
"Jangan pergi, kakak mau kamu menemani kakak hari ini." kata Emily sedikit manja.
"Tapi kakak harus istirahat." ujar Nathan merasa tidak enak hati dengan kakak ipar nya.
"Turuti apa kata kakak mu...!" seru Edwin yang tidak mau mengecewakan istri nya.
Jadilah seharian ini Emily hanya menghabiskan waktu nya bersama dengan Nathan. Edwin seakan di lupakan, bahkan pria itu mulai merasakan cemburu pada adik ipar nya.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Nathan harus segera pulang. Meski pun berat membiarkan adik nya untuk pulang, Emily hanya bisa pasrah.
Wajar saja jika wanita hamil itu sangat manja, contoh seperti malam ini Emily ingin tidur dengan perut yang di usap. Jadi lah semalam Edwin mengusap perut istri nya. Lelaki itu sangat senang dan bahagia, impian memiliki anak akan segera terwujud.
Sebagai suami yang baik, Edwin berencana akan memindahkan pekerjaan nya ke rumah. Lelaki ini tidak ingin ketinggalan dalam perkembangan kehamilan istri nya.
Malam telah berganti pagi, Emily kembali muntah-muntah atau bisa di sebut morning sickness. Tanpa rasa jijik, Edwin terus menemani istri di kamar mandi. Tidak lupa juga jika Edwin sudah menyuruh palayan di rumah nya untuk menyiapkan teh hangat dan susu juga sarapan yang bernutrisi untuk istri nya.
"Masih ingin muntah?" tanya Edwin.
"Tidak, aku hanya ingin berbaring...!" jawab Emily lemas. Edwin langsung menggendong Emily kembali ke tempat tidur.
"Minum teh nya,...!" ujar Edwin.
Pria itu terus mengusap perut istrinya agar Emily merasa nyaman. Benar, wanita itu merasa nyaman sekarang. "Suami ku, aku ingin sekali makan kue pai susu buatan mu." kata Emily membuat Edwin menelan ludah nya kasar. Seumur-umur mana pernah diri nya membuat kue.
Nama nya juga suami yang baik, mana mungkin Edwin menolak permintaan istri nya. "Baik bee,...aku akan membuatkan nya untuk mu." kata Edwin.
Lelaki itu kemudian pergi ke dapur, membuat para pelayan merasa bingung, "Ada yang bisa kami bantu tuan?" tanya kepala pelayan.
"Istri ku ingin makan kue pai. Bagaimana cara membuat nya?" tanya Edwin balik.
"Sebaiknya tuan kembali ke kamar. Biar kami yang membuat nya." ujar pelayan itu sopan.
Bergulat dengan tepung dan telur, kue pai pertama gosong dan rasa nya sangat tidak enak. Tak mau menyerah, Edwin kembali membuat adonan kue pai susu.
Theo yang tidak sengaja lewat berbelok ke arah dapur ketika mendengar suara keributan. "Apa yang kau lakukan Edwin?" tanya Theo terkejut melihat wajah anak nya yang sudah di penuhi tepung.
"Istri ku ingin makan kue pai buatan ku. Jadi aku harus membuat nya sendiri." jawab Edwin.
Theo bergeleng kepala,"Sepertinya anak mu akan jauh lebih nakal dari pada diri mu." ujar Theo langsung mendapatkan lirikan tajam dari Edwin.
Theo mengangkat ke dua pundak nya, lelaki paruh baya itu kembali melanjutkan langkah menuju teras samping untuk sekedar duduk sambil membaca berita.
Untung saja percobaan ke dua Edwin berhasil membuat kue pesanan istri nya. Pria itu membawa piring sambil bersenandung kecil menuju kamar nya.
"Istri ku,....lihat apa yang aku bawa ini?" ujar Edwin sambil menyodorkan satu piring penuh kue yang ia buat sendiri.
"Wuuah,...ini bikin sendiri atau.....!" Emily menebak.
"Apa kau tidak lihat wajah ku ini bee? tepung semua....!" ujar Edwin.
"Bercanda,...terimakasih suami ku." ucap Emily tidak lupa dengan hadiah ciuman nya.
Emily kemudian mencicipi kue tersebut, "Bagaimana, apa ini enak?" tanya Edwin.
"Sangat enak. Kau sangat pandai dalam banyak hal suami ku." puji Emily membuat kepala Edwin besar.
"Habiskanlah....Aku akan mandi sebentar." kata Edwin kemudian pria itu berjalan menuju kamar mandi. "Bee,...besok kita akan pergi ke Dokter. Aku ingin melihat perkembangan anak kita." ujar Edwin sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
"Hmmmm....iya...!" seru Emily sambil menikmati kue buatan suami nya yang rasa nya sangat nikmat ini. Nama nya juga ibu hamil, apa pun yang menurut nya enak pasti akan di makan. Tidak lupa Emily menyisihkan beberapa kue untuk di simpan nya. Mungkin akan di makan nanti.