Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
25.Siapa Dia?



Benar saja, ketika Emily tiba di kediaman Alexander Emily melihat Catrina yang sudah duduk manis di ruang tamu. Gayanya yang elegan namun terkesan sombong membuat Emily hampir memuntahkan apa yang ia makan pagi ini.


Catrina memandang angkuh ke arah Emily yang datang bersama dengan Fredy. Grace langsung menyambut Emily dengan senyuman hangat membuat Catrina tidak terima.


"Siapa dia tante?" tanya Catrina dengan nada sombong nya.


"Sekretaris Nathan..." jawab Grace halus.


"Oh...! hanya Sekretaris...!" Catrina mencibir, namun sayang, cibiran Catrina membuat Grace mengerutkan kening nya tidak suka.


Obrolan mereka terhenti ketika Fredy dan Emily menghampiri dan menyapa Grace. "Selamat pagi nyonya..." sapa Emily dengan senyum ramah nya. Namun, Emily sangat enggan menyapa Catrina.


"Tidak bisakah kau langsung pergi ke dapur untuk memasak..?" suara yang sangat Emily rindukan terdengar hangat di telinga wanita itu. Nathan, lelaki itu ternyata sudah sejak tadi berada di balik dinding pembatas hingga membuat Catrina terkejut.


"Selamat pagi Nathan." sapa Catrina berdiri menghampiri pria itu. Namun Nathan yang acuh dan menatap tidak suka pada Catrina yang sejak awal memandang rendah Emily.


"Emily,...ayo kita ke dapur. Nathan menunggu mu masakan mu untuk sarapan." ajak Grace membuat Catrian membulatkan mulutnya tidak percaya.


Emily hanya tersenyum lalu mengekor Grace yang berjalan menuju dapur. Sedangkan Fredy memilih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Mau apa kau datang ke mari?" tanya Nathan berjalan menuju sofa lalu menghempas diri di samping Fredy.


Catrina mendengus kesal lalu berkata dengan nada manja nya, "Aku mengkhawatirkan mu, jadi aku datang untuk menjenguk mu." jawab nya dengan senyum palsu yang di buat. "Nathan, kenapa kau mengizinkan Sekretaris mu memasak?" tanya wanita itu penasaran.


"Terserah Nathan, dia bos nya." sahut Fredy tidak suka. Selama ini, Nathan dan Fredy tahu siapa sebenarnya Catrina yang notabene nya sudah di buang oleh Edwin.


Catrina mengerucutkan bibir nya dan tersenyum masam, "Jika dia berniat jahat pada mu bagaimana? Dan...kenapa dia begitu akrab dengan tante Grace?"


Nathan melirik tidak suka ke arah Catrina, "Sebaiknya kau pergi. Jangan hancurkan suasana hati ku di pagi yang indah ini." usir Nathan secara langsung. Bahkan pria itu beranjak dari duduk nya dan mengajak Fredy pergi ke ruang kerja.


Catrina menghentakan kaki tidak terima, tangan nya mengepalkan penuh emosi. Dari jarak yang tidak begitu jauh, Jhon hanya menanggapi sikap Catrina dengan acuh. Entah apa yang di pikirkan nya sekarang.


Di dapur, Emily dan Grace memasak dengan penuh suka cita. Saling mengobrol ringan hingga terlihat akrab bagai ibu dan anak. Jhon yang melihat pemandangan langka itu seakan hati nya berdenyut, jika saja ia tidak mandul, mungkin mereka akan memiliki sepasang anak sekarang. Grace nampak senang, Senyum bahkan tawa yang keluar begitu saja sangat jarang di lihat oleh Jhon.


Emily hanya memasak menu rumahan sederhana, tapi entah kenapa setiap sesuatu yang di masak oleh Emily membuat semua orang seakan terpikat. Makanan sudah siap di hidangkan, di bantu oleh beberapa pelayan Emily membawa makanan tersebut.


"Daddy, apa Daddy ingin makan lagi?" tanya Nathan bingung ketika melihat Jhon berada di meja makan.


"Apa salah nya mencicipi...!" seru lelaki paruh baya itu. Ya, pagi ini Jhon seperti merasakan sebuah kehangatan dari keluarga nya, rasa lengkap yang membuat ia sangat merindukan kehadiran anak perempuan.


Emily terpaksa ikut makan, baru pukul sepuluh pagi Namun Emily sudah makan dua kali. Selesai makan, Fredy dan Emily kembali ke kantor. Meski Nathan masih beristirahat di rumah namun mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaan mereka.


"Apa yang kau dapat?" tanya suara berat sambil melepaskan kacamata nya.


"Tidak ada tuan, hanya ini saja." jawab Lois Asisten pribadi Jhon.


"Anak yatim piatu!" gumam Jhon tidak percaya ketika ia melihat daftar riwayat hidup Emily.


"Ya, aku merasakan nya. Tapi, seperti nya dia di dasari oleh seseorang yang kuat di belakang nya. Tapi aku tidak bisa menebak itu siapa." Jhon sudah menaruh curiga pada Emily sejak pertama kali ia melihat Emily di perusahaan meski mereka tidak saling tegur sapa.


"Apa saya harus melakukan nya tuan?" tanya Lois hati-hati.


"Berikan aku hasil yang memuaskan!" ucapan Jhon adalah perintah bagi Lois. Lelaki itu langsung mengerjakan perintah majikan nya.


Lois keluar, Grace masuk ke dalam ruang kerja suaminya. Wanita itu duduk menghadap dengan sang suami. "Kau seperti nya sedang bahagia sayang." ucap Jhon membuat senyum istri nya mengembang.


"Baru dua hari Emily ada di sini, aku merasakan sebuah kehangatan dalam hati ku sayang." wajah Grace seperti memancarkan sebuah harapan yang langsung di pahami oleh suaminya.


"Ya, aku sedang melakukan nya untuk mu." ucap lelaki paruh baya itu membuat istri nya senang.


Di lain tempat, Edwin dan Darren sedang menginterogasi seseorang yang kemarin mereka tangkap. Wajah babak belur dua orang itu sudah tidak menampakan rupa mereka.


Edwin cukup geram karena rasa penasaran nya kepada Rosalinda Xiverry tidak bisa ia dapatkan informasi nya dari dua orang tersebut.


"Lempar mereka pada keluarga Alexander. Biarkan mereka yang menuntaskan nya." perintah Edwin langsung di laksanakan oleh beberapa anak buah nya.


Bagi anak buah Edwin, mereka tidak akan pernah takut untuk pergi ke markas Keluarga Alexander. Mereka melempar begitu saja dua orang yang sudah lemah tak berdaya itu di gerbang markas Alexander.


Beberapa anak buah yang memantau lewat cctv langsung berhamburan keluar untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.


Sebuah tulisan besar membuat mereka paham siapa dua bajingan ini. "Bawa mereka, mereka adalah orang yang sudah mencelakai tuan muda kita." perintah atas mereka.


Jhon yang mendapat kabar bahwa markas nya mendapatkan tamu tidak di udang langsung pergi menuju tempat itu. Meski usia nya sudah memasuki kepala lima, namun Jhon tergolong pria awet muda bahkan tubuh nya tampak tegap dan sehat.


"Katakan, siapa orang yang menyuruh kalian?" suara berat Jhon terdengar lebih mengerikan dari pada suara Edwin yang mereka dengar sejak kemarin.


"Ampunkan kami tuan, kami hanya di bayar." seorang laki-laki itu mencoba memohon di bawah kaki Jhon.


"Cepat katakah...!" suara bentakan itu menggema di segala penjuru ruangan yang membuat dua orang itu langsung menundukkan wajah mereka.


"Xiverry.......!" seru salah satu dua orang itu membuat ke dua mata Jhon terbelalak lebar.


"Ulangi....!" perintah nya tidak percaya.


"Xiverry.....!" kali ini Jhon syok dengan apa yang ia dengar.


"Lalu, siapa yang mengirim kalian ke sini?" tanya Jhon penasaran.


"Tidak tahu tuan, dia bilang jika kami telah membuat seseorang sedih atas kecelakaan yang kami buat." dengan suara terbata-bata, mereka mencoba menjelaskan. Tubuh mereka sudah sakit dan perih, jika mereka berbohong bisa saja nyawa mereka akan melayang detik ini juga.


Jhon membuang nafas kasar, lelaki itu memilih pulang karena masih syok dengan nama yang ia dengar barusan. Nama yang sudah dua puluh tahun lebih tidak ia dengar namun bayang-bayang nya masih tergambar jelas dalam ingat Jhon.


"Theo...apa kabar..." ucap Jhon semakin penasaran dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini.