
Kurang lebih satu jam Emily dan Carry menunggu di restoran tersebut.Emily yang sudah gelisah sejak tadi hampir saja menangis karena ia tidak bisa melihat adik kandung nya secara langsung. Padahal hari ini adalah kesempatan emas bagi diri nya.
"Sabar, kita tunggu sebentar lagi.." ujar Carry menenangkan.
"Kita sudah menunggu selama ini Carr. Kenapa dia tidak muncul juga?" keluh Emily.
Namun tiba-tiba pandangan mereka tertuju pada sosok yang sangat mirip di foto yang di pegang Emily. Sosok pria tampan dengan balutan jas berwarna hitam dengan di kawal oleh beberapa orang.
"Dia adik ku Carr....!" lirih Emily sambil menahan tangis nya.
"Dia sangat mirip dengan mu Em,...apa kau ingin menemuinya?" tanya Carry.
"Bagaimana bisa aku sejahat itu Carr? dia sudah bahagia dengan keluarga baru nya. Lalu, apa yang harus aku jelaskan pada nya?" ucap Emily sedih.
"Tapi kau kakak kandungan nya Em...! dia berhak tahu siapa kau sebenarnya...!" Carry masih menyakinkan sahabat nya.
"Aku belum siap...! dia pasti menolak ku. Kau lihat sendiri Carry, jika nama belakang keluarga yang sekarang sangat berpengaruh."
Carry membuang nafas kasar, tidak ada cara lain selain menunggu sebuah keajaiban dari Tuhan.
"Dia begitu tampan. Persis ayah ku!" ucap Emily terus memandang pria yang sedang asyik mengobrol dengan beberapa orang itu.
Tak lama, Nathan hanya sebentar duduk di situ. Ketika Nathan keluar, Emily dan Carry juga bergegas keluar karena Emily sangat ingin melihat adik nya dari dekat. Setelah mobil Nathan menghilang dari pandangan, tiba-tiba mobil Edwin datang menjemput mereka.
Emily duduk di belakang bersama dengan Edwin sedangkan Carry duduk di depan bersama dengan Darren.
"Kau sudah melihat nya?" tanya Edwin.
"Sudah...!" jawab Emily pelan.
Darren mengantarkan Carry pulang terlebih dahulu. Namun sebelum pulang Edwin memerintahkan Carry untuk membeli beberapa makanan untuk keluarga nya di rumah.
Setelah mengantar Carry pulang, Darren juga mengantar Emiy dan sudah tentu jika Edwin juga ikut turun.
"Kirimkan mobil untuk ku..." perintah Edwin.
"Baiklah..." sahut Darren.
Edwin mengikuti langkah gontai yang sejak tadi tak berbicara itu. Emily juga tidak protes ketika Edwin ikut masuk kedalam apartemennya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Edwin.
"Tidak ada!!" jawab datar wanita itu.
Tidak bisa seperti ini, Edwin menarik tangan Emily lalu mengajak wanita itu pergi untk sekedar berkeliling menghibur hati nya.
"Sejak kapan mobil ini ada di sini?" tanya Emily.
"Entahlah..." jawab Edwin dengan mengangkat ke dua pundak nya.
Masih sama, hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulut Emily. Edwin kemudian mengajak wanita itu pergi ke cafe yang cukup ramai pengunjung. Maksud hati agar Emily tidak terlalu kepikiran tentang adik ya.
Wajah Emily seketika masam melihat Edwin di kelilingi oleh para wanita sexy-sexy itu. Beberapa kali Emily memutar bola mata nya jengah melihat kelakuan manusia-manusia mejijikan itu.
"Menyingkir...!!" gertak Edwin membuat beberapa wanita itu mundur ketakutan.
Emily menyunggingkan bibir nya, wanita tak habis pikir jika para bunglon-bunglon itu akan terdiam dan kabur ketika mendengar gertakan dari Edwin.
"Berhenti menertawakan ku!!" ucap Edwin kesal.
"Ternyata pesona mampu meluluhkan hati mereka." ujar Emily.
"Lalu bagaimana dengan kau?" tanya Edwin membuat Emily terdiam. Edwin menatap manik mata dengan bulu mata lentik itu, sorot mata Edwin serius hingga Emily membuang pandangan nya.
Edwin tersenyum tipis, lelaki itu kemudian memesan minuman dan makanan ringan. Menikmati suasana malam di pinggir jalan dengan alunan musik membuat Emily sangat betah duduk berlama-lama di sana.
Gurat wajah lelah jelas tampak dari wanita cantik itu, namun ia menolak ketika Edwin mengajaknya pulang.
"Apa yang harus aku lakukan Edw...?" tanya Emily.
"Ikuti kata hati mu. Maka aku akan membantu mu." ujar Edwin.
"Aku baru tahu sekarang. Ibu sakit sangat lama, mungkin salah satu penyebabnya masalah ini."
"Ayah tiri mu itu sangat kejam Em...! dia membunuh ayah kandung mu dengan meracunnya dan juga menjual adik mu." ujar Edwin tidak habis pikir dengan kejahatan Frans.
"Kau tahu Edw...om Frans sebenarnya sahabat baik dari ayah ku. Setelah ayah meninggal dia mengancam ibu agar mau menikah dengannya." tutur Emily semakin membuat Edwin geram.
Sedang asyik nya curhat, lagi-lagi ada dua wanita yang datang menghampiri Edwin. Satu wanita bahkan berani bersikap tidak sopan kepada Edwin. Tempat macam apa ini? di depan umum, tapi kenapa banyak orang yang tidak tahu malu.
"Ayo pulang...." ajak Edwin kesal.
Emily yang merasa kasihan hanya bisa mengikuti lelaki itu. Setelah mengantarkan Emily pulang, Edwin memilih pulang ke apartemen yang berada tak jauh dari gedung apartemen yang di tinggali oleh Emily.
Edwin berendam dengan air hangat untuk sekedar menghilangkan letih di tubuh nya. Lelaki itu sedang berpikir bagaimana cara nya agar Emily bisa bersatu kembali dengan adik nya.
"Jika aku melakukan hal itu. Sama saja aku menyatakan perang dengan keluarga Alexander. Bahkan nyawa Emily bisa dalam bahaya." bingung, Edwin sangat bingung sekarang. Persaingan antara keluarga Egalia dan Alexander sudah terjadi begitu lama. "Tidak, aku harus melakukannya. Resiko belakangan yang penting Emily bisa masuk ke dalam kehidupan adik nya." ujar Edwin. Kali ini tekad Edwin bulat, meski harus beradu senjata sekali pun Edwin sudah tidak peduli.
Malam berganti pagi, sesuai perintah Edwin jika Emily akan menyelesaikan kuliah akhir yang sempat tertunda. Hanya menyusun skripsi, karena ketika Emily memilih untuk berhenti kuliah saat ibu nya meninggal dan ia di paksa berhenti oleh Frans untuk bekerja.
"Dia teman ku, dosen yang akan membimbing mu." ujar Edwin memberi tahu. .
Emily dan James berkenalan, lelaki yang lebih tua dua tahun dari Edwin dan sudah memiliki satu istri dan dua anak. Edwin sangat berharap jika Emily bisa menyelesaikan semua nya dalam waktu singkat, karena hal itu juga akan mempercepat rencana nya.
"Ingat James, aku meminta dalam satu bulan Emily sudah harus menerima gelarnya." ujar Edwin membuat Emily melongo tidak percaya.
"Tergantung, jika Emily memiliki kepintaran yang tinggi, dia akan bisa menyelesaikan nya."
"Jika lebih dari satu bulan, maka pekerjaan mu yang akan menjadi taruhan nya." ancam Edwin membuat James menelan air liur nya kasar.
Sungguh kejam Edwin ini, biasa nya orang pada umum nya akan menyelesaikan skripsi dalam waktu enam bulan dan paling cepat dua bulan, lalu kenapa dia meminta dalam waktu satu bulan. Belum, Edwin belum memberi tahu Emily perihal rencana yang telah ia susun tadi malam.