Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
40.Lamaran Mendadak



Di lain tempat, Grace sengaja meninggalkan Emily di salon seorang diri. Kata nya Emily akan di jemput oleh supir Edwin nanti nya. Wanita itu masih terlihat biasa saja dengan sikapa aneh Grace hari ini. Emily sangat menikmati perawatan yang membuat tubuh nya cukup segar sekarang.


Wanita itu di rias secantik mungkin, mengenakan gaun yang sengaja di pilih kan oleh Grace secara langsung. Mata Emily terbelalak, wanita itu tidak percaya dengan gambaran wajah nya yang ada di pantulan cermin.


Pukul tujuh enam sore Emily sudah di jemput oleh supir Edwin. Wanita itu bingung ketika supir tersebut tidak menuju arah apartemen nya melainkan menuju hotel mewah berbintang milik Edwin sendiri. Emily turun dari mobil dengan di sambut beberapa petugas hotel. Wanita itu mengikuti arahan seorang petugas pria yang mengajak nya menuju sebuah ruangan.


Lagi-lagi, mata Emily terbuka lebar saat melihat ruangan yang sangat luas tersebut itu di hiasi berbagai macam hiasan bunga-bunga dan juga lampu-lampu hiasan. "Acara siapa ini?" tanya nya bingung.


Lebih terkejut lagi ketika Emily melihat sahabatnya Carry ada di sana, semua orang ada di sana termasuk Nathan beserta keluarga nya. Bahkan lebih terkejut lagi di saat Emily melihat Theo yang duduk bersama dengan Darren.Edwin yang melihat kedatangan Emily langsung terpana dengan wajah cantik wanita itu. Untuk pertama kali nya Edwin melihat Emily berdandan secantik ini.


Pesta ini cukup mewah, tapi kenapa hanya ada beberapa tamu saja di dalam ruangan itu? Emily semakin bingung di buat nya. "Honey,...ada apa ini?" tanya Emily bingung di saat Edwin menghampiri wanita itu.


Tiba-tiba lampu padam, hanya ada tulisan Well you marry me dengan hiasan lampu di saat itu. Lampu hidup dan Edwin sudah berlutut dengan mengeluarkan kotak cincin.


"Apa ini Edw....?" tanya Emily tidak bisa berpikir.


"Well you marry me...?" Edwin mengatakan niat nya dengan sorot mata penuh cinta. Semua orang yang melihat hal tersebut merasa sangat iri sekarang. Carry bahkan meremas tangan Darren hingga membuat Darren kesal. "Bee,...mau kah kau menikah dengan ku?" tanya pria itu namun Emily masih syok dengan lamaran mendadak yang di lakukan Edwin.


"A-aku....." Emily bingung ingin menjawab apa.


Merasa kaki nya pegal, Edwin memutuskan untuk berdiri. " Kenapa bee,...? kenapa kau tidak menjawab lamaran ku?"


"Aku bingung ingin menjawab apa!" seru wanita itu.


"Tinggal jawab iya kok repot....!" kata Carry memberi semangat.


Emily menggaruk kepala tak gatal, wanita itu masih belum sadar jika diri nya sedang di lamar sekarang.


"Itu tanda nya kakak ku sedang bimbang,....!" Nathan mengeluarkan suara membuat Edwin menatap nya dengan tejam.


"Diam kau....!" ucap nya tidak suka. "Ada apa dengan mu bee....?" tanya nya dengan suara lembut.


"Honey,...ini terlalu mendadak untuk ku." gumam wanita itu.


"Tapi tidak untuk ku...!" sahut Edwin. Semua orang hanya tertawa menyaksikan pertunjukan yang ada di depan mereka. "Kau menolak ku bee....?" Edwin menebak namun Emily tidak menjawab. "Apa karena status duda ku bee...? apa kau malu dengan status dudu yang melekat pada diri ku bee....?" tanya nya memastikan.


Emily menggelengkan kepala nya, "Tidak Honey,...aku kan tidak pernah di lamar seperti ini jadi aku bingung ingin menjawab apa."


Emily menampakkan seulas senyum yang mampu mengoyak hati Edwin lalu berkata, "Aku tidak pernah memandang status duda mu, aku hanya merasa tidak pantas menjadi istri dari lelaki yang sempurna seperti mu. Aku mencintaimu, ku pikir cinta ku bertepuk sebelah tangan, namun nyata nya cinta sedang berpihak dengan ku. Kau melamar ku hari ini, aku sungguh terkejut. Honey,...bagaimana bisa aku menolak laki-laki sempurna diri mu?"


Edwin tersenyum lebar penuh kebahagiaan, "Jadi, kau menerima lamaran ku?" tanya nya memastikan.


Emily memandang orang-orang yang yang sedang duduk bergantian, "Mereka akan menjadi saksi bahwa aku menerima lamaran mu!" seru Emily.


Edwin langsung menyematkan cincin di jari manis wanita itu. Semua orang bersorak gembira namun tidak dengan Nathan. "Aku baru saja menemukan kakak ku dan dia sudah merebut waktu kakak ku!" ucap nya kesal.


"Sudahlah sayang mommy, kakak mu akan memberikan keponakan yang lucu untuk mu nanti nya." Grace menyahut ucapan Nathan hingga membuat semua orang tertawa.


"Ya,...tuan Edwin ini hanya ingin menang sendiri...!" Sekali lagi, Nathan berkata dengan wajah kesal nya.


"Diam kau....!" tegur Edwin sambil merangkul Emily hingga membuat Nathan merasa cemburu.


Acara selanjutnya adalah makan-makan bersama, meski Jhon dan Theo tidak saling bicara namun dengan kehadiran meraka secara bersama-sama adalah hal baik untuk ke dua belah pihak. Acara lamaran yang di adakan secara tertutup itu membuat mereka sangat menikmati acara malam ini.


Grace tidak bisa menutupi rasa bahagia nya terlebih lagi suami nya dan Theo sahabat lama nya sudah mau bertemu satu sama lain. Edwin tidak mau melepaskan genggaman tangan nya hingga membuat Carry, Darren dan Fredy merasa iri. Bagitu juga dengan Nathan yang merasa seolah Edwin dengan sengaja membuat diri nya terbakar cemburu.


Saat acara selesai, Edwin tidak langsung mengantar Emily pulang. Pria itu mengajak Emily pergi ke suatu tempat yang mana tempat tersebut sudah di persiapkan dari jauh hari.


Edwin mengajak Emily ke pantai pribadi milik nya, pepohonan rindang yang di hias dengan lampu-lampu indah membuat Emily dapat melihat air laut secara jelas.


Edwin melepas jas nya lalu memakai kan nya pada Emily. Sepasang kekasih itu duduk di kursi menghadap hamparan laut luas. Bibir pantai yang sengaja di hias dan di beri lampu menambah romantis malam itu.


Emily menyandarkan kepala nya di pundak Edwin, wanita itu tidak pernah menyangka jika hubungan nya akan sejauh ini dengan Edwin. "Apa kau bahagia bee...?" tanya Edwin tanpa melepas genggaman tangan mereka.


"Lebih dari bahagia, aku akan menikah. Ku pikir itu hanya hayalan ku saja untuk menikah dengan mu."


"Tidak ada khayalan, aku serius akan menikah dengan mu!" seru lelaki itu. "Tetiw sudah bersedia menikah dengan ku bee...."


"Aku yang seharusnya berterimakasih pada mu honey,...dari awal kau sudah banyak mengubah hidup ku. Hanya wanita bodoh yang menolak mu,..." gumam Emily.


Hembusan angin pantai semakin dingin menembus kulit, namun Emily dan Edwin enggan beranjak dari bibir pantai itu. Mereka berdua masih ingin menikmati waktu berdua yang sejak beberapa minggu ini jarang mereka nikmati. Emily bahagia bahkan sangat bahagia, wanita itu terus tersenyum membuat Edwin gemas di buat nya.