Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
70.Tamat



Beberapa hari kemudian, kesibukan mulai terasa dalam hidup Emily. Edwin dan Emily sengaja mengurus anak mereka secara bersama-sama tanpa di bantu seorang pengasuh. Rumah yang dulu sepi kini mulai ramai dengan tangis bayi.


Kehadiran Baby Arion mampu membuat semua orang bersatu. Bahkan, beberapa hari ini Jhon dan Grace selalu datang untuk menjenguk babu Arion. Tidak lupa dengan tumpukan hadiah yang dari karyawan juga rekan bisnis Edwin.


"Em,...kau tidak berniat untuk membuka hadiah-hadiah ini?" tanya Carry yang tangan nya sudah gatal.


"Sudah beberapa yang aku buka, alhasil tidak terpakai juga." ujar Emily.


"Biasa nya, Edwin tidak suka dengan hadiah seperti ini. Ya kan Edw,...?" tanya Darren.


"Hmmm,...kalau kalian mau ambil lah. Buat anak kalian nanti." ujar Edwin.


Carry menggerutu kesal, bos nya ini kalau bicara suka tidak masuk di akal.


"Sayang, hadiah semua ini nanti kita bawa pulang. Sayang kalau di buang, aku tahu jika isi nya barang mahal dan bermerek semua." ujar Darren.


"Lumayan lah mengirit pengeluaran kalian jika suatu saat Carry melahirkan!" seru Edwin.


Tangan nakal Darren mengambil salah satu hadiah, membuka bungkusan kado hingga membuat mata Carry melotot tidak percaya. Isi nya ada handuk dan selimut bayi dari brand ternama bahkan hanya harga nya saja jika Carry mengumpulkan nya gaji nya bisa sampai tiga tahun baru sanggup membeli nya.


"Oh lumayan, bawa pulang sayang!" ujar Darren menyerahkan nya pada Carry.


"Edwin sudah tidak waras, hadiah sebagus dan semahal ini di tolak. Suami mu ini punya penyakit apa sih?" tanya Carry pada Emily.


"Aku pun tidak tahu. Terserah di saja!" seru Emily yang bingung sendiri melihat sikap suami nya.


Di posisi lain, Grace yang sedang menggendong baby Arion merasa sangat senang sekali. Terlebih lagi sekarang hubungan Theo dan Jhon semakin akrab.


"Lihat lah Jhon, dia sangat tampan sama seperti ku." ucap Theo dengan bangga nya.


"Kalau dia sudah bisa berjalan, mari kita ajak dia main golf. Aku yakin dia akan di kelilingi wanita-wanita cantik." ujar Jhon langsung mendapatkan lirikan tajam dari istri nya.


"Pengajaran seperti apa yang kau berikan kepada anak sekecil ini? apa kau ingin kehilangan kepala mu jika Edwin mendengar nya?" Grace bertanya dengan menekan suara nya.


"Aku hanya bercanda!" ujar Jhon.


Di sebuah gubuk penderitaan, hari ke hari keadaan Nadia semakin memburuk apa lagi ketika diri nya mendapatkan kabar jika Andreson telah meninggal dunia. Wanita yang terobsesi mendapatkan Edwin ini di jatuhi hukuman dua puluh lima tahun penjara. Edwin menuntut Nadia sedemikian rupa karena sudah bosan di ganggu oleh perempuan itu.


Hari ke hari telah berganti, kehidupan Emily telah jauh berubah apa lagi sekarang diri nya telah menjadi seorang ibu yang setiap hari nya hanya di sibukan dengan mengurus anak dan suami nya. Edwin juga semakin semangat ketika bekerja karena sekarang jika diri nya pulang ada dua kesayangan yang sudah menunggu nya.


"Dia memang sangat tampan," puji Edwin pada anak nya sendiri. "Sayang, secepatnya kita harus membuat adik untuk Arion." ujar Edwin.


"Lelaki tahu nya minta anak dan membuat nya saja. Tapi tidak merasakan bagaimana sakit nya. Bee, biarkan Arion besar sedikit. Aku masih ingin menikmati kehidupan ku yang sekarang." Emily tidak menolak, hanya saja diri nya masih sedikit lelah jika hamil lagi.


"Terserah kau saja bee, aku tidak memaksa. Yang penting kalian sehat, kita semua sehat sudah bersyukur." ujar Edwin. "Oh,...lihatlah. Adik mu yang di dingin dan tak tampan itu selalu saja mengganggu kebahagiaan ku." Edwin kesal.


"Kau ini, selalu saja seperti itu..!" sahut Emily.


"Selamat sore kakak ku dan kakak ipar juga." sapa Nathan, "Selamat sore keponakan ku yang paling tampan." Nathan mentoel pipi Baby Arion.


"Kau hampir setiap hari pergi ke rumah ku. Apa tidak lelah?" tanya Edwin.


"Aku ke sini juga ada tujuan. Aku ingin menjemput paman Theo karena malam ini kami akan pergi makan malam. Kami akan menginap di Villa." ujar Nathan.


"Kenapa tidak mengajak kakak?" tanya Emily.


"Tentu saja aku tidak mau. Pergilah cepat!" usir Edwin.


Meskipun kata-kata Edwin pedas atau apa lah, Nathan sama sekali tdak ingin mengambil hati.


Darren dan Carry, sepasang kekasih itu sedang menikmati acara mereka sendiri. Darren yang yatim piatu juga merasa sangat bahagia karena bisa berkumpul dengan keluarga Carry yang suka bercanda. Di rumah sederhana namun sangat bersih dan rapi ini, Darren sama sekali tidak merasa sungkan untuk melakukan apa pun termasuk numpang mandi dan makan.


Mereka belum berniat untuk menikah, masih ingin menikmati kebersamaan mereka saat ini. Bukan Darren yang tidak mau menikah, hanya saja Carry memberi waktu sebentar saja sampai adik nya lulus kuliah karena selama ini Carry lah yang menjadi tulang punggung keluarga nya. Jadi, Carry hanya ingin menikah setelah adik nya bisa mandiri dan mencari uang sendiri.


"Apa kau pernah mengeluh?" tanya Darren pada wanita itu.


"Pernah, setiap orang pasti pernah mengeluh." jawab Carry.


"Apa yang membuat mu lelah, sampai kau pasrah?" tanya Darren pasrah.


"Di saat ibu ku masuk rumah sakit, aku harus membayar tunggakan kuliah dan saat itu adik ku ingin masuk sekolah." Carry menjawab dengan jujur.


"Kau perempuan yang hebat. Kau dan Emily memiliki cerita sendiri yang membuat kami kagum pada kalian." ujar Darren.


"Setiap orang pasti memiliki cerita kehidupan nya sendiri. Terkadang, apa yang kita rasa kan sangat susah pasti ada yang lebih susah dari kita." tutur Carry.


"Kau benar. Tergantung kita mau berusaha atau tidak nya saja!" seru Darren.


Terang telah berganti gelap, Edwin menggendong anak nya yang bangun sedangkan Emily makan malam sebentar.


"Makan pelan-pelan bee. Tidak ada yang akan mengambil makanan mu." tegur Edwin ketika melihat istri nya makan dengan cepat.


"Kita kan harus bergantian bee. Kau pasti sudah lelah dan lapar." sahut Emily.


"Bee, selelah dan selapar apa pun seorang suami, mereka pasti akan mengutamakan anak dan istri nya terlebih dahulu." ucap Edwin.


Emily menatap wajah suami nya lalu berakat, "Kau suami yang baik bee. Terimakasih untuk segala nya."


"Ayo lah bee, ini rumah tangga kita. Mari saling membangun dan membantu. Kita masih saling belajar, jadi jangan sungkan untuk bercerita jika kau memiliki keluh kesah mu." ujar Edwin yang sangat pengertian.


Emily hanya tersenyum menanggapi ucapan suami nya. Setelah diri nya selesai makan, kini gantian Edwin yang makan. Meski pun mereka memiliki banyak pembantu, namun Edwin dan Emily tidak ingin menyusahkan orang lain. Selesai makan malam, keluarga itu kembali ke kamar.


Edwin dan Emily mengajak anak nya bermain. Meski baby Arion belum mengerti apa pun, namun Emily dan Edwin bisa sangat bahagia melihat senyum mungil ini.


"Terimakasih telah memberi ku buah hati setampan ini bee." ucap Emily.


"Aku juga berterimakasih pada mu bee. Terimakasih telah mengandung dan melahirkan anak setampan ini." ucap Edwin.


"Dulu, aku hanya bisa memandang mu dari jauh. Berkhayal tentang mu namun sekarang kau telah menjadi milik ku seorang." ujar Emily lalu menyandarkan kepala nya di pundak sang suami sedangkan Edwin memangku anak nya.


"Aku milik mu bee, sampai kapan pun akan tetap menjadi milik mu. Mari kita menua bersama bee. Mari kita besarkan anak-anak kita sampai kita bisa menjadikan mereka anak-anak yang berbakti dan juga sukses. Love you bee!" ucap Edwin kemudian mengecup bibir istri nya.


"Love you to bee!" balas Emily.


Edwin merasa bersyukur karena di anugerah seorang istri yang baik. Pernah menikah lalu gagal tidak membuat Edwin membenci seorang perempuan. Justru laki-laki ini bertekad untuk mencari seorang perempuan yang mencintai diri nya dengan tulus dan yang tidak hanya memandang harta nya saja. Mendapatkan Emily bukan suatu kebetulan, mungkin Tuhan telah mempertemukan mereka dengan cara yang tidak bisa di tebak. Hubungan antara seorang karyawan dan atasan lalu berteman, perlahan-lahan menjalin hubungan kemudian menikah.


*****TAMAT******