
"Tampaknya nona Emily seorang pekerja keras." puji Rosalinda ketika melihat Emily yang datang ke hotel nya pagi-pagi sekali.
Emily di perintah langsung oleh Jhon Alexander untuk melayani Rosalinda selama wanita itu berada di negara ini. "Mrs. Linda, selama anda berada di negara ini, saya akan selalu membantu anda." Emily berkata dengan senyum lebarnya.
Rosalinda tersenyum miring, "Kau gadis baik. Aku akan menanam saham lebih banyak di perusahaan Alexander."
"Terimakasih Mrs. Linda, saya sangat senang sekali."
Asisten dan Sekretaris Rosalinda masuk, memandang Emily dengan wajah dingin mereka. "Mrs. Linda, anda harus pergi sekarang." ucap Asisten Linda.
"Baiklah,..." sahut Rosalinda kemudian mereka pergi setelah membiarkan Emily pergi terlebih dahulu.
Emily merasa curiga dengan Rosalinda, wanita yang pernah menjadi dalang kecelakaan adik nya. "Dia pergi kemana? bukan kah mereka tidak tahu negara ini?" Emily sangat curiga pada Rosalinda, hingga akhirnya Emily memutuskan untuk mengikuti mobil Rosalinda menggunakan taxi. Cukup jauh perjalanan mereka.
"Pemakaman...!" ucap Emily bingung ketika mobil Rosalinda memasuki kawasan pemakaman elit. Wanita itu berjalan masuk, menjaga jarak agar ke tiga orang itu tidak menyadari keberadaan nya. Tidak lupa Emily mematikan nada dering ponsel nya agar tak mengganggu pengintaian nya.
Rosalinda berhenti di sebuah makam yang cukup mewah, duduk bersimpuh di antara ke dua makam itu lalu meletakkan dua buket bunga di masing-masing makam. Emily dapat melihat dengan jelas jika sorot mata Rosalinda memancarkan sebuah amarah dan kebencian.
"Ayah, ibu....aku datang." ucap nya pelan namun mampu di dengar oleh Emily yang bersembunyi di dua makam yang berjarak. "Aku datang untuk membalas kematian kalian. Aku datang untuk membalas dendam kepada keluarga Alexander dan Egalia." perkataan Rosalinda membuat Emily tercengang. Siapa wanita ini? kenapa diri nya memiliki dendam kepada ke dua keluarga itu? tidak, Emily tidak akan tinggal diam, satu keluarga terdapat adiknya dan satu keluarga lagi terdapat orang yang ia cintai.
Hanya sebentar, Rosalinda dan ke dua anak buah nya pergi. Sedangkan Emily masih duduk di tempat tersembunyian nya. Ketika mobil Rosalinda telah menjauh, wanita itu baru keluar dan pergi menuju makam yang di datangi oleh Rosalinda.
"Sarah dan Domas? apa mereka orang tua Rosalinda?" Emily bertanya tanpa jawaban. Tak mau pusing, Emily menelpon Edwin untuk menjemput nya di pemakaman itu.
Butuh waktu dua puluh menit bagi Edwin untuk tiba di sana, lelaki itu sangat penasaran apa yang di lakukan oleh Emily di sana. "Siapa yang meninggal? kenapa kau berada di sini?" tanya Edwin penasaran.
"Tidak ada yang meninggal, akan aku ceritakan di dalam mobil." ujar Emily lalu mereka masuk ke dalam mobil.
"Cepat beritahu aku, apa yang kau lakukan di sana?"
"Aku tidak sengaja mengikuti Rosalinda, dia bilang pada ku dia tidak tahu tentang negara ini. Tapi kenapa dia pergi ke pemakaman ini? Dan ternyata, dia adalah pembual besar. Ke dua orang tua nya di makamkan di sini." jelas Emily membuat Edwin tercengang. "Dan satu lagi, Rosalinda berkata akan membalas dendam atas kematian ke dua orang tua nya kepada keluarga Alexander dan Keluarga Egalia. Apa yang telah keluarga kalian lakukan pada Mrs. Rosalinda?" Emily sangat penasaran akan hal itu.
"Aku tidak tahu bee,..baik Daddy maupun kamu uncle Jhon tidak mau bercerita apa pun pada ku." sahut Edwin bingung. "Tapi yang jelas, pasti ada sesuatu di masa lalu yang membuat Mrs. Linda sakit hati."
Mobil melaju dalam keheningan, tiba-tiba ponsel milik Edwin berdering. Rahang Edwin mengeras, raut wajah nya berubah dingin. "Ada apa?" tanya Emily merasa aneh.b
Seketika hati Emily gelisah, wanita itu serasa ada yang aneh di hati nya. "Perasaan ku tidak enak." keluh Emily memegang dada nya.
"Bee,...kau tidak usah khawatir. Dia tidak akan berani macam-macam " Edwin mencoba menenangkan.
"Tidak honey,...Om Frans adalah orang licik. Da akan melakukan apa pun agar tujuan nya tercapai. Aku tahu itu...!"
Benar saja kata hati Emily, Frans yang licik sedang berusaha menemui Nathan. Lelaki itu bersembunyi di parkiran restoran milik Nathan. karena Frans tahu jika Nathan setiap hari akan pergi ketempat itu.
Hampir setengah hari menunggu, akhirnya senyum Frans melebar. Ia melihat Nathan keluar bersama dengan Frans. Frans tahu kehidupan Nathan, namun akibat ancaman Jhon lelaki itu tidak berani mendekati Natha. "Kali ini kau akan hancur Emily, aku tahu jika adik mu belum tahu siapa kau yang sebenarnya." Frans tertawa licik kemudian keluar dari tempat nya lalu menghampiri Nathan yang sedang membuka pintu mobil.
"Owh...Nathan Alexander, anak tiri ku...apa kabar nak?" Frans berucap hingga membuat Nathan dan Fredy kebingungan.
"Siapa anda?" tanya Nathan heran.
"Aku...?hahaha....aku ayah tiri mu." sahut Frans dengan tawa gila nya.
"Ck,...dasar orang gila...!" hardik Nathan.
"Sudahlah, sebaiknya kita pergi." ujar Fredy langsung di sela oleh Frans.
"Biarkan aku ikut, maka akan ku ceritakan semua nya. Aku tidak akan macam-macam." Frans berkata dengan wajah serius. Bahkan lelaki itu menyebut nama Edwin dan Emily agar Nathan percaya.
Nathan membiarkan Frans masuk ke dalam mobil nya. Mereka pergi menuju tempat di mana markas Alexander berada. "Ceritakan apa yang ingin kau ceritakan. Aku tidak punya banyak waktu mu!" perintah Nathan dengan suara dingin nya.
Frans kemudian menceritakan siapa Emily dan Nathan yang sebenarnya. Awalnya Nathan dan Fredy tidak percaya namun pada akhirnya Frans bisa menyakinkan Nathan. Benar, wajah Nathan yang tidak mirip Jhon dan Grace terkadang menjadi sebuah pertanyaan bagi banyak orang.
"Karena kau sudah tahu, sekarang beri aku perlindungan. Aku tidak ingin jatuh di tangan bajingan Edwin itu." pinta Frans memohon. Frans sebenarnya tidak menceritakan semua nya. Lelaki itu bahkan menambahkan bumbu-bumbu kebohongan agar Nathan membenci Emily dan Edwin.
Nathan masih syok, pria itu hanya diam dengan wajah memerah. Selama ini Jhon dan Grace juga Emily sudah membohongi nya. Pantas saja Nathan selalu merasakan perasaan yang hangat ketika dekat dengan Emily.
Nathan pergi tanpa menghiraukan Frans dan Fredy. Lelaki itu melajukan mobil nya entah kemana. Nathan memukul stir nya keras, berteriak meluapkan emosi nya. "Mereka bekerja sama untuk membohongi ku. Kenapa? apa aku sebuah boneka untuk mereka?" Pertanyaan Nathan memenuhi otak nya. "Aku dijual oleh ayah ku sendiri? hahah...ayah kandung ku tega menjual ku hanya demi uang? dasar bajingan...!" umpat Nathan penuh emosi.