Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
69.Melahirkan



Sudah memasuki usia kandungan sembilan bulan itu arti nya sebentar lagi Emily akan segera melahirkan. Semakin ke sini juga sikap Edwin semakin perhatian pada istrinya. Hamil besar pasti akan membuat seorang ibu hamil susah tidur, belum lagi ke dua kaki terkadang akan merasa nyeri di malam hari.


Edwin mengusap air mata istri nya, wanita ini mengeluh sangat mengantuk namun kaki dan pinggang nya sangat nyeri. Dengan segala bentuk perhatiannya, Edwin terus bergantian memjiat bagian nya yang sakit.


"Jangan menangis lagi bee, aku tidak sanggup jika melihat harus seperti ini setiap malam." ucap Edwin merasa kacau.


"Ternyata, jadi seorang ibu itu tidak mudah bee. Seperti ini terkadang masih ada suami dan anak yang suka menilai sembarangan." ujar Emily.


"Aku tidak seperti itu bee. Jika bisa rasa sakit itu di pindahkan kepada ku, biar aku saja yang merasakan sakit mu." kata Edwin masih memijat kaki istrinya.


Tiba-tiba, Emily mulai merasa jika perut nya sangat kencang bahkan terasa nyeri. Namun, Emily masih bersikap biasa saja karena menurut Dokter perkiraan Emily akan melahirkan masih sekitar sepuluh hari lagi.


"Bee, kenapa perut ku sangat sakit?" tanya Emily mulai bangun dari tidur nya.


"Apa rasa sakit nya datang setiap beberapa menit?" tanya Edwin yang masih ingat tanda-tanda akan melahirkan.


Emily mengangguk, wanita ini turun dari atas tempat tidur lalu berjalan kesana ke mari untuk menghilangkan rasa sakit. Sedangkan Edwin keluar dari kamar, pria itu memanggil supir dengan teriakan yang membuat semua pelayan di rumah nya keluar semua termasuk Theo yang ikut panik.


"Ada apa Edw, kenapa kau teriak-teriak seperti di hutan saja?" tanya Theo yang sejak tadi masih bermain catur dengan tukang kebun di rumah nya.


"Istri ku mau melahirkan Dad, tolong siapkan rumah sakit." Edwin meminta pada Daddy nya.


Segera mungkin Edwin menggendong istri nya menuju mobil yang sudah di persiapkan. Sepanjang perjalan Emily terus merintih sekitan, membuat Edwin semakin panik dan khawatir. Bahkan, laki-laki ini mengeluarkan air mata melihat kesakitan istri nya.


Nathan dan Grace juga Jhon juga pergi ke rumah sakit setelah mendapatkan kabar dari Theo. Begitu juga dengan Carry dan yang lain nya juga. Demi kelancaran lahir nya pewaris Egalia yang baru, Theo memerintahkan untuk mengosongkan bangsal 5 yang. Bahkan, yang bisa masuk ke dalam bangsal itu hanya Dokter dan perawat pilihan saja.


Setiba nya di rumah sakit, Emily langsung di lakukan pemeriksaan yang ternyata baru pembukaan empat. Emily di haruskan berjalan-jalan sebentar untuk mempercepat pembukaan.


"Perkiraan macam yang kalian berikan? kenapa harus meleset seperti ini?" tanya Edwin kesal.


"Jangan memarahi mereka Edw, mereka memberi kita perkiraan agar kita bisa bersiap-siap dan waspada." ujar Grace.


"Aku sangar mengkhawatirkan istri ku." ucap Edwin.


Rasa sakit mulai datang menyerang, Emily menggenggam tangan suami nya untuk meminta kekuatan. Rasa nya tidak sanggup bagi Edwin melihat istri nya merasa kesakitan seperti ini.


Sebenarnya, Grace merasa iri pada Emily yang bisa melahirkan seperti ini. Namun apa daya, semua sudah kehendak sang kuasa jika diri nya tidak bisa melahirkan.


"Minum dulu Eml,.." ujar Carry.


Edwin memeluk Emily dari belakang, mengusap perut istri nya yang sangat kencang. Bahkan, keringat sudah membasahi wajah Emily.


Emily hampir terjatuh, dengan cepat Edwin menangkap tubuh istrinya. "Jangan seperti ini bee, kau kenapa?" tanya Edwin kembali panik.


"Aku sudah tidak kuat bee, seperti nya anak kita akan lahir." ucap Emily dengan suara bergetar.


"Apa yang kalian lakukan? cepat tolong istri ku!" bentak Edwin pada jejeran Dokter yang sejak tadi berdiri seperti patung.


Dua orang perawat meminta semua orang untuk keluar terkecuali Edwin. Detik-detik kelahiran sang penguasa baru, Edwin hanya membiarkan air mata nya jatuh membasahi pipi. Tangan nya menggenggam erat tangan Emily, memberi semangat pada sang istri. Dokter juga mengarahkan kepada Emily untuk menarik nafas lalu membuang nya hingga begitu seterusnya. Rasa nya patah tulang belulang Emily, wanita ini menekan suara nya ketika sang anak akan keluar. Bahkan, tenaga nya lebih kuat dari sebelum nya.


Suara tangis bayi kini menggema di sudut ruangan, Edwin langsung bersimpuh lemas ketika mendengar suara anak nya untuk yang pertama kali. Begitu juga dengan Emily, wanita ini telah resmi menjadi seorang ibu sekarang.


Dokter meletakan bayi tersebut di atas dada Emily, Edwin langsung membelai wajah istrinya lalu mengecup kening Emily. "Lihatlah dia, dia sangat tampan sama seperti ku." ucap Edwin sangat bahagia.


Untuk beberapa saat Emily masih di bersihkan begitu juga dengan bayi nya. Semua orang masih menunggu dengan harap cemas di luar terutama Nathan. Tak berapa lama seorang perawat keluar lalu memberi kabar jika Emily sudah melahirkan dengan jenis kelamin laki-laki. Semua orang masing-masing berpelukan, entah kenapa kehadiran sang jagoan mampu membuat semua orang bersatu seperti sekarang.


Suasana kembali normal, pihak keluarga sudah di izinkan masuk. Mereka memberi ucapan selamat pada Edwin dan Emily. Dengan bangga Edwin menggendong anak yang dia nantikan selama ini.


"Kenapa wajah nya mirip dengan Nathan?" tanya Darren merasa aneh.


Edwin melirik adik ipar nya lalu berkata dengan nada kesal, "Karena dia suka menempel pada kakak nya. Jadi, anak ku mirip dengan nya."


"Itu terbukti jika aku jauh lebih tampan dari pada kakak ipar." sahut Nathan begitu santai nya.


"Boleh aku menggendong nya Edw,..?" Grace sangat berharap jika Edwin mau mengizinkan nya.


Ternyata, Edwin Mengizinkan Grace untuk menggendong anak nya. Wanita ini nampak senang dan bahagia, "Oh lihatlah Jhon, dia seperti Nathan kecil kita." ucap Grace haru.


"Kau benar Grace, dia seperti Nathan kecil kita." sahut Jhon.


Melihat ke dua orang tua sambil nya seperti ini, Nathan merasa sangat bersyukur karena mendapatkan orang tua dengan limpahan ksig sayang tiada tara.


"Siapa nama nya Edw...?" tanya Theo.


"Sayang, siapa nama anak kita?" Edwin malah bertanya pada istri nya.


"Cepat jawab Emily, aku tidak sabar untuk mengetahui nama anak mu." ujar Carry.


"Nama nya Arion Cavero Egalia." jawab Emily dengan begitu bangga nya.


"Nama yang bagus untuk pewaris Egalia yang baru." ujar Theo yang masih belum berani untuk menggendong cucu nya.


"Ehemmm....ehemm,....!" Darren mengeluarkan deheman nya yang membuat semua orang menoleh ke arah pria itu.


"Ada apa dengan tenggorokan mu itu?" tanya Edwin merasa terganggu.


"Begini, berhubung Emily sudah melahirkan, aku ingin menagih janji seseorang yang." ucap Darren membuat semua orang semakin bingung sedangkan Carry langsung merapat pada Emily yang masih terbaring lemas.


"Janji apa maksud mu Darr?" tanya Theo penasaran.


"Ya, janji apa?" tanya Edwin juga.


"Carry telah berjanji pada ku untuk memberi ku jawaban setelah Emily melahirkan. Jadi bagaimana Carr, apa jawaban mu?" tanya Darren lagi-lagi membuat semua orang menoleh ke arah wanita itu.


"Cepat jawab sana." Emily mendorong Carry.


Sedangkan Fredy nampak cuek saja karena pria ini sadar jika selama ini Carry hanya menyukai Darren.


"Y-ya,...!" seru Carry.


"Ya untuk apa?" tanya Darren.


"Ya untuk menerima cinta mu." jawab nya malu-malu. Darren langsung senang ketika mendengar jawaban Carry, pria itu hendak memeluk Carry namun langsung di halangi ikeg Theo.


"Berani menyentuh nya, akan ku penggal kepala mu." canda Theo membuat Darren mundur selangkah.


"Apa kau patah hati?" tanya Nathan pada Fredy.


"Tidak, lagian aku sudah ada pilihan hati lain." jawab nya dengan berbisik.


"Bagus, itu baru lelaki." ujar Nathan.


Malam semakin larut, kini hanya tinggal Edwin,Nathan Carry dan Darren yang menjaga Emily sedangkan yang lain nya pulang untuk beristirahat.


Edwin rela tidak tidur semalaman hanya untuk memandang wajah anak nya yang tertidur pulas dalam box bayi. Melihat istrinya yang pulas tidur, Edwin tidak sampai hati untuk membangunkan nya karena Edwin sadar jika rasa sakit istri nya melahirkan tidak bisa di bayar dengan apa pun.


Di ruangan ini, hanya Edwin yang masih terjaga untuk menjaga anak dan istri nya. Rasa lelah dan ngantuk terbayar lunas ketika lahir nya baby Aroin yang selama ini sangat di tunggu kelahiran nya.