
Hari telah berganti, Edwin sibuk sendiri untuk pergi ke rumah sakit, bahkan Emily dan mertua nya hanya bisa jadi penonton yang baik ketika melihat Edwin mondar mandir. Telpon sana telpon sini, entah apa dan siapa yang di telpon pria itu.
Setelah telpon terputus, baru lah Edwin bergabung di meja makan bersama istri dan ayah nya. "Kau ini, yang hamil siapa yang sibuk siapa?" kata Theo langsung mendapatkan lirikan tajam dari anak nya.
"Aku hanya ingin memberikan pelayanan yang terbaik untuk istri dan calon anak ku.Apa salah nya?" tanya Edwin.
"Tidak salah, tapi jangan membuat semua karyawan atau anak buah mu sibuk seperti ini." sahut Theo.
"Daddy ini, seperti tidak pernah melihat istri nya hamil saja!" gerutu Edwin.
"Daddy benar, kau terlalu berlebihan suami ku." Emily membuka suara.
"Apa pun untuk mu bee...!" seru Edwin tidak mau di bantah.
Selesai sarapan Edwin dan Emily langsung pergi ke rumah sakit. Emily masih merasa tidak enak hati ketika semua anak buah Edwin atau pun Karyawan menundukan kepala ketik mereka lewat. Emily langsung di periksa ketika mereka tiba di sebuah ruangan pribadi milik Edwin sendiri.
Nama nya Dokter Sarah, wanita yang berumur sekitar tiga puluh delapan tahun yang sekarang menjadi Dokter pribadi Emily. "Bagaimana Dokter, apa kandungan anak ku sehat?" tanya Edwin.
"Sehat tuan," jawab Sarah tanpa menghilangkan senyum nya.
"Jika sehat, kenapa istri ku selalu mengalami muntah-muntah?" tanya Edwin dengan wajah dingin nya, membuat Dokter Sarah menelan ludah nya kasar.
"Suami ku, wajah mu bisakah lebih santai sedikit." tegur Emily namun Edwin masih saja memasang wajah dinginnya.
"Itu hal wajah untuk setiap ibu hamil tuan, nam......!" belum sempat Sarah melanjutkan penjelasannya, Edwin sudah lebih dulu memotong nya.
Emily langsung mencubit lengan suami nya, "Jangan memotong pembicaraan, dengarkan dulu hingga selesai." kata Emily geram.
Edwin membuang nafas kasar lalu berkata, "Lanjutkan....!"
"Nama nya Morning sickness. Gejala seperti ini akan di alami oleh setiap ibu hamil beberapa bulan ke depan. Jadi, tuan tidak usah khawatir karena itu adalah hal lumrah." Sarah menjelaskan dengan hati-hati agar tidak menyinggung bos nya ini.
"Apa tidak ada obat untuk menghilangkan nya?" tanya Edwin hingga membuat istri nya tidak memiliki kesempatan untuk bertanya.
"Saya hanya bisa memberikan beberapa vitamin untuk nyonya Emily. Muntah-muntah itu tidak bisa di hilangkan apa lagi jika nyonya Emily sensitif terhadap bau-bauan."
"Aku mengerti Dok, jangan hiraukan suami ku ini." ujar Emily.
Edwin tiba-tiba teringat sesuatu, lelaki itu memajukan kursi nya agar pertanyaan nya kali ini tidak di dengar oleh beberapa perawat dan Dokter lain yang sejak tadi berdiri di belakang nya.
"Jika istri ku sedang hamil,apa kami boleh melakukan hubungan suami istri?" tanya Edwin langsung membuat mata Emily terbelalak dan wajah nya memerah.
"Pertanyaan seperti apa ini? aku malu....!" tegur Emily yang berbisik di telinga suami nya.
Dokter Sarah hanya bisa menahan senyum juga tawa nya, begitu juga dengan manusia yang sejak tadi menguping pembicaraan Edwin.
"Tidak masalah nyonya, ini adalah pertanyaan lumrah yang banyak di pertanyakan dari pihak suami." kata Sarah membuat Edwin merasa bangga di depan istri nya yang sejak tadi sudah menahan rasa malu nya. "Untuk berhubungan suami istri di perbolehkan, namun jangan sampai membahayakan janin yang ada di dalam kandungan. Misalnya menindih perut ibu atau melakukan gerakan yang bisa memicu keguguran."Jelas Sarah membuat Edwin manggut-manggut paham.
Setelah paham akan semua penjelasan Dokter, Emily langsung di berikan obat dan vitamin. Kemudian mereka langsung pulang karena Emily sudah sangat kesal pada suami nya yang sama sekali tidak memberi nya waktu untuk bertanya. Semua pertanyaan langsung di pertanyaan oleh Edwin sendiri.