Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
61.Jangan Khawatir



Hari yang membahagiakan untuk Edwin dan Emily, mereka akan mengetahui jenis kelamin anak mereka hari. Lagi-lagi, Edwin sibuk sendiri menyiapkan keperluan istri nya. Sepanjang perjalanan lelaki itu hanya sibuk mengusap perut istri nya hingga membuat Emily mulai merasa risih karena Edwin ini tidak kenal tempat untuk melakukan hal romantis.


Setiba nya di rumah sakit, Emily langsung melakukan USG. Sudut mata Edwin tergenang air mata ketika Dokter memberi tahu jenis kelamin anak mereka. Laki-laki itu sontak memeluk istri nya, mengecup kening dengan penuh kasih sayang.


"Apa pun jenis kelamin nya, aku sebagai orang tua akan sangat bersyukur. Doa ku cuma satu, semoga anak kita lahari dalam keadaan selamat tanpa kurang satu pun." ucap Edwin membuat Emily terharu.


"Kenapa kau jadi sedih begini?" tanya Emily membelai wajah suami nya.


"Aku tidak sedih, aku hanya bahagia. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah." kata Edwin lalu mencium punggung tangan istri nya.


Sebelum pulang, pasangan suami istri itu pergi kedai sederhana yang berada di pinggiran pantai. Emily sangat ingin makan seafood langsung dari nelayan. Tentu saja Edwin dengan senang hati akan menuruti semua permintaan istri nya.


"Kau terlalu memanjakan ku wahai suami ku!" ucap Emily.


Edwin menguncir rambut istri nya agar tidak mengganggu makan nya nanti, "Membahagiakan istri itu adalah sebuah keharusan. Semakin bahagia seorang istri semakin deras rezeki suami mengalir." kata Edwin sudah selesai.


"Benarkah begitu?" tanya Emily menggoda suami nya.


"Iya bee, dan aku sangat yakin jika aku membahagiakan mu maka rezeki ku tidak akan terputus." jawab Edwin membuat Emily semakin beruntung menikahi lelaki ini.


Edwin tidak membiarkan tangan istri nya kotor, pria itu menyuapi istri makan. Selesai makan Edwin dan Emily langsung pulang, namun ekspresi wajah Edwin langsung berubah ketika melihat siapa perempuan yang sedang duduk di ruang tamu bersama Daddy sekarang.


"Siapa yang memberi mu izin untuk datang kemari?" tanya Edwin sambil menggandeng mesra tangan istri nya.


"Maaf tuan, saya datang kemari atas inisiatif sendiri." jawab Frisak alisa Nadia.


"Apa tujuan mu?" tanya Edwin dingin.


"Sekretaris Nathan ini sangat baik Edwin, dia hanya datang untuk menjenguk Emily. Friska juga membawa berbagai macam buah-buahan segar untuk Emily." Theo yang tidak tahu apa-apa mencoba menjelaskan maksud kedatangan Friska.


"Apa yang di katakan tuan Theo benar.Pelayan sudah membawanya ke belakang tadi." timpal Friska.


"Jangan sentuh istri ku!" bentak Edwin merasa tidak suka.


Emily dan Theo terkejut melihat sikap Edwin, tanpa mengatakan apa pun lagi, Edwin langsung menarik tangan Emily lalu mengajak nya masuk ke dalam kamar.


"Suami ku, kau kenapa? apa dia membuat salah pada mu?" tanya Emily yang bingung melihat sikap suami nya.


"Jauhi dia, dia orang jahat!" seru Edwin semakin membuat Emily bingung.


"Apa maksud mu? aku tidak mengerti...!" kata Emily.


"Bee,...Friska adalah Nadia." Edwin memberitahu istri nya membuat Emily langsung syok tidak percaya.


"Suami ku, kau jangan asal memfitnah orang!" ucap Emily.


"Tidak bee, aku sudah mencari tahu nya. Nadia sengaja melakukan operasi plastik hanya untuk menghancurkan keluarga kita. Dia adalah kaki tangan Rosalinda." tutur Edwin.


"Apa Nathan tahu masalah ini?" tanya Emily mengkhawatirkan adik nya.


Edwin memegang ke dua pundak istri nya, "Jangan khawatir bee, aku akan bicara pada adik mu. Lagian, aku punya rencana sendiri untuk mereka." ujar Edwin memberitahu "Jangan khawatir lagi, tidak usah di pikirkan. Aku tidak ingin anak kita kenapa-kenapa."


Edwin keluar dari kamar, memerintahkan para pelayan di rumah nya untuk membuang buah-buahan yang di bawa Nadia. Pria itu takut jika masalah dulu terulang kembali. Setelah itu Edwin menemui Theo, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Tapi, bersikaplah biasa saja agar mereka tidak curiga." ujar Theo menasehati.


"Aku hanya takut jika dia mencelakai Emily lagi Dadd." sahut Edwin khawatir.


"Jangan menunjukkan hal yang bisa merusak rencana mu Edw,...!" seru Theo mengingatkan.


Edwin menarik nafas dalam-dalam, pria itu mengerti apa yang di maksud oleh Theo. Edwin kembali ke kamar, pria ini lebih senang menghabiskan waktu bersama sang istri sambil mengusap perut buncit Emily.