
Tidak ada lagi orang yang akan menolong Nadia. Wanita ini berusaha menghubungi Rosalinda namun hanya operator yang menjawab. Wanita ini bahkan tidak berniat untuk menjawab semua pertanyaan dari polisi. Pada akhirnya, Darren yang geram dengan sikap Nadia langsung merampas ponsel wanita itu lalu membanting nya.
"Kenapa kau membanting ponsel ku?" tanya wanita itu dengan nada tinggi.
"Siapa yang akan kau hubungi? Rosalinda? dia sudah tidak ada, sekarang kau harus menerima hukuman atas perbuatan mu sendiri." Darren berkata dengan nada yang tak kalah tinggi nya.
Dua polisi berusaha menenangkan mereka berdua, menyuruh Darren untuk keluar agar tidak menganggu. Sedangkan Andreson, hanya duduk di kursi roda dengan wajah lesu nya.
Di rumah sakit, semua orang berkumpul untuk melihat keadaan Emily. Bahkan, Edwin tidak mau beranjak dari sisi istri nya saat ini. Melihat semua orang peduli pada nya, wanita ini merasa jika hubungan keluarga tidak harus di mulai dari ikatan darah.
"Kau ingin makan apa bee?" tanya Edwin.
"Aku ingin makan kue pai anggur dan susu hangat." jawab wanita itu tidak merasa sungkan.
Edwin langsung melirik Nathan, lalu bertanya pada adik ipar nya, "Bukankah itu kesukaan mu? lalu kenapa Emily sangat suka menuruti kebiasaan mu itu?"
"Karena aku tampan, jadi anak kalian ingin tampan seperti diri ku!" sahut Nathan membuat Edwin tidak terima dengan pernyataan adik ipar nya.
"Anak mommy memang tampan. Tapi, cepat lah menikah dan berikan mommy dan daddy cucu seperti kakak mu." sahut Grace menepuk pundak anak nya.
"Hmm,...mommy mu ada benar nya juga." sambung Jhon.
"Sebentar lagi, aku akan resmi menua...!" seru Theo.
"Kau memang sudah tua, apa nya resmi menua?" tanya Jhon bingung.
Seberisik ini lah, Theo dan Jhon sudah kembali seperti dulu. Pernah saling membenci dan bermusuhan lalu bermaafan.
"Aku pergi ke kantor polisi dulu. Aku ingin melihat perempuan plastik itu." ujar Nathan.
"Siapa perempuan plastik?" tanya Emily tidak mengerti.
"Nadia mengubah wajah nya dengan operasi plastik, jadi aku memanggil nya perempuan plastik." jawab Nathan membuat Emily tertawa.
"Pergi sana, jika istri ku lama-lama melihat mu nanti anak ku mirip dengan mu!" usir Edwin hanya di tanggapi dengan senyuman oleh Nathan.
Semua orang pulang, kini tinggallah Edwin dan Emily. Lelaki ini mengusap perut istrinya, Edwin terkejut ketika merasakan perut Emily yang bergerak hingga membuat pria ini panik lalu memanggil Dokter.
"Tidak apa-apa tuan. Ini adalah reaksi janin, dia akan terus bergerak jika sudah memasuki usia tujuh bulan dan seterusnya." tutur Dokter membuat Edwin lega.
Setelah jelas, Dokter keluar. Edwin yang penasaran kembali mengusap perut istri nya, membuat perut wanita itu kembali bergerak.
"Bee, dia bergerak lagi." kata Edwin senang. "Apa itu tidak sakit?" tanya Edwin khawatir.
"Tidak bee, coba pegang lagi. Dia menyukai mu." ujar Emily.
Jadilah Edwin senang mengusap perut istrinya, bahkan pria ini terus bicara pada bayi yang ada di dalam perut. Emily terkadang tertawa melihat tingkah konyol suami nya. Untuk beberapa waktu ke depan, Edwin seperti mendapatkan mainan baru yaitu mengusap dan bicara pada perut istrinya.