
"Katakan pada Edwin, aku ingin bertemu dengan nya...!" Nadia memerintah dengan suara keras.
"Maaf nona, tuan Edwin tidak ada di kantor!" sahut Security yang berkacamata hitam itu. "Sebaiknya nona pergi dan jangan membuat keributan di sini." usir pria berkepala pelontos itu.
Nadia menarik nafas dalam, wanita menerobos masuk namun dengan cepat ke dua Security itu menarik Nadia secara paksa lalu mengeluarkan nya dari dalam kantor. Nadia mengumpat habis-habisan, wanita itu tidak terima atas penghinaan itu.
Namun tiba-tiba Nadia melihat mobil Edwin memasuki area perusahan. Wanita itu dengan. cepat menghampiri Edwin. "Aku ingin bicara!" ujar Nadia ketika Edwin baru saja keluar dari dalam mobil nya.
"Aku tidak punya waktu...!" seru Edwin tanpa menoleh ke arah Nadia.
"Edwin,...kenapa kau menikah dengan wanita rendahan seperti Emily?" tanya nya dengan nada tinggi hingga membuat semua karyawan yang ada di situ mendengar semua. Langkah Edwin dan Darren terhenti, Darren sangat yakin jika Edwin akan terpancing oleh ucapan Nadia. Carry yang ada di situ memandang Darren takut. "Apa wanita itu menggunakan pemikat sehingga kau terpikat dengan wanita jalang seperti nya?"
Edwin menghampiri Nadia kemudian mencengkram leher wanita itu, sorot mata nya tajam. "Siapa yang kau bilang rendahan dan jalang?" tanya nya dengan suara dingin.
"Edw,...lepaskan aku....!" pinta Nadia hampir ke habisan nafas. Semua orang yang melihat hal itu tidak bisa berbuat banyak karena Edwin pasti akan marah.
"Sekali lagi kau mengatai calon istri ku, akan aku pasti kan mulut mu yang manis ini akan ternoda!" ancam Edwin lalu mendorong tubuh Nadia hingga wanita itu jatuh tersungkur. Wanita itu terbatuk-batuk sambil memegang lehernya yang sakit. Edwin langsung memerintah anak buah nya untuk mengusir Nadia. Wanita itu tidak terima dan langsung mengadu dengan papi nya.
Di lain tempat, Nathan dan Emily juga Grace sedang makan siang bersama, Grace nampak bahagia karena wanita itu merasa seperti memiliki dua orang anak. Bahkan kebahagiaan Grace bertambah beberapa kali lipat di saat Emily dan Nathan menyuapinya makan.
"Aunty....." sapa suara lembut yang sok akrab itu. Grace langsung menampakan wajah masam nya. "Hiii....Nathan...!" sapa nya pada Nathan juga tapi tidak kepada Emily. "Boleh aku bergabung?" tanya Catrina tidak tahu malu.
"Ini adalah acara makan siang ku, maaf nona Catrina, seperti nya tidak bisa!" sahut Grace adalah penghinaan untuk Catrina.
Emily menahan tawa nya, membuat Catrina semakin tidak senang dengan keberuntungan Emily saat ini. "Bukan kah kau calon istri dari mantan suami ku? aku sudah menerima undangan pernikahan kalian!" ucap nya membuat Emily sedikit terkejut perihal undangan.
"Jangan mengganggu kakak ku...!" kata Nathan tidak suka.
"Aku tidak mengganggu, hanya saja kakak mu ini harus tahu jika laki-laki yang akan dia nikahi adalah bekas ku!" kata Catrina dengan wajah angkuh nya.
"Ck.....Ku pikir Edwin tidak pernah menyentuh mu, dan dia bukan bekas kau!" Emily berdecak mengejek kata-kata Catrina.
"Jangan bangga Emily, Edwin pasti akan melakukan hal yang sama pada mu. Dia pasti akan menceraikan mu juga!" seru nya membuat emosi Nathan tersulut.
"Kakak ku bukan wanita jalang seperti mu. Kau adalah wanita yang sangat tidak terhormat yang rela menjual tubuh mu hanya demi popularitas!" kali ini Nathan benar-benar membela kakak nya. Catrina mengepalkan ke dua tinju nya, wanita itu tidak terima atas penghinaan Nathan.
"Sebaiknya kau pergi, jangan menghilangkan selera makan kami." usir Grace dengan gaya anggun nya.
"Ada apa ini? kenapa firasat ku tidak enak?" batin Catrina lalu wanita itu mengeluarkan ponsel milik nya. Mata Catrina melotot ketika diri nya menonton penggalan rekaman saat diri nya di hina oleh Nathan bahkan video tersebut sudah menjadi tanding nomor satu di negara mereka. Sebagai seorang model, sudah tentu Catrina takut jika nama baik nya akan hancur.
"Awas saja kau Emily, aku akan membuat perhitungan dengan mu...!" ucap nya dengan menggertakan gigi.
Di kantor, Edwin tersenyum puas di saat pria itu melihat jika Nathan bisa menjaga calon istri nya dengan baik. "Bocah ingusan itu bisa di andalkan juga...!" gumam Edwin.
"Anak manja itu ternyata bisa berpikir juga." sahut Darren.
Siang berganti malam, Emily mengajak Edwin untuk bertemu karena wanita itu masih bingung dengan undangan yang di maksud oleh Catrina tadi. "Apa aku terlihat egois?" tanya Edwin.
"Tidak, tapi kenapa kau tidak melibatkan ku untuk mengurus pernikahan ini?" tanya Emily balik.
"Bee,...aku menikahi mu untuk menjadikan kau ratu dalam hidup ku. Aku tidak ingin kau berpikir terlalu keras apa lagi sampai kau kelelahan. Jadi, aku mempersiapkan semua nya sendiri." Edwin mengatakan alasannya.
Emily tersenyum haru, ke dua mata wanita itu berkaca-kaca. "Terimakasih sayang...!" ucap Emily lalu memeluk Edwin.
Edwin membalas pelukan Emily sambil berkata. "Wanita itu di perjuangkan, bukan memperjuangkan. Jadi, aku hanya ingin memperjuangkan hati mu dengan cara ku sendiri."
"Aku mencintaimu...!" Emily mengatakan dengan kesungguhan hati nya.
"Aku juga mencintaimu bee...." sahut Edwin tidak mau kalah. "Mari kita rencanakan kehidupan kita ke depan nya. Jangan pernah dengarkan apa kata orang tentang diri ku begitu juga aku yang akan tutup telinga tentang diri mu."
Suasana malam ini sungguh indah, di balkon apartemen dengan pemandangan yang sangat indah. Lampu-lampu kota menghiasai dataran yang indah ini, di tambah kerlipan bintang menambah syahdu malam ini.
"Pernikahan seperti apa yang kau impikan bee...?" tanya Edwin karena lelaki itu paman jika setiap wanita memiliki impian pernikahan nya sendiri.
"Aku sangat suka senja, dulu aku selalu berkhayal menikah di pinggir pantai di hiasi langit jingga dengan semua orang berpakaian gaun putih dan juga jas berwarna putih. Hiasan lampu-lampu pijar juga bunga-bunga serba berwarna putih." wanita itu mengungkapkan khayalan nya.
"Kenapa kau suka warna putih?" tanya Edwin penasaran.
"Pernikahan adalah hal suci juga sakral. Di saat kita menikah di situ lah perjalanan hidup kita yang sesungguhnya akan di mulai. Aku selalu mengimpikan sebagai seorang ibu yang merawat anak-anak juga merawat suami nya. Terlahir tanpa memiliki orang tua, membuat ku berambisi menjadi orang tua yang sempurna meski aku sadar aku jauh dari kata sempurna. Tapi, setidaknya anak-anak ku kelak memiliki keluarga yang utuh dengan segala limpahan kasih sayang." Emily berkata dengan panjang lebar.
Edwin hanya menanggapi dengan senyuman, sebagai seorang lelaki yang sangat mencintai Emily, Edwin akan memenuhi segala keinginan wanita itu. Cinta yang sudah terlalu dalam, Edwin sangat takut akan kehilangan Emily.