, tunggu—“
Mengabaikannya, aku langsung berlari pulang sambil menggenggam sebuah Jarum Suntik Penyembuh.
Aku bisa menebak apa yang akan dibicarakan Anak Diberkati Tuhan itu. Dia sesekali menyelipkan beberapa masalah pribadinya ke dalam setiap ceritanya. Anak Diberkati Tuhan Perempuan itu selalu bilang bahwa dia sangat menyukai seorang Anak Emas bernama Mamat.
Dan juga ... apa itu ‘suka’? Aku penasaran.
Keesokan harinya, Anak Diberkati Tuhan Perempuan itu sedang berjongkok sembari memeluk lututnya sendiri.
Hari ini dia murung lagi? Aku heran, berjalan ke hadapannya.
“Aku tahu kakak kemarin mau bercerita apa, tapi,” ungkapku, datar, “kenapa tidak membuktikan padanya saja, kalau kakak juga bisa menjadi apa yang kakak selalu bilang: Pahlawan Nasional?”
Kendatipun aku menyarankan sesuatu yang sangat sederhana, kedua mata emasnya itu terlihat berbinar terang saat mendongak, melihatku. Dia berdiri, mulai bersemangat kembali.
Ya. Aku hanya terus menatap kosong Anak Diberkati Tuhan Perempuan di hadapanku, yang menatap balik diriku dengan tatapan cerah. Namun tak lama kemudian, situasi menjadi canggung—ditambah dia mulai berekspresi aneh.
“Ayolah ... puji aku cantik atau apa gitu, kek! Kamu! Pope! Anak jenius!”
Ya. Perempuan di hadapanku ini memang teramat cantik nan menawan. Rambut dan mata emasnya sangat indah sampai-sampai siapa pun yang tak sengaja melihatnya, akan berhenti dan mengaguminya sejenak. Namun jika kamu mendekatinya, kamu akan menyadari kalau dia ini memang memiliki kepribadian aneh.
“Dan kamu tahu,” paparnya, membusungkan dadanya, terlihat sangat percaya diri, “Aku sekarang punya tujuan besar!”
Aku mendongak, melihat tepat ke arah mata emasnya. Dan tiba-tiba aku merasakan hal aneh di bagian tubuhku yang pernah ditunjukkan Anak Diberkati Tuhan Perempuan di hadapanku ini beberapa waktu lalu.
“Apa itu?” tanyaku, datar.
“Aku mau jadi Pahlawan Nasional,” tekadnya, mendongakkan kepalanya dengan kuat seraya meninju langit, “Pahlawan Nasional Utama!! Hahahaha!”
Aku pikir saraku wajar, dan biasa-biasa saja. Tapi kenapa, demikian pikirku, yang entah mengapa aku mulai merasakan firasat buruk tentang hal ini. “Kenapa aku menyarankan itu?”***