
"Kak, apa kakak yakin akan menikah dengan lelaki itu?" tanya Nathan menyakinkan kakak nya. "Edwin pernah menikah bahkan dia juga membuang Catrina begitu saja." timpal pria itu.
"Edwin lelaki baik, saat kakak terjatuh dia lah yang selalu ada untuk kakak pada saat itu. Bahkan, jika bukan karena dia kau dan kakak tidak akan bertemu seperti ini."
Nathan menarik nafas dalam, "Kak, bisakah mengajak ku pergi ke makam orang tua kita?
Emily memandang wajah adik nya, lalu berkata dengan penuh kasih. "Kita akan pergi akhir pekan nanti."
Tiba-tiba obrolan mereka terhenti ketika bel apartemen berbunyi. Emily bergegas membuka pintu kamudian Edwin berlenggang bebas masuk ke dalam apartemen. Nathan membuang nafas kasar, entah kenapa pria itu sangat jengkel saat melihat Edwin.
"Hari ini kakak milik ku, kenapa kau datang ke sini?" tanya nya dengan nada kesal.
"Bicara yang sopan, dia calon kakak ipar mu!" tegur Emily membuat Edwin tersenyum penuh kemenangan.
"Aku hanya mampir, memastikan jika calon istri ku ini baik-baik saja." sahut Edwin lalu menenggak minuman Nathan tanpa izin.
"Heii....sikap macam apa yang di tunjukan tuan muda Egalia ini? mencuri minuman ku!" kata Nathan dengan suara tinggi nya.
"Aku haus....!" seru Edwin menanggapi.
Emily hanya bisa menghembuskan nafas melihat Edwin dan Nathan yang jika bertemu selalu beradu mulut bagai kucing dan tikus.
"Sayang,...jangan mengganggu adik ku....!" pinta Emily pada calon suami nya.
"Aku baru tahu jika adik mu ini sangat manja." Edwin memancing emosi Nathan dengan cara mengejek nya.
"Jangan hiraukan dia, sebaiknya kita makan siang. Kakak sudah memasak tadi....!" ujar Emily kepada Nathan. Ya, sejak diri nya sembuh Carry kembali ke rumah nya sendiri.
Di meja makan, lagi-lagi keributan kecil terjadi. Ke dua pria itu berebut minta ambilkan. "Aku seperti memiliki dua bayi....!" gumam Emily merasa lucu. Meski sedang makan sekali pun Edwin dan Nathan masih suka beradu pandang dengan mata tajam mereka.
Selesai makan siang Edwin memutuskan untuk kembali ke kantor. Sedangkan Nathan sudah sejak pagi berada di apartemen kakak nya. Saling bertukar cerita dari pengalaman masing-masing.
"Kak,...jika kakak menikah biarkan aku dan Daddy yang menjadi pendamping kakak. Anggap saja aku sebagai ayah yang telah tiada." ujar Nathan membuat Emily langsung bersedih hati. Mata wanita itu berkaca-kaca sehingga membuat Nathan merasa salah bicara. "Maafkan aku kak, bukan maksud ku begitu...!"
"Tidak, kakak mengerti maksud mu. Kakak hanya merasa terharu, kakak pikir jika kakak menikah hanya ada kakak seorang diri. Ternyata masih ada kamu dan yang lain." Emily berkata dengan suara bergetar.
"Jika kakak butuh sesuatu, kakak bilang pada ku. Jika kakak ingin sebuah rumah, aku akan membelikan nya tanpa kakak harus tinggal di apartemen ini." Nathan mencoba menghibur kakak nya.
"Aku hanya senang mengganggu manusia dingin itu...!" seru Nathan kemudian kakak beradik itu saling tertawa lucu.
Berbeda dengan suasana di dalam sebuah ruangan yang di pesan Jhon secara pribadi. Lelaki itu pada akhirnya memutuskan untuk menemui Rosalinda agar masalah ini tidak terlalu panjang. Rosalinda menatap pria yang ada di depan nya dengan senyum anggun namun dengan sorot mata tajam nya. Hanya ada Jhon dan Rosalinda, sementara yang lain menunggu di luar.
"Jika kau memiliki niat balas dendam, ku mohon urungkan saja niat mu. Kau sudah hampir menghilang nyawa anak ku Linda....!" Jhon berkata dengan suara berat nya.
Rosalinda menampakan seulas senyuman nya. "Hampir mati kan? tapi belum mati bukan." kata nya membuat telinga Jhon naik panas.
"Jaga ucapan mu Linda,...!" bentak Jhon dengan suara tinggi namun wanita itu masih terlihat begitu santai nya.
"Aku hanya ingin kau merasakan bagaimana rasa nya di tinggal mati oleh orang-orang yang kau sayang." ucap nya membuat dada Jhon terasa perih.
"Kematian orang tua mu tidak ada hubungan nya dengan ku bahkan anak-anak ku. Dalam hubungan kita dulu, kau tahu sendiri jika aku hanya menganggap mu sebagai adik. Tapi, sikap keras kepala mu membuat kau seperti ingin memiliki lebih apa yang telah ku berikan."
Perkataan Jhon membuat senyum di bibir Linda redup. "Dan kau hanya menganggap hubungan kita dulu sebagai permainan bukan? tapi tidak dengan ku, aku sungguh mencintai mu pada saat itu."
"Bukankah sudah ku katakan berulang kali, jangan mencintai seseorang terlalu dalam jika kau belum siap terluka. Beberapa kali aku menegaskan jika hubungan kita akan berakhir jika aku di jodohkan ke dua orang tua ku." Jhon membalas setiap ucapan Rosalinda dengan mantan.
Mata Linda mulai terpancar bara api yang siap terbakar, "Lalu kenapa kau menerima cinta ku dulu.....?" tanya nya dengan suara tinggi.
"Karena kau terus memaksa aku untuk menerima cinta mu. Kasih sayang yang aku berikan pada mu hanya rasa sayang antara seorang kakak dan adik. Aku memberikan mu pekerjaan di saat kau sedang butuh, apa kau lupa bagaimana pertemuan awal kita?" Jhon kembali mengorek perihal masa lalu mereka.
Jhon dan Rosalinda bertemu di saat Linda sedang menangis di jalan. Gadis itu putus asa karena mencari pekerjaan ke sana ke mari tidak menemukan nya. Terlebih lagi ibu nya yang sakit-sakitan sedang berada di rumah sakit. Pada saat itu lah Jhon membantu semua kesusahan Rosalinda, berhubung jarak usia mereka berjarak lima tahun, Jhon hanya menganggap Linda sebagai seorang adik namun tidak dengan gadis itu yang selalu menanggap Jhon adalah seorang malaikat pelindung nya.
"Kau mencintai ku terlalu dalam Linda, obsesi mu terlampau tinggi namun realita tidak berpihak kepada mu. Kau menghancurkan rumah tangga Theo sehingga membaut keluarga nya mengambil tindakan kasar. Lalu,apa itu masih salah mereka? tidak, di sini aku yang salah karena sudah mendapatkan mu denganTheo."
"Berhenti membual, sekarang aku hanya ingin melihat kalian hancur sebagai mana hancur nya aku." kata Rosalinda dengan penuh ancaman.
"Berhentilah, jangan memaksa ku untuk mengambil tindakan kasar yang akan membuat hidup mu hancur untuk ke dua kali nya." Jhon mengancam Rosalinda.
"Kalau begitu, nikahi aku....!" seru nya membuat Jhon tertawa hambar dengan permintaan Rosalinda. Ya, wanita itu belum pernah menikah karena sepanjang hidupnya hanya di habiskan untuk balas dendam.
"Ku pikir kau telah berubah, ternyata sama saja.Ego mu terlalu tinggi, mengharapkan sesuatu yang tak bisa kau gapai namun kau memaksa nya." Jhon mencibir sikap Rosalinda. "Ku tegaskan sekali lagi, jika kau masih berani mengganggu keluarga ku atau pun keluarga Theo, aku akan membuat mu menyesal hingga kau masuk ke dalam neraka sekali pun...!" Ancam jhon, kemudian lelaki paruh baya itu memutuskan untuk pergi begitu saja meninggalkan Rosalinda yang sedang mengalami emosi dan penghinaan dari Jhon.