Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
68.Boleh Tidak?



Sejak kejadian tertangkap nya Nadia, kini kehidupan Emily dan Edwin mulai terasa tenang. Emily, sering kali perempuan ini memaksa adik nya untuk menikah. Namun, Nathan selalu menolak permintaan kakak nya dengan alasan masih ingin bebas. Terlebih lagi, selama mengenal Nathan tak pernah sekali pun pria itu memperkenalkan seorang perempuan pada kakak nya maupun keluarga nya.


"Mungkin saja adik mu ini suka makan jeruk bee. Perasaan sejak dulu tidak pernah sekali pun mendapatkan isu dengan seorang perempuan." kata Edwin dengan begitu santai nya membuat Emily langsung melempar buah jeruk ke arah suami nya.


"Kalau bicara jangan sembarangan bee. Adik yang tampan ini mana mungkin seperti itu." Emily membela adik nya.


"Aku heran, kenapa kakak mendapatkan suami yang kalau bicara seenak nya ya?" ujar Nathan tidak memasukan ke hati ucapan kakak ipar nya.


"Terserah kalian saja. Aku mau menyelesaikan pekerjaan ku sebentar. Bee, jangan lupa minum vitamin nya." Edwin mengingatkan istri nya.


"Hmmm,....!" sahut Emily tanpa membuka mulut nya.


"Kak, apa kakak bahagia menikah dengan Edwin?" tanya Nathan iseng.


"Jika ada kata lain dari bahagia, sudah pasti kakak akan mengatakan nya. Sejak kakak bekerja di kantor nya, kakak sudah menyukai Edwin." ujar Emily memberitahu. "Rumor tentang dia yang seorang duda, kakak tidak peduli. Itu adalah masa lalu nya."


"Aku ingin melihat kakak bahagia dulu baru aku akan menikah." ucap Nathan begitu santai nya.


Emily merubah posisi duduk nya, menatap wajah tampan adik nya. "Kakak sudah sangat bahagia, apa lagi yang kurang bahagia dari kakak?" tanya Emily bingung. Adik nya ini tipe laki-laki yang sangat dingin pada perempuan.


"Kak, aku masih ingin sendiri. Aku masih ingin membalas jasa Daddy dan Mommy. Meskipun aku tahu jika jasa mereka tidak mungkin bisa aku balas." kata Nathan. "Aku pulang dulu kak, jangan minum vitamin nya. Jangan lelah-lelah." Nathan mengingatkan kakak nya.


Emily sendiri, duduk di ruang keluarga sambil memandang di sekeliling nya. Wanita ini menarik nafas dalam, kehidupan nya sekarang telah jauh berubah. Kini Emily di kelilingi dengan orang-orang yang selalu menyayangi nya.


Emily kemudian memilih menyusul suami nya di ruang kerja. Entah kenapa semakin besar perut nya semakin Emily tidak ingin di tunggal.


Wanita ini masuk ke dalam keruangan, duduk manis di depan suami.


"Jangan menggoda ku bee. Aku tidak fokus!" ujar Edwin.


"Aku hanya ingin melihat suami ku bekerja, bukan menggoda nya." sahut Emily.


"Kau ingin makan apa malam ini bee?" tanya Edwin.


"Sepertinya, kalau makan steak daging enak. Boleh aku makan steak bee?" Emily meminta izin pada suami nya.


"Boleh, asal jangan berlebih saja." laki-laki ini selalu menuruti kemauan sang istri. "Apa lagi yang ingin kau makan bee?" tanya Edwin.


"Kalau memakan mu, boleh tidak bee?" Emily menggoda suami nya.


"Kalau begitu, selesai makan malam di ruang makan. Kita akan malam di atas ranjang lagi." sahut Edwin mengedipkan mata nya sebelah.


"Aku geli melihat mata mu bee!" seru Emily tertawa renyah.


Edwin ikut tertawa,laki-laki ini memang tidak bisa bercanda karena dia sendiri tidak tahu cara nya bercanda. Melihat Emily tertawa saja Edwin sudah merasa senang. Terkadang, Edwin juga berpikir ingin menjadi orang yang humoris namun tetap saja diri nya tidak bisa.