
"Siapa yang kau ajak berkerjasama hari ni?" tanya Jhon saat mereka makan malam.
"Perusahaan asing yang ingin memulai bisnisnya di negara kita. Jadi, dia ingin menanam saham di perusahaan kita." terang Nathan yang tidak tahu apa-apa.
Jhon menangkupkan ke dua tangan nya,lalu berkata. "Kau harus hati-hati dengan orang itu."
Nathan dan Grace langsung menghentikan aktifitas tangan mereka secara bersamaan. "Maksud Daddy?" tanya Nathan tidak mengerti.
"Dia, tidak hanya mengincar keluarga Alexander, namun dia juga mengincar keluarga Egalia." Jhon berdiri, meninggalkan meja makan tanpa penjelasan apa pun hingga membuat Nathan kebingungan.
Sedangkan Grace langsung menyusul suaminya yang pergi ke kamar mereka. "Siapa yang kau maksud?" tanya Grace sangat penasaran.
"Rosalinda Xiverry..." jawab Jhon singkat. "Dia datang untuk membalas dendam setelah sekian lama."
Grace ternganga, wanita itu tidak percaya dengan ucapan Jhon. "Dari mana kau tahu jika Nathan sedang melakukan kerjasama dengan Linda?" tanya Grace masih tidak percaya.
Jhon duduk di sofa, mengusap wajah nya kasar lalu berkata. "Ada sebagian cerita yang tidak kau tahu. Menurut mu, apa kita harus menceritakan asal usul anak mu itu?" Jhon mencoba membuang ego nya, pria itu tidak ingin Nathan membenci diri nya dan Grace.
"Jhon,...apa maksud mu? bukankah kita sudah sepakat untuk merahasiakan masalah ini untuk selama nya!" wajah Grace mulai menunjukkan ke khawatiran.
"Grace, aku hanya tidak ingin Nathan membenci kita di suatu hari nanti. Apa kau tidak menyadari satu hal selama ini?"
Grace mengerutkan kening nya dalam, kemudian bertanya dengan wajah penasaran. "Menyadari apa?"
"Jika wajah Emily sangat mirip dengan Nathan. Bahkan Emily tahu jika Nathan adalah adik kandung nya." jawaban Jhon membuat Grace memegang dada nya yang langsung nyeri. "Grace, apa kau baik-baik saja?" tanya Jhon khawatir.
Grace terduduk lemas, wajahnya langsung muram. "Apa kau yakin jika Emily adalah kakak kandung Nathan? dari mana kau mengetahuinya Jhon?" suara nya pelan namun masih bisa terdengar jelas.
"Di belakang Emily ada Edwin yang membantu nya. Kita sebagai orang tua, tidak boleh berlaku egois. Grace, bukankah kau mengidamkan seorang anak perempuan? kau dan Emily terlihat sangat akrab. Bisakah kau menerima gadis itu?" tak di pungkiri, jika Jhon sangat menginginkan kehadiran seorang anak perempuan yang bisa mengurus dan merawat mereka ketika tua nanti.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Grace penuh harap.
"Aku sudah sepakat dengan Emily untuk merahasiakan jati diri Nathan untuk sementara waktu."
"Jhon, aku menginginkan mereka untuk jadi anak-anak ku. Mereka tidak punya orang tua, lalu apa salah nya jika kita mengangkat Emily juga. Toh, mereka saudara kandung." Grace berkata dengan pancaran mata bahagia.
"Apa pun untuk mu, akan aku lakukan." Jhon bukan lah orang jahat. Pria itu sangat baik, hanya saja karena hubungan nya dengan keluarga Egalia tidak sehat, banyak orang yang membumbui pertikaian keluarga mereka. Jhon melirik jam yang melingkar di tangan nya.
"Kau akan pergi lagi Jhon?" tanya Grace memandang suaminya.
"Setelah sekian lama, aku harus menemui Theo." jawab nya membuat Grace khawatir.
"Jhon, apa yang akan kau lakukan? jangan membuat keributan Jhon!" mohon Grace.
Di lain tempat, Edwin dan Emily sedang makan malam bersama. Tidak hanya mereka, ada Carry dan Darren yang ikut serta. Ketika di kantor dan di luar, ke dua pria itu sangat berbeda. Malam ini malam minggu, selesai makan malam Edwin mengajak mereka pergi ke tempat karaoke pribadi milik Edwin yang ada di hotelnya.
Edwin dan Darren tercengang, saat mereka tahu jika Emily dan Carry memiliki suara yang sangat merdu. Bahkan Edwin tidak percaya diri untuk menyanyi sekarang.
"Gantian...." ujar Emily dan Carry saat lagu mereka selesai.
"Bee,...aku tidak bisa bernyanyi." tolak Edwin. " Biar Darren saja." tunjuk nya pada Darren.
"Edwin saja..." ujar Darren menolak.
"Jika pak bos bernyanyi, aku adalah karyawan yang paling beruntung." Carry berkata dengan senang.
"Beruntung kenapa?" tanya Emily tidak mengerti.
"Ya kan, kekasih mu ini di perusahaan terkenal dingin, tidak suka banyak bicara." sahut Carry.
"Lalu apa hubungan nya?" tanya Darren menyambung pembicaraan ke dua wanita itu.
"Ah,...sudah lah. Mari bersenang-senang." ucap wanita itu lalu menarik Darren untuk berduet.
Sedangkan Edwin dan Emily hanya duduk menonton ke dua manusia itu. Benar saja, suara Darren tidak ada enak-enak nya. Waktu masih panjang, Edwin dan Emily meninggalkan Carry dan Darren berdua. Sepasang kekasih itu berjalan-jalan di taman yang banyak muda mudi sedang memadu cinta.
"Bee,...ternyata berjalan-jalan seperti ini sangat menyenangkan ya." ujar Edwin.
"Terkadang hal sederhana mampu membuat kita bahagia dari pada limpahan kemewahan yang tak berarti." sahut Emily dengan seulas senyum nya. Edwin terhipnotis dengan wajah cantik Emily yang terpancar dari terang nya lampu jalanan.
Edwin menggenggam tangan Emily erat, "Kau benar bee,...karena sebelum ini aku tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini. Terimakasih." ucap Edwin tulus.
Duduk di bangku taman, Emily menyandarkan kepala nya di pundak Edwin. Lelaki itu juga tidak melepaskan genggaman tangan mereka. "Bee,...jika kita sudah menikah, aku ingin memiliki anak sebanyak mungkin." ucap Edwin penuh harap membuat Emily menelan ludah nya kasar. Belum juga menikah tapi Edwin sudah menginginkan anak dari nya.
"Hehe...terserah kau saja honey!" sahut Emily yang tak tahu ingin menanggapi apa.
"Umur ku sudah cukup bee,...aku tidak ingin bermain-main lagi. Aku ingin serius, Daddy sudah tua dan kesepian, aku ingin memberikan dia cucu agar Daddy tidak merasa kesepian."
Ada desiran hangat yang menyelimuti hati Emily, wanita itu merasa beruntung karena Edwin benar-benar mencintai diri nya bahkan ingin memiliki keturunan dari nya.
"Kita hanya bisa berencana, sisa nya Tuhan yang menentukan.Sayang ku, terimakasih untuk segala nya." ucap Emily tulus.
Malam semakin larut, Edwin mengajak Emily pulang. Edwin tidak melepaskan genggaman tangannya di sepanjang ia mengemudi.Mobil berhenti, Edwin menahan tangan Emily ketika wanita itu hendak turun. Perlahan namun pasti, Edwin memegang wajah Emily, mengusap lembut pipi mulus Emily dan menatap dalam ke dua bola mata indah itu.
"Setelah urusan kita selesai, aku akan segera menikahi mu." ucap Edwin pelan lalu pria itu dengan lembut nya meraup bibir merah jambu milik Emily. Sejenak Emily hanyut, menikmati kehangatan yang di berikan oleh Edwin. Ciuman itu lepas, Edwin mengecup kening Emily. "Masuklah dan langsung istirahat." ujar Edwin kemudian pria itu keluar dan membukakan pintu untuk Emily. Edwin pergi ketika jejak Emily sudah menghilang dari pandangan nya.