
Beberapa hari ini membuat Emily tidak bersemangat untuk pergi bekerja. Sudah hampir satu minggu lebih ia tidak melihat Nathan bahkan untuk sekedar mengetahui kabarnya pun tidak bisa. Namun, ada hal yang membuat Emily terkejut ketika Jhon meminta Emily untuk menghadapnya di kediaman keluarga Alexander.
Emily meremas ke dua tangannya yang berkeringat, kaki nya sedikit bergetar. Untuk saja ia di temani oleh Fredy karena lelaki itu lah yang menjemput Emily di kantor.
"Terimakasih..." ucap Jhon Alexander."Terimakasih telah mendonorkan darah untuk anak ku." timapl lelaki paruh baya itu.
"Anak mu adalah adik ku...!" batin Emily, "Sudah seharusnya saya membantu tuan." sahut Emily dengan senyum yang ia paksakan.
Jhon menghela nafas dalam, lalu berkata. "Tapi, Nathan seharian ini tidak mau makan. Aku pun tidak tahu kenapa!" ucap nya sedih. Sebenarnya, Jhon adalah orang baik, namun ada beberapa orang yang menganggap nya jahat.
"Tuan, apa boleh saya menjenguk tuan muda?" Emily memberanikan diri untuk bertemu dengan Nathan. Sebagai seorang kakak, wanita itu juga sangat mengkhawatirkan Nathan.
"Silahkan, Fredy...." panggil Jhon "Antar nona Emily ke kamar Nathan." perintah Jhon langsung di laksanakan oleh Fredy.
Mereka naik ke lantai dua, Emily semakin gugup bahkan hati nya sekarang sedang bergejolak. Fredy membuka pintu kamar, jelas terlihat jika Nathan sedang duduk di sofa tepat menghadap ke luar jendela.
"Ehem...ada Emily..." ujar Fredy memberitahu.
Emily melirik makanan dan susu yang berada di atas nakas yang masih ituh tidak tersentuh. Nathan menoleh, "Kau membawakan sesuatu?" tanya nya membuat Emily dan Fredy bingung.
"Membawa apa?" tanya Fredy kebingungan.
"Dia kan Sekretaris ku, menjenguk ku tapi tidak membawakan ku sesuatu yang bisa di makan." entah kenapa dari nada bicara Nathan terkesan sangat manja.
"Maaf pak, saya lupa. Bagaimana jika saya memasak saja?" tawar Emily merasa tidak enak hati.
"Cepatlah...!" seru Nathan tidak sabaran. Fredy menatap heran pada bos nya itu, baru kali ini Fredy melihat sikap manja dari Nathan.
Grace yang baru saja masuk ke dalam kamar anak nya merasa heran dengan tingkah Nathan. "Kau meminta nya memasak Nathan?" suara lemah lembut itu terdengar sangat menyejukkan hati Emily.
"Ya Mom, Emily tidak membawakan ku buah tangan jadi dia harus memasakkan ku sesuatu!" seru nya dengan wajah penuh kebahagiaan.
"Owh...ayo Emily, kita pergi ke dapur." ajak Grace dengan senang hati.
Wanita itu mengekor di belakang Grace, menuju dapur yang berkelok membuat kepala Emily pusing mengingat jalan. Dapur mewah nan megah bahkan segala macam peralatan masak ada di dapur itu.
"Kau bisa masak apa Emily?" tanya Grace antusias. Entah kenapa wanita paruh baya itu merasakan sebuah kehangatan yang selama ini ia rindukan. Seorang anak perempuan, Grace sangat ingin memilikinya.
"Tuan muda sedang sakit, jadi saya ingin masak yang berkuah untuk menggugah selera makan tuan muda." jelas Emily dengan penuh semangat.
"Masak lebih kan sedikit, aku ingin mencicipi masakan mu." ujar Grace dengan senyum lebar nya.
"Baik nyonya..." sahut Emily sopan.
Para pelayan mulai mengeluarkan berbagai macam sayuran dan daging, kali ini Emily akan memasak sup daging. Menu tang biasa ia masak ketika diri nya sedang kehilangan selera makan.
Grace hanya duduk sambil memandang wajah cantik Emily, entah kenapa ada perasaan yang berbeda ketika Grace mengabsen inci demi inci wajah Emily. Satu jam kemudian, sup buatan Emily akhirnya sudah siap untuk di hidangkan.
Grace memberi perintah kepada seorang pelayan untuk memanggil Nathan untuk makan. Wanita paruh baya itu sangat mengkhawatirkan keadaan Nathan yang sejak kemarin baru makan sekali saja.
Aroma sup daging menyeruak hingga kepenjuru ruangan, Jhon Alexander pun langsung menelan Saliva nya yang hampir jatuh menetes. Semua orang duduk dimeja makan, Emily duduk dengan gelisah. Emily pikir hanya Nathan yang akan memakan masakan nya, namun Jhon dan Grace juga ikut mencicipi.
"Kau sangat pandai memasak Emily..." Grace juga ambil bagian untuk memuji Emily.
Sedangkan Nathan tak berkomentar banyak karena ia lebih menikmati sup buatan Emily. Jhon dan Grace saling pandang karena baru lali ini mereka melihat Nathan makan begitu lahapnya.
"Pelayan...." panggil Nathan. "Sisakan sup ini sedikit untuk ku makan nanti." perintah Nathan membuat semua orang tercengang termasuk Emily. Wanita itu menahan dengan susah payah agar air mata nya tidak jatuh.
Selesai makan, Emily langsung pamit pulang dan di antar oleh supir pribadi Nathan. Cukup lah membahagiakan apa yang di alami oleh Emily hari ini. Wanita itu mengajak Edwin untuk bertemu. Emily menceritakan apa yang terjadi, di kediaman Alexander.
"Dan aku sudah menemukan pelaku nya." ujar Edwin memberi tahu.
"Siapa?" tanya Emily tidak percaya.
"Rosalinda Xiverry, seorang wanita paruh baya yang sangat ingin menghancurkan keluarga Alexander." jawab Edwin, saat ia pulang menemui Frans, lelaki itu langsung mencari tahu siapa Rosalinda Xiverry.
"Kenapa dia begitu jatah?" Emily mendengus kesal.
"Entahlah, ku rasa bukan persaingan bisnis, mungkin ada dendam pribadi. Aku sudah menangkap kaki tangan nya,"
"Kau bergerak cepat dari pada anak buah Alexander. Kenapa?" tanya Emily bingung.
"Karena aku tidak ingin membuat mu larut dalam kesedihan. Mendengar mu bercerita tentang hari ini saja aku sudah sangat bahagia. Em,...jika kau pandai mengambil hati keluarga Alexander, itu akan mempermudah jalan mu." tutur Edwin panjang lebar.
"Terimakasih telah membantu ku." ucap Emily tulus. "Maaf, aku belum bisa membalas kebaikan mu." timpal nya dengan suara sedih.
"Bee...kau tidak usah membalas apa pun pada ku. Cukup kau percaya saja pada ku. Aku mencintaimu." netra mata itu mengunci manik mata Emily, desiran aneh muncul begitu saja dalam benak Emily saat mendengar kata cinta yang terucap dari mulut Edwin.
"Aku juga mencintaimu dalam, sangat dalam mencintaimu." balas Emily dengan senyum indah nya. Ingin sekali Edwin meraup bibir merah jambu itu namun masih ia tahan.
"Bee,...kau harus berhati-hati dengan satu orang." ujar Edwin memberi tahu.
"Siapakah dia?" tanya Emily penasaran.
"Mantan istri ku, Catrina...!" seru Edwin membuat Emily terkejut dengan nama itu.
"Mau apa dia?"
"Dia sedang mendekati adik mu, aku takut adik mu akan di peralat oleh Catrina. Apa kau tahu, Nadia sengaja mendekati ku dan Catrina mendekati adik mu itu ada misi yang sedang mereka jalankan. Keluarga Egalia dan keluarga Alexander adalah dua keluarga terpandang hingga membuat orang-orang berebut kerja sama dengan kami." jelas Edwin membuat Emily bergidik ngeri.
"Besok pagi nyonya Grace meminta ku untuk datang kekediaman mereka, aku akan mengambil hati mereka." ucap Emily penuh semangat.
"Ku tebak, kau akan bertemu dengan Catrina besok." ucap Edwin membuat Emily terkejut.
"Bagaimana jika mantan istri mu mengenali ku?" tanya nya dengan wajah panik.
"Dia tidak akan mengenali mu, sebelum kau terjun ke keluarga Alexander, aku sudah menghapus semua jejak mu yang ada pada ku." Edwin berkata dengan bangga.
"Terimakasih sayang..." ucap Emily senang.
"Sama-sama Bee..." Emily sudah terbiasa dengan panggilan mereka meski hubungan mereka baru seumur jagung. Makan malam kali ini membuat Emily bahagia, belum pernah ia merasakan hal seperti ini sebelumnya.