
"Mau apa kau ke sini?" tanya Edwin dengan wajah dinginnya.
"Aku membawakan mu sarapan." jawab Nadia lalu menyodorkan paper bag tersebut.
Edwin hanya melirik, "Kau pikir aku miskin! bawa pulang makanan mu..!" tolak Edwin membuat Nadia mengeluarkan jurus wajah sedih nya.
"Ayo lah Edw,...niat ku tulus..." rayu Nadia.
Edwin menghela nafas panjang, "Kau dan sahabat mu itu sama saja! Kenapa keluarga Adreson membiarkan mu berkeliaran seperti ini?" cibir Edwin kemudian masuk ke dalam ruangan nya.
Nadia yang kesal langsung mengumpat laki-laki itu. Sedangkan Emily dan Carry yang sejak tadi menonton acara gratis itu hanya bisa menahan tawa nya.
"Menurut mu, kenapa Nadia tiba-tiba mendekati ku setelah aku bercerai dengan Catrina?" tanya Edwin pada Darren.
"Menurut apa? Jika bukan kau memiliki banyak kekuasaan, tidak mungkin tuan Jhon Andreson menyuruh anak nya untuk mendekati mu." ujar Darren membuat Edwin bergeleng kepala.
"Dua hari lagi Emily akan resmi bekerja di perusahaan Alexander, pastikan kau juga mengirim mata-mata di sana." perintag Edwin.
"Apa kau yakin dengan cara mu ini Edw? aku hanya takut jika Emily akan terlibat jauh lebih dalam lagi." ucap Darren ragu.
"Kau terlalu banyak berpikir Darr, jika tidak seperti ini, bagaimana Emily bisa mendekati adiknya. Kau bisa lihat nanti, Jika Nathan tidak bisa menerima Emily sebagai kakaknya." gumam Edwin. Lelaki itu cukup pintar untuk menebak semua nya.
Jam menunjukkan pukul dua siang, sore ini Edwin ada meeting bersama klien dari luar negeri. Baru saja Edwin keluar dari lift, resepsionis memberi tahu jika hadiah dari penggemar sudah banyak menumpuk seperti biasanya.
"Seperti biasa, kalian bagi-bagi saja dengan karyawan lain." ujar Edwin membuat beberapa karyawan kegirangan karena mereka tahu, jika hadiah yang di kirim dari para penggemar nya memiliki harga yang fantastis.
"Tunggu sebentar..." ujar Darren. "Aku penasaran, isi nya apa? tolong ambil dua untuk ku." perintah Darren lalu resepsionis tersebut mengambil nya.
Darren kemudian membuka hadiah yang berukuran tidak terlalu besar tersebut. "Waaah...parfum mahal dan hanya ada beberapa saja di pasaran." ujar Darren tidak percaya dengan hadiah nya. "Kau mau tidak?" tawar Darren pada Edwin.
"Ambil saja untuk mu." jawab Edwin tidak menginginkan nya.
Darren kembali membuka hadiah yang ke dua, mata nya terbelalak ketika melihat isi dari kado tersebut. Ke dua resepsionis tersebut membuang pandangan dan Darren langsung tertawa terbahak-bahak.
"Apa ini? kenapa penggemar mu mengirim pengaman untuk pria?" ujar Darren tak bisa lagi menahan tawanya.
"Diam kau! ayo pergi...!" ucap Edwin kesal.
"Lain kali, panggil aku jika para penggemar bos mengirimkan hadiah." pesan Darren sebelum mereka pergi.
Tak habis pikir, Darren masih mentertawakan Edwin dan tentu saja pria itu terlihat sangat kesal. "Jika kau masih tertawa, akan ku potong gaji mu!" ancam Edwin membuat Darren langsung terdiam.
Kejadian di loby ternyata membuat Emily galau, wanita itu melihat ketika Edwin dan Darren membahas masalah hadiah dari para penggemar. Emily hanya berpikir jika selama ini Edwin lah yang selalu membantu nya namun dia sendiri belum melakukan apa-apa pada Edwin.
"Apa kau masih mau menimbun perasaan mu untuk Edwin? tanya Carry.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya balik Emily.
"Kau benar Carr,...rata-rata wanita yang mendekati Edwin semua nya cantik dan berpakaian bagus. Lihat diri ku ini,aku hanya di ujung kuku mereka saja." Keluh wanita itu sedih.
"Sudahlah,...jangan berpikir terlalu dalam. Kau pikirkan saja bagaimana cara mu mendekati adik mu. Kau bahkan butuh perjuangan untuk itu." ucap Carry memberi semangat.
Sebenarnya, pekerjaan di lantai delapan itu sangat lah nyaman, mereka lebih banyak bersantai dari pada bekerja. Namun tetap saja, tidak ada yang mau bekerja satu lantai dengan Edwin.
Di lain tempat, Edwin dan Darren baru saja selesai meeting, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju markas. Sesampainya di markas, Edwin berganti pakaian serba hitam. Kali ini wajah nya benar-benar menakutkan. Laki-laki yang menguasai segala macam ilmu bela diri dan senjata itu patut di segani.
"Siapa mereka?" tanya Edwin dengan suara dinginnya.
"Anak buah Andreson dan yang dua itu adalah anak buah Alexander yang berkhianat." ujar Darren memberi tahu.
"Biarkan mereka berdua hidup." perintah Edwin sekaan mendapatkan mainan baru. "Di mana senjata api nya?" tanya Edwin pada anak buahnya.
"Ada di ruangan rahasia tuan." jawab pria bermata satu yang dulu nya pernah menjadi anak buah Alexander lalu di buang begitu saja hanya karena satu kesalahan. Mata pria itu sengaja di congkel satu lalu ia di buang ke laut dan Edwin lah yang menolong nya.
Edwin dan Darren kemudian pergi keruangan rahasia. Lelaki itu menyentuh senjata api yang sangat cantik dan berkilauan tersebut.
"Mau kita apakan barang ini?" tanya Darren.
"Lakukan seperti biasa yang kita lakukan. Jatuhkan nama baik keluarga Adreson secara perlahan hingga mereka tunduk pada kita." perintah Edwin kemudian pergi.
Duda ini sungguh menakutkan, bagaimana jika Emily mengetahui dunia gelapnya. Selama ini Emily hanya tahu jika Edwin memiliki gudang lama tanpa tahu seluk beluk isi di dalamnya.
Permainan seperti apa yang sedang Edwin mainkan? bahkan Darren saja tidak bisa menebaknya. .
Edwin melirik jam yang melingkar di tangannya, "Kau pulang sendiri. Aku ada janji dengan Emily." ucap lelaki itu membuat Darren kesal.
Edwin yang sudah berganti pakaian langsung pergi meninggalkan markas nya. Pria itu pergi menuju apartemen Emily. Sesampainya di apartemen, sejenak Edwin terdiam ketika melihat beberapa menu yang terhidang di atas meja makan. Emily juga masih sibuk menyiapkan minuman untuk mereka berdua.
"Kau memasak?" tanya Edwin.
"Iya, sebagai tanda terimakasih ku. Aku memasak untuk mu." jawab Emily dengan senyum termanisnya. "Ayo makan..." ajak Emily.
Bagai pasangan suami istri, Emily melayani Edwin dengan sangat telaten. Mata elang itu hanya bisa mengikuti arah pergerakan Emily.
"Ayo makan....!" ujar Emily lalu Edwin mengambil sendok dan mengicipi makanan tersebut.
"Enak! kau sangat pandai memasak." puji Edwin membuat jantung Emily nyaris berhenti.
"Terimakasih pujianny." ucap Emily malu-malu. .
"Lain kali, kita tidak usah makan di luar. Biar kau saja yang masak." ujar Edwin semakin membuat Emily melayang tak beraturan.
Mereka akhirnya menikmati makan malam bersama yang sengaja di masak oleh Emily. Entahlah, Edwin seperti merasakan jika ia memiliki seorang istri sekarang. Sebagai laki-laki normal, Edwin juga pernah memimpikan memiliki istri yang pandai memasak. Edwin juga bermimpi ingin memiliki rumah tangga bahagia hidup bersama istri dan anak-anaknya. Sesekali pria itu melirik wajah Emily hingga membuat Emily menjadi salah tingkah.