
Dengan perasaan ragu, Carry menuju atap gedung untuk menemui Darren. Deru jantung nya berpacu sangat kencang, wanita ini bimbang dan takut jika Darren hanya mempermainkan nya saja.
Di pinggir pagar beton itu, seorang pria memandang indah nya kota. Angin yang berhembus lumayan kencang itu tidak mampu merusak tatanan rambut Darren. Pria ini juga sangat tampan, apa lagi ke dua mata nya sangat indah untuk di pandang.
"Akhirnya kau datang juga." ujar Darren nampak terpesona dengan Carry apa lagi angin membawa rambut wanita itu berterbangan.
"Aku pikir kau hanya akan mempermainkan ku saja!" seru Carry melangkah menuju pinggiran pagar.
"Kita sudah setua ini Carr, bagaimana bisa aku bermain seperti cinta anak kecil." kata Darren membuat Carry terdiam.
"Apa yang kau suka dari aku?" tanya Carry tanpa memandang wajah Darren.
"Apa yang tidak bisa orang lain lihat." jawab Darren "Kau perempuan baik Carr, selama ini aku sudah memperhatikan mu. Bagaimana sikap mu pada Emily, atau kepada orang lain."
"Semua orang terlahir baik Darr, hanya saja mereka terkadang salah dalam mengambil jalan." sahut Carry.
"Aku bicara tentang kau bukan orang lain." ujar Darren tegas. Laki-laki itu mendekat ke arah Carry, manatap ke dua netra yang kini terlihat gugup. "Aku sungguh memiliki rasa untuk mu Carry...!" Darren kambali mengungkapkan isi hati nya.
"Kau bercanda lagi...!" gumam Carry tertawa gugup.
"Aku serius." kata Darren "Jangan ragu untuk bermimpi Carr, itu sama saja kau tidak percaya pada diri mu sendiri."
"Kau dan aku memiliki latar belakang yang berbeda Darr, kita tidak satu kasta!" Carry berkata dengan tegas.
"Aku dan Edwin bukan memandang seseorang dari kasta nya. Lalu di mana letak kesalahan jika si miskin mencintai si kaya dan si kaya mencintai si miskin?" tanya Darren sedikit meninggikan suara nya. "Kau lihat langit itu Carr," tunjuk Darren ke atas "Kita berada di bawah langit yang sama dan Tuhan yang satu, lalu kenapa ku masih meragukan cinta dia berikan?" tanya Darren membuat Carry terdiam.
"Maafkan aku Darr, untuk sekarang aku tidak bisa menjawab nya." ujar Carry masih bimbang.
Darren menarik nafas panjang, lalu bertanya. "Kapan kau akan memberi ku jawaban?"
Darren kembali menghela nafas, "Aku menunggu nya....!" kata Darren lalu mereka berdua menikmati pemandangan kota bersama-sama.
Di kantor Nathan, pria itu geram karena sudah muak melihat Nadia yang selalu ada di dekat nya. Laki-laki ini ingin menjebak Nadia, untuk membuka identitas perempuan ini yang sesungguhnya. Pada akhirnya, Nathan bekerjasama dengan Edwin untuk mencari cara nya.
"Kau lihat saja, dalam dua hari aku akan mendapatkan nya." ujar Edwin tersenyum puas dengan ide nya.
"Jangan melibatkan adik ku dengan hal kotor bee, aku tidak suka." kata Emily.
"Tidak bee, adik mu sendiri yang meminta agar identitas Nadia terungkap. Jadi, aku harus melakukan apa yang seharusnya aku lakukan!" ujar Edwin menjelaskan.
"Kakak tidak usah memikirkan ku, aku akan baik-baik saja!" ujar Nathan menenangkan kakak nya.
"Cepatlah menikah Nathan, kakak ingin melihat kau bahagia." pinta Emily.
"Aku belum mau menikah kak, aku masih ingin menjadi anak kesayangan Daddy dan Mommy." sahut nya dengan bangga.
"Dasar anak kecil....!" cibir Edwin.
"Muka balok....!" balas Nathan. "Aku pulang dulu, masih banyak pekerjaan." Nathan pamit pulang.
Setelah Nathan pulang, Edwin menggendong istri nya menuju kamar. Laki-laki ini tidak membiarkan istrinya kelelahan demi kesehatan calon anak nya. Untung saja Emily hanya mengalami morning sickness hanya dua bulan saja jika tidak itu akan membuat Edwin susah hati dan susah pikiran.
"Kau ingin makan apa malam ini bee?" tanya Edwin sambil mengusap perut istrinya.
"Sup jagung danging sapi....!" jawab Emily langsung di iyakan oleh suami nya.
Lelaki ini keluar, menemui pelayan dan meminta nya untuk memasak apa yang di minta oleh Emily. Tidak main-main, Edwin langsung membeli jagung yang berkualitas dan juga daging sapi pilihan demi menjaga nutrisi istri dan calon anak nya. Bahkan, harga dua bahan itu saja bisa membayar gaji empat puluh orang karyawan Edwin.