Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
55.Hamil



Dua bulan pernikahan Edwin dan Emily, mereka sangat bahagia menjalani kehidupan rumah tangga karena sejak kejadian keracunan itu tidak ada orang yang berani berbuat jahat pada mereka. Bahkan Rosalinda dan Nadia saja tiba-tiba hilang kabar hingga saat ini.


Pagi ini, Emily sangat malas untuk bangun, rasa pusing juga mual membuat wanita itu segera mungkin berlari menuju kamar mandi. Edwin yang masih terlelap tidur tiba-tiba melompat bangun mengejar istri nya ke kamar mandi.


"Bee,...kau kenapa?" tanya Edwin yang menerobos masuk begitu saja.


"Aku tidak tahu sayang. Tubuh ku lemas." kata Emily lalu wanita itu muntah kembali.


Emily terduduk lemas hingga membuat Edwin semakin panik. Pria itu langsung menggendong Emily lalu merebahkan nya di atas tempat tidur. Edwin langsung memberi perintah kepada pelayan di rumah nya untuk membuatkan teh hangat untuk istri nya.


"Minum dulu bee...!" kata Edwin "Setelah ini kita pergi ke rumah sakit."


"Aku tidak mau,..." tolak Emily. "Suami ku, bisakah kau menelponkan adik ku." pinta wanita itu.


"Ya,...tunggu sebentar." kata Edwin kemudian mengambil ponsel nya lalu memberi perintah kepada adik ipar nya untuk datang ke rumah nya.


Keadaan Emily sudah membaik, namun wanita itu tidak mau sarapan. Ketika Nathan datang Emily langsung bergelayut manja di lengan adik nya. "Kakak ipar bilang, kakak sakit. Tapi seperti nya baik-baik saja." ujar Nathan bingung.


"Kakak mu tidak mau di ajak pergi ke rumah sakit. Aku takut jika dia kenapa-kenapa. Bujuklah." ujar Edwin.


"Aku hanya ingin di antar Nathan. Tapi, suami ku yang harus menjadi supir nya." kata Emily membuat Edwin dan Nathan saling pandang kebingungan. Sikap Emily pagi ini benar-benar sangat manja.


Tidak ingin membuat istri nya kecewa, Edwin langsung mengiyakan permintaan istri nya. Yang membuat heran, Emily terus bergelayut di lengan adik nya hingga membuat Edwin cemburu. Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit pun, Emily masih bertingkah aneh. Edwin yang duduk di balik kemudi sangat kesal namun di tahan. Nathan mulai merasa tidak enak hati pada kakak ipar nya.


"Suami ku, berhenti...!" pinta Emily sambil menutup mulut nya. Wanita itu muntah kembali hingga membuat Edwin dan Nathan panik dan khawatir.


"Bagaimana keadaan istri ku, kenapa dia muntah-muntah sejak pagi?" tanya Edwin dengan suara dingin nya.


Dokter pria itu mengulurkan tangan mengajak Edwin untuk berjabat tangan. Edwin yang kebingungan langsung membalas uluran tangan Dokter tersebut. "Selamat tuan, Nyonya Emily hamil." ucap Dokter membuat mata Edwin melotot tidak percaya.


"Coba kau ulangi sekali lagi." perintah Edwin.


"Nyonya Emily sedang hamil dan usia kandungan nya sudah memasuki minggu ke dua." ujar Dokter memperjelas.


Edwin masih tidak percaya, meminta salah satu Dokter untuk memeriksa Emily kembali. "Jika kau mengatakan kebohongan, aku akan memecat mu!" ancam Edwin membuat Dokter tersebut menunduk.


Setelah menunggu beberapa waktu, Dokter ke dua memberi pernyataan yang sama. Edwin yang sudah percaya langsung memeluk istri nya. Sedangkan Nathan hanya bisa tersenyum bahagia atas kehamilan kakak nya.


"Bee,...kau hamil. Kau hamil anak ku bee,...aku akan menjadi seorang ayah...!" ucap Edwin senang. Lelaki itu tidak henti nya memeluk istrinya.


"Iya suamiku. Aku hamil, aku hamil anak kita..." wanita itu juga bahagia hingga meneteskan air mata bahagia.


Nathan menghampiri kakak nya, memeluk wanita itu. "Selamat kak, sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu." ucap Nathan Juga memeluk kakak ipar nya sebagai ucapan selamat. Tidak lupa Nathan memberitahu ke dua orang tua nya hingga membuat Grace ikut bahagia.


Semua Dokter yang berada di dalam ruangan itu satu persatu mengucapkan selamat kepada Edwin dan Emily. Berita kehamilan Emily langsung menyebar di seluruh penjuru negeri. Penerus dari keluarga Egalia sebentar lagi akan lahir ke duani ini.


Edwin yang bahagia atas kehamilan istri nya langsung memperlakukan Emily bagai Ratu. Nathan merasa jika kakak nya sekarang sudah bahagia, jatuh di tangan laki-laki yang tepat membuat pria itu bisa bernafas lega.


Bahkan, ketika pulang dari rumah sakit, gantian Nathan yang menyetir sedangkan Edwin tidak henti-hentinya mengusap juga mencium perut Emily yang masih datar. Nathan merasa jika diri nya ingin seperti kakak ipar nya.