
Wanita itu, yang menggunakan gaun putih dengan pundak terlihat bahkan warna kulit nya nyaris sama dengan warna gaun nya. Ekor gaun yang panjang, di biarkan menyapu lantai yang beralas karpet merah itu. Rambut nya panjang, di biarkan tergerai dengan sedikit ikal. Riasan tipis, karena Emily tidak menyukai riasan yang tebal.
Tangan kiri dan tangan kanan nya, di gandeng dua orang lelaki yang sekarang sedang menahan kesedihan yang mendalam. Nathan, merasa sedih ketika pria itu harus mengantar kakak nya ke altar pernikahan. Jhon, pria itu merasa sangat-sangat jauh lebih sedih karena pria yang tidak bisa memiliki keturunan itu di beri kesempatan oleh Tuhan untuk mengantar anak perempuan orang lain untuk menuju altar pernikahan.
Di ujung sana, seorang pria yang dengan gagah nya sedang menunggu calon mempelai wanita nya. Mata Edwin tak berkedip, menyaksikan pemandangan indah dari calon istri nya. Bibir nya tersenyum lebar, rasa nya jantung Edwin semakin terasa tidak beraturan.
Grace, wanita itu tidak bisa menahan tangis haru nya mana kala melihat suami nya yang dengan gagah nya mengenakan setelah Tuxido berwarna putih menjadi pengantar pengantin anak yatim piatu itu.
Sedangkan Theo, pria itu juga merasa sedih sekali gus iri. Bagaimana tidak, Impian seorang ayah yang paling sempurna adalah mengantar anak-anak mereka ke pernikahan. Dua anak kecil, melempar kelopak bunga mawar merah ke udara, menambah indah suasana pernikahan ini.
Percayalah, Jhon dengan gagah nya berebut dengan Nathan untuk meraih tangan Emily untuk di serahkan kepada Edwin. Semua orang tertawa renyah, melihat pergelutan lucu antara ayah dan anak itu. "Jaga dan sayangi kakak ku selayaknya kau menyayangi diri mu sendiri." kata Nathan yang bingung ingin mengucapkan apa.
"Kau tenang saja wahai tuan muda Alexander, tanpa kau minta aku akan melakukan nya...!" Edwin berkata dengan sangat tegas.
Nathan dan Jhon kembali ke kursi mereka. Carry duduk bersama Darren dan Fredy, rasa nya wanita itu sedang di perebutkan oleh dua laki-laki.
Kini, Edwin dan Emily saling menggenggam tangan, mengikuti arahan dari pendeta yang akan menikahkan mereka. Janji suci yang terucap sangat lantang itu, membuat tubuh Edwin bergetar gugup. Dia pernah menikah, tapi rasa nya tidak seperti ini. Debaran jantung yang berpacu sangat kencang, begitu juga dengan Emily yang merasa sangat gugup.
Edwin mengeluarkan kotak cincin, menyematkan di jari manis wanita yang baru saja resmi menjadi istri nya itu. Mencium kening dalam-dalam, penuh cinta juga kasih sayang.
Di saksikan hamparan laut luas, senja berwarna jingga yang menghiasi cakrawala. Hiasan kain putih bertabur bunga-bunga, di tambah lagi burung-burung berterbangan di atas laut, bunyi debur ombak seakan bernyanyi syahdu mengiringi pernikahan Edwin dan Emily.
"Terimakasih telah mewujudkan impian pernikahan ku..." bisik Emily dengan mata berkaca-kaca.
"Apa pun untuk mu, bee. Hari ini aku sangat bahagia sekali, pada akhirnya aku akan memiliki sebuah keluarga kecil juga." Edwin berkata tanpa melepas genggaman tangan nya.
Kali ini, moment pernikahan Edwin dan Emily benar-benar menjadi sorotan. Bersatu nya keluarga Alexander dan Keluarga Egalia membuat beberapa orang kalang kabut. Pesaing bisnis mulai menciutkan nyali mereka. Rosalinda hanya tersenyum sinis ketika menonton siaran langsung acara pernikahan tersebut. Sedangkan Nadia mengamuk di kamar nya, wanita itu meski memiliki rencana untuk mendekati Nathan, namun cinta nya pada Edwin terlalu besar.
Lebih heboh lagi, semua orang mulai mengorek latar belakang Emily yang ternyata adalah mantan karyawan Edwin sendiri. Banyak yang menduga jika Emily merayu Edwin selama ini, berita dan komentar di jagat maya sudah di penuh dengan wajah Emily dan Edwin. Bukan tanpa alasan, ada seseorang di balik berita negatif yang tersebar, orang itu telah membayar banyak orang untuk menjatuhkan Emily.
"Semua orang sedang menggunjing Emily, ku rasa ada yang sengaja menyiram api tentang pernikahan mu ini." bisik Darren agar Emily tidak mendengar nya.
"Cari orang nya dan tutup semua berita!" perintah Edwin.
Carry dan Grace, berusaha agar Emily tidak membuka ponsel nya sebelum Edwin dan Nathan berhasil menutup semua berita.
"Bagaimana, apa kita perlu melakukan kerja sama?" tawar Jhon pada Theo yang sedikit pendiam malam ini.
"Kau sudah tua, tidak bisakah kau duduk diam di rumah seperti aku ini?" Theo berkata dengan ketus.
Jhon tertawa renyah, "Theo,...sebaik nya kau menikah lagi. Bagaimana jika kau menikah dengan Rosalinda agar otak wanita itu waras sedikit...!"
Theo melirik tajam, "Lebih baik kau saja. Tapi serahkan istri mu pada ku..!" balas Theo membuat Jhon menatap tajam ke arah Theo.
"Langkahi dulu mayat ku,!" ucap nya kesal.
"Beberapa waktu ini ku rasa wanita itu tidak membuat ulah. Apa yang sedang dia rencanakan kira-kira?" tanya Theo penasaran. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mengambil gambar ketika Jhon dan Theo saling mengobrol dan tertawa. Foto tersebut di unggah ke jagat maya lalu kembali membuat heboh semua orang. Netizen pikir, keluarga Alexander hanya menghadiri acara pernikahan keluarga Egalia namun ternyata mereka semua salah tafsir.
Masing-masing Asisten Theo dan Jhon memberitahu mereka tentang berita heboh yang baru terjadi lima menit itu. "Bagaimana Theo...?" tanya Jhon merasa tidak enak hati.
"Biarkan mereka berasumsi. Kita sudah tua dan sudah selayaknya kita memulai sesuatu yang baik agar bisa di contoh dengan anak-anak kita." Kata Theo dengan bijak nya.
Meski pun Jhon dan Theo tidak mengatakan nya secara langsung, tapi ke dua Asisten itu paham apa yang harus mereka lakukan. Suasana kembali meriah, pesta pernikahan ini hanya di hadiri oleh tamu berkelas saja. Undangan yang di kirimkan ke Nadia adalah undangan palsu hingga membuat Nadia geram. Wanita itu sebenarnya sudah membuat rencana untuk mengacau di acara pernikahan Edwin dan Emily, namun semua nya gagal total karena undangan yang di kirim pada Nadia adalah undangan yang semua tanggal, jam dan tempat nya pun berbeda dengan undangan yang asli.
"Brengsek....sialan kau Edwin, kau sendiri yang mau bermain dengan ku. Aku akan membalas semua pembinaan mu ini...!" wanita itu berteriak histeris di kamar nya yang kedap suara itu.
Pesta masih berlanjut, semua tamu sangat betah menghadiri acara pernikahan Edwin dan Emily. "Kak, malam ini kakak tidur bersama ku saja." ujar Nathan langsung mendapatkan lirikan tajam dari kakak ipar nya itu.
"Jangan coba-coba mengganggu malam pertama ku kalau tidak ingin ku hilangkan masa depan mu itu." ujar Edwin sambil menunjuk arah bawah.
Nathan langsung menelan saliva nya, bercanda dengan Edwin sama saja mengatar nyawa. "Sebaik nya kita tidur bertiga saja....!" ujar Darren lalu menepuk pundak Fredy.
Emily dan Carry hanya tertawa, ke empat lelaki ini sedang membahas masa depan mereka hingga membuat Emily dan Carry berpindah tempat duduk karena merasa risih. Grace tidak bersama mereka karena wanita itu sedang mengobrol bersama teman-teman nya yang lain. Pernikahan Edwin dan Emily telah menyatukan dua keluarga yang saling membenci, meski masih berjarak, tapi ini adalah awal yang baik.