
Ini untuk ke-2 kalinya aku melihat Anak Diberkati Tuhan sedang murung, berjongkok di pojokan gang. Dari perawakan, equipment beserta pancaran cahaya berkatnya, jelas Anak Diberkati Tuhan Perempuan itu bukan seorang seorang pemula lagi. Aku tahu dan bisa membedakannya, karena walaupun memang sangat jarang Anak Diberkati Tuhan berkeliaran di Village.0 ini, aku pernah melihat dan memperhatikan beberapa dari mereka.
Ro pernah memberitahuku bahwa para Anak Diberkati Tuhan itu selalu memancarkan aura petarung atau aura pembunuh jika melihat kami. Namun sangat berbanding terbalik dengan apa yang telah dijelaskan Ro, Anak Diberkati Tuhan Perempuan ini terlihat sangat murung dan terus mendesah sendiri.
Sepulang menjual kacang bercahayaku ke Penjaga Gerbang Perbatasan, aku selalu melihatnya di tempat yang sama, sedang berjongkok seraya menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya.
Tetapi saat ini, entah mengapa aku keluar dari persembunyianku—aku tak mengintipnya lagi dan malah mencoba untuk mendekatinya. Suara langkah kakiku mengejutkannya, membuat perempuan itu mendongak, melihatku.
Aku menatap mata emasnya; dia menatapku dengan tatapan kosong.
Kedua mata emasnya yang tadinya terasa suram nan kosong, tiba-tiba berubah sedikit cerah saat melihat tepat ke arahku.
Dia berdiri, masih terus menatapku.
Entah kenapa aku merasakan ada gairah aneh dari sorot mata emasnya itu, pikirku. Ya. Bisakah jangan menatapku seperti itu?
“Ah?” Dia tiba-tiba tersadar dari lamunannya, lalu melangkah mendekat. “Kamu ...”
“Kenapa aku malah menghadap Anak Diberkati Tuhan ini?” gumamku, merasa bingung sendiri.
Aku menoleh ke belakang, Karena sekarang harusnya aku cepat-cepat kembali ke ladang, dan langsung pergi begitu saja.
“Hei—“ panggilnya.
Seraya berlari dan akan ke luar gang, aku hanya menoleh padanya, yang terlihat sedang menjulurkan tangannya ke arahku, seolah dia ingin menyentuhku tetapi aku sudah terlalu jauh darinya.
Hari berikutnya, Anak Diberkati Tuhan Perempuan itu tidak ada di pojokan gang.
Aku mengintip kembali dari luar gang, namun sepertinya hari ini dia tidak akan datang.
“Hei!? Itu kamu lag—jangan lari—hei!” serunya, tiba-tiba mengejarku, “Kenapa kamu lari? Kakak cantik ini baik, kok—sungguh!”
Aku langsung berlari saat Anak Diberkati Tuhan itu tiba-tiba muncul di belakangku, dan terus memanggilku, “Hei, Dik! Tunggu! Kakak ini baik, kok ...!!”
Ya. Dia memang berkata seperti itu saat mengejarku. Namun, ya, siapa yang akan percaya? Ekspresi wajah dan auranya itu seperti ingin manakanku hidup-hidup.
“Sungguh!!? Kenapa NPC kayak kamu larinya cepet banget, sih ...?!!” umpatnya, masih terus mengejarku, “Tunggu kakak, Nak—aku mohon ...”
Ya. Aku tidak mengerti apa yang dia maksud dengan, NPC?
Saat aku belok di sebuah tikungan gang dan memasuki hamparan Ladang.1, Anak Diberkati Tuhan Perempuan yang mengejarku sudah tak terlihat lagi di belakangku.
“Ya. Aku akan menanyakannya ke si Mo,” gumamku, terus mempercepat langkah kaki, “Akronim apa itu: NPC—dan kenapa ia membuatku merasa ingin mengetahui artinya?”
Sesampainya di Ladang.0, semua kakek sedang bersiap-siap untuk pulang. Mo dan Ro hanya melirik ke arahku, lalu kemudian mereka pergi begitu saja.
“Aku akan menanyakan itu besok saja lah.”
“Menanyakan apa?”
Kakekku yang bertanya. Beliau menyandangkan cangkulnya di bahu seraya menunduk, menatapku.
“Ini ...” dalihku, mantap balik beliau seperti biasa, “Semua kacang bercahaya ini-itu sebenarnya untuk apa?”
“Simpan saja,” ujarnya, berjalan melewatiku begitu saja, “Suatu saat kamu pasti membutuhkannya ... Ayo pulang.”
Aku dan kakekku pulang ke Gubuk Kecil kami.
Ya. Ini memang tidak biasa untuk kami. Namun, hari ini aku melihat ayahku sudah pulang sebelum kami berdua tiba. Dia sedang berdiri di depan rumah, menatapku dan kakekku. Baju dan jaket kulit hitam dikenakannya terlihat compang-camping, serta terdapat beberapa luka di tubuhnya. Dia hanya melihat kami berdua sejenak, lalu masuk ke dalam rumah.
Keesokan harinya, seorang Anak Diberkati Tuhan Perempuan seperti biasa terus mengejarku. Namun seperti biasa juga, dia sama sekali tidak bisa mengejar apalagi menyentuhku.
Aku pulang dan menyadari hal baru.
Ya. Cukup aneh saat ayahku selalu sampai rumah sebelum aku dan kakek.
Bagaimanapun, aku entah bagaimana terlalu cepat untuk bisa dia kejar.
Semakin hari berganti, kecepatan lariku semakin bertambah. Dan lagi aku lebih mengenal desa kelahiranku ini, jadi mustahil Anak Diberkati Tuhan Perempuan itu bisa menemukanku.
“NPC?” gumam Mo, menatap tajam diriku. “Tahu dari mana kamu akronim itu?”
Ro di sampingnya pun menatap tajam ke arahku. Dua pasang sorot mata tajam, menatap diriku, yang memang sedikit membuatku merasa aneh.
“Aku mendengarnya tidak sengaja,” dalihku, mengalihkan pandangan, “dari seorang Anak Diberkati Tuhan yang lewat.”
“Ah.” Ro mengangguk, mengerti maksudku. “Ternyata seperti itu.”
Ya. Non Playable Character. NPC. Apa yang Mo jelaskan mungkin tidak terlalu aku mengerti. Sedangkan Ro hanya memberitahu kepanjangan dari akronim tersebut, yangmana ia bisa berarti makhluk buatan tanpa jiwa.
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dia maksud dengan ‘jiwa’, demikian pikirku, memandang Ro dan Mo, berharap penjelasan lebih.
“Aku juga tidak terlalu mengerti,” jawab Ro, menggeleng, “Hanya itu yang aku tahu—dari buku yang pernah kubaca.”
Ya. Sedangkan dia juga menjelaskan bahwa akronim tersebut merupakan penanda para Anak Diberkati Tuhan untuk membedakan kaum mereka dengan kami.
“Apa kita bisa menukar ini untuk sesuatu yang bisa menyembuhkan luka?” tanyaku tentang hal yang lain, sambil mengeluarkan satu buah kacang bercahaya dari kantong hitamku.
“Tidak,” jawab Mo, datar, “Barang seperti itu hanya bisa dibeli dengan Lobak Point Zero atau kelas energi di atasnya.”
“Ya. Mo benar. Memang kenapa? Kamu terluka?”
“Tidak. Aku baik. Hanya bertanya.”
Ayahku jadi semakin sering sampai di rumah sebelum aku dan kakekku. Dan entah mengapa, beberapa waktu ini aku selalu melihat luka-luka di tubuhnya kian bertambah. Saat kami semua akan memasuki Gubuk Kecil kami, entah mengapa juga aku malah menanyakan hal ini padanya.
“Hei, Ayah ... Kenapa tubuhmu terluka seperti itu?”
Ayah dan kakekku menoleh serentak, menatap kosong ke arahku.
“Hanya luka dari pekerjaan,” jawabnya, acuh. “Cepat masuk.”
Ayah dan kakekku berpaling begitu saja, mengabaikanku, kemudian mereka masuk ke gubuk begitu saja.
“Kita harus ke Ladang Point Zero lagi besok—ayo cepat tidur,” ujar kakekku.
Aku hanya mengangguk, berbaring di lantai seperti biasa dan mulai menutup mataku.
Dalam tidurku, aku bisa membayangkan apa yang kulakukan pada esok hari, seperti melakukan rutinitas yang sama, memakan permen berwarna cyan dan pulang pada jam sama. Juga, aku akan berlari pulang secepat mungkin—sebelum kakek selesai di ladang.
Ya. Seperti yang telah kubayangkan selagi tidur, aku, Ro dan Mo sedang pergi ke Perbatasan Village.0 dan City.F0 lagi.
“Bisakah aku menjual ini untuk sesuatu yang bisa menyembuhkan luka?”
Mo dan Ro menatapku dengan heran; Begitu juga Penjaga Gerbang Anggota Korporat. Entah mengapa aku sekarang ini sangat kukuh ingin menanyakan hal itu?
“Jika kalian tidak ingin Candy Cyan, kalian bisa pergi,” ancamnya, menatap kami bertiga dengan tatapan tajam, “Dan jangan pernah datang lagi.”
“Tidak, Tuan. Kami masih mau itu.”
“Ya. Kalau kami berdua, masih ingin beli itu.”
Pada akhirnya, hari ini aku tidak bisa membeli permen tersebut seperti biasa. Dan Ro memandangku dengan tatapan aneh.
Ya. Entah mengapa aku merasakan hal aneh dari tatapannya, apalagi si Mo yang mulai terlihat ingin menjauh dariku.
“Apa yang salah denganmu?” tanya Mo, mengerutkan keningnya. “Ayo kita pergi, Ro.”
Mereka berdua pergi begitu saja, meninggalkanku yang entah mengapa tiba-tiba merasa seperti terpaku di tempat.***