
Menjelang sore, Emily bangun dengan segarnya. Namun ketika ia bangun hanya Nathan yang ada di dalam benaknya. Wanita itu bergegas mengambil tas kemudian keluar dari kamarnya.
"Mau kemana kau?" tanya Edwin ketika melihat wanita itu akan pergi.
"Aku ingin melihat keadaan adik ku." jawab nya, "Aku harus pergi sekarang...!" serunya dengan wajah gelisah. Namun dengan cepat Edwin menghentikan langkah wanita itu.
"Adik mu baik-baik saja. operasi nya berjalan lancar. Sebaiknya kau istirahat." ujar Edwin memberi tahu namun Emily masih bersikeras untuk pergi ke rumah sakit. "Jangan bodoh Em...! keluarga Alexander tidak akan membiarkan siapa pun masuk ke dalam ruang rawat adik mu selain Dokter dan Jhon juga Grace Alexander." Edwin mencoba menekan kalimat itu untuk menghentikan Emily.
"Tapi aku harus melihat adik ku Edw,..aku harus pergi...!" Emily keras kepala.
"Kau akan menggunakan nama sebagai kakak dari Nathan atau Sekretaris nya? jangan bodoh Em,...keluarga Alexander pasti akan mencurigai mu. Bahkan ketika mereka tahu kau adalah kakak kandungnya,mereka pasti akan membunuh mu dan kau pasti tidak akan pernah mendapatkan pengakuan dari adik mu." Edwin mencoba memberi tahu ancaman jika Emily bertindak gegabah.
"Bersabarlah, Jhon akan melakukan apa pun demi kesembuhan Nathan. Bahkan rumah sakit mereka adalah terbaik ke dua setelah rumah sakit ku." masih mencoba menasehati Emily yang sudah terduduk lemas. Wanita itu hanya bisa menangis dalam pelukan Edwin. Ada rasa nyeri di dada kala mengingat hidupnya yang sebatang kara ini.
"Terimakasih sudah mengingatkan ku." lirih Emily dalam isak nya.
"Aku membuatkan mu bubur, makanlah. Kau tidur sepanjang hari pasti kau lapar sekarang." ujar Edwin lalu memapah Emily ke meja makan.
"Bubur...? aku tidak sakit lalu mengapa kau memasakan bubur untuk ku?" tanya Emily bingung.
"Bubur ini aku masak campur bahan yang bisa membuat tenaga mu pulih kembali. Makanlah,akan ku suapi." ujar Edwin lalu menyodorkan satu sendok bubur di depan mulut Emily. "Aaa....buka mulut mu..." perintah Edwin seperti menyuapi anak kecil.
Emily menatap dalam mata Elang itu, ada desiran hangat dalam hati nya. Sebuah kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan dari siapapun bahkan ibu dan ayahnya. Dengan ragu Emily menerima suapan dari Edwin, lelaki itu tersenyum senang ketika melihat Emily mau makan.
"Bagaimana, apa enak?" tanya Edwin memastikan.
"Enak, kau pandai memasak ternyata." puji Emily dengan senyum lebarnya.
"Aku mamang lelaki idaman." ucap Edwin dengan bangganya. Emily tertawa geli mendengar kata-kata itu.
"I Love You Mr. Duda...!" seru Emily dengan wajah yang sudah merona malu. Emily bahkan mengambil alih mangkuk yang masih berisi bubur itu lalu memakan nya dengan mengalihkan pandangan nya.
"Love you too my bee....!" balas Edwin membuat detak jantung Emily langsung berlari maraton.
"Bee...? kau mengatai ku lebah?" tanya Emily dengan mengerucutkan bibir nya.
"Ya, karena kau telah menyengat hati ku..." sahut Edwin semakin membuat Emily seperti eskrim yang meleleh.
Bubur yang baru saja di telan Emily nyaris saja tersembur keluar,Edwin yang terkenal dingin dan cuek namun nyatanya bisa bicara banyak seperti ini.
"Kau seperti lebah madu yang sangat manis, aku bahkan tidak takut jika kau menggigit ku." sekali lagi, kata-kata Edwin mampu mengoyak hati Emily. Wanita itu bahkan tidak berani menatap mata Edwin.
Selesai makan,Edwin menyuruh Emily meminum obat dan vitaminnya. Mereka duduk di ruang tamu, tiba-tiba saja keadaan menjadi canggung dan juga kaku.
"Terimakasih sudah merawat ku sepanjang hari." Emily membuka suara memacah keheningan.
"Aku akan melakukan apa pun untuk mu. Jangan pikirkan Nathan, dia akan baik-baik saja. Percaya pada ku." Edwin menyakinkan Emily.
"Dia adik ku, sudah sewajarnya aku mengkhawatirkan dia." ujar Emily membuat Edwin terdiam.
Matahari sudah condong ke barat, Edwin pamit pulang dan berjanji akan datang kembali nanti malam. Sedangkan Emily yang tidak bisa membuang rasa khawatir nya langsung menghubungi Fredy untuk menanyakan kabar adik nya itu.
Setelah mendapatkan kabar Nathan, Emily bisa bernafas lega jika keadaan Nathan baik-baik saja. Gelap mulai datang, Edwin benar-benar menepati janji nya untuk menjemput Emily makan malam. Mereka pergi ke restoran milik Edwin sendiri.
"Apa makanannya tidak enak?" tanya Edwin ketika melihat Emily yang hanya mengaduk makanannya.
"Enak...." jawab nya singkat.
"Tidak sudah di pikirkan, dia akan baik-baik saja." ujar Edwin yang paham dengan raut wajah Emily. "Mau ku suapi?" tawar Edwin membuat Emily menatap ke sekeliling nya.
"Tidak, aku makan sendiri saja." ujar Emily ketika melihat orang yang sangat ramai.
Edwin hanya menyunggingkan senyumnya, menahan tawa ketika melihat wajah tegang Emily. "Biasakan saja wajah mu, tegang sekali..." tegur Edwin membuat Emily menghentikan kunyahan nya.
"Aku biasa saja...!" serunya.
"Bee....kau jika kau gugup, wajah mu sangat lucu." ucap Edwin membuat Emily tersedak. Edwin yang panik langsung mengambilkan Emily air minum. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Edwin masih khawatir.
"Kau membuat ku seperti ini...!" ucap Emily kesal.
"Aku membuat mu kesal?" Edwin membalikkan ucapan Emily. "Apa salah nya jika aku memanggil mu dengan panggilan sayang itu." ujar Edwin membuat Emily melongo tidak percaya.
"Tidak ada manis-manisnya..!" gerutu Emily dengan mengerucutkan bibir nya.
Edwin meletakan ke dua sendok nya lalu berkata, "Jadi, kau mau ku panggil apa?" tanya Edwin bingung.
Nah kan, Emily malah bingung sendiri sekarang, "Terserah kau, aku bingung. Aku tidak pernah pacaran sebelumnya." ucap Emily malu-malu.
"Panggil aku sayang, maka aku akan memanggil mu honey..." perintah Edwin dengan tegas kembali membuat Emily menyemburkan minuman nya.
"Aaa...aa....maaf,...maaf...kau membuat ku seperti itu." Emily langsung tidak enak hati. Ia tahu sikap seperti itu sangat tidak sopan.
"Panggil aku sayang maka akan ku maafkan diri mu." wajah tampan itu tiba-tiba berubah seperti wajah merajuk.
Emily menggaruk kepala nya tak gatal, "Ada penawaran yang lain?" tanya wanita itu mencoba mengalihkan permainan Edwin.
"Tidak ada...!" seru Edwin "Cepat...panggil aku dengan kata "Sayang"...!" ujar Edwin dengan menekankan kata sayang.
Emily sedikit berdehem, mencocokan suara sebentar. "Sa-sa-yang....." ucap nya terbata-bata.
"Ulangi,... panggil dengan penuh kelembutan dan penuh cinta." sekali lagi, Edwin membuat wanita itu semakin gugup.
"Sayang,...aku sayang pada mu sayang..." Emily berucap dengan penuh kelembutan. Biar bagaimana pun Emily sudah terlalu dalam mencintai lelaki itu.
"Terimakasih honey, aku juga sayang pada mu." balas Edwin dan hanya di balas senyuman dengan Emily. Wanita itu kembali menunduk malu sambil menyantap makan malam nya yang tertunda beberapa saat.