Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
14.Susu dan Apel



Emily menarik nafas dalam, wanita itu menatap tinggi nya gedung yang akan mempertemukan ia dan adiknya. Langkahnya ragu namun hatinya berkata maju. Dengan segala doa yang ia panjatkan, Emily memberanikan diri melangkah masuk ke dalam loby.


Di loby, Emily sudah di tunggu oleh Fredy asisten pribadi Nathan. Mereka berkenalan lalu langsung pergi ke ruangan Nathan. Degub jantung Emily seakan terdengar hingga langit je tujuh,wanita itu sudah di beri tahu oleh Edwin bagaimana seluk beluk keluarga Alexander. Namun sebelum Emily bekerja di perusahaan Alexander, Edwin sudah terlebih dahulu menghapus jejak Emily yang pernah bekerja di perusahaan nya.


Emily dan Fredy berdiri dengan Nathan yang masih duduk membelakangi mereka. Manik mata itu lekat menatap punggung pria yang perawakan nya tegap itu. Mata Emily berkaca-kaca, bagaimana bisa ia baru mengetahui jika ia memiliki adik.


Nathan memutar kursi kejayaan nya ketika di panggil oleh Fredy. "Kenalkan diri mu!" perintah Nathan dengan suara datarnya.


Emily masih diam, wanita itu malah asyik dalam lamunan nya dengan memandang wajah tampan adiknya. Sungguh, Nathan sangat mirip dengan ayah mereka.


"Perkenalkan diri mu!" ucap Nathan dengan nada sedang hingga membuyarkan lamunan Emily.


"Nama saya Emily Cassandra, saya akan menjadi Sekretaris pribadi anda tuan." ucap Emily dengan suara bergetar.


Nathan hanya mengangguk, pria itu kemudian memerintahkan Fredy untuk memberi tahu pekerjaan untuk Emily. Biasanya Sekretaris akan duduk di meja luar dekat pintu ruangan bos mereka, namun Emily duduk di meja yang satu ruangan dengan Nathan. Ini seperti keberuntungan untuk Emily.


Hari pertama bekerja cukup melelahkan, banyak pekerjaan baru yang belum Emily pahami. Namun berkat Fredy yang sangat baik, Emily sudah mengerjakan apa yang seharusnya di kerjakan nya. Dari seorang tukang sapu kini Emily loncat menjadi seorang Sekretaris membuat wanita itu seakan berada dalam mimpi.


Emily akan mengikuti Nathan kemana pun pria itu pergi, tak masalah bagi Emily yang penting ia bisa menjaga dan melihat adiknya meski hubungan mereka sekarang hanya sebatas bos dan karyawan.


"Buatkan aku susu!" perintah Nathan pada Emily. Dengan sangat cepat Emily membuatkan adiknya susu. Emily sangat terharu, tak terasa air matanya jatuh lalu di usapnya kembali.


Nathan, lebih suka minum susu dari pada teh atau kopi. Pria itu penyuka berbagai macam jenis susu. Emily meletakkan satu gelas besar susu di atas meja Nathan, tangannya sedikit bergetar. Ingin rasanya Emily memeluk adiknya.


Wanita itu kembali ke mejanya, sesekali Emily melirik ke arah Nathan yang sibuk dengan pekerjaan nya.


Jam menunjukkan pukul lima sore,Emily menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk. Wanita itu kembali mengingat apa yang ia lalui hari ini. Belum juga beristirahat, namun bel sudah berbunyi. Siapa lagi kalau bukan Edwin yang seharian merasa khawatir pada wanita itu.


"Baru pulang?" tanya Edwin ketika melihat wajah kusut Emily.


"Hmmmm...." jawab Emily tanpa membuka mulutnya.


"Bagaimana pekerjaan mu hari ini? menyenangkan?" tanya pria itu kembali.


"Aku bahkan hampir menangis melihat nya. Entah kenapa ada rasa bersalah di hati ini..." ucap Emily dengan nada sedihnya.


"Kau tidak salah Emily. Kau masih kecil waktu itu, mereka lah yang salah karena telah memisahkan kau dan adikmu." tutur Edwin sedikit memberi semangat.


Jujur saja, sekarang Emily butuh sandaran atas apa yang ia lalu hari ini. Entah kenapa masalah selalu muncul di dalam hidupnya. "Aku lelah Edw....!" gumam Emily bersamaan dengan air mata yang mengalir. "Aku sangat lelah hidup seperti ini. Masalah selalu saja ada dalam hidup ku." keluh nya membuat Edwin semakin sedih melihat wanita itu.


"Mandilah, aku akan mengajak mu makan malam." ujar Edwin namun Emily menolak. "Kenapa?" tanya Edwin tidak suka penolakan.


"Aku butuh waktu untuk sendiri. Ku mohon, mengerti lah!" pinta wanita itu dengan wajah memohon nya.


Edwin membuang nafas kasar, baru kali ini ada wanita yang menolak ajakannya untuk makan malam. "Hmmm...aku mengerti. Istirahatlah, jangan lupa makan, nanti kau sakit!" ujar Edwin kemudian pria itu pamit pulang.


Sepulangnya Edwin, Emily langsung pergi mandi. Selesai mandi Emily menyeduh mi instan. Menunggu beberapa menit sambil membaca pekerjaan yang akan di kerjakannya besok. Tidak lupa berbalas pesan dengan Carry yang sekarang di angkat Edwin sebagai asisten nya yang akan mengekor kemana pun Edwin dan Darren pergi.


Malam berganti pagi, Emily datang ke kantor sangat pagi. Wanita itu menyiapkan segelas susu kesukaan adiknya dan satu buah apel sebagai teman susu. Setelah itu Emily melanjutkan pekerjaan nya.


Satu jam kemudian, Nathan dan Fredy masuk ke dalam ruangan. Nathan tertegun ketika melihat sebiji apel di samping gelas susunya.


"Kau yang meletakan apel itu?" tanya Nathan menoleh ke arah Emily.


"Ii...yaa...!" jawab Emily tertuduk menahan rasa takutnya.


"Kenapa?" tanya Natha kembali merasa heran.


"Susu itu kesepian, jadi aku meletakkan apel untuk menemani nya. Jika bapak tidak suka, saya ambil kembali." ujar Emily hendak beranjak mengambil apel tersebut.


"Jangan!" tegur Nathan, "Biarkan saja. Aku akan memakan nya nanti." ujar itu membuat Fredy merasa aneh pada bos nya itu. Biasanya Nathan akan marah jika ada orang lain yang bertindak tanpa aturannya.


Nathan pergi ke meja nya, pria itu meneguk susu yang di buatkan Emily. Entah kenapa rasa berbeda, Nathan seperti merasakan sebuah kehangatan dalam hatinya. Pria itu melirik sekilas wajah kakaknya, ada desir aneh sekilas dengan wajah Emily.


"Emily, kau bisa keluar sebentar. Aku ingin bicara pada Fredy!" perintah Nathan lalu Emily keluar.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Fredy bingung.


"Apa kau tidak merasa jika wajah perempuan itu sekilas mirip dengan ku?" ujar Nathan yang sadar akan hal itu.


Sejenak Fredy terdiam sambil berpikir. "Benar! bahkan wajah mu dan wajahnya sangat tidak asing. Wajah kalian sama-sama mengenakan untuk di lihat." tutur Fredy.


"Ah,..sudahlah. Itu mungkin hanya kebetulan saja." ujar Nathan membuang jauh pikiran nya. "Selidik latar belakang nya!" perintah Nathan dan langsung di iyakan oleh Fredy.


Untung saja Edwin sudah memanipulasi sedikit latar belakang Emily, lelaki itu cukup pintar menebak apa yang akan terjadi ke depannya. Setelah pembicaraan itu selesai, Emily kembali masuk setelah di panggil oleh Fredy. Ada rasa penasaran dalam benak Emily apa yang di bicarakan antara Nathan dan Fredy.