RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [1] - [12] First Blood《1'》



Human Trafficking


Bisnis yang sangat menguntungkan untuk manusia di zaman mana pun. Meskipun zaman telah berubah dengan adanya pemberatan sanksi untuk para pelanggaran HAM, itu masih tidak bisa menghentikan bisnis tersebut. 


Pembuatan sanksi terberat bagaimanapun juga, tidak akan pernah bisa mengakhiri permasalahan pelanggaran tersebut, jikalau si pelanggar adalah pemegang kekuasaan atas sanksi itu sendiri.


Walau hanya orang-orang memiliki kuasa saja yang bisa mengakses bisnis perdagangan manusia, itu tetap merupakan pertanda kebusukan hewan yang bernama:


Manusia


Tidak jauh berbeda dengan manusia yang sedari kecil tinggal di Apartemen Distrik Negara Bagian Barat. Tidak ada yang menyangka Distrik Apartemen semewah itu menyimpan rahasia bisnis kelam.


Meskipun anak konglomerat di Negara Adidaya yang terculik, masih tidak akan bisa ditemukan jika terculik oleh manusia ini: Rotzell.


Pria Gumpal yang terlihat hanya memainkan gim kesukaannya setiap hari. Namun, hari ini dia tidak memainkan gim seperti biasanya. Dia sedang memeluk sebuah Box Hitam se-ukuran perut gumpalnya; menunggu dengan sangat antusias lift berhenti di lantai kamar apartemennya.


“Ah!” seru bahagia Pria Gumpal itu, langsung berlari memasuki kamarnya, “Akhirnya aku sampai juga.”


Rotzell langsung menyimpan Box Hitam-nya di atas meja metal. Kemudian dia menekan sebuah tombol berbentuk pentagon berwarna silver pada box tersebut.


Tiba-tiba, Box Hitam miliknya itu berubah menjadi balok-balok silver kecil dengan ukuran yang beragam. Ia semua berserakan di atas meja, dan beberapa dari mereka sampai berjatuhan ke lantai di bawahnya.


Cukup lama untuk Rotzell merangkai balok-balok tersebut menjadi dua balok panjang, yang langsung dia berdirikan sejajar―membentuk layaknya dua sisi kusen pintu.


“Ini yang sering mereka katakan ...” gumamnya, mengingat sesuatu, “sebuah 'gate'?”


Pria Gumpal itu menekan tombol enter pada keyboard pc-nya, lalu kedua sisi balok silver itu langsung mendesis dan mengeluarkan energi listrik yang saling bertautan.


“Tidak mungkin aku harus melewati ini, kan?”


Dia berkata seperti itu, namun, kedua energi tersebut mulai merobek ruang di hadapannya. Liquid silver dan hitam tiba-tiba keluar dari robekkan ruang tersebut, dan mereka berdua saling bercampur satu sama lain―walau tidak sempurna, hanya menempel layaknya merkuri berwarna hitam-silver yang melayang di ruang persegi panjang dua balok silver sejajar di hadapannya.


Setelah ia semua menyatu, terbentuklah sebuah:


Gate. Gerbang Dimensi.


“Ya. Ini benar-benar ‘gate’!"


Pria Gumpal itu memandang liquid silver-hitam di hadapannya dengan takjub.


“Apa aku harus mengganti pakaianku!?”


Lampu di kedua balok silver penyangga gate tiba-tiba menyala hijau terang, yang menandakan dia harus cepat memasukinya.


“Ahh ... Bagaimana ini,” gumamnya, kebingungan.


Namun, pada akhirnya dia berjalan memasuki gate begitu saja.


“Aku ...”


Di seberang gate, hanya terdapat hamparan kosong yang sangat aneh berwarna putih.


Rotzell tidak merasa seperti sedang melayang ataupun menginjak sesuatu.


Di mana ini, pikirnya, sama sekali tidak bisa berbicara. Kenapa aku tidak bisa membuka mulutku?!! Ini ... Hanya kesadaranku!!? Sial!!! Game ini sangat keren!!


“Hahahaha!”


Suara yang sangat indah—hanya dengan tawanya itu saja bisa menggetarkan kesadaranku, huh, demikian pikir Rotzell, tersenyum lebar dalam kesadarannya.


“Hahahaha!!"


Dia sama sekali tidak ketakutan dengan tawa yang sangat menggelegar di sekitarnya itu.


Ah?! Rotzell menyadari sesuatu. Sosok seperti ini biasanya peri pembimbing kalau di game mmorpg fantasi! Atau sesuatu sejenis itu.


Rotzell memikirkan sesuatu tentang kostumisasi avatar―dan―ia langsung muncul di hadapannya.


Ya!? Ini ...!!


Dia mengotak-atik panel kostumisasi di hadapannya―dan―tak lama tubuh gumpalnya langsung terbentuk.


Namun dia mengubah tubuhnya menjadi kurus, tampan dan sangat berwibawa.


Dan, desah puasnya, melihat panel kostumisasi di hadapannya yang telah dia ubah sepenuhnya, enter!


Lalu perlahan, tubuh idealnya terbentuk dari ujung kaki sampai ke ujung kepala―menjadikan dia terlihat ideal dan tampan.


Mata dan rambut birunya membuat Rotzell terlihat seperti tokoh utama dalam sebuah cerita fantasi pada umumnya.


“Jadi,” tanya sosok itu pada Rotzell, “Wahai Anak Diberkati Tuhan ... Kamu ingin memilih Faksi Terang atau Faksi Gelap?”


Tentu Faksi Gelap, jawab Rotzell langsung, dalam hatinya saja.


“Hahahaha!” Dia tertawa setelah mendengar jawaban langsungnya. “Baiklah. Kami akan langsung mengirimu ke Daratan Surga.”


Pada saat Dia berujar seperti itu, tubuh avatar Rotzell mengeluarkan cahaya putih terang yang menjulang tinggi ke atas.


Di tengah-tengah balutan cahaya putih transparan yang menyelimuti tubuhnya, Rotzell tersenyum antusias seraya menatap ke depan. Dia perlahan menampakkan dirinya tepat di hadapan pria itu, dan tersenyum tipis padanya.


Rotzell tersenyum lebar, membalas senyuman-Nya. Wajah tua dengan janggut putih-Nya, membuat Dia terlihat seperti Tuhan pada cerita-cerita mitologi kuno.


Tetapi Rotzell tahu bahwa konsep cerita gim ini tidak seperti itu.


Dan kemudian, Rotzell pun lenyap dari hadapan-Nya.


***


“Dan,” tanya Rina kepada seorang pria di sampingnya, “Apa lagi yang harus kita lakukan dengan dua balok silver itu?”


“Rin ... kita akan World In, bersiaplah.”


“'World In'?”


“Ya. Ayo. Ikuti aja aku. Kamu boleh jadi orang yang berbeda di Daratan Surga nanti.”


Tanpa berpikir panjang, Rina mengikuti Mamat melewati gate silver-hitam di hadapannya.


Setelah melalui tahap kostumasi bersama-Nya, avatar Rina dikirimkan ke Village.3 Daratan Surga―sama dengan tempat di mana si pria dikirimkan.


Walaupun wanita itu sudah kehilangan harapan untuk hidup, saat melihat pemandangan sebuah desah sederhana di hadapannya, dia sangat takjub.


Ini ... yang mereka selalu sebut sebagai Dunia Realitas Virtual, kan, demikian pikirnya, memperhatikan sekitarnya dengan saksama.


Kendatipun pemandangan di sekitarnya sangat gersang, Rina menikmati udara di sekitarnya serta tubuh barunya.


“Kenapa kita memilih Faksi Gelap?” tanya Rina ke pria di sampingnya.


Mamat tidak terdiam, tetapi dia sedang memeriksa panel inventori di hadapannya.


“Ya ... Aku hanya tidak ingin kehilangan teman,” jawab Mamat dengan acuh, lalu menatap Rina dengan senyuman, “Aku tidak ingin mereka salah memilih jalan di gim ini, maksudku.”


Mamat mempersiapkan perlengkapan pemulanya.


“Kalau bisa, aku ingin mengajak mereka semua World Out gim ini sebelum insiden itu terjadi.”


“Insiden?”


“Bukan apa-apa. Ayo kita ke bar sebentar. Aku akan menjelaskan secara singkat apa gim ini.”


Rina memperhatikan sekitarnya dengan saksama. Dan dengan satu kali lihat, dia bisa menyimpulkan mana NPC dan mana Player.


Selain ada nggak ada nama di bawah pointer diamon di atas kepala avatar kami, NPC di gim ini sama sekali nggak punya ekspresi, demikian pikir Rina. Dia memasuki sebuah bar dengan hanya ada satu pengunjung berpakaian aneh, sedang bersandar di sudut bar.


Mamat memilih duduk di hadapan bartander NPC―menjauhi pengunjung aneh tersebut. Lalu, dia menjelaskan semua hal tentang game yang telah mereka masuki:


...World Guild...


Pada dasarnya game yang dimainkan mereka adalah game virtual reality, tetapi dalam game ini, para player-nya harus memasuki Dunia Dimensi Gim tersebut.


"... Dalam arti kata lain, ini adalah Dimensi Dunia Lain."


Mamat memesan sesuatu ke bartander.


Game yang sangat bebas, sampai-sampai Dunia dalam Game tersebut bisa diatur oleh player-nya sendiri.


“Pada dasarnya," lanjutnya, mengerutkan kening, "salah satu Korporat di Dunia Nyata menciptakan gim ini untuk menurunkan pelanggaran HAM orang-orang kelas atas.”


Teknologi vs Sihir adalah dasar dari kekuatan dan konflik dalam gim. Layaknya Dunia Gim pada umumnya, dimana kekuatan tertinggi akan memimpin yang lemah.


“Yah ...” desah Mamat, menegak segelas kecil vodka, “Aku membutuhkan bantuanmu karena aku tahu kamu pasti―”


Mamat dan Rina serempak menoleh ke arah pintu masuk bar yang terbuka dengan suara keras dan jeritan seseorang.


“Ahhh ...” desah seorang pria, memasuki bar seraya menyeret seorang gadis, “Sungguh game yang sangat menyenangkan!”


Pria dengan mata dan rambut berwarna biru itu menatap langit-langit bar dengan tubuh berlumuran darah.


“Ini masih belum cukup,” decaknya kemudian, mengangkat kepala gadis yang sedari tadi dijambaknya ke hadapan wajahnya, “Aku akan menyiksa gadis ini sampai mengeluarkan ekspresi yang lebih nyata!”


Rina bangkit dari kursinya seraya melebarkan mata, sangat terkejut; dia mengerutkan keningnya, sangat marah.


Namun, pria di sampingnya menahannya―dia tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan wanita itu sekarang. Mamat pun tidak menduga mereka akan bertemu dengan orang itu secepat ini.


DD-Dia ... Jadi ... S-Selama ini, d-dia. Anak-anak itu mati ... Pina ... Tapi, Bajingan itu malah .... Rina tak kuasa menahan marahnya. Dia menggigit bibir bawahnya seraya mengempalkan tangannya dengan sangat erat.


Rina membaca nama Rotzell di atas kepala pria berambut hijau itu, dan dia langsung tahu siapa pemilik avatar itu sebenarnya.


“Bertarung di tahap ini adalah hal bodoh,” ujar Mamat, “Apalagi kita berada di Faksi Gelap.”


Karena dia sudah diselamatkan olehnya, Rina tidak bisa menolak permintaan maupun perintahnya. Rina hanya bisa terus menggigit bibirnya sendiri; sambil terus mengepalkan tangannya dengan kuat, sangat frustrasi.


Semua orang di dalam bar melihat player itu sedang menyiksa seorang gadis kecil, sampai dia mati.


Jangan sampai merubah masa depan, dan, pikir Mamat, menenangkan dirinya sendiri. “Gadis itu hanya NPC. Tenanglah, Rin.”


Sama seperti Pope, Mamat pun tidak ingin meresikokan hal tentang jalannya kehidupan.


Rina hanya bisa menyaksikan poligon-poligon jiwa berwarna ungu Gadis NPC itu melayang dan lenyap di udara.


“Ohh ... kau di sini ternyata,” tanya Rotzell, berseri-seri, “Aku setuju untuk bergabung dengan Sekte-mu.”


Pria itu tidak berbicara pada mereka berdua, dia berjalan mendekati seseorang di sudut bar.


”Tapi sebelum itu, aku ingin wanita itu!” pintanya ke Anggota Sekte Sesat, sambil menunjuk ke arah Rina.


Mamat maju selangkah; bersiap untuk bertempur.


Namun, “Kau di sini, Pahlawan Mamat,” si pria berjubah aneh di sudut bar maju ke depan dan berkata seperti itu.


Mamat bersiap, menggenggam Pedang Kecil Pemula di pinggang kirinya.


“Kamu tidak bisa mendapatkan wanita itu, Tuan,” kata si pria berjubah aneh, menggeleng seraya berjalan menuju pintu keluar bar, “Lebih baik kita pergi dari sini, Tuan. Untuk saat ini, pria di sampingnya itu terlalu berbahaya.”


Rotzell pun dengan enggan berdecak kesal, lalu mengikuti pria berpakaian aneh itu. Dia sama sekali tidak mengenali avatar wanita cantik di belakangnya itu adalah dagangannya sendiri.***