Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
44.Kau Satu-satunya



"Sejak kapan kakak sangat pandai memasak?" tanya Nathan yang melihat kakak nya begitu cekatan meracik semua bahan masakan.


"Hidup sebatang kara membuat kakak banyak belajar bagaimana berjuang untuk hidup termasuk belajar memasak. Tidak mungkin kakak makan di luar seumur hidup kakak!" sahut Emily membuat adik nya semakin kagum dengan kehidupan sang kakak.


Nathan berdiri, menghampiri kakak nya lalu bersandar pada meja. "Mommy kan sudah menawarkan kakak untuk tinggal di rumah utama. Kenapa kakak selalu menolak?"


Emily melepaskan pisau nya lalu berkata pada adiknya agar Nathan tidak salah paham."Jika kakak tinggal di sana, kakak akan di cap sebagai orang asing yang menumpang hidup. Biarlah kakak tinggal seorang diri yang penting kakak masih bisa bertemu dengan mu."


Nathan menarik nafas dalam, belum sempat pria itu menyahut omongan kakak nya, Edwin tiba-tiba sudah berada di sana. "Seperti hantu saja! tidak di undang tapi datang menumpang makan!" singgung Nathan.


Emily memukul kecil lengan adik nya, "Berkata yang sopan." tegur Emily meski wanita itu tahu adik nya hanya bercanda.


"Bee,...aku sudah biasa mendengar kata-kata pedas dari adik mu yang tidak tahu diri ini...!" balas Edwin membuat Nathan semakin geram.


Emily sudah selesai dengan masakanya, wanita itu kemudian menghidangkan semua makanan di atas meja. Bagai dua anak kecil, Edwin dan Nathan saling berebut. Selesai sarapan, Edwin dan Emily langsung pergi untuk mengepas gaun pengantin yang sudah di pesan oleh Edwin sebelumnya.


Nathan memilih tidak ikut ketika Emily dan Edwin mengajak nya karena pria itu ada pekerjaan. Bertepat di sebuah butik ternama yang di kenal dengan Desainer ternama, Emily menatap kagum ketika memasuki ruangan itu. Jejeran gaun terpajang rapi dengan indah bahkan sangat memanjakan mata. Namun bukan gaun seperti itu yang akan di kenakan Emily di hari pernikahan nya nanti.


"Selamat pagi tuan Edwin..." sapa pemilik butik yang turun langsung melayani Edwin dan Emily.


"Di mana pesanan ku?" tanpa basa basi Edwin langsung menanyakan gaun yang sudah di rancang khusus untuk Emily itu.


"Silahkan ikuti saya tuan. Saya menyimpan gaun itu di ruang pribadi khusus untuk tuan dan nona Emily." Miss Erina kemudian mengajak Edwin dan Emily pergi ke ruangan yang dia maksud.


Lagi-lagi, mata Emily di buat terpana dengan gaun pengantin yang berwarna putih dengan model ramping di pinggang sedikit mengembang di bawah dengan ekor yang sangat panjang. Bagian dada dan pundak sedikit terbuka sebagai pemanis karena Edwin tidak terlalu suka jika terlalu terbuka.


"Bee,...apa kau suka?" tanya Edwin membuyarkan kekaguman Emily.


Wanita itu menoleh ke arah Edwin, "Memangnya boleh?" tanya wanita itu kikuk.


Edwin tersenyum, "Tentu saja boleh. Kau calon istri ku, sudah seharusnya kau mencoba gaun ini."


Seketika Emily melebarkan senyum nya, wanita itu berterimakasih kepada calon suami nya. Di bantu beberapa karyawan butik, Emily langsung mencoba gaun pengantin yang sangat sempurna itu. Wanita itu merasa sangat terharu, Edwin benar-benar mempersiapkan segala nya dengan sangat matang.


"Apa kau suka bee? jika tidak, aku bisa memesan gaun yang lain untuk mu." tanya Edwin sambil meraih tangan wanita itu.


"Tidak sayang,...aku suka bahkan sangat suka. Kau sangat tahu persis apa yang aku suka." ujar Emily. "Hmmm,...apa kau sudah mencoba jas mu?" tanya Emily karena Edwin seperti terlihat biasa saja.


Edwin menyelipakan anak rambut di telinga Emily lalu berkata. "Aku akan mengenakan nya langsung pada saat hari pernikahan kita."


"Jika kurang pas bagaimana?" tanya Emily khawatir.


"Tidak akan terjadi...." ujar Edwin. "Sebaiknya kita pergi, aku ingin mengajak mu jalan-jalan hari ini."


Emily langsung mamancarkan aura kebahagiaan dari wajah nya. Sudah lama rasa nya Edwin tidak mengajak wanita itu pergi jalan-jalan. Hari ini adalah milik Emily, wanita itu bebas mengajak Edwin pergi kemana pun sesuka hati nya.


Jalan-jalan mengelilingi kota bahkan Edwin tidak menolak sama sekali ketika Emily mengajak nya makan di penjual kaki lima. Ini adalah hal yang tidak pernah Edwin temui ketika diri nya dulu banyak mengenal wanita. Hanya Emily yang mengajak nya makan di pinggiran jalan. Bahkan beberapa tahun menjalin hubungan sampai menikah dengan Catrina, wanita itu akan menolak jika di ajak makan di restoran tidak berkelas.


"Lihat sayang, ...miniatur ini persis diri mu." ujar Emily menunjuk sebuah miniatur laki-laki dengan wajah dingin. "Aku akan membelinya untuk mu." kata Emily senang. Edwin hanya bisa menahan tawa melihat tingkah konyol Emily.


"Aku juga ingin membeli ini untuk mu..." Edwin tak mau kalah, pria itu juga membeli ssbuah miniatur anak perempuan yang mengenakan gaun pengantin dengan gambaran pipi merah.


Emily dan Edwin tertawa bersama ketika melihat benda yang mereka beli. Edwin baru sadar sekarang, tak butuh benda mahal atau barang branded untuk membuat sebuah kebahagiaan asal pasangan kita bisa menerima kita apa adanya.


Banyak pelajaran yang di ambil oleh pria itu, sosok Emily yang sederhana bahkan untuk pakaian pun tidak ada yang bermerek mahal. Tidak seperti perempuan yang di luar sana saling berlomba-lomba mempercantik diri dan mengoleksi barang mahal. Tidak, Emily tidak memiliki semua itu dalam hidup nya.


"Jika boleh ku tebak, kalian orang kaya pasti tidak pernah makan es krim di taman seperti ini kan?" ujar Emily sambil mendaratkan tubuh nya di bangku taman.


"Kau satu-satunya orang yang bisa membuat hidup ku lebih berwarna bee..." sahut Edwin dengan sungguh-sungguh.


"Kau yang membuat hidup ku banyak berubah . Jika bukan kau, kemungkinan besar sekarang aku akan tetap hidup dalam tekanan ayah tiri ku."Emily berkata dengan nada sedih. Jika wanita itu terbayang bagaimana kehidupan nya dulu, sudah pasti Emily akan menangis sedih.


"Jangan mengingat masa lalu bee...aku tidak suka! kau hanya akan hidup bahagia bersama ku dan tidak akan bersama orang lain." Edwin mengatakan dengan tegas. "Tetaplah menjadi Emily ku yang sederhana meski aku sebagai suami mu nanti memiliki limapahan kekayaan. Aku hanya ingin hidup bersama mu, memiliki anak lalu menua bersama. Bukankah itu salah satu tujuan dua orang asing yang di satukan dalam ikatan pernikahan?" kata-kata Edwin sangat dewasa. Meski pria ini pernah gagal dalam pernikahan nya, namun entah kenapa Emily dapat menangkap jika Edwin memiliki banyak harapan atas sebuah pernikahan.