
"Mohon maaf sebelumnya, kemarin saya menjenguk nona Emily tanpa memberitahu terlebih dahulu." Rosalinda berkata dngan senyum yang selalu mengambang di wajah nya.
Nathan meletakan kembali segelas susu yang baru saja ia minun. "Tidak apa-apa Mrs. Linda, terimakasih sudah bersimpati kepada karyawan saya." Nathan berkata dengan wajah yang biasa saja.
"Saya sangat tertarik dengan proyek yang saat ini di pegang oleh perusahaan Egalia. Menurut mu bagaimana?" Rosalinda mulai membicarakan pembahasan yang serius.
"Proyek yang mana?" Nathan bertanya seolah-olah diri nya tidak tahu.
"Pembangunan tempat wisata yang ada di pantai ujung kota ini...!" seru Rosalinda penuh semangat.
Nathan manggut-manggut, "Lalu, apa yang akan anda lakukan?" tanya Nathan.
"Bisakah kita bekerjasama untuk merebut proyek tersebut?" Rosalinda melakukan penawaran langsung karena wanita itu tahu jika keluarga Alexander dan keluarga Jhon saling bersikap dingin.
"Kenapa Mrs.Linda memilih proyek tersebut di bandingkan dengan proyek dari perusahaan Alexander?" tanya Nathan membuat Rosalinda bingung. Rosalinda tidak terlalu pintar untuk menyembunyikan wajah gugupnya.
"Karena proyek tersebut memiliki sumber daya yang bisa menguntungkan di masa depan." sahut Nick membuat Rosalinda mengiyakan ucapan Asisten nya itu.
Nathan tertawa renyah, pria itu melirik ke arah Fredy yang sedari tadi duduk diam. "Akan saya pikirkan lagi." ujar Nathan kembali meminum susu nya.
"Seperti nya tuan muda Alexander ini sangat suka minum susu!" ujar Rosalinda memperhatikan Nathan.
Pria itu tersenyum lalu mengambil segelas susu di depan nya lalu berkata. "Karena aku suka kejujuran." gumam Nathan. "Aku ingin hidup bagai susu yang putih dan bersih tidak memiliki kebohongan apa pun." timpal nya kembali membuat Rosalinda gugup. Nick langsung melirik ke arah majikannya. "Bukankah begitu Mrs. Rosalinda? apa salah jika seseorang memiliki filosofi sendiri untuk kehidupan nya?" Nathan bertanya sambil menatap mata Rosalinda yang tidak bisa menyembunyikan rasa gugup nya.
"Benar tuan muda Alexander." sahut nya dengan suara yang terdengar kaku. "Kalau begitu kami pamit dulu, masih ada pekerjaan lain yang harus aku kerjakan." wanita itu pamit. Meninggalkan Nathan yang terus memandang kepergian mereka.
"Sepertinya Mrs.Rosalinda tidak terlalu pintar!" seru Fredy membuat Nathan menoleh ke arah pria itu. "Aku bisa melihat dengan jelas jika Mrs.Rosalinda adalah orang yang mudah gugup dan gegabah!" sahut Nathan.
Lain hal nya untuk Emily, wanita itu merasa jengah dengan sikap Edwin yang sangat-sangat membuat dirinya merasa jengkel. Sudah hampir satu minggu lebih Edwin tidak mengizinkan Emily untuk pulang meski wanita itu selalu mengatakan jika dirinya sudah baik-baik saja.
Bahkan Edwin selalu memaksa Emily untuk makan yang banyak juga minum beberapa vitamin dan juga obat yang hampir membuat diri nya muntah. Seperti saat ini, Edwin sedang memaksa Emily untuk memakan buah pisang setelah minum meski lelaki itu tahu jika Emily sangat tidak menyukai buah pisang.
"Berhenti memaksa ku Edw,...aku sudah kenyang!" ujar Emily memohon dengan wajah melas nya.
"Sedikit saja,..." bujuk Edwin "Buah ini sangat bagus untuk kesehatan." timpal nya kembali.
"Kalau begitu kau saja yang makan!" seru Emily terlihat sangat kesal.
"Apa setiap laki-laki selalu mengeluarkan kata-kata seperti itu jika pasangan mereka berkata tidak mau?" tanya Emily dengan wajah cemberut nya.
"Aku serius bee....kau akan senang dan juga terharu sekaligus bahagia dengan hadiah yang akan ku berikan pada mu nanti." gumam Edwin dengan wajah serius nya.
Emily mendengus kesal, jika melihat wajah lelaki itu serius maka Emily yakin jika Edwin tidak akan bohong pada nya. Wanita itu akhirnya memakan satu gigitan buah pisang. Rasa nya Emily hendak muntah karena wanita itu sangat tidak suka buah pisang.
Ya, Edwin merawat Emily dengan penuh kasih sayang. Pria itu sungguh memanjakan Emily bahkan tidak membiarkan wanita itu melakukan apa pun. Tak berapa lama Nathan datang menjenguk, dengan membawa satu buket bunga lili putih lalu memberikan nya kepada kakak nya.
"Terimakasih..." ucap Emily sangat bahagia.
"Kak, jika kita kembali bekerja atau sedang berada di luar. Tetap lah bersikap biasa saja layak nya atasan dan karyawan." tiba-tiba Nathan mengatakan hal itu.
"Jangan membuat kakak mu berpikir yang tidak-tidak. Meski kau adik nya, aku akan menghajar mu jika kau membuat masalah!" Edwin berkata dengan nada penuh ancaman.
"Bukan begitu,..." Nathan menyanggah. "Mrs.Rosalinda tidak tahu jika aku dan Emily adalah kakak adik." ujar Nathan membuat Emily dan Edwin bingung.
"Apa maksud mu? Mrs.Rosalinda pasti tahu semua nya apa lagi ke dua orang tua mu melakukan konferensi pers." Ujar Edwin bingung.
Setelah menjenguk kakak kemarin, Mrs.Rosalinda dan anak buah nya kembali ke negara T. Daddy yang mengetahui hal itu langsung membungkam semua media dan nyata nya Mrs.Rosalinda benar-benar tidak tahu." jelas Nathan membuat Edwin dan Emily tidak percaya. "Mrs.Rosalinda adalah orang yang sedikit plinplan dan gegabah. Dia tidak akan merencanakan semua nya dengan matang meski rencana yang dia susun sudah bertahun-tahun. Aku bisa melihat cara kerja nya." Nathan menyakinkan Edwin dan Emily. Edwin membenarkan perkataan Nathan, nyata nya saja Rosalinda tanpa ragu menginjakan kaki di rumah sakit kemarin.
Edwin membuang nafas kasar, laki-laki itu sebenarnya bingung ingin melakukan apa karena dia sendiri tidak tahu akar dari masalah nya. Ketika mereka sedang asyik mengobrol tiba-tiba Catrina datang di antar seorang perawat.
"Siapa yang mengizinkan mu untuk masuk?" tanya Edwin dengan wajah dingin nya.
"Ada apa dengan mu? aku datang ke sini hanya untuk menjenguk calon kakak ipar ku." Catrina berkata tanpa rasa malu.
Edwin dan Emily langsung tertawa secara bersamaan. "Sudah ku bilang, orang pertama yang akan menolak mu adalah aku. Lalu kenapa kau masih berani mengatakan jika aku ini adalah calon kakak ipar mu?"
"Kita tidak ada hubungan apa-apa, jadi jangan berkhayal terlalu tinggi...!" seru Nathan dengan nada kesal nya.
"Edwin, kau pasti sudah meracuni pikiran Nathan bukan?" Catrina bertanya membuat Edwin kembali tertawa.
"Pergilah, jangan habiskan rasa malu mu hanya untuk beradu debat dengan ku!" usir Edwin, kali ini suara nya terdengar dingin bahkan sangat dingin.
Perawat yang menyadari kemarahan Edwin langsung menyeret Catrina keluar dari dalam ruangan meski wanita itu berontak. Nathan tidak ingin melihat kakak nya merasa terganggu akhirnya membantu perawat tersebut mengeluarkan Catrina. Edwin yang sangat kesal kemudian pergi sebentar untuk memberi perintah kepada semua anak buah yang berrjaga di rumah sakit ini. Emily yang melihat semua kejadian tersebut hanya bisa bergeleng kepala.