
Seharian Edwin dan Emily hanya menghabiskan waktu di kamar. Merencanakan jika mereka akan pergi honeymoon ke mana. Sebagai seorang suami yang baik, Edwin akan mengikuti permintaan sang istri.
"Bee,...aku ingin kita secepatnya memiliki anak." kata Edwin membuat Emily menjadi salah tingkah.
"I-iya,...seharusnya memang begitu!" ujar Emily bingung ingin berkata apa.
"Pergi mandi bee,...aku ingin mengajak mu menyusuri pantai ini. Senja di sini sangat indah." kata Edwin dengan suara lembut nya.
Emily bergegas pergi mandi, wanita itu masih takut jika Edwin akan mengintip nya di saat dia sedang mandi.
Di sini lah mereka, di tepi pantai sambil duduk di atas pasir putih lebih menunggu awan yang perlahan berwarna jingga. "Bee,...apa kau ingin minum air kelapa?" tanya Edwin.
"Boleh,...!" sahut Emily tanpa berpikir panjang.
Pria itu kemudian pergi, untuk mengambil buah kepala yang sudah di persiapkan sebelum nya. Meski di setiap sudut hotel selalu ada pelayan, namun Edwin ingin melakukan nya seorang diri.
"Dasar perempuan jalang!" suara perempuan itu mengagetkan Emily membuat wanita itu langsung berdiri. "Apa kau pikir kau sudah menang jika menikah dengan Edwin?"
"Apa maksud mu?" tanya Emily bingung.
Nadia tersenyum sinis, "Edwin itu hanya akan menjadi milik ku seorang. Aku sudah bersusah payah menyingkirkan Catrina dulu tapi sekarang kau yang malah menikmati hasil nya. Kau pikir aku akan diam saja?"
"Berhenti mengganggu ku!" seru Emily kemudian wanita itu hendak melangkah pergi. Nadia yang sudah sangat geram dengan Emily langsung menjambak rambut wanita itu hingga membuat Emily metintih kesakitan. Edwin yang melihat hal itu langsung mengejar ke arah istri nya. Dengan kasar Edwin langsung mendorong tubuh Nadia hingga wanita itu jatuh tersungkur.
"Bee,..apa kau baik-baik saja?" tanya Edwin sambil mengusap kepala istrinya.
"Perempuan gila ini tiba-tiba menyerang ku!" ujar Emily.
"Edwin,...kau tahu selama ini aku terus menunggu mu. Lalu kenapa kau malah menikah dengan perempuan jalan ini?" Nadia bertanya dengan wajah kesal.
"Karena laki-laki sejati mana yang harus dia jadikan pendamping hidup. Seburuk-buruk nya sikap seorang lelaki, dia akan tetap mencari wanita terbaik untuk di jadi kan ibu dari anak-anak nya. Untuk sore ini, kau akan membayar mahal atas apa yang kau lakukan pada istri ku." ujar Edwin dengan sorot mata tajam bahkan ancaman nya terdengar begitu menyeramkan di telinga Nadia.
Edwin kemudian mengajak istri nya kembali ke kamar, meminta petus hotel untuk mengusir wanita gila itu. Di kamar, Emily langsung merapikan rambutnya yang kusut akibat di jambak oleh Nadia.
"Maafkan aku bee,...aku benar-benar tidak tahu jika wanita itu akan menyusul hingga ke tempat ini." Edwin berkata dengan penuh penyesalan.
"Semua bukan salah mu. Perempuan gila itu terlalu terobsesi pada mu."
Sungguh sangat romantis, Edwin menyuapi istri nya makan. Membuat Emily tersipu malu dengan perlakuan sang suami.
Selesai makan malam, pasangan pengantin baru itu seperti di landa dilema. Emily gelisah memikirkan tidur nya malam ini sedangkan Edwin bingung untuk meminta hak nya sebagai suami. Ke dua nya sama terdiam di atas tempat tidur, memainkan ponsel sambil berbalas chat atau sekedar melihat foto pernikahan mereka.
Malam ini Emily nampak cantik di mata Edwin, membuat sesuatu yang berada di bawah sana menegang. Edwin bingung sekarang, meski sudah pernah menikah, tapi pria itu belum pernah merasakan malam pertama atau malam-malam indah lain nya.
"Bee.....!" panggil Edwin.
"Iya sayang,...!" sahut Emily,..
"Bee,....mati kan ponsel mu." perintah Edwin sedangkan pria itu juga mematikan ponsel nya.
"Kenapa?" tanya Emily singkat.
"Malam ini aku tidak ingin di ganggu oleh siapa pun termasuk suara dari ponsel!" ujar pria itu membuat Emily langsung menelan ludah nya kasar.
Tak mau menunggu lebih lama lagi, Edwin mengambil ponsel milik istrinya kemudian mematikan nya. Laki-laki itu tiba-tiba saja menarik Emily ke dalam pelukan nya membuat debar jantung wanita itu tidak beraturan.
Edwin mengangkat dagu istri nya lalu memandang ke dua netra mata polos itu dengan penuh cinta. Tanpa sadar, bibir pria itu sudah menempel di bibir Emily. Memagut lembut namun tetap saja Emily masih kaku di buat nya. Ciuman hangat yang sangat memabukan, Edwin dan Emily saling menikmati ciuman itu.
Tangan nakal mulai berjelelajah di mana-mana. Edwin telah di kuasai nafsu. Lenguhan kecil yang keluar dari bibir merah jambu itu semakin memancing hasrat Edwin yang meminta lebih.
"Bee,...aku sudah menjadi suami mu. Bolehkah aku melakukan nya? aku janji, aku akan melakukan nya dengan sangat lembut." sorot mata itu penuh harap agar Emily tidak mengatakan sebuah penolakan.
"Berdosa hukum nya bagi seorang istri menolak permintaan suami nya." kata Emily sedikit meracau. Bahkan wanita itu tidak tahu apa yang dia katakan barusan.
Edwin menganggap kata-kata itu adalah sebuah persetujuan, pria itu kembali meraup bibir istri nya. Tangan nya mulai nakal melepas kancing piyama milik Emily, hingga tanpa sadar Edwin sudah melihat dua bukit indah yang menyejukkan mata nya. Pria itu mematikan lampu menggunakan remot, tinggal lampu temaram meneriangi ruangan itu. Edwin menidurkan istri nya tanpa melepas pagutan mereka. Lagi-lagi, tanpa mereka sadari kini mereka sudah tidak menggunakan sehelai benang pun.
Edwin mulai rakus, pria itu mulai mencumbu di bagian tubuh istri nya yang sensitif. Membuat tanda kepemilikan di leher hingga dada. Emily, wanita itu sudah mabuk kepayang dengan permainan suami nya, setiap lenguhan kecil itu mampu membuat nafsu Edwin semakin meningkat. Mengelitik geli di bagian tubuh yang membuat Emily seperti nya meminta lebih dari permainan suami nya.
"Kata orang, ini akan sedikit sakit. Percaya lah bee,...aku akan melakukan nya dengan sangat lembut." sekali lagi, Edwin mengatakan nya dan Emily hanya mengangguk.
Satu dua hentakan apa yang sedang di masukan Edwin itu tidak juga kunjung masuk hingga membuat Edwin mulai frustasi. Istrinya ini masih suci, belum terbuka segel nya. Tiga empat hentak tak kunjung masuk juga, membuat Emily menjambak rambut suami nya. Di hentikan ke lima, kepemilikan Edwin akhir nya masuk juga ke dalam sangkar Emily. Wanita itu merintih kesakitan, Edwin langsung mencumbu bibir istri nya lalu berdiam sejenak untuk beradaptasi dengan rumah masa depan nya. Setelah istri nya tenang, Edwin mulai menaik turunkan gaya nya, lagi-lagi suara kenikmatan keluar dari mulut ke dua nya, untuk saja kamar ini kedap suara, di tambah lagi bunyi hempasan ombak yang berirama.
Malam ini adalah malam yang panjang untuk ke dua nya, membelah malam pertama dengan penuh cinta. Pasangan pengantin baru itu selalu melakukan pelepasan bersama, membuat Edwin kecanduan ingin melakukan nya lagi-lagi dan lagi. Pada akhirnya, malam ini menjadi milik mereka, tidak ada yang mengganggu sekali pun itu nyamuk. Pasangan suami itu masih menikmati malam pertama mereka.