
Hari yang di tunggu akhirnya tiba, Emily sudah di nyatakan sembuh dan sudah di perbolehkan untuk pulang. Ini adakah kali pertama Nathan berkunjung ke apartemen milik kakak nya. Di sana ada juga Carry dan Darren, sebagai sahabat yang baik Carry menemani Emily untuk sementara waktu.
"Mommy memasak sup ini khusus untuk mu kak, jangan lupa di makan nanti." ujar Nathan sambil meletakan termos yang berisi sup ke atas meja.
"Seringlah menjenguk kakak mu, meski kau adik nya, aku akan memenggal kepala mu jika kau melukai nya sekali lagi." ucap Edwin dengan nada penuh ancaman.
Emily langsung memandang marah ke arah Edwin. "Kau ini, dia adik ku!" sahut nya ketus.
Nathan hanya mengangkat ke dua bahu sambil mengejek Edwin. Carry dan Darren yang melihat hal itu hanya bisa bergeleng kepala. Beberapa saat kemudian, Edwin, Nathan dan Darren pamit pulang karena pekerjaan mereka sudah menuggu sejak pagi.
"Apa kondisi mu sudah benar-benar pulih Em...?" tanya Carry yang masih merasa khawatir.
"Kau sudah lihat tadi, aku sudah bisa berjalan sendiri..." sahut wanita itu sambil mengangkat ke dua kaki nya.
"Edwin seperti masih bersikap dingin kepada adik mu, apa kau yakin keluarga mereka akan baik-baik saja?"
Emily sejenak berpikir, "Entahlah, aku tidak bisa menebaknya. Sikap Edwin terkadang tidak bisa di tebak." sahut wanita itu.
Di lain tempat, setelah dari apartemen kakak nya, Nathan bertemu dengan Rosalinda. Wanita paruh baya itu masih memaksa Nathan untuk merebut semua proyek yang berada di tangan Edwin. Kebodohan Rosalinda memang bisa di baca, Nathan dan Fredy hanya menjawab seperlunya saja.
Satu minggu telah berlalu, kini Emily sudah bisa melakukan segala aktifitas harian nya tidak termasuk bekerja. Wanita itu mulai merasa jenuh sekarang, semua orang sibuk bekerja sedangkan diri nya hanya berdiam diri di apartemen saja. Grace terkadang datang menjenguk Emily, wanita itu sekarang seperti menemukan teman baru.
Hari ini, Grace mengajak Emily untuk membeli gaun, wanita paruh baya itu mengajak nya secara mendadak tanpa alasan yang jelas. Dengan perasaan senang Emily dan Grace saling bergadeng tangan keluar masuk outlet yang ada di mall.
Mereka bagai ibu dan anak, Jhon yang mendapatkan laporan dari anak buah nya tidak bisa berbuat banyak asal istri nya bahagia sudah cukup bagi Jhon. Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, Grace mengajak Emily untuk makan siang di restoran milik keluarga Alexander. Tanpa sengaja Grace dan Rosalinda saling bersenggol bahu di pintu masuk.
Mereka sama-sama terkejut, namun tidak untuk Emily. Wanita itu hanya memandang bergantian pada Grace dan Rosalinda yang saling beradu pandang dengan tatapan tajam.
"Apa kabar Grace....?" sapa Rosalinda dengan gaya anggun nya.
Grace tersadar dari lamunan nya lalu membalas sapaan Rosalinda dengan gaya yang tak kalah anggun pula. "Kabar ku baik,..bagaimana dengan mu?"
"Seperti yang kau lihat sekarang, sejak hari itu telah berlalu, kehidupan ku sungguh sangat baik bahkan jauh lebih baik!" jawab nya dengan santai. "Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa di lain waktu." dengan senyum sinis nya Rosalinda pergi bersama dengan Sekretaris nya.
"Jangan hiraukan dia, sebaiknya kita masuk!" seru Grace pada Emily. Dengan perasaan tidak enak hati Emily mengikuti langkah Grace yang sudah masuk ke dalam restoran.
Emily pikir setelah acara makan siang Grace akan langsung mengantarnya untuk pulang. Namun tidak, Grace malah membawa nya ke salon ternama. Emily langsung mendapatkan perawatan khusus yang di pesan Grace secara spesial.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Theo dengan suara dingin nya.
"Aku tidak ingin merusak kebahagiaan istri ku, bisakah kita berdamai? secara kita sudah tua!" Jhon berkata dengan santai nya. "Emily akan menjadi menantu mu, sedangkan anak ku adalah adik nya dan Grace sangat menyukai calon menantu mu itu." Jhon mengatakan apa yang ingin dia katakan.
"Sebenarnya, apa yang membuat kita saling membenci? hanya karena kesalahan di masalalu kita menjadi seperti ini. Dan sekarang Rosalinda kembali hanya untuk balas dendam kepada mu bahkan kepada ku juga."
*****Flashback*****
"Tidak Jhon,...kau sudah berjanji akan menikah dengan ku! mana janji mu?" gadis yang masih berusia sembilan belas tahun itu terisak sambil menagih janji kepada pria yang lebih tua lima tahun dari nya.
"Maafkan aku Linda,...aku tidak bisa menentang perjodohan orang tua ku. Dan juga aku telah jatuh cinta kepada Grace calon istri ku." Jhon berkata dengan tegas.
"Kau jahat Jhon,...!" ucap Linda dengan suara bergetar. "Pantas saja kau akhir-akhir ini membuat ku dengan Theo sahabat mu."
"Sudahlah Linda, hubungan kita sudah berakhir sejak satu bulan yang lalu. Kenapa kau masih seperti ini?" Jhon bertanya tanpa perasaan. "Theo laki-laki baik, dia bisa membuat mu bahagia...!" seru pria itu.
"Tapi aku hanya mencintai mu Jhon....!" sekali lagi, Rosalinda menegaskan isi hati nya.
"Aku akan menikah besok. ku harap kau tidak ikut campur dalam kehidupan ku lagi." Jhon berkata sambil membalikan tubuh nya hendak pergi.
Tiba-tiba Rosalinda berlutut, rasa cinta gadis itu membuat rasa malu nya lenyap begitu saja. "Ku mohon Jhon, pertimbangan kembali hubungan kita. Kita sudah bersama dua tahun lama nya. Ku mohon Jhon, ibu ku sedang sakit, bisakah kau menghibur ku dengan kata-kata cinta mu?" gadis itu masih mencoba memohon.
"Aku akan membiayai semua perawatan ibu mu di rumah sakit." Jhon berkata dengan sombong nya. Pria itu kemudian meninggal Rosalinda yang masih terisak dalam berlutut nya.
Hujan mulai turun, gadis itu sudah tidak peduli dengan angin kencang juga derasnya hujan. Sadar dengan apa yang ia lakukan tidak ada untungnya, Rosalinda memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Namun sayang, gadis itu harus rela menenlan pil pahit ketika ayah nya duduk lemas di pintu ruangan dengan terisak.
"Ayah kenapa?" tanya Rosalinda sambil mengguncang tubuh renta ayah nya.
"Ibu mu sudah pergi meninggalkan kita....!" jawab lelaki paruh baya itu membuat Rosalinda kaku tak berdaya. Gadis itu bangkit, masuk ke dalam ruangan dan mendapati ibu nya sudah di tutupi kain.
Air mata yang sudah kering kini kembali jatuh membasahi pipi. Gadis itu meraung dengan isak yang tak terkendali. Ibu Rosalinda telah meninggal dunia. Ayah nya dengan cepat mengurus pemakaman ibu Rosalinda.
Bertepatan dengan hari pernikahan Jhon dan Grace, ibu Rosalinda di makamkan. Gadis itu penuh dengan kesedihan sedangkan Jhon berbahagia atas pernikahan nya. Bahkan siaran langsung pernikahan Jhon dan Grace memenuhi acara televisi juga iklan di jalan-jalan. Rosalinda yang melihat hal itu hanya bisa menangis menahan perih dan sakit di hati nya.