Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
11.Rahasia Keluarga Alexander



"Apa kau masih marah?" tanya Theo.


"Menurut papi bagaimana?" tanya Edwin dengan suara dingin nya.


"Papi juga tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka. Kenapa mereka terus mengusik mu Edw? bukan tidak mau mengerasi, tapi papi masih menghargai mereka sebagai perempuan." ujar Theo merasa menyesal. Lelaki itu paham bagaimana perasaan anak nya sekarang.


"Pi, apa papi tahu jika keuangan keluarga Andreson sedang mengalami guncangan?" tanya Edwin.


"Tidak tahu. Papi sudah lama tidak ikut campur masalah bisnis."


"Keluarga Andreson sengaja mengumpankan Nadia untuk mendekati ku. Aku muak orang seperti mereka!" ucap Edwin penuh penekanan.


"Lalu apa kabar dengan perempuan yang kau bantu selama ini? papi dengar kau siap berperang dengan keluarga Alexander hanya demi wanita itu." ujar Theo tak membuat Edwin terkejut.


"Papi mencari tahu tentang Emily?" tanya Edwin.


"Owh...nama nya Emily? nama yang cantik. Meski papi tidak pernah melihatnya, namun papi yakin jika orang nya sangat cantik." ujar Theo kemudian keluar dari kamar Edwin.


Malam berganti pagi, entah kenapa semakin ke sini Edwin mulai geram dengan sikap Nadia yang terus mendatangi nya ke kantor. Tapi tenang saja, ada Emily yang akan mengganggu Nadia bahkan Emily juga bekerja sama dengan Darren dan Carry untuk membuat Nadia kesal.


Hari berganti, bulan juga sudah berganti, tidak terasa Emily sudah menyelesaikan kuliahnya dengan sangat cepat. Wanita itu selalu di desak oleh Edwin agar cepat menyelesaikan semua nya.


Malam ini, semua orang merayakan keberhasilan Emily. Tak ramai, hanya ada Edwin , Emily, Carry, Darren,Dion dan James beserta istri nya. Pesta kecil-kecilan yang membuat Emily sangat terharu. Wanita itu sekarang merasa jika ia memiliki keluarga.


Dion dan Darren saling lirik, sorot mata mereka penuh tanda tanya. Ini bukan Edwin yang sebenarnya, lelaki yang dingin itu kenapa memperlakukan Emily dengan begitu istimewa bahkan jauh dari yang Emily ketahui jika Edwin rela mempertaruhkan nama baik keluarga nya demi membantu wanita itu.


Malam semakin larut, semua orang mulai pamit pulang. Edwin, karena Emily sudah menyelesaikan kuliah nya ia berencana akan memberi tahu Emily malam ini juga tentang rencana nya. Awalnya Emily menolak karena rasa takut, namun bayangan wajah adik nya membuat ia kembali bersemangat.


"Terimakasih Edw. Jika bukan karena kau, aku pasti tidak akan tahu jika aku masih memiliki adik." ucap Emily tulus dari hati.


"Aku senang membantu mu. Asal, kau jangan coba-coba berkhianat dari ku...!" ujar Edwin membuat Emily mengernyitkan kening nya dalam.


"Berkhianat bagaimana maksud mu?" tanya Emily tidak mengerti.


"Yaaa...berpaling kepada laki-laki lain contoh nya!'' jawab Edwin tidak sadar membuat Emily semakin terkejut. Bukankah kata-kata itu lebih pantas untuk mereka yang berpasangan? lalu hubungan apa yang di jalani Emily dan Edwin sekarang? bolehkah Emily berharap pada pria duda ini? sungguh, Emily sudah mabuk akan pesona sang duda yang selama ini menjadi bos sekaligus teman curhatnya itu.


Edwin yang menyadari ucapannya langsung mengalihkan pembicaraan nya. "Ehem...maksud ku, besok kita akan membeli pakaian kerja untuk mu. Masalah surat lamaran kerja mu akan di urus oleh Darren." ujar Edwin dan hanya di iyakan oleh Emily.


"Iya...terimakasih sekali lagi." ucap Emily salah tingkah. Edwin yang sejak tadi menahan malu hanya bida diam dan sesekali melirik ke arah wanita yang duduk di samping nya itu. Sesampainya di apartemen, Emily langsung turun sedangkan Edwin kembali melajukan mobilnya menuju markas miliknya.


"Apa kesalahan nya?" tanya Edwin ketika membuka salah satu pintu ruangan.


Beberapa anak buah Edwin membungkukkan badan mereka memberi hormat pada Edwin. "Perampok dan mengatas nama kan nama kelompok kita tuan." jawab pria dengan tubuh kekar itu.


"Buat dia mengaku. Cari keluarga nya kalau perlu habisi saja!" perintah Edwin kemudian pria itu melanjutkan langkah nya.


Edwin masuk ke ruangan tempat di mana Frans di kurung. Pria yang dulu gagah perkasa menyiksa Emily kini tampak kurus penuh luka.


"Mau apa kau?" tanya Frans dengan suara bergetarnya.


"Katakan, satu hal tentang keluarga Alexander yang tidak aku ketahui." perintah Edwin.


"Aku tidak tahu apa-apa!" ujar Frans.


Edwin tertawa renyah, "Jangan bohong, aku tahu jika kau mantan anak buah Alexander." ujar Edwin masih dengan santai nya. "Anak mu akan segera menikah, apa kau ingin aku menghancurkan kebahagiaan anak mu itu?" ancam Edwin membuat Frans seketika bersujud di bawah kaki Edwin.


"Aku akan memberi tahu mu! tapi tolong jangan sakiti anak-anak ku." mohon Frans.


"Cepat katakan. Aku tidak punya banyak waktu!" ujar Edwin sambil melipat ke dua tangannya.


"Istri tuan Grason tidak bisa melahirkan seorang anak di karenakan tuan Grason sendiri mandul." ucap Frans memberi tahu rahasia besar keluarga Alexander.


Edwin mengubah posisi duduk nya tidak percaya. "Apa kau berkata jujur? jika kau berani mempermainkan ku, akan ku pasti ke dua anak mu mati di tangan ku."


"Aku tidak bohong! Kau bisa cari tahu sendiri, Nathan adalah adik Emily sedangkan anak perempuan bungsu tuan Grason adalah seorang bayi yang di beli dari negara lain." ucap Frans menyakinkan. "Ku mohon, jangan ganggu anak-anak ku!" pinta Frans sekali lagi.


"Lalu kenapa kau membunuh ayah Emily?" tanya Edwin cukup penasaran.


"Hanya masalah pribadi. Ibu Emily adalah cinta pertama ku. Maka nya aku sangat membenci ke dua anak itu...!" jawab Frans dengan jujur.


Edwin membuang nafas kasar, pria itu kemudian keluar dari ruangan Frans. Seringai senyum licik tampak dari wajah Edwin. Kali ini Edwin berhasil memegang kunci untuk kehancuran keluarga Alexander.


Pria itu tidak pulang ke rumah, Edwin lebih memilih pulang ke apartemen nya. Jam menunjukkan pukul dua belas malam, Edwin kembali merasakan sakit hati atas pengkhianatan Catrina. Pria itu membuka ponsel dan mendapati kabar jika mantan istrinya itu berilah lagi.


"Perempuan ini, menjual diri ke sana ke mari hanya untuk manaikkan pamor keluarga nya. Ciiihh....aku menyesal telah menikah dengan wanita seperti ini." ucap Edwin geram.


Bayangan wajah Emily lah mampu mendinginkan hati Edwin yang panas. Wanita sederhana dengan banyak permasalahan namun mampu memikat hati sang duda. Di antara banyaknya wanita di luar sana dengan title nama belakang keluarga yang mencoba mendekati Edwin, hanya Emily yang mampu meluluhkan hati pria itu.