
Malam pertama bagi Emily untuk tinggal dan tidur di rumah suami nya. Malam ini, untuk pertama kali dalam sejarah di antara dua keluarga. Keluarga Alexander bertamu ke kediaman keluarga Theo. Edwin dan Emily cukup terkejut dengan kedatangan mereka karena karena sejak siang Theo tidak memberitahu nya.
Suara gelak tawa dari meja makan terdengar cukup heboh. Sudahlah Jhon dan Theo saling memaafkan atas kesalahpahaman mereka di masa lalu. Selesai makan malam, para anak-anak tidak ingin mengganggu acara orang tua mereka.
Edwin dan Emily juga Nathan memilih mengobrol di dekat kolam renang. "Nathan, kamu harus segera menikah. Kakak rasa mamah Grace akan sangat senang jika kau menikah." ujar Emily.
"Terkadang sendiri itu lebih damai kak. Jadi, aku masih nyaman dengan kesendirian ku." sahut Nathan sambil bermain air.
"Bee,...Mencari pasangan bukan sekedar untuk berlomba mengejar status. Sebagai seorang laki-laki, kami tentu nya sangat menginginkan perempuan baik-baik untuk kami jadi istri dan ibu dari anak-anak kami." Edwin memperjelas sudah tentu kata-kata pria itu di setujui oleh Nathan.
Saat sedang asyik mengobrol, semua orang dikejutkan oleh pembantu yang mengatakan jika seseorang telah mengirim hadiah pernikahan untuk Edwin dan Emily. Semua orang keluar, Theo dan Jhon langsung mengepalkan ke dua tangan mereka karena nama pengirim tertulis nama Rosalinda.
Ya,Rosalinda mengirimkan banyak bunga dengan surat yang berada jelas di atas bunga. Edwin mengambil surat itu lalu membaca nya. "Apa ini? kenapa Mrs. Rosalinda menyatakan secara terang-terangan untuk membalas dendam?" kata Edwin membuat semua orang tercengang.
"Perempuan itu, di diamkan semakin menjadi-jadi." ucap Jhon dengan geram nya.
"Dan keluarga Anderson akan ikut campur dalam hal ini." kata Theo tak membuat semua orang terkejut.
Keluarga Alexander pamit pulang, sudah tentu Theo kembali kesepian. Tanpa sepengetahuan Edwin, Theo pergi untuk menemui Rosalinda yang sekarang sudah tinggal di rumah yang baru saja di beli nya beberapa waktu yang lalu.
"Kau terkejut dengan hadiah pernikahan anak mu Theo?" tanya Rosalinda dengan senyum anggun nya.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya?" tanya Theo.
"Aku ingin kau atau pun Jhon tidak bisa merasakan bahagia sepanjang hidup kalian sama seperti ku." jawab wanita itu membuat wajah Theo langsung terlihat dingin.
"Cinta mu hanya bertepuk sebelah tangan, tapi kau menyimpan dendam mu sepanjang hidup. Apa kau sudah gila?"
"Lalu kenapa kau dulu tidak membantu ku untuk mendapatkan cinta Jhon?"
"Dan jangan lupakan jika di sini kau yang mengejar Jhon. Aku sangat tidak peduli urusan cinta Jhon dengan mu. Jangan libatkan kebahagiaan anak ku."
"Kematian orang tua ku adalah sebab utama diri ku untuk membalas dendam pada kalian." ujar Rosalinda dengan sorot mata penuh benci.
"Kau manusia aneh yang pernah ku temui. Jika kau ingin bermain dengan ku, maka aku akan mengikuti permainan mu. Jangan kau pikir aku tidak tahu siapa yang ada di belakang mu." kata Theo kemudian pria itu pergi tanpa pamit.
Rosalinda semakin panas hati nya, wanita itu langsung memanggil Nick. "Kerjakan!" perintah nya lagi. Nick langsung pergi menjalankan rencana yang sudah di susun oleh Rosalinda.
Ternyata, Edwin dan Emily akan menunda rencana bulan madu mereka di kerena kan pekerjaan Edwin yang tak bisa di tinggal. Pria itu merasa bersalah, namun Emily sudah menyakinkan nya jika diri nya baik-baik saja.
Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tiba-tiba ada yang menegang di bawah sana. Meski Edwin tertidur lelap namun pria itu dapat merasakan apa yang sedang terjadi pada diri nya. Edwin tidak bisa lagi menahan, mimpi basah itu mengaharuskan Edwin untuk menuntaskan nya.
Edwin terbangun, dengan lembut membelai wajah istri nya yang tertidur lelap. Emily juga ikut terbangun, karena wanita itu merasakan ada yang menggelitik di wajah nya.
"Maaf sudah membangunkan mu bee." ujar Edwin merasa bersalah.
"Ada sayang? kenapa kau bangun jam segini?" tanya Emily tanpa merubah posisi nya.
"Aku sedang ingin bee,...tubuh mu sudah bagai candu untuk ku." kata Edwin membuat istri nya tersipu malu.
Dengan wajah memerah, Emily berkata "Aku istri mu, kau berhak atas diri ku."
Tanpa ragu lagi, Edwin menyambar bibir istrinya. Pasangan suami istri itu saling berpagutan penuh nafsu. Edwin yang sudah kehilangan akal langsung merobek pakaian istri nya lalu membuang nya sembarang. Saat itu Edwin hanya berpikir menuntaskan hasrat nya saja.
Masih lumayan sulit untuk menembus dinding pertahanan istri nya ini, Edwin tak marah jika Emily akan mejambak rambut nya atau mencengkram pinggang suami nya. Mereka saling menikmati rasa indah surga dunia, melupakan semua masalah yang ada.
Edwin mulai menaik turunkan tubuh nya, ******* bibir manis milik istri nya. Bermain indah memberi kesan tambah pada istri nya. Sungguh, lelaki ini sedang haus akan bercinta. Mendapat gelar duda rasa perjaka tak pantas rasa nya karena Edwin seperti laki-laki yang sudah berpengalaman.
Tidak main-main, Edwin memakan istri nya hingga matahari mulai menampakkan wujud nya. Melakukan hubungan suami istri hampir satu jam seperti itu membuat Emily jatuh kelelahan di buat nya. Dengan penuh cinta, Edwin menggendong tubuh istri nya menuju kamar mandi. Emily menutup mata, wanita itu seakan memutuskan urat malu nya.
"Apa yang kau tutupi Bee,...?" tanya Edwin sambil memasukan istri nya ke dalam bathtub.
"Aku malu suami ku...!" kata Emily dengan rona merah di wajah nya.
Edwin tertawa geli, "Aku sudah melihat semua nya bee, bahkan aku sudah merasakan nikmat nya tubuh mu." kata Edwin lalu ikut masuk ke dalam bathtub.
"Kau mau apa?" tanya Emily terkejut.
"Ikut mandi...!" seru Edwin yang tiba-tiba langsung memeluk istri nya lalu menggelitik tubuh istrinya.
"Geli,...Sayang geli..." kata Emily di iringi tawa nya. Pasangan suami istri itu seperti anak kecil, bermain air di dalam bathtub. Bukan Edwin nama nya jika tidak memangsa istri nya kembali. Di bawah guyuran air shower, Edwin dan Emily kembali melakukan nya. Menanam benih di rahim istri nya. Edwin suka permainan air ini, mungkin saja ini akan menjadi permainan favorit nya.