
Hari yang menyenangkan bagi Emily, karena hari ini diri nya akan pergi berbelanja perlengkapan bayi di temani Carry dan Grace. Tidak lupa Edwin yang selalu ada di samping istrinya. Meskipun pernah menikah, ini adalah pertama kali nya bagi Edwin pergi berbelanja perlengkapan bayi.
Apa yang di lihat bagus dan lucu, tidak peduli harga dan sebagainya, perlengkapan bayi langsung di beli. Begitu juga dengan Grace, wanita ini sangat merindukan masa-masa seperti ini. Meski pun tidak pernah merasakan sakit nya melahirkan, namun diri nya pernah pergi berbelanja perlengkapan bayi seperti ini.
Edwin tidak merasa malu berada di antara tiga wanita, bahkan wajah lelaki itu terlihat biasa saja ketika ada kamera yang menyorot ke arah diri nya. Namun, Entah kenapa Emily merasa risih dengan banyak nya kamera hingga membuat Edwin mau tidak mau menyuruh anak buah untuk mengusir para pencari berita.
"Kau bisa lanjutkan memilih bee. Mereka sudah pergi...!" ujar Edwin.
"Terimakasih sayang ku...!" ucap Emily kembali memancarkan senyum khas nya.
"Anak mu seperti tidak suka di sorot Emily!" gumam Carry di benarkan oleh Grace.
"Itu sangat bagus, karena tidak seharusnya mereka meliput ke ranah pribadi seperti ini." sahut Grace.
Mereka melanjutkan acara belanja, pada akhirnya Emily yang kelelahan membuat Edwin mengajak istrinya pulang terlebih dahulu. Sebagai suami yang baik juga Edwin memijat kaki istrinya yang terlihat sedikit bengkak. Meskipun Emily sudah melarang nya untuk memijat kaki nya, namun tetap saja Edwin tidak mendengarkan nya.
Setibanya di rumah, Emily meminta pada suami nya untuk menghubungi adik nya karena Emily sangat merindukan Nathan.
Seperti biasa, Nathan akan datang berkunjung dengan membawa banyak jenis kue yang di sukai oleh kakak nya. Terkadang, melihat Emily bermanjaan pada Nathan membuat Edwin cemburu. Seperti sekarang, Emily malah memilih adik nya untuk menyandar bahu nya dari pada bersandar di bahu seuami nya. Meskipun begitu Edwin tidak berani protes karena semenjak hamil Emily sangat sensitif sekali.
"Kapan kau akan membongkar kedok Nadia?" tanya Nathan yang sudah tidak tahan.
"Tunggulah sebentar lagi, Mrs. Rosalinda belum berulah." jawab Edwin dengan santai nya.
"Aku sudah muak melihat nya!" seru Nathan.
"Kenapa kau tidak menjadikan sebagai istri saja?" canda Edwin membuat Nathan berlagak seperti orang yang hendak muntah.
"Kakak ku sayang, apa kau ingin memiliki adik ipar seperti itu?" tanya Nathan langsung di tolak mentah-mentah oleh Emily.
"Kalau masih ada perempuan yang baik-baik kenapa harus memilih perempuan jahat seperti itu?" ujar Emily.
"Daddy dan Mommy sudah bicara baik-baik pada Mrs. Rosalinda, namun hal itu semakin membuat nya marah dan cemburu. Aku heran sama dia, betah apa yang dia tunggu hingga dia tidak menikah seumur hidup nya?" Nathan bingung.
"Itu karena dia masih mencintai Daddy mu Nathan."Theo menyahut, "Rosalinda sangat senang ketika mengetahui jika Grace tidak bisa memiliki anak. Tapi, dia tidak bisa merebut Jhon dari Grace. Kekuatan cinta itu nyata dan ada, meskipun ke dua orang mu tidak memiliki anak kandung, tapi selama ini mereka saling melengkapi." tutur Theo yang sangat paham dengan perangai Jhon.
"Kenapa Daddy tidak menikah dia saja?" tanya Edwin asal buka suara.
Theo langsung melirik anak nya tajam, "Mommy mu jauh lebih cantik dari dia. Laki-laki yang hebat itu adalah laki-laki yang mampu bertahan dengan satu wanita hingga akhir." kata Theo dengan bijak nya.
"Wuuuuah, Daddy sangat romantis dan setia." puji Emily yang sangat kagum akan kesetiaan mertua nya ini. "Aku ingin memiliki suami seperti daddy." kata Emily.
"Aku suami mu bee!" Edwin memperingati.
"Ya, aku tahu itu. Bercanda saja tidak boleh!" Ucap Emily kesal.
"Kau salah mendapatkan suami kak. Suami mu ini memang sempurna dari segala hal tapi tidak bisa di ajak bercanda!" sahut Nathan semakin membuat Edwin kesal.
Tak berapa lama Carry datang bersama dengan Grace. Tidak lupa ada Darren di sana yang menjemput mereka tadi. Mereka datang dengan membawa banyak barang yang entah apa kegunaan nya, Emily bingung sendiri melihat nya.
"Em, aku pulang dulu ya. Sudah sore!" pamit Carry dengan wajah kusut nya.
"Pulang sama siapa?" tanya Emily.
"Biarkan dia pulang bersama Darren bee!" sahur Edwin yang suka sekali menjodohkan mereka berdua.
"Owh, cepatlah. Jaga sahabat ku ini dengan baik!" pesan Emily.
Darren kemudian mengantar Carry pulang, cukup jauh rumah Carry. Butuh waktu setengah jam perjalanan. Suasana hening, tidak ada obrolan meskipun mereka sudah biasa berada di dalam mobil berdua.
"Apa kau sudah punya pacar?" tanya Darren mulai penasaran.
"Tidak ada waktu memikirkan laki-laki." jawab Carry datar.
"Tipe seperti apa yang masuk dalam kriteria mu?" tanya Darren kembali.
"Yang tulus mencintai ku dan menerima ku aoa ada nya. Sebenarnya aku iri melihat Emily yang bisa menikah dengan Edwin. Bahkan, Edwin memperlakukan Emily layaknya ratu dalam hidup nya." ujar Carry berterus terang.
"Seharusnya kau juga bisa mendapatkan seperti itu!" seru Darren.
"Aku tidak berani bermimpi seperti Emily. Dia memang menyukai Edwin sudah lama sekali." sahut Carry membuat Darren mengerutkan kening nya dalam.
"Kenapa kau tidak berani bermimpi?" laki-laki itu kembali mengeluarkan pertanyaan.
"Karena aku sadar jika aku hanya seorang upik abu!" jawab wanita itu membuat Darren tertawa.
"Kau ini lucu sekali. Memang nya kalau upik abu tidak boleh bermimpi gitu?" .
"Ya karena bermimpi terlalu tinggi itu takut di hempaskan dengan kenyataan yang tidak sesuai." kata Carry membuat Darren terdiam.
"Boleh aku berkata jujur?" tanya Darren yang sejak tadi banyak tanya.
"Katakan lah!" ujar Carry.
"Jika aku mengatakan aku menyukai mu bagaimana?" tanya Darren lagi dan lagi.
"Jangan bercanda brengsek!" ucap Carry yang sudah kesal.
"Aku serius Carr!" seru Darren. Bahkan Darren secara sengaja menyimpang dari jalur dan mengajak Carry pergi ke pantai.
"Kemana kau membawa ku?" tanya Carry panik.
Namun Darren hanya diam, tidak menjawab pertanyaan wanita itu. Semakin bingung lagi ketika Darren malah memasuki kawasan pantai.
"Ngapain ke sini?" tanya Carry.
"Aku serius dengan ucapan ku yang tadi, aku menyukai mu!" kata Darren membuat Carry terdiam.
"Berhenti bermain Darr, sudah sore ayo pulang!" Carry mulai gugup dan salah tingkah. Darren tidak berniat turun dari mobil, laki-laki itu malah menarik tengkuk Carry lalu meraup bibir wanita itu.
Carry yang kesal langsung mendorong tubuh pria itu, "Brengsek kau Darren. Apa maksud mu?"
Darren malah menarik tangan Carry, menggenggam nya erat, "Aku mencintaimu Carr. Sungguh aku mencintaimu!" Darren mengungkapkan perasaan nya.
Carry menatap mata elang lelaki itu, mencoba mencari kebohongan di sana namun tidak menemukan nya. "Jangan main-main Darr, aku sama seperti Emily yang tidak pernah memulai hubungan." kata Carry.
"Aku serius, jika aku main-main kenapa aku mencium mu barusan?" tanya Darren "Mustahil bagi mu jika kau tidak memiliki perasaan pada ku, kita hampir setiap hari bersama-sama."
Semakin gugup lah Carry, wanita ini bingung ingin menjawab apa. Darren paham, dia tidak memaksa Carry untuk menjawab sekarang. Jadi, Darren kembali memutar kemudi untuk mengantar Carry pulang.
Setiba nya di halaman rumah, ketika Carry hendak turun dari mobil Darren menahan tangan wanita itu. "Aku menunggu jawaban mu besok. Jika kau memiliki perasaan pada ku, datang ke atap gedung jam sepuluh pagi. Aku menunggu mu di sana!" ujar Darren namun Carry langsung buru-buru turun dari mobil pria itu. Jantung nya berpacu sangat kencang, Carry menjadi linglung sekarang. Wanita ini masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan sepatah katakan pun pada Darren.