Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
21.Siapa Kau?



Semalam Edwin tidak bisa tidur, lelaki itu terus menatap langit-langit kamar nya. Bayangan Emily terus menari di pelupuk mata lelaki itu. Begitu juga dengan Emily, wanita seakan sedang bermimpi sekarang. Emily tidak menyangka jika ia dan Edwin sedang menjalin hubungan.


"Astaga, bagaimana jika Carry tahu?" Emily mendengus kesal. "Ah,...aku akan mencari waktu yang tepat untuk memberitahu nya." gumam wanita itu.


Pukul satu malam Emily baru bisa memejamkan matanya, rasa nya enggan untuk bangun ketika kilauan cahaya masuk menembus dinding kaca. Emily bergegas mandi, menggunakan pakaian kerja lalu turun menuju loby.


"Selamat pagi,..." sapa Edwin membuat Emily kaget dengan kehadiran pria itu. Entah kenapa pagi ini Edwin sungguh sangat memikat, wajah tampan dengan sisiran rapi di tambah dengan setelan jas yang di jahit secara khusus.


Aroma menyegarkan keluar dari tubuh pria itu, hingga membuat Emily hampir saja mabuk kepayang. "Pa-pagi...." balas Emily gugup.


"Mari ku antar..." Edwin menjadi kikuk, lelaki itu kemudian membukakan pintu mobil untuk Emily. Tanpa berpikir panjang, Emily langsung masuk ke dalam mobil. Sudah pasti hanya ada ketegangan di dalam mobil, deru mesin mobil kalah jauh dengan bunyi detak jantung mereka.


"Jangan turun kan aku di depan loby." pinta Emily masih dengan suara tegang nya. "Turun kan aku di halte depan!" timpal nya kembali.


"Baiklah,..." jawab Edwin singkat. "Jangan terlalu di pikirkan. Lakukan dengan pelan-pelan, keluarga Alexander bukan keluarga sembarangan." Edwin menasehati wanita nya.


Mobil berhenti tepat di depan halte yang berjarak seratus meter dari gerbang perusahaan. "Terimakasih..." ucap Emily tulus. "Jangan lupa makan siang," Emily bingung bingung ingin mengucapkan apa karena ini adalah kali pertama ia memiliki kekasih.


Wajah cerah terpancar dari sosok lelaki tampan yang baru saja memasuki perusahaan, Edwin berjalan dengan mengumbar senyuman hingga membuat semua karyawan perempuan nya semakin terpesona. Bisik demi bisik terdengar jelas di telinga Edwin, namun lelaki itu acuh.


"Apa yang membuat mu senang?" tanya Darren yang sejak tadi menunggu di depan lift.


"Tidak ada!" sahut Edwin datar.


Tidak mungkin jika tidak ada apa-apa nya, Darren bahkan mendengar senandung kecil yang keluar dari mulut Edwin. "Masih tidak mengakui nya!" Darren menyinggung namun Edwin tetap saja diam tak memberitahu.


Berbeda dengan Emily, wanita itu sudah menyiapkan segelas susu kesukaan Nathan beserta kue pai sesuai permintaan. Sejenak memejamkan mata, merasakan hati yang berkecamuk dan juga bingung. Kembali ke meja nya, Emily membuang jauh semua pikiran kusut nya dan fokus pada pekerjaannya.


Menunggu kedatangan Nathan, tetap saja Emily tidak akan pernah fokus pada pekerjaan. Entah kenapa hati nya begitu gelisah, dengan memberanikan diri Emily menelpon Fredy. Benar saja,perasaan tidak enak adalah sebuah pertanda buruk. Emily bergegas pergi ke tempat yang sudah di beritahukan Fredy.


"Fredy, apa yang terjadi dengan Nathan?" tanya Emily panik ketika ia tiba di sebuah rumah sakit milik keluarga Alexander.


"Nathan mengalami kecelakaan mobil. Ada yang berusaha mencelakai nya." jawab Fredy lemas karena pria itu sejak malam tidak tidur.


Lemas sudah kaki Emily, ingin rasa nya ia merangkul sang adik namun apa daya, ada dinding pembatas di antara mereka. "Dan sekarang Nathan butuh darah, semua Dokter behkan keluarga nya sedang mencari golongan darah yang sama. Nathan mengalami pendarahan cukup parah." Fredy mengehela nafas dalam, lelaki itu sangat khawatir dengan keadaan Nathan sekarang. "Satu orang pun tidak memiliki golongan yang sama dengan Nathan termasuk tuan Jhon dan Istrinya. Emily, apa golongan darah mu?" tanya Fredy tak berharap.


"AB-....!" seru Emily berharap ia dan Nathan memiliki golongan darah yang sama. Sejenak Fredy terperangah tidak percaya dengan jawaban Emily.


"Kau jangan main-main Emily, Nathan benar-benar butuh darah sekarang." ucap Fredy penuh penekanan. Belum sempat Emily menjawab, beberapa Dokter yang menangani Nathan keluar bahkan ponsel tak lepas dari tangan mereka. Benar saja,semua Dokter kalang kabut karena mereka butuh darah untuk segera melakukan operasi. Kecelakaan yang di alami Nathan membuat gumpalan darah beku di otak nya.


Emily sebenarnya takut, namun rasa khawatir pada keadaan adik nya membuat wanita itu harus mengambil keputusan. "Ambil darah saya Dok...!" seru Emily membuat semua orang terkejut termasuk Grace dan Jhon Alexander.


"Siapa kau?" tanya Grace sambil mengusap air mata nya kasar.


"Dia Sekretaris pribadi Nathan nyonya," Jawab fredy.


"Apa golongan darah mu?" tanya Jhon dengan wajah penuh harap.


"AB-...." jawab Emily singkat.


Grace langsung meraih tangan Emily dan memohon pada wanita itu. "Tolong bantu anak ku." mohon Grace dengan tatapan memelas.


"Saya akan membatu tuan muda nyo nyonya." sahut Emily yang sudah tak tahan dengan air mata nya.


Emily langsung di bawa oleh Dokter untuk melakukan beberapa pemeriksaan. Setelah semua bersih,Emily langsung mendonorkan darah nya sebanyak lima kantong. Meski tubuhnya lemas, namun Emily sangat bahagia karena bisa membantu adik nya.


Dengan di papah oleh Fredy, Emily berjalan mendekati ruangan rawat Nathan. Ruang rawat pribadi yang hanya keluarga Alexander saja bisa masuk ke daerah itu. "Terimakasih...kau telah menolong anak ku.." ucap Grace tulus. Wanita paruh baya yang kelihatan masih awet muda itu seperti mendapatkan secercah harapan.


"Dia anak mu dan dia juga adik ku. Bagaimana bisa aku tidak menolong nya?" batin Emily berkata-kata. "Semoga tuan muda cepat sehat dan pulih..." doa Emily dan di aminkan oleh semua orang.


"Lebih baik kau pulang saja. Untuk beberapa hari tidak usah masuk bekerja." ujar Jhon Alexander memberi perintah pada Emily.


"Baik tuan..." jawab Emily sopan.


Di antar supir,Emily kembali ke apartemen nya. Wanita itu hanya merebahkan diri karena tubuh nya masih sangat lemas. Tidak lupa memberi kabar pada Edwin agar lelaki itu tidak merasa khawatir. Bentar saja, Edwin langsung datang ke apartemen Emily. Dengan begitu mudah nya ia masuk ke dalam apartemen.


Edwin memeluk Emily, wajah wanita itu pucat pasi juga kedinginan. Edwin langsung menghubungi Dokter pribadi nya ke apartemen. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk Dokter Rudi datang ke tempat itu.


"Bagaimana keadaan nya?" tanya Edwin.


"Apa pacar mu mendonorkan darah nya?" tanya Dokter Rudi.


"Ya,...ada apa memang nya?" tanya Edwin bingung.


"Hanya perlu istirahat dan makan makanan yang bergizi. Dia akan segera pulih.Berikan Vitamin nya nanti." ujar Dokter Rudi kemudian ia pamit.


Edwin memandang lekat wajah pucat Emily, menyingkir anak rambut yang menutup wajah wanita itu.Entah kenapa hati Edwin sangat sakit melihat wanita nya tak berdaya seperti ini. "Jika kau sakit,siapa yang akan merawat mu hmmm? kau wanita kuat,..." ucap Edwin membuang nafas kasar nya. Membenarkan selimut Emily lalu lelaki itu pergi ke dapur untuk memasak. Meski dia seorang laki-laki, Namun Edwin sangat pandai bermain di dapur.