Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
08.Tidak Usah



Pagi sekali, Edwin sudah menjemput Emily. Pria itu sengaja menunggu di halaman apartemen agar ia bisa melihat Emily secara langsung. Emily yang baru saja keluar langsung kaget melihat keberadaan Edwin.


Emily yang menyadari kehadiran Edwin langsung berjalan seperti seorang penguntit menghindari Edwin. Edwin yang melihat tingkah Emily hanya bisa menahan tawa nya.


"Jika kau tidak masuk ke dalam mobil, akan ku pecat kau!" ancam Edwin dengan suara berat nya.


Lagi-lagi, Edwin mengeluarkan ancaman hingga membuat Emily menarik nafas dalam dan mau tidak mau Emily masuk ke dalam mobil pria itu. Hanya butuh waktu lima menit untuk mereka tiba di kantor, Emily meminta agar Edwin menurunkan nya sedikit jauh dari kawasan kantor. Sebenarnya Edwin menolak, namun setelah beradu debat dengan Emily lelaki itu akhirnya mengalah.


Dengan santai nya Emily berjalan, masuk ke dalam kantor. Suasana masih sepi karena ini baru pukul setengah enam pagi. Baru saja Emily memasuki lantai delapan, wanita itu sudah di tarik oleh Edwin untuk masuk ke dalam ruangan nya.


"Makanlah...." perintah Edwin. "Kamu sejak kemarin belum makan.Cepat makan!"


Emily membuang nafas kasar, "Tolong jangan terlalu peduli dengan ku!" pinta Emily membuat telinga Edwin gatal.


"Kita bahas itu nanti, sebaiknya kau cepat makan!"


"Apa ini? kenapa dia semakin membuat ku jatuh cinta? ada apa dengan hati ini? semakin aku mundur, tapi kenapa dia semakin maju seakan menggoyahkan hati ku!" batin Emily.


Edwin melentikan ke dua jari nya untuk membuyarkan lamunan wanita. "Kenapa kau melamun? memikirkan adik mu?" tanya Edwin penasaran.


"Tidak....!" jawab Emily singkat lalu wanita itu mulai memakan makanan nya dalam diam.


Tak berapa lama Darren masuk dengan membawa beberapa lembar kertas sesuai permintaan Edwin. Lelaki itu mendengus kesal ketika melihat Emily lah yang menjadi alasan Edwin datang ke kantor sepagi ini.


Edwin tiba-tiba meletakan satu lembar foto di meja tepat di depan Emily hingga membuat wanita itu mengernyitkan dahi nya. "Siapa?" tanya Singkat Emily.


"Adik mu. Nama nya Nathan alexander." jawab Edwin.


Dengan mata berkaca-kaca Emily menatap foto itu, Nathan sangat mirip dengan almarhum ayah kandung nya yang sudah meninggal karena sengaja di racun oleh Frans. Sosok Nathan yang terlihat sangat tampan dengan balutan jas nya. Emily dapat menebak jika kehidupan adik nya itu baik-baik saja sekarang.


"Bisa aku menyimpan foto ini?" lirih Emily.


"Simpan saja, kau berhak atas itu." gumam Edwin.


Selera makan Emily sudah hilang, tanpa mengucapkan satu patah kata Emily keluar dari ruangan Edwin. Wanita itu pergi ke tempat di mana ia biasa menyendiri atau sekedar beristirahat bersama Carry.


"Kau akan membuat masalah dengan keluarga Alexander? ku harap kau tidak ikut campur masalah Emily terlalu jauh." gumam Darren.


"Lalu bagaimana Emily akan melawan mereka dan menyakinkan jika dia adalah kakak kandung dari bocah ingusan itu?"


"Bukankah keluarga Egalia dan Alexander sudah bermusuhan turun temurun? Sudahlah Edw, biarkan dia menyelesaikan masalah nya sediri."


"Apa kau takut Darr?" tanya Edwin dengan lirikan tajam nya.


"Tidak, aku hanya ingin melihat mu hidup damai saja."


"Jika ingin hidup damai. Maka pergilah ke akhirat...! di sana saja belum tentu kita hidup dengan damai." seloroh Edwin membuat Darren tertawa terbahak-bahak.


"Kau ini, kalau bicara suka benar Edw!!" ujar Darren menahan tawa nya.


Di lain tempat, Carry merasa kesal karena sejak tadi ia mencari Emily. Namun niat nya untuk merajuk dengan Emily ia urungkan ketika melihat sahabat nya itu sedang bersedih.


"Em,...kau kenapa?" tanya Carry.


Emily memeluk Carry lalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Wanita itu bingung akan memulai dari mana? jauh dalam hati ingin sekali melihat Nathan secara langsung.


"Bagaimana jika sore ini kita pergi ke restoran Alexander?" ujar Carry.


"Jangan bodoh Carry. Tampang seperti kita tidak akan bisa masuk ke dalam sana...." tutur Emily.


"Pakai ini....ubah penampilan kalian lalu pergilah." ujar Edwin yang tiba-tiba muncul di belakang mereka. Emily dan Carry terlonjak kaget.


"Tidak usah...." tolak Emily.


"Ambil atau kau......." belum sempat Edwin menyelesaikan ucapan nya, Emily sudah mengambil black card dari tangan Edwin. "Anggap saja itu hutang mu...." timpal Edwin.


"Aku kembalikan...!" ucap Emily kesal sambil meletakkan card tersebut di dada bidang Edwin.


"Aku bercanda! kau ini, terlalu serius!" cibir Edwin. "pergi lah...." perintah Edwin kembali.


"Kami akan pergi sore nanti, sekarang jam kerja." tolak Emily lagi.


"Ini perusahaan ku, aku bos nya. Jika ku perintahkan pergi cepat pergi..." ucap Edwin dengan nada tinggi nya. Emily dan Carry yang ketakutan langsung berlari secepat kilat.


Edwin yang melihat kelakuan mereka hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal. "Seperti kau sangat suka mengerjai perempuan berdua itu...!" gumam Darren.


"Entahlah, terutama teman nya itu. Aku suka melihat wajah ketakutan nya." ujar Edwin masih menahan tawa nya.


"Sejak kau mengenal Emily


Sikap mu berubah Edw, kau lebih banyak tersenyum dan tertawa sekarang." ujar Darren.


"Benarkah? apa aku seperti itu?" tanya Edwin.


"Lupakan masa lalu mu Edw. Tidak semua wanita sama seperti mantan istri mu." ucap Darren sambil menepuk pundak sahabat nya kemudian pergi meninggalkan Edwin.


Edwin memilih duduk di tempat Emily yang biasa nya duduk. Pandangan mata nya lurus kedepan, pria itu teringat kembali ketika Catrina berkhianat pada nya. Laki-laki seperti dia bisa di bohongi mentah-mentah oleh Catrina.


"Untuk sekarang aku membiarkan mu hidup di atas tawa mu. Tapi tunggu saja tanggal main nya!" ucap Edwin geram.


Beralih ke Emily dan Carry, ke dua wanita itu membeli satu setel pakaian bagus agar mereka bisa masuk ke dalam restoran tersebut. Edwin lagi-lagi tersenyum garing ketika melihat notifikasi pengeluaran yang di belanjakan oleh Emily.


"Tidak bisakah mereka membeli yang lebih mahal. Dasar juga!" ucap Edwin lucu.


Cantik, satu kata untuk Emily dan Carry. Edwin mendapatkan foto ke dua nya dari seseorang yang sengaja ia kirim untuk menjaga Emily dan Carry.


Ke dua wanita itu sudah berada di dalam restoran, menurut penuturan Edwin, jika Nathan hampir setiap hari pergi ke restoran tersebut.


"Kau kenapa Em?" tanya Carry.


"Aku sangat gugup Carr..." ucap Emily dengan tangan berkeringat.


"Sabar, bersikap biasa saja." ujar Carry memberi semangat.


Tiba-tiba Ponsel Emily berbunyi, sebuah pesan perintah untuk Emily memesan banyak makanan agar mereka bisa berada lebih lama di sana. Emily yang sudah tidak sabaran langsung memesan banyak makanan dan memfoto nya lalu mengirimkan nya pada Edwin sebagai tanda bukti.


"*kirimkan aku gambar mu!" pesan Edwin.


"Tidak mau!" tolak Emily.


"Kau mau aku membuat keributan di sana!" ancam Edwin*.


Emily mendengus kesal lalu meminta pada Carry untuk mengambil gambar nya secantik mungkin. Setelah mendapatkan hasil yang bagus, Emily langsung mengirimkan nya pada Edwin.


Edwin hanya tersenyum sambil menatap layar ponsel nya, kegilaan macam apa yang di lakukan sang duda ini? kenapa dia sangat suka mengganggu Emily.