Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
28.Aku Bingung



Tidak, Edwin tidak jadi pergi ketika Emily meminta dirinya untuk menemani wanita itu. Emily yang masih belum menerima atas kejadian yang ia alami hari ini terus berpikir keras bagaimana caranya untuk melihat adik nya meski harus dari jarak jauh.


"Bee,...ku mohon jangan di pikirkan." ucap Edwin sambil menyalipkan anak rambut ke telinga wanita itu.


Emily hanya menghela nafas dalam lalu berkata dengan suara sedih. "Dia satu-satunya harapan keluarga yang aku miliki sekarang, bagaimana bisa aku tidak memikirkan nya."


Edwin hanya tersenyum, memeluk erat wanita nya yang sedang bersedih. "Aku akan membantu mu. Aku janji...!" Edwin masih mencoba menghibur wanita itu.


Edwin sangat senang berlama-lama di apartemen Emily, menemani wanita itu hingga rasa nya enggan untuk pergi. Ada kekhawatiran tersendiri yang di rasakan oleh Edwin namun pria itu bisa menutupi nya dari Emily.


Pukul sepuluh malam, baru lah Edwin pergi. Lelaki itu tidak langsung pulang melainkan bertemu dengan Jhon secara pribadi. Jhon langsung mencibir Edwin, pria paruh baya itu mengerti apa maksud dan tujuan Edwin datang menemui nya.


"Apa kau rela menjatuhkan harga diri mu demi wanita itu?" nada mencibir terdengar jelas di telinga Edwin.


Edwin hanya menanggapi nya dengan senyuman hangat, biar bagaimana pun lelaki yang ada di depan nya itu jauh lebih tua dari dirinya. "Uncle,..." Edwin membuka suara "Kenapa kita tidak mencoba untuk mengakhiri saja perselisihan ini." ucap Edwin membuat tawa Jhon menggema di seluruh ruangan.


"Kau masih berani memanggil ku uncle ?" Jhon menaikan ke dua alis nya tidak percaya.


"Aku benar-benar tidak tahu masalah apa yang kalian alami di masa lalu, tapi itu tidak ada hubungan nya dengan diri ku. Uncle aku hanya meminta agar kau membiarkan Nathan tahu jika Emily adalah kakak kandungnya." Edwin mencoba bernego pada lelaki paruh baya itu.


Jhon langsung menggerakkan gigi nya tidak terima, "Siapa kau berani meminta ku?" nada sinis itu terdengar berat di telinga Edwin.


"Akan lebih baik jika jika uncle memberi tahu Nathan secara langsung dari pada dia tahu dari orang!" seru Edwin membuat ke dua mata Jhon memerah. "Nathan berhak tahu dari mana asal usul dirinya." timpalnya kembali. "Jika uncle tidak ingin memberitahunya, setidaknya biarkan kakak dan adik itu saling berdekatan."


"Kau memberi ku perintah?" Jhon terkekeh tidak terima. "Kau dan Theo sama saja. Sama-sama egois...!" seru Jhon dengan penuh emosi.


"Uncle,...aku bingung, kau dan Daddy saling bermusuhan tapi kalian melibatkan orang banyak. Aku bahkan tidak tahu inti dari permasalahan kalian." Edwin mencoba mengusik Jhon karena dirinya cukup penasaran dengan masa lalu Jhon dan Theo. "Owh...atau masalah kalian ini ada hubungannya dengan orang yang bernama Rosalinda Xiverry." ucap Edwin membuat Jhon langsung membelalakkan mata nya kaget.


"Dari mana kau tahu nama itu?" tanya Jhon mengerutkan kening nya dalam.


Edwin tertawa renyah, dirinya hanya menebak namun ekspresi Jhon mengatakan lain. "Apa kau lupa uncle, sebelum kau menangkap ke dua orang itu, aku terlebih dahulu mengahajar ke dua anak buah Rosalinda." jelas Edwin membuat Jhon lemas. "Apa wanita itu ada hubungan nya dengan masa lalu kalian?" sekali lagi, Edwin menyelidik Jhon.


Jhon beranjak dan hendak pergi, namun langkah nya terhenti ketika Edwin mengulangi permintaan nya kembali. "Pikiran soal permintaan ku tadi uncle, maka aku tidak akan mengusik mu." ada sedikit ancaman yang keluar dari permintaan Edwin sebelum Jhon benar-benar keluar dari ruangan pribadi itu.


Edwin membuang nafas kasar, lalu bersandar pada sandaran sofa. "Maafkan aku Emily, aku aku harus mengorbankan mu demi mempersatukan keluarga Egalia dan keluarga Alexander."


Edwin tiba di rumah nya pukul dua belas malam, rasa kantuk dan lelah mengharuskan lelaki itu cepat bertemu tempat tidur. Namun rasa penasaran akan masa lalu Daddy nya membuat Edwin berpikir keras. Terlebih lagi ketika Edwin menyebutkan nama Rosalinda Xiverry, Theo langsung panik dan gugup.


"Ya, mereka semua ada hubungannya." gumam Edwin lalu menghempaskan tubuh nya di atas tempat tidur yang berukuran king size itu.


Emily yang bahagia langsung berangkat kerja dengan suka cita. Tidak lupa membeli kue pai kesukaan Nathan. Namun langkah Emily sesak ketika melihat Catrina berada di dalam ruangan Nathan. "Sejak kapan mereka menjadi akrab?" batin Emily penuh tanya.


Catrina memandang sinis Emily, wanita itu sangat tidak menyukai Emily. "Apa yang kau letakan itu. Apa itu mengandung racun?" Catrina mencoba memprovokasi Nathan. "Aku akan membuang nya." ucap Catrina sombong.


Wanita itu maju lalu mengambil nampan yang berisi segelas susu dan sepiring kue pai. "Siapa yang memberi mu izin untuk menyentuh makanan ku?" Suara Nathan terdengar mengerikan, sorot mata nya tajam menatap Catrina.


"Ini pasti mengandung racun, jangan makan dan minum sembarangan." Catrina masih memprovokasi Nathan dengan mengeluarkan tuduhan kejinya pada Emily. Emily yang melihat drama itu hanya bisa memutar bola mata nya jengah.


"Keluar...!" usir Nathan masih dengan nada halus nya.


"Nathan, kau jangan salah sangka pada ku. Aku tidak ingin....!" ucapan Catrina langsung di potong oleh Nathan yang mengusirnya dengan bahasa kasar.


"Jika kau tidak bisa mengerti bahasa halus, maka jangan salahkan aku jika aku mengeluarkan bahasa kasar." kata-kata Nathan membuat Catrina kesal. Wanita itu memutuskan untuk keluar dari ruangan Nathan. Sedangkan Fredy dan Emily hanya bisa menahan tawa mereka. Sebelum keluar, Catrina melirik tajam ke arah Emily.


"Lain kali, bawakan aku masakan rumahan." ujar Nathan membuat Emily terdiam. Fredy bahkan menyenggol lengan wanita itu agar sadar dari lamunan nya.


"Ba-baik tuan." ucap Emily gugup.


Waktu cepat berlalu, tidak terasa jam pulang kerja akhirnya tiba. Emily di jemput oleh Edwin di tempat biasa. Wanita itu terus menceritakan kejadian hari ini yang membuat ke dua nya tertawa.


"Honey,...kau bisa banyangkan bagaimana ekspresi Catrina tadi. Dia bahkan mengepalkan ke dua tangan nya. " Cerita Emily membuat Edwin tertawa.


"Dia tidak menyukai mu, padahal kau hanya Sekretaris adik mu sendiri." ujar Edwin lucu.


"Ya kan, dia tidak tahu jika aku adalah kakak Nathan." sahut Emily.


"Bee,...seperti nya kau harus sering mengerjai Catrina dan Nadia. ku dengar hubungan mereka sedang renggang sekarang."


"Honey,...kau memantau mereka.?" tanya Emily dengan tatapan tidak suka.


"Tidak bee,..Nadia sendiri yang mengadu pada Daddy. Perusahaan keluarga mereka sedang limit dan mereka berdua saling berebut untuk mendapatkan pasangan kaya." terang Edwin membuat Emily bergeleng kepala.


"Mereka membenarkan segala cara hanya demi uang." gumam Emily terdengar jelas di telinga Edwin. "Honey,...aku sangat beruntung memiliki mu. Meski kau seorang duda, tapi kau masih...." Emily menutup mulut nya dan tidak melanjutkan ucapan nya.


"Masih apa bee...?" tanya Edwin bingung.


"Tidak jadi honey,..aku salah ucap." ekspresi Emily berubah menahan malu bahkan wanita itu mengalihkan pembicaraan mereka sepanjang perjalanan pulang.