Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
06.Adik Emily



"Apa kau serius Emily?" tanya Carry tidak percaya.


"Bagaimana aku menolak nya? jika si duda itu terus mengancam ku!"


"Tapi tak apa Em...Menurut ku bos kita itu orang baik. Kau sangat beruntung bisa dekat dengan pak edwin."


"Carr....bolehkah aku jatuh cinta pada nya?" tanya Emily dengan wajah sedih nya.


"Semua orang berhak jatuh cinta Em, hanya saja kita harus bisa melihat kepada siapa kita akan jatuh cinta." gumam Carry. "Perbedaan kau dan Edwin sangat jauh, tolonglah Em, jangan berkhayal terlalu tinggi. Dia membantu mu saja seharusnya kau bersyukur dan jangan meminta lebih." timpal wanita itu kembali membuat Emily patah hati.


"Terimakasih sudah mengingatkan ku Carr..." ucap Emily dengan senyum terpaksa nya.


Jam pulang akhir nya tiba, dengan langkah gontai wanita itu menyusuri jalan trotoar menuju apartemen baru nya. Kemana Edwin hari ini? kenapa pria itu tidak kelihatan?


Sesampainya di apartemen, Emily langsung pergi mandi. Selesai mandi wanita itu memasak mi instan untuk sekedar mengganjal perut nya.


Jam menunjukkan pukul tujuh malam, Emily bergegas pergi ke cafe karena ia masih bekerja di cafe yang sebenarnya milik Edwin. Entah kenapa tiba-tiba sorot Mata Emily berubah sedih ketika melihat Edwin sedang makan berdua dengan seorang wanita cantik.


"Benar kata Cerry. Aku dan dia tidak cocok untuk bersanding." batin Emily mentertawakan diri nya sendiri.


Tiba-tiba pandangan Edwin melihat ke arah Emily yang sedang melayani pelanggan. Mata elang itu terus mengawasi gerak gerik Emily hingga membuat wanita yang ada di depan nya itu kesal.


"Apa yang kau lihat Ed...?" tanya Vellin.


"Tidak ada!" jawab Edwin kemudian pergi begitu saja. Edwin bahkan tidak menghiraukan panggilan dari Vellin.


Vellin yang kesal akhirnya meminta jemput pada seorang laki-laki. "Ciiih...murahan!" cibir Edwin yang masih berada di parkiran.


Pukul sepuluh akhirnya tiba, Emily bergegas pulang. Namun baru saja ia keluar dari halaman cafe, Frans yang sejak tadi menunggu nya langsung menjambak rambut wanita itu kasar.


"Katakan, di mana kau pindah?" tanya Frans setengah mabuk.


"Tidak, aku tidak akan memberi tahu mu. Lepaskan aku...!" teriak Emily.


Tiba-tiba Frans terjungkal, dan ternyata Edwin lah yang sudah menendang Frans. Edwin langsung memeluk Emily yang ketakutan.


"Kau...! kau akan tahu akibat nya jika terus mengganggu Emily." ucap Edwin penuh penekanan. Edwin kemudian membawa Emily masuk ke dalam mobil nya. Sejak tadi Edwin sengaja menunggu Emily pulang karena ia tahu jika wanita itu akan selalu dalam bahaya.


"Kenapa kau bekerja selarut ini? apakah kau tidak lelah bekerja siang malam?" tanya Edwin kesal.


"Menurut mu kenapa? orang miskin seperti ku sudah seharusnya bekerja siang dan malam."


Edwin menghentikan mobil nya, "Berhentilah bekerja malam, kau juga butuh istirahat. Masalah ayah tiri mu, aku akan mengurus nya." ujar Edwin.


Emily kemudian menatap dalam mata elang itu, "Kenapa kau sangat baik pada ku? apa yang sebenarnya kau inginkan dari ku?" tanya Emily cukup penasaran.


Iya,...apa yang sebenarnya di inginkan oleh Edwin? kenapa dia sangat baik pada Emily?


Edwin melajukan kembali mobil nya dan mengantar Emily pulang. Lelaki itu terus meminta pada Emily agar berhenti dari pekerjaan nya.


"Tunggu...." panggil Edwin membuat langkah Emily terhenti. "Aku sudah melihat riwayat hidup mu. Kau pernah berkuliah, dan aku meminta mu untuk kau melanjutkan kuliah mu." ujar Edwin membuat Emily terperangah.


"Aku tidak punya uang, bekerja untuk makan saja aku sudah sangat bersyukur." sahut Emily.


"Darren sudah mengurus semua nya untuk mu. Dari hari senin hingga jum'at kau bisa bekerja sedangkan sabtu dan minggu kau akan kuliah." papar Edwin.


Cukup geram Emily, karena melihat sikap lelaki yang ada di depan nya ini. Suka mengambil keputusan dan tidak menerima penolakan.


Setelah mengantar Emily pulang, Edwin pergi ke markas tempat di mana banyak anak buah nya yang sedang berlatih atau hanya sekedar menghajar orang.


"Selamat malam tuan..." ucap serentak semua anak buah Edwin.


"Aku mau kalian menangkap yang nama Frans. Dia ada di salah satu club ku..." perintah Edwin langsung di laksanakan oleh anak buah nya.


Sambil menunggu anak buah nya kembali, Edwin melihat-lihat anak buah nya yang sengaja ia didik menjadi manusia yang pandai menguasai segala macam jenis senjata dan bela diri. Hanya bisnis kecil yang di jalankan Edwin, mengacaukan bisnis gelap yang hampir setiap hari ia jumpai itu adalah bisnis Edwin.


Tak butuh waktu lama, beberapa anak buah Edwin datang dengan membawa Frans yang sudah babak belur itu. Mereka mengikat Frans yang sudah tak berdaya di kursi tua yang tentu nya sudah banyak alumni dari kursi tersebut.


"Maaf jika kami menghajarnya tuan. Orang ini melawan." ucap pria dengan gestur tubuh tinggi besar dan tidak memiliki satu mata.


"Sudah sepantasnya dia di hajar." ucap Edwin dengan suara berat nya. Lelaki itu kemudian maju menghampiri Frans yang masih sadar.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Frans terbata-bata. "Apa hubungan mu dengan Emily?"


Edwin tertawa renyah, "Jika aku mengatakan anak tiri mu itu calon istri ku bagaimana?" tanya balik Edwin dengan wajah dingin nya.


"Berapa kau membeli tubuh nya?" tanya Frans dengan beraninya hingga menyulut emosi Edwin. Lelaki itu memberi bogem mentah ke wajah Frans.


"Akhir seperti apa yang kau minta? selama ini kau suka menampar wajah mulus Emily. Katakan pada ku, akhir seperti apa yang kau mau?" tanya Edwin sambil mencengkram wajah Frans yang sudah berlumuran darah.


"Kau tidak akan bisa membunuh ku, karena adik kandung Emily ada di tangan ku." ucap Frans dengan tawa yang terputus-putus.


"Apa maksud mu?" tanya Edwin bingung.


"Emily memiliki adik dengan satu ayah yang sama. Saat dia lahir aku sudah menjualnya pada pengusaha." ujar Frans memberi tahu. "Bunuh aku, maka kau tidak akan bisa menemukan adik Emily." ancam Frans.


Edwin melepas cengkraman nya, pria itu meminta pada anak buah nya untuk mengahajar Frans agar pria itu mau buka suara perihal kebenarannya.


Edwin melanjukan mobilna, hati lelaki itu nampak gelisah. Apa selama ini Emily tidak tahu JiKa ia memiliki adik. Umur berapakah adik Emily, kenapa ia tidak pernah mengetahuinya? Banyak pertanyaan yang mengganjal di otak Edwin, lelaki itu seperti tertantang untuk mengungkap kebenaran tentang masalah Emily.


Edwin tiba di rumah mewah nya tepat pukul satu dini hari,lelaki itu pergi berendam sebentar untuk sekedar menghilangkan rasa penat di tubuh nya.